Monitorday.com – Hari Tarwiyah, yang jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah, sering kali luput dari perhatian umat Islam yang tidak sedang berhaji. Padahal, hari ini menyimpan banyak keutamaan dan amalan sunnah yang bisa dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia. Tidak hanya diperuntukkan bagi jamaah haji, Hari Tarwiyah adalah peluang emas untuk menambah pahala dan mendekatkan diri kepada Allah.
Meneladani Langkah Nabi
Pada hari ini, Rasulullah SAW berangkat dari Makkah menuju Mina dan bermalam di sana sebelum wukuf di Arafah keesokan harinya. Langkah ini bukan sekadar teknis perjalanan, tetapi penuh makna spiritual. Nabi SAW memberi contoh pentingnya persiapan ruhani sebelum bertemu Allah di padang Arafah. Bagi umat Islam, ini adalah isyarat agar memanfaatkan Hari Tarwiyah untuk menyucikan hati dan memperbanyak amal saleh.
Keutamaan Berpuasa di Hari Tarwiyah
Salah satu amalan sunnah yang dianjurkan di Hari Tarwiyah adalah berpuasa. Berdasarkan beberapa riwayat, puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu. Meskipun hadis tentang keutamaannya masih diperdebatkan derajatnya oleh sebagian ulama, banyak ulama salaf yang tetap menganjurkan puasa pada hari ini sebagai bentuk ihtiyath (kehati-hatian dalam amal).
Perbanyak Zikir dan Istighfar
Hari Tarwiyah adalah hari yang tenang, tidak ada ritual ibadah yang rumit selain salat dan bermalam bagi jamaah haji. Bagi kaum muslimin lainnya, ini adalah kesempatan untuk memperbanyak zikir, membaca takbir, tahmid, tahlil, dan istighfar. Hati yang banyak mengingat Allah akan menjadi lebih tenang dan lapang menghadapi ujian hidup.
Menghidupkan Malam Tarwiyah
Malam tanggal 8 Dzulhijjah juga sebaiknya diisi dengan salat malam, doa, dan membaca Al-Qur’an. Di tengah kesibukan duniawi, banyak yang melupakan kekuatan malam sebagai waktu paling istimewa untuk berdoa. Padahal, doa di malam-malam 10 Dzulhijjah sangat dicintai oleh Allah, sebagaimana disebut dalam hadis.
Mempersiapkan Diri Menyambut Hari Arafah
Hari Tarwiyah adalah gerbang menuju hari Arafah. Di sinilah umat Islam mempersiapkan diri untuk menyambut hari terbaik sepanjang tahun. Bagi yang tidak berhaji, mempersiapkan diri berarti membersihkan niat, menjaga hati dari kebencian, dan menyusun rencana amal di hari Arafah, seperti puasa dan doa-doa khusus.
Momentum Mengingat Ketaatan Ibrahim AS
Hari Tarwiyah juga menjadi refleksi bagaimana Nabi Ibrahim AS mempersiapkan diri dalam menaati perintah Allah yang sangat berat: menyembelih anaknya, Ismail. Renungan yang dilakukan Ibrahim AS dalam mimpi-mimpinya menjadi pelajaran bahwa sebelum melakukan ketaatan besar, kita harus memperkuat iman, bertafakur, dan meyakinkan diri pada kebenaran perintah Allah.
Kesempatan Menyambung Silaturahmi dan Sedekah
Meskipun bukan termasuk amalan khusus di Hari Tarwiyah, menyambung tali silaturahmi dan bersedekah sangat dianjurkan. Ini merupakan bentuk aktualisasi dari kesiapan spiritual yang baik—ketika hati telah bersih, tindakan pun menjadi lebih ikhlas. Hari Tarwiyah bisa menjadi momen untuk meminta maaf, memaafkan, atau memberi bantuan kepada sesama sebagai bagian dari menyucikan diri sebelum Iduladha.
Menghindari Lalai di Hari yang Mulia
Banyak yang tidak menyadari bahwa 10 hari pertama Dzulhijjah adalah hari-hari terbaik sepanjang tahun. Karena itu, mengabaikan Hari Tarwiyah adalah kerugian besar. Ketika hari ini diisi dengan kegiatan biasa tanpa makna, maka kita telah melewatkan ladang pahala yang sangat luas. Ingat, amal di hari-hari ini lebih utama dari jihad di jalan Allah, kecuali jihad yang mengorbankan seluruh jiwa dan hartanya.
Penutup: Jangan Lewatkan Hari Tarwiyah
Hari Tarwiyah adalah karunia dari Allah untuk umat Islam. Keutamaannya bukan hanya untuk jamaah haji, tetapi juga terbuka luas bagi siapa pun yang ingin mendekat kepada-Nya. Dengan berpuasa, berdzikir, berdoa, dan memperbaiki hubungan dengan sesama, kita bisa menghidupkan Hari Tarwiyah dengan cahaya amal yang akan menjadi saksi di hari akhir kelak.