Monitorday.com – Suasana haru dan kebanggaan memenuhi Markas Pemenangan Pramono-Rano di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (8/3/2025).
Tim yang selama berbulan-bulan berjuang untuk memenangkan pasangan Pramono Anung dan Rano Karno dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024 resmi dibubarkan. Bukan hanya momen perpisahan, acara ini menjadi panggung bagi Pramono untuk menegaskan komitmennya: janji kampanye bukan sekadar wacana.
Dalam balutan semangat kemenangan, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2025-2030 itu hadir didampingi Ketua Tim Pemenangan mereka, Lies Hartono alias Cak Lontong, serta Ketua Harian Tim Pemenangan, Prasetyo Edi Marsudi.
Puluhan anggota tim pemenangan juga ikut menyaksikan pembubaran ini, menandai berakhirnya satu babak perjuangan dan dimulainya babak baru: realisasi janji.
“Alhamdulillah, sekarang ini apa yang menjadi janji-janji politik akan segera kita penuhi,” ujar Pramono dengan penuh keyakinan. Tak hanya janji, beberapa program unggulan bahkan sudah direalisasikan, meski masa pemerintahan mereka baru berjalan sebulan sejak dilantik Presiden Prabowo pada 20 Februari lalu.
Salah satu kebijakan yang langsung dieksekusi adalah pemutihan ijazah yang tertahan selama 10 hingga 15 tahun. Pramono memastikan bahwa Pemprov DKI Jakarta kini mengambil alih tanggung jawab tersebut, sehingga ribuan warga yang tertahan masa depannya karena administrasi pendidikan kini bisa bernapas lega. “Pemutihan ijazah sudah, tinggal nanti seremoni saja. Jadi semua ijazah yang tertahan di Jakarta kita akan putihkan semua,” tegasnya.
Langkah cepat juga terlihat dalam penyelesaian konflik Kampung Susun Bayam. Pramono memastikan kunci rumah susun telah diserahkan kepada warga eks Kampung Bayam Madani, memberikan solusi konkret bagi mereka yang selama ini terombang-ambing dalam ketidakpastian.
Janji lain yang hampir rampung adalah program Kartu Jakarta Pintar (KJP). Pemprov DKI hanya tinggal satu kali rapat untuk menyempurnakan program ini. “Jakarta akan kembali menerima jumlah penerima KJP yang lebih besar, kurang lebih sama dengan masa gubernur definitif sebelumnya, yaitu di atas 720 ribu. Sebelumnya, yang menerima hanya 400 ribu,” papar Pramono dengan nada optimis.
Ketegasan dan kecepatan eksekusi menjadi ciri khas kepemimpinan Pramono-Rano. “Kalau tidak dilakukan dengan keras, ya enggak akan bisa,” lanjutnya. Sikap ini tampaknya menjadi kunci dalam menghadapi tantangan birokrasi dan memastikan program berjalan tanpa hambatan.
Di bidang ruang publik, janji pembukaan taman 24 jam juga sudah mulai terwujud. Beberapa taman seperti Taman Langsat, Taman Ayodya, Tebet Eco Park, Taman Lapangan Banteng, Taman Menteng, dan Taman Literasi Martha Tiahahu kini dapat dinikmati warga tanpa batasan waktu. Ini bukan hanya sekadar membuka ruang hijau, tetapi juga membangun interaksi sosial yang lebih inklusif dan nyaman bagi masyarakat Jakarta.
Melihat pencapaian awal ini, Pramono memastikan bahwa setiap janji politiknya akan tetap diupayakan hingga terealisasi. “Saya sudah membaca kembali, saya melihat kembali perjalanan ini, dan kayaknya tidak ada janji yang berlebihan,” ucapnya menutup pernyataan dengan keyakinan.
Tak dapat disangkal, pasangan Pramono-Rano bergerak cepat. Apa yang sebelumnya dianggap janji politik kini telah menjadi kenyataan dalam waktu yang singkat. Dengan langkah tegas dan strategi yang matang, kepemimpinan mereka berpotensi membawa perubahan nyata bagi Jakarta. Kini, masyarakat hanya perlu menunggu, sejauh mana keberanian dan kecepatan ini dapat membawa Jakarta menuju masa depan yang lebih baik.