Monitorday.com – Di dunia yang semakin cepat berubah ini, banyak orang berpikir bahwa ukuran kesuksesan adalah seberapa populer, kaya, atau berpengaruh seseorang. Tapi seringkali kita lupa, ada satu kekuatan yang jauh lebih mulia dan langka: iffah, kemampuan untuk menjaga kehormatan diri. Ia adalah cermin kemuliaan sejati, yang tidak bisa dibeli dengan uang atau ketenaran.
Iffah berasal dari bahasa Arab yang berarti menahan diri, menjaga martabat, dan menjauhkan diri dari perbuatan tercela. Dalam Islam, iffah dianggap sebagai salah satu akhlak terpuji yang menjadi tanda kematangan iman seseorang. Rasulullah ﷺ sendiri dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga kehormatan dirinya, bahkan jauh sebelum diangkat menjadi Nabi.
Apa yang membuat iffah begitu istimewa? Karena menjaga diri bukan perkara mudah. Menahan lisan dari ucapan buruk, menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan, mengontrol hawa nafsu ketika peluang maksiat terbuka lebar — semua itu butuh kekuatan jiwa yang luar biasa. Dan di situlah letak kemuliaannya: orang yang mampu mengendalikan dirinya menunjukkan bahwa ia telah memenangkan salah satu perang terbesar dalam hidup, yaitu perang melawan hawa nafsu.
Dalam kehidupan modern, iffah menjadi semacam perisai yang melindungi seseorang dari kehancuran moral. Ketika segala sesuatu ditawarkan dengan bebas — mulai dari konten vulgar, hubungan tanpa batas, sampai gaya hidup konsumtif tanpa kendali — orang yang memiliki iffah tetap bisa berdiri tegak. Ia tahu batasannya, dan tidak tergoda oleh tren sesaat yang justru bisa merusak dirinya dalam jangka panjang.
Menariknya, iffah bukan hanya soal hubungan laki-laki dan perempuan, walaupun itu bagian penting. Iffah juga menyentuh soal integritas saat bekerja, kejujuran dalam berdagang, kesopanan dalam berbicara, dan bahkan sikap hemat dalam mengelola harta. Singkatnya, iffah adalah gaya hidup yang penuh kesadaran dan kehormatan di setiap aspek kehidupan.
Banyak orang mengira bahwa menjaga diri berarti hidup dalam keterbatasan dan kekakuan. Padahal, iffah justru membuat seseorang menjadi pribadi yang bebas — bebas dari perbudakan nafsu, bebas dari tekanan sosial, dan bebas dari rasa malu di hadapan Allah dan sesama manusia. Orang yang ber-iffah berjalan dengan kepala tegak, karena ia tahu bahwa ia hidup dengan prinsip yang mulia.
Sejarah Islam dipenuhi dengan kisah-kisah inspiratif tentang kekuatan iffah. Salah satunya adalah kisah Yusuf ‘alaihissalam, yang menolak ajakan Zulaikha meskipun secara manusiawi godaan itu sangat berat. Dengan penuh keteguhan, Yusuf memilih dipenjara daripada harus mengkhianati prinsip kehormatan dirinya. Allah pun memuliakannya, menjadikannya salah satu sosok yang dihormati di dunia dan akhirat.
Dalam konteks sehari-hari, iffah bisa dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya, menjaga lisan dari bergosip, menahan tangan dari mengetik komentar jahat di media sosial, memilih tontonan yang bersih, atau menjaga diri dari gaya hidup pamer kekayaan. Setiap tindakan kecil itu membangun kekuatan besar dalam diri: kekuatan untuk tetap menjadi manusia terhormat di tengah dunia yang sering mengajak kita untuk melupakan nilai-nilai luhur.
Tentu saja, membangun iffah tidak bisa instan. Ia perlu dilatih, diuji, dan dipelihara setiap hari. Ada kalanya kita tergoda, jatuh, atau lengah. Tapi bukan berarti kita gagal. Setiap upaya untuk bangkit lagi, setiap niat untuk kembali menjaga kehormatan diri, adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang mulia.
Salah satu cara terbaik untuk menjaga iffah adalah dengan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Ketika kita sadar bahwa Allah selalu melihat kita, bahkan saat tak ada manusia lain yang melihat, kita akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Shalat, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, dan mengingat kematian — semua itu membantu kita menjaga kesadaran bahwa hidup ini bukan hanya soal dunia, tapi juga soal mempertanggungjawabkan setiap pilihan kita di hadapan Sang Pencipta.
Lingkungan juga sangat berpengaruh. Berada di tengah orang-orang yang menghargai nilai iffah akan membuat kita lebih kuat dalam menjaganya. Sebaliknya, bergaul dengan lingkungan yang permisif terhadap perilaku buruk bisa perlahan-lahan merusak benteng kehormatan kita tanpa kita sadari.
Pada akhirnya, iffah adalah tentang membangun harga diri sejati. Bukan harga diri yang dibangun dari pencitraan atau pencapaian kosong, tapi harga diri yang lahir dari kejujuran, kesucian niat, dan keteguhan hati. Dan menariknya, orang-orang yang menjaga iffah sering kali lebih dihormati, lebih tenang, dan lebih bahagia dalam hidupnya, karena mereka hidup sesuai dengan prinsip yang mulia.
Menjaga diri adalah pilihan berat di dunia yang penuh godaan, tapi justru itulah yang membuatnya menjadi bentuk kemuliaan yang tinggi. Bukan semua orang bisa, tapi siapa pun yang berusaha akan merasakan keindahan dan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh popularitas atau kekayaan.
Maka, mari kita jadikan iffah sebagai bagian dari perjalanan hidup kita. Bukan hanya sebagai slogan, tapi sebagai karakter sejati yang membentuk siapa diri kita, hari ini dan di masa depan.