Monitorday.com – Gelombang serangan udara Israel kembali mengguncang Jalur Gaza di tengah masa gencatan senjata yang seharusnya masih berlaku pekan ini. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 109 warga Palestina, di antaranya 52 anak-anak dan 23 perempuan, menurut data pemerintahan lokal Gaza yang dikutip Al Jazeera, Rabu (29/10).
Serangan mematikan ini berlangsung dalam kurun 12 jam terakhir, menjadikannya salah satu pelanggaran paling serius terhadap perjanjian gencatan senjata yang dimediasi dunia internasional.
Militer Israel (IDF) menyebut serangan udara itu menargetkan sebuah gudang senjata di wilayah Beit Lahia, Gaza utara, beberapa jam setelah salah satu tentaranya tewas dalam insiden penembakan di Rafah pada Selasa (28/10).
“Pasukan akan terus beroperasi untuk mengatasi ancaman langsung apa pun,” demikian pernyataan resmi IDF.
Namun, Kantor Media Pemerintahan Gaza membantah klaim tersebut. Mereka menyatakan Israel justru menargetkan permukiman warga, rumah sakit, dan tempat pengungsian yang menampung ribuan warga sipil.
“Israel melanjutkan pencitraan sistematis untuk menutupi kejahatan terhadap warga sipil dengan menyebarkan misinformasi dan pemalsuan data,” bunyi pernyataan resmi otoritas Gaza.
Mereka juga menuding Israel menyebarkan daftar korban palsu demi membenarkan agresi militernya. “Setelah diperiksa, ditemukan nama-nama fiktif dan non-Arab yang tidak terdaftar dalam catatan resmi Palestina,” lanjut pernyataan itu.
Selain di Gaza, kekerasan juga meluas ke Tepi Barat Palestina. Pasukan Israel dilaporkan menyerbu kota Qabatiya dan desa Anza di selatan Jenin, menembakkan bom suara serta menginterogasi warga.
Di desa Deir Nidham dekat Ramallah, pemukim Israel menyerang kendaraan warga Palestina dan melempari batu ke arah mobil di pintu masuk desa, menyebabkan kerusakan parah.
Sementara di Qaryut, Nablus, para pemukim dilaporkan menebang ratusan pohon zaitun tua milik warga Palestina. Para petani mengaku terkejut karena serangan itu terjadi hanya dua hari setelah mereka mendapat izin resmi untuk mengakses lahannya.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras tindakan Israel yang kembali mengebom wilayah Gaza di tengah gencatan senjata. Melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, Guterres menyatakan serangan tersebut telah menewaskan banyak warga sipil, termasuk anak-anak.
“Saya mengutuk keras pembunuhan warga sipil di Gaza akibat serangan udara Israel, termasuk banyak anak-anak yang menjadi korban,” kata Dujarric dalam pernyataan yang dikutip AFP, Kamis (30/10) dini hari waktu Indonesia.
Senada, Komisioner Tinggi HAM PBB Volker Türk juga menilai serangan itu sebagai pelanggaran serius hukum humaniter internasional.
“Laporan bahwa lebih dari 100 warga Palestina tewas semalam—terutama di bangunan tempat tinggal, tenda pengungsi, dan sekolah—sangat mengerikan,” ujarnya.
Türk mendesak Israel untuk mematuhi kewajiban internasional dalam melindungi warga sipil. “Hukum perang sangat jelas menekankan pentingnya melindungi warga dan infrastruktur sipil,” tegasnya.
Sementara itu, Amerika Serikat, sebagai mediator utama gencatan senjata, menegaskan bahwa perjanjian tersebut masih berlaku meski terjadi pertempuran sporadis.
“Kami tahu bahwa Hamas atau pihak lain di Gaza menyerang seorang tentara IDF. Israel mungkin membalas, tetapi gencatan senjata tetap berlaku,” kata Wakil Presiden AS JD Vance kepada Fox News.
Namun, situasi di lapangan menunjukkan eskalasi baru yang mengancam rapuhnya perdamaian sementara di Jalur Gaza. Serangan udara beruntun dalam dua hari terakhir menandai babak baru kekerasan yang kembali menelan korban sipil dalam jumlah besar.