Monitorday.com — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong penguatan upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja melalui pendekatan literasi digital dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (KA). Pendekatan ini dinilai relevan dengan karakter generasi z saat ini yang hidup di ruang digital dan rentan terhadap cyberbullying serta paparan konten berbahaya.
Hal ini disampaikan Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial, Muhammad Muchlas Rowi dalam kegiatan Sobat SMP Bersinar (Bersih Narkoba) yang digelar di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kegiatan ini melibatkan 60 satuan pendidikan jenjang SMP dengan dukungan Badan Narkotika Nasional (BNN), Dinas Kesehatan, dan UNICEF.
“Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran, ketangguhan, dan komitmen yang harus terus kita jaga bersama,” ujar Muchlas saat memberikan sambutan di Griya Persada Convention Hotel, Semarang, Rabu (20/11/2025).
Mengutip data BNN tahun 2024, Muchlas mengungkap bahwa penyalahgunaan narkoba pada kelompok usia 15–24 tahun meningkat dari 1,44 persen pada 2021 menjadi 1,52 persen pada 2023. Angka tersebut, kata dia, setara dengan 312 ribu remaja Indonesia yang terpapar narkoba, sebagian besar dipicu rasa penasaran, tekanan pergaulan, dan rendahnya pemahaman risiko.
“Ancaman narkoba tidak selalu dimulai dari niat jahat, sering kali muncul dari situasi sepele: rasa penasaran, ajakan teman, eksperimen, atau kebutuhan diterima oleh kelompok,” ujarnya.
Pria asal Garut ini menilai tantangan baru pencegahan narkoba tidak hanya berada di lingkungan fisik, tetapi juga ruang digital. Paparan konten berbahaya, perundungan daring, dan tekanan sosial di media sosial berpotensi memicu perilaku berisiko, termasuk penggunaan zat terlarang.
Penelitian menunjukkan remaja korban cyberbullying lebih rentan mengalami stres, krisis kepercayaan diri, hingga mencari pelarian melalui zat berbahaya. Karena itu, menurut Muchlas program pencegahan perlu dipadukan dengan penguatan karakter, kesehatan mental, dan ketahanan digital.
“Literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan gawai, tetapi kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, menolak hoaks, dan berperilaku aman di internet,” katanya.
Selain pendidikan karakter, pemanfaatan kecerdasan artifisial, kata dia, mulai dilirik sebagai instrumen pendukung pencegahan narkoba di sekolah. Menurutnya, teknologi KA dapat membantu memantau kata kunci berkaitan dengan narkoba di ruang digital, mendeteksi pola perundungan daring, hingga menyediakan dukungan konseling awal melalui chatbot.
Meski demikian, Muchlas menegaskan bahwa pemanfaatan KA tidak dimaksudkan menggantikan peran guru. “KA tidak menggantikan guru, tetapi memperkuatnya. Teknologi harus digunakan secara etis, melindungi data, dan berpusat pada kepentingan peserta didik,” tegasnya.
Terakhir, Muchlas mengungkapkan bahwa pencegahan narkoba harus dipandang sebagai kerja kolektif lintas ekosistem pendidikan, mulai dari sekolah, keluarga, masyarakat, hingga pemerintah daerah.
Karena itu ia mendorong agar kegiatan Sobat SMP Bersinar tidak berhenti pada pertemuan ini, melainkan menjadi rencana tindak lanjut di masing-masing sekolah dan diintegrasikan dalam kebijakan serta budaya sekolah. Siswa juga diajak berperan aktif menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah.
“Kalian bukan hanya menjauhi narkoba, tetapi menjadi cahaya bagi teman-teman kalian,” pungkasnya.