Monitorday.com – Kemaksuman Nabi Muhammad Saw. atau ‘ishmah telah lama menjadi tema pembahasan hangat di kalangan para ulama dan cendekiawan Muslim. Secara umum, umat Islam sepakat bahwa Nabi Muhammad adalah sosok maksum, yakni terjaga dari dosa dan kesalahan dalam menyampaikan wahyu. Namun, perdebatan muncul ketika membahas apakah beliau juga maksum dalam semua aspek kehidupan manusiawinya. Apakah Nabi Muhammad benar-benar tidak pernah melakukan kesalahan kecil sekalipun?
Dalam teologi Islam, ‘ishmah Nabi Muhammad sangat penting untuk menjaga kepercayaan terhadap kebenaran wahyu yang dibawanya. Jika Nabi berpotensi salah dalam menyampaikan ajaran, maka keaslian dan kemurnian Islam akan diragukan. Oleh karena itu, seluruh mazhab dalam Islam sepakat bahwa dalam konteks menerima dan menyampaikan wahyu, Nabi Muhammad sepenuhnya maksum.
Ayat-ayat Al-Qur’an seperti Surah An-Najm ayat 3-4 (“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”) sering dijadikan dasar bahwa Nabi dalam kapasitasnya sebagai rasul tidak pernah salah. Ini juga ditegaskan dalam banyak hadis dan literatur klasik Islam.
Namun demikian, dalam aspek kehidupan pribadinya sebagai manusia biasa, muncul berbagai pandangan. Beberapa ulama Sunni seperti Imam Al-Ghazali dan Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa Nabi Muhammad mungkin saja mengalami kekeliruan yang tidak berdosa, seperti lupa atau salah memperkirakan sesuatu yang bersifat duniawi. Misalnya, peristiwa ketika beliau keliru mengikat tawanan Perang Badar atau peristiwa “Abasa” saat beliau bermuka masam kepada seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum (QS. ‘Abasa: 1-10).
Bagi sebagian ulama, insiden-insiden ini menunjukkan bahwa meskipun beliau maksum dalam tugas kenabian, beliau tetap manusia yang mengalami keterbatasan alami dalam hal-hal yang tidak berkaitan dengan penyampaian risalah. Pandangan ini bertujuan untuk mempertahankan kemanusiaan Nabi Muhammad, agar beliau tetap menjadi teladan realistis bagi umatnya.
Sementara itu, ulama Syiah memiliki pendekatan berbeda. Dalam pandangan Syiah Imamiyah, Nabi Muhammad Saw. sepenuhnya maksum, tidak hanya dalam menyampaikan wahyu, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupannya, baik besar maupun kecil. Mereka berpendapat bahwa seorang nabi, apalagi pemimpin umat terakhir, harus sempurna dalam segala perilaku agar menjadi hujjah (bukti) ilahi di dunia. Oleh karena itu, bahkan peristiwa-peristiwa seperti “Abasa” ditafsirkan Syiah sebagai kritik terhadap para sahabat, bukan terhadap Nabi Muhammad sendiri.
Pandangan ini berakar dari keyakinan Syiah bahwa pemimpin umat harus memiliki ‘ishmah total, sebagaimana para imam keturunan Nabi juga dianggap maksum. Menurut mereka, Nabi tidak pernah lupa, tidak pernah salah mengambil keputusan, dan tidak pernah menunjukkan perilaku yang bisa mengurangi kepercayaan umat kepadanya, bahkan dalam hal kecil.
Kontroversi lain juga muncul terkait ayat-ayat Al-Qur’an yang tampaknya menegur Nabi, seperti Surah At-Taubah ayat 43: “Semoga Allah memaafkanmu; mengapa kamu memberi izin kepada mereka sebelum jelas bagimu siapa yang berkata benar dan sebelum kamu mengetahui siapa yang berdusta?” Dalam pandangan Sunni moderat, ayat ini dianggap sebagai bentuk pengajaran dari Allah, bukan celaan. Nabi mungkin saja bertindak berdasarkan ijtihad pribadinya yang kemudian dikoreksi oleh wahyu. Ini bukan berarti kesalahan dosa, tetapi bentuk bimbingan yang lebih tinggi dari Allah kepada utusan-Nya.
Sementara itu, bagi sebagian pemikir rasionalis, fakta bahwa Al-Qur’an berisi teguran-teguran kepada Nabi menunjukkan betapa Al-Qur’an diturunkan dengan kejujuran total, tanpa menutupi sisi manusiawi Muhammad. Ini justru memperkuat keaslian Islam karena tidak ada upaya “mempermak” citra kenabian agar tampak sempurna mutlak.
Namun, para pembela konsep kemaksuman total berargumen bahwa apa yang tampak sebagai teguran sebenarnya adalah pelajaran umum bagi umat, bukan semata-mata koreksi terhadap kesalahan Nabi. Dalam pendekatan ini, Nabi Muhammad tetap sempurna, dan peristiwa-peristiwa tersebut menjadi media pendidikan ilahi bagi seluruh umat Islam.
Di sisi lain, para orientalis Barat sering memanfaatkan tema ini untuk mengkritik Islam. Mereka menyatakan bahwa pengakuan terhadap kesalahan-kesalahan kecil Nabi menunjukkan ketidaksempurnaan pribadi. Namun, mayoritas cendekiawan Muslim membantahnya dengan menegaskan bahwa kesalahan-kesalahan yang dinisbatkan kepada Nabi tidak pernah menyentuh keutuhan ajaran atau moralitasnya.
Penting untuk dipahami bahwa dalam Islam, kesempurnaan Nabi bukan berarti kehilangan sifat manusiawi. Nabi Muhammad tetap makan, tidur, menikah, berperang, dan berinteraksi dalam masyarakat seperti manusia biasa. Justru, kemaksuman dalam Islam adalah kesempurnaan dalam menjalankan kehendak Allah, bukan dalam menjadi makhluk supermanusia yang steril dari segala sifat alami manusia.
Akhirnya, memahami kontroversi seputar kemaksuman Nabi Muhammad membantu kita menghargai keagungan beliau sekaligus realitas beliau sebagai manusia. Ini juga mengajarkan kepada umat Islam bahwa teladan yang beliau berikan relevan dan bisa diikuti dalam kehidupan sehari-hari, karena beliau pernah menghadapi ujian dan tantangan yang sama seperti kita.
Dalam semua perdebatan ini, satu hal yang tidak diragukan oleh seluruh umat Islam: kecintaan, penghormatan, dan kepercayaan terhadap Nabi Muhammad Saw. sebagai utusan terakhir yang membawa rahmat dan petunjuk bagi seluruh alam.