Monitorday.com – Hidup yang penuh berkah bukan semata tentang banyaknya harta atau tingginya jabatan, tetapi tentang hati yang tenang, keluarga yang harmonis, dan langkah-langkah yang dimudahkan Allah. Salah satu jalan utama untuk meraih keberkahan hidup itu adalah dengan birrul walidain, atau berbakti kepada kedua orang tua. Dalam banyak kisah, kita melihat bahwa bakti pada orang tua bukan hanya membawa ridha Allah, tetapi juga menghadirkan keajaiban dalam kehidupan seorang anak.
Bakti kepada orang tua bukanlah sekadar tanggung jawab moral atau adat istiadat. Dalam Islam, hal ini merupakan ibadah besar yang langsung terkait dengan keberkahan hidup. Allah SWT menggandengkan perintah menyembah-Nya dengan perintah berbuat baik kepada orang tua dalam berbagai ayat Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Luqman ayat 14: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya…” Ini menunjukkan bahwa menghormati dan menyayangi orang tua adalah bagian dari penghambaan kita kepada Allah.
Keberkahan hidup yang diperoleh dari birrul walidain bisa hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang diberikan rezeki yang tak disangka-sangka, ada yang dimudahkan urusannya, ada pula yang diberikan kesehatan dan ketenangan jiwa yang luar biasa. Hal ini tidak lepas dari doa orang tua yang terus mengalir, terutama ketika sang anak berperilaku baik dan tulus kepada mereka. Doa dari lisan seorang ibu atau ayah memiliki kekuatan luar biasa yang mampu menembus langit.
Salah satu kisah yang banyak diceritakan adalah tentang seorang pemuda yang sukses menjadi pengusaha kaya di usia muda. Ketika ditanya rahasianya, ia menjawab bahwa sejak kecil, ia terbiasa mencium tangan ibunya sebelum berangkat kerja, tidak pernah membantah perintah orang tuanya, dan selalu menyisihkan penghasilannya untuk membantu kebutuhan mereka. Ia percaya bahwa keberhasilannya bukan hanya hasil kerja keras, tetapi juga karena keberkahan dari birrul walidain.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa ingin panjang umur dan bertambah rezekinya, maka hendaklah ia bersilaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Salah satu bentuk silaturahmi utama adalah kepada orang tua. Ketika kita menjaga hubungan baik, berbicara lembut, dan memenuhi hak-hak mereka, maka Allah membalas dengan umur yang berkah dan rezeki yang luas.
Namun, tak sedikit orang yang mengabaikan bakti kepada orang tua karena merasa sudah mandiri atau merasa mereka terlalu sibuk dengan urusan dunia. Mereka baru menyadari nilai besar dari orang tua ketika sosok itu telah tiada. Padahal, kebersamaan dengan orang tua adalah kesempatan emas yang tidak akan terulang. Ketika masih ada kesempatan, peluk mereka, dengarkan keluh kesahnya, bahagiakan mereka dengan hal-hal sederhana—karena semua itu adalah kunci datangnya rahmat Allah.
Bakti kepada orang tua juga bukan hanya berlaku bagi anak yang masih muda. Ia berlaku sepanjang hidup, bahkan setelah kita menikah, bekerja, atau memiliki keluarga sendiri. Seorang anak tetap memiliki kewajiban untuk menjaga komunikasi, membantu secara finansial jika mampu, dan yang terpenting: mendoakan orang tua setiap hari. Dalam Surah Al-Isra ayat 24, Allah mengajarkan kita doa yang indah: “Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku sewaktu kecil.”
Ada pula bentuk keberkahan yang lebih dalam: hidup yang penuh petunjuk dan jauh dari kesesatan. Seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya akan lebih dijaga hatinya dari keburukan, karena kebaikan kepada orang tua membuka pintu-pintu kebaikan lainnya. Bahkan dalam ilmu tasawuf, birrul walidain dianggap sebagai salah satu kunci utama untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Tentu saja, bentuk bakti kepada orang tua bisa beragam tergantung pada kondisi. Ada yang bisa menafkahi orang tuanya, ada yang merawatnya di usia senja, dan ada pula yang terus mendoakan karena orang tuanya telah wafat. Yang terpenting adalah niat tulus dan usaha nyata untuk menjaga kehormatan mereka dan memperlakukan mereka dengan penuh cinta.
Di sisi lain, kita harus waspada terhadap perilaku yang menyakiti hati orang tua, baik dengan ucapan kasar, sikap acuh, atau mengabaikan mereka. Dalam Surah Al-Isra ayat 23, Allah melarang kita berkata “ah” sekalipun kepada orang tua. Artinya, bahkan rasa kesal kecil pun harus dikendalikan demi menjaga adab kepada mereka. Jika perkataan kecil saja bisa berdosa, apalagi tindakan kasar atau melupakan mereka sama sekali.
Sebagai penutup, mari kita renungkan satu hal: jika ingin hidup yang penuh berkah, yang jalan-jalannya dimudahkan, yang hati kita dijaga dari kegelisahan, maka mulailah dari rumah. Dekatkan diri pada orang tua, bahagiakan mereka, dan jadikan mereka sebagai pintu utama menuju ridha Allah. Karena keberkahan sejati sering kali tidak datang dari luar, tetapi dari doa dan ridha orang tua yang kita abaikan.