Monitorday.com — Komitmen menghadirkan pendidikan bermutu dan merata kembali ditegaskan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI. Sebanyak 28 satuan pendidikan jenjang SMA di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini resmi menuntaskan program revitalisasi sarana dan prasarana sekolah dengan capaian 100 persen.
Peresmian hasil revitalisasi dilakukan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, di SMA Ali Maksum Krapyak, Sabtu (31/1/2026). Atip menegaskan, program revitalisasi tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, melainkan diarahkan untuk meningkatkan kualitas ekosistem pembelajaran di sekolah.
“Kenapa disebut revitalisasi? Karena bukan hanya membangun fisiknya. Pembelajaran di sekolah juga harus benar-benar meningkat. Sekolah itu harus hidup kembali,” ujar Atip.
Menurut dia, revitalisasi tidak boleh dimaknai sekadar rehabilitasi bangunan. Perbaikan ruang kelas, laboratorium, hingga fasilitas pendukung lainnya ditujukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan kondusif bagi pengembangan potensi peserta didik.
Atip juga menyoroti penerapan skema swakelola dalam pelaksanaan revitalisasi. Model ini dinilai lebih efektif karena menumbuhkan rasa memiliki di tingkat sekolah sekaligus memastikan hasil pembangunan sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Suhirman, mengungkapkan total anggaran revitalisasi untuk 28 SMA di wilayahnya mencapai Rp19,97 miliar. Seluruh pekerjaan, baik fisik maupun administrasi, berhasil diselesaikan tepat waktu.
“Ketersediaan sarana yang memadai sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Kami berharap dampaknya terlihat pada peningkatan prestasi sekolah-sekolah di Yogyakarta,” ujar Suhirman.
Sebagai lokasi peresmian, SMA Ali Maksum Krapyak menerima bantuan pembangunan empat ruang kelas baru lengkap dengan perabot senilai Rp1,36 miliar. Kepala sekolah Khoirul Fuad menyebut program tersebut membawa perubahan signifikan, mengingat sebelumnya sebagian siswa harus belajar di ruang terbuka akibat keterbatasan kelas.
“Kini anak-anak bisa belajar di ruang yang lebih layak, nyaman, dan kondusif. Ini sangat membantu proses belajar mengajar,” katanya.
Guru SMA Ali Maksum, Ika Setiawati, juga merasakan suasana pembelajaran menjadi lebih tenang dan fokus setelah adanya penambahan ruang kelas.
Manfaat serupa dirasakan sekolah lain. SMA Muhammadiyah Boarding School Sleman menerima pembangunan laboratorium Fisika, Kimia, serta ruang Bimbingan Konseling. Guru setempat, Roig, menilai fasilitas baru tersebut membuat pembelajaran sains lebih optimal.
“Anak-anak sekarang bisa praktik dengan maksimal. Kami berharap prestasi mereka ikut meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, SMA Negeri 5 Yogyakarta merasakan peningkatan kualitas ruang kelas yang kini lebih terang dan aman. Di SMA Stella Duce Bambanglipuro, Bantul, revitalisasi difokuskan pada perbaikan laboratorium yang sebelumnya rusak berat. Kepala sekolah Thomas menilai skema swakelola memungkinkan sekolah mengutamakan kualitas pembangunan.
“Sekarang gedungnya kokoh, bersih, aman, dan sangat mendukung kegiatan belajar,” ujarnya.
Suara Siswa: Belajar Lebih Nyaman
Dampak revitalisasi juga dirasakan langsung oleh siswa. Nufaisah, siswi kelas XI IPS 2 SMA Ali Maksum, mengaku suasana kelas kini lebih lega dan nyaman dibanding sebelumnya.
“Dulu terasa padat dan ramai, jadi kurang fokus. Sekarang lebih luas dan tenang,” katanya.
Hal senada disampaikan Gathan Asnanto, siswa kelas XI IPA 1. “Kelas jadi lebih rapi, terang, dan menyenangkan untuk belajar,” ujarnya.
Program revitalisasi ini menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak terlepas dari kualitas fasilitas belajar. Dengan ruang yang lebih layak dan aman, sekolah diharapkan benar-benar hidup sebagai ruang tumbuh generasi masa depan menuju visi Indonesia Emas 2045.