Monitorday.com – Perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Turki berlangsung meriah di Ankara, Rabu (20/8/2025). Bertajuk “Partnership Day” dengan tema “Partnership for the People; Partnership for the New World”, acara ini menggarisbawahi bahwa kemitraan kedua negara tidak hanya untuk kepentingan rakyat Indonesia dan Turki, tetapi juga bagi dunia yang lebih damai, aman, dan sejahtera.
Wakil Presiden Turki, Y.M. Cevdet Yılmaz hadir sebagai tamu kehormatan bersama jajaran pejabat tinggi negara, mulai dari menteri, wakil menteri, anggota parlemen, hingga Walikota Ankara. Dari Indonesia, turut hadir Wakil Gubernur DKI Jakarta serta berbagai tokoh pendidikan dan bisnis, termasuk rektor universitas serta pimpinan perusahaan-perusahaan besar di Turki.
Duta Besar RI untuk Turki, Achmad Rizal Purnama, menegaskan bahwa kemitraan Indonesia–Turki jauh melampaui sekadar hubungan diplomatik formal. Ia menggambarkan ikatan kedua negara sebagai persahabatan yang dilandasi kepercayaan, kemanusiaan, dan solidaritas, terutama di masa-masa sulit. Dubes Rizal mengingatkan kontribusi Turki pasca tsunami Aceh 2004 dengan membangun “Kampung Turki” dan balasan solidaritas Indonesia saat gempa dahsyat mengguncang Turki 2023 dengan membangun “Kampung Indonesia” di Hatay.
“Bersama-sama kita dapat memimpin dengan memberi contoh. Inilah semangat Partnership Day: merayakan masa lalu, mewujudkan masa kini, dan membentuk masa depan. Mari bekerja lebih keras, bermimpi lebih besar. Saat kita bertemu di tahun 2050 dalam 100 tahun kemitraan, kita akan berada di dunia yang berdasarkan keadilan, perdamaian, dan kesempatan untuk semua,” ujar Dubes Rizal penuh optimisme.
Dalam paparannya, Dubes RI juga menyoroti capaian signifikan kerja sama Indonesia Turki di bidang pertahanan, kesehatan, energi, dan infrastruktur. Dengan gabungan PDB senilai USD 3 triliun dan populasi 360 juta jiwa, kedua negara masih memiliki ruang besar untuk memperluas kerja sama. Presiden kedua negara bahkan telah menetapkan target perdagangan USD 10 miliar, yang menurut Rizal hanya bisa tercapai melalui penghapusan hambatan perdagangan dan penguatan perjanjian kemitraan ekonomi dari limited PTA menuju CEPA.
Senada dengan itu, Wakil Presiden Turki Cevdet Yılmaz dalam sambutannya menekankan optimisme yang sama. Ia menyebut kerja keras bersama akan membawa kedua negara menuju pencapaian target perdagangan USD 10 miliar sebagaimana dicanangkan para pemimpin. Yılmaz juga menekankan pentingnya kemitraan strategis di sektor industri pertahanan. Menurutnya, kerja sama kedua negara tidak sekadar jual beli, tetapi mencakup pengembangan bersama, produksi bersama, hingga pendirian joint venture.
Beberapa perusahaan pertahanan Turki bahkan sudah beroperasi di Indonesia, seperti TUSAS dan Aselsan. Sementara itu, sejumlah perusahaan besar lain, termasuk Baykar, Roketsan, dan TAIS Shipyard, tengah menyiapkan perusahaan gabungan untuk memperluas basis kerja sama dengan Indonesia.
Suasana Partnership Day kian semarak dengan hadirnya pameran foto hasil kolaborasi Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia (FPSI) dan Photographic Arts Federation of Turkiye (TFSF). Pameran menampilkan festival, tempat ibadah, suasana kota, hingga destinasi wisata dari kedua negara, memperlihatkan keselarasan budaya Indonesia Turki.
Penampilan budaya turut memperkuat nuansa persahabatan. Acara diawali tarian khas Jakarta seperti Tari Nandak Ganjen, Kinang Kilaras, dan Ondel-Ondel, dilanjutkan Tarian Seğmen dari Ankara, serta penampilan angklung. Puncaknya, penonton disuguhkan Tari Piring dari Indonesia dan Tari Horon dari Turki. Penampilan angklung interaktif Saung Angklung Udjo menjadi daya tarik utama, sebelum acara ditutup dengan flash mob khas Turki halay dan tarian Maumere dari Indonesia.
Kesuksesan acara ini juga ditopang dukungan berbagai mitra, termasuk Pertamina dan TAIS sebagai sponsor utama, serta perusahaan-perusahaan seperti Tusas, Roketsan, Havelsan, Artha Graha Peduli, Bank Mandiri, Bank Syariah Indonesia, Turkish Airlines, FNSS, dan Nurol Makina.
Dengan semangat “Partnership for the People, Partnership for the New World”, perayaan ini bukan sekadar peringatan historis, melainkan momentum memperkuat fondasi kemitraan Indonesia–Turki menuju masa depan yang lebih strategis, adil, dan bermanfaat bagi dunia.