Tafaqquh fid din, yaitu memperdalam ilmu agama, telah menjadi ciri khas generasi terbaik umat Islam. Sejak masa sahabat Nabi hingga zaman keemasan Islam, para ulama besar menunjukkan betapa pentingnya memahami agama secara mendalam untuk membimbing diri, masyarakat, bahkan dunia. Kisah-kisah mereka bukan sekadar nostalgia sejarah, tapi juga sumber inspirasi yang relevan untuk kita di zaman ini. Berikut beberapa kisah ulama besar yang membangkitkan semangat tafaqquh fid din.
Imam Syafi’i: Haus Ilmu Sejak Kecil
Imam Syafi’i, pendiri salah satu mazhab fikih terbesar dalam Islam, adalah contoh luar biasa tentang semangat menuntut ilmu. Lahir di Gaza pada tahun 150 H, sejak kecil ia sudah menunjukkan kecintaan luar biasa terhadap Al-Qur’an dan hadis. Di usia tujuh tahun, Imam Syafi’i telah hafal Al-Qur’an, dan di usia sepuluh tahun sudah hafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik.
Demi memperdalam ilmunya, Syafi’i muda tidak segan-segan melakukan perjalanan jauh dari Makkah ke Madinah, Irak, hingga Mesir. Ia belajar langsung dari para ulama besar, bahkan rela hidup dalam kesederhanaan asalkan bisa mendapatkan sanad keilmuan yang kuat. Imam Syafi’i membuktikan bahwa tafaqquh fid din memerlukan usaha sungguh-sungguh, kesabaran, dan pengorbanan.
Imam Malik: Menjaga Adab dalam Menuntut Ilmu
Salah satu pesan penting dalam perjalanan tafaqquh fid din adalah adab terhadap ilmu dan guru. Hal ini tercermin dalam kisah Imam Malik bin Anas. Dikenal sebagai imam Dar al-Hijrah (Madinah), Imam Malik sangat menekankan kehormatan terhadap ilmu.
Disebutkan dalam riwayat, sebelum mengajar hadis, Imam Malik mandi, memakai pakaian terbaiknya, dan mengenakan wewangian. Ia ingin menunjukkan bahwa hadis Nabi Muhammad ﷺ tidak boleh diajarkan dalam keadaan sembarangan. Beliau juga sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadis, tidak mau berkata “Rasulullah bersabda” kecuali yakin kebenarannya.
Dari Imam Malik, kita belajar bahwa tafaqquh fid din bukan hanya tentang menguasai ilmu, tapi juga menjaga akhlak, adab, dan rasa hormat terhadap sumber-sumber agama.
Imam Al-Ghazali: Menggabungkan Akal dan Hati
Imam Abu Hamid Al-Ghazali adalah contoh bagaimana tafaqquh fid din harus seimbang antara kecerdasan intelektual dan kejernihan spiritual. Sebagai seorang filsuf, fakih, dan sufi, Al-Ghazali pernah mengalami krisis batin dalam perjalanan hidupnya.
Setelah mencapai puncak karier akademik sebagai guru besar di Universitas Nizamiyah Baghdad, Al-Ghazali tiba-tiba meninggalkan segalanya untuk mencari ketulusan dalam beragama. Ia menghabiskan bertahun-tahun dalam pengembaraan spiritual sebelum akhirnya kembali menulis karya-karya besar seperti Ihya Ulumuddin, sebuah kitab yang menyatukan antara ilmu lahiriah dan batiniah.
Al-Ghazali mengajarkan bahwa memahami agama tidak cukup dengan logika semata, tetapi harus juga menghidupkan hati, membersihkan niat, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh keikhlasan.
Syaikh Ibnu Taimiyah: Semangat Membela Kebenaran
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah ulama yang dikenal berani dalam membela kebenaran, meski harus menghadapi banyak tantangan. Ia hidup di masa yang penuh dengan fitnah pemikiran dan serangan dari luar Islam.
Dalam perjalanan ilmunya, Ibnu Taimiyah tidak hanya menguasai berbagai bidang — fikih, tafsir, aqidah, hingga debat antaragama — tapi juga berani menghadapi tekanan politik dan sosial. Ia berkali-kali dipenjara karena keteguhannya dalam mempertahankan prinsip kebenaran menurut pemahaman salaf.
Dari Ibnu Taimiyah kita belajar bahwa tafaqquh fid din bukan hanya untuk memperkaya diri sendiri, tetapi juga untuk membela kemurnian ajaran Islam dan meluruskan penyimpangan dengan hikmah dan keberanian.
Pelajaran Besar dari Para Ulama
Kisah para ulama besar ini mengajarkan kepada kita bahwa tafaqquh fid din membutuhkan kesungguhan, ketekunan, adab, kejernihan hati, dan keberanian. Mereka tidak sekadar belajar untuk diri sendiri, tapi berjuang menjadikan ilmunya bermanfaat untuk umat.
Di era digital sekarang, akses ilmu memang lebih mudah. Namun, semangat, etos belajar, dan adab seperti para ulama terdahulu tetap harus menjadi teladan. Kita perlu serius mencari ilmu, memverifikasi sumber belajar, menjaga akhlak dalam menuntut ilmu, dan memanfaatkan ilmu tersebut untuk membawa manfaat bagi masyarakat.
Setiap Muslim, apapun profesinya, memiliki kewajiban untuk memperdalam agama sesuai kemampuannya. Karena sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan membuatnya faham terhadap agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Semangat tafaqquh fid din bukan hanya milik santri, ulama, atau akademisi. Ia adalah jalan hidup setiap Muslim yang ingin hidupnya diberkahi, dunianya penuh makna, dan akhiratnya bercahaya.