Monitorday.com – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, kembali menarik perhatian dunia usai melontarkan pujian setinggi langit kepada tentaranya yang bertempur di garis depan Rusia dalam perang melawan Ukraina.
Dalam pidato penuh semangat yang dikutip kantor berita KCNA dan dilansir AFP pada Kamis (21/8/2025), Kim menyebut para prajuritnya sebagai “pasukan heroik” yang sedang menulis sejarah baru di medan tempur.
Dengan suara berapi-api, Kim Jong Un menyatakan bahwa apa yang dilakukan tentaranya di Rusia adalah langkah yang tepat, bahkan bagian dari kewajiban sejarah. “Tentara kami adalah pasukan yang heroik. Mereka kini melakukan apa yang seharusnya, dan apa yang perlu dilakukan. Kami juga akan melakukannya di masa depan,” ucap Kim, seakan memberi sinyal bahwa pengerahan militer Korea Utara ke luar negeri bukanlah tindakan sesaat, melainkan strategi jangka panjang.
Pidato itu bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah penegasan politik yang kian memperjelas sikap Pyongyang dalam konflik global. Kim menyampaikan dukungan hangat kepada para perwira dan tentara yang saat ini ditempatkan di wilayah Kursk, Rusia. Kursk sendiri merupakan daerah strategis di perbatasan dengan Ukraina yang beberapa kali menjadi arena pertempuran sengit.
Menurut data yang diungkapkan oleh Badan Intelijen Korea Selatan, Korea Utara telah mengirimkan lebih dari 10.000 tentaranya sejak tahun 2024 untuk membantu operasi militer Rusia. Bukan hanya personel, Pyongyang juga memasok peluru artileri, rudal, hingga sistem roket jarak jauh—sebuah kontribusi signifikan yang membuat keterlibatan Korea Utara tak bisa lagi dianggap samar-samar.
Namun, di balik kebanggaan yang dikumandangkan Kim, angka korban yang jatuh di medan perang tidak bisa diabaikan. Diperkirakan sekitar 600 tentara Korea Utara tewas dan ribuan lainnya terluka dalam pertempuran di Rusia. Meski begitu, tidak ada tanda-tanda Pyongyang akan menghentikan pengiriman pasukan. Sebaliknya, Kim justru semakin menegaskan komitmen negaranya untuk berdiri di sisi Rusia.
Konteks ini memperlihatkan pergeseran besar dalam strategi militer Korea Utara. Pada April lalu, untuk pertama kalinya Pyongyang secara terbuka mengonfirmasi pengerahan kontingen militernya ke garis depan di Ukraina, sebuah langkah yang langsung menimbulkan kecaman dari negara-negara Barat. Amerika Serikat dan sekutunya menilai tindakan Korea Utara semakin memperkuat sumbu baru kekuatan anti-Barat, yang mengaitkan Pyongyang, Moskow, dan juga Beijing dalam jejaring aliansi tak resmi.
Pujian Kim Jong Un ini tak hanya ditujukan untuk membangkitkan semangat tentaranya, melainkan juga mengirim pesan keras ke komunitas internasional. Korea Utara ingin menunjukkan bahwa meski terisolasi oleh sanksi, negara itu masih mampu memainkan peran besar dalam konflik global, bahkan menjadi mitra militer penting bagi Rusia.
Sementara itu, bagi rakyat Korea Utara, pidato Kim bisa menjadi instrumen propaganda yang mengobarkan nasionalisme. Menyebut pasukan mereka “heroik” bukan sekadar retorika, tetapi bagian dari narasi yang ingin dibangun rezim: bahwa mereka sedang berada di jalur sejarah yang benar, berjuang bukan hanya untuk sekutu, tetapi juga demi kehormatan bangsa.
Dengan situasi yang terus berkembang, pertanyaan besar kini menggantung: sampai sejauh mana Pyongyang akan mengorbankan darah dan sumber daya demi mendukung Moskow? Apakah keterlibatan ini hanya langkah taktis, atau justru strategi permanen yang bisa mengubah peta geopolitik Asia Timur?
Yang jelas, Kim Jong Un sudah menegaskan posisinya. Di mata sang pemimpin, tentaranya yang berperang di Rusia bukan sekadar pasukan tempur, melainkan simbol heroisme Korea Utara. Dan di balik semua itu, dunia kini semakin penasaran: apa langkah Pyongyang berikutnya?