Connect with us

Fokus

KPK Tetapkan Gubernur Riau Abdul Wahid Tersangka Korupsi

KPK tetapkan Gubernur Riau Abdul Wahid, Kadis PUPR, Tenaga Ahli tersangka pemerasan anggaran 2025. OTT ungkap permintaan “fee” 2,5% untuk kenaikan anggaran.

Published

on

Ilustrasi

Monitorday.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan Gubernur Riau Abdul Wahid sebagai tersangka. Penetapan ini terkait kasus dugaan pemerasan atau penerimaan hadiah atau janji di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau Tahun Anggaran 2025.

Selain Abdul Wahid, KPK juga menetapkan Kepala Dinas PUPR-PKPP Muhammad Arief Setiawan dan Tenaga Ahli Gubernur Riau Dani M. Nursalam sebagai tersangka. Kasus ini terbongkar menyusul operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK di Riau pada Senin (3/11/2025) dan pengumuman resmi pada Rabu (5/11/2025).

Wakil Ketua KPK Johanis Tanak membenarkan penetapan tersangka tersebut setelah ditemukannya bukti yang cukup.

“Setelah ditemukan kecukupan alat bukti, KPK menetapkan 3 orang sebagai tersangka, yakni AW (Abdul Wahid), MAS (Kepala Dinas PUPR-PKPP Muhammad Arief Setiawan), dan DAN (Dani M. Nursalam selaku Tenaga Ahli Gubernur Riau),” ujar Johanis di Gedung Merah Putih, Jakarta.

Johanis menjelaskan, kasus ini bermula dari pertemuan antara Sekretaris Dinas PUPR PKPP Provinsi Riau Ferry Yunanda dengan enam Kepala UPT Wilayah I-VI Dinas PUPR PKPP. Pertemuan tersebut membahas kesanggupan pemberian “fee” kepada Gubernur Riau Abdul Wahid.

“(Fee) yakni sebesar 2,5 persen. Fee tersebut atas penambahan anggaran 2025 yang dialokasikan pada UPT Jalan dan Jembatan Wilayah I-VI Dinas PUPR PKPP yang semula Rp71,6 miliar menjadi Rp177,4 miliar (terjadi kenaikan Rp106 miliar),” tambahnya.

Selanjutnya, ketiga tersangka akan menjalani penahanan selama 20 hari pertama, terhitung sejak 4 hingga 23 November 2025.

“Terhadap saudara AW ditahan di Rutan Gedung ACLC KPK. Sementara terhadap FRY dan MAS ditahan di Rutan Gedung Merah Putih KPK,” ucap Johanis, merujuk pada Abdul Wahid, Ferry Yunanda, dan Muhammad Arief Setiawan.

Akibat perbuatannya, para tersangka disangkakan melanggar Pasal 12e dan/atau Pasal 12f dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sebelumnya, KPK menangkap 10 orang dalam operasi senyap di Riau pada Senin (3/11/2025), termasuk Abdul Wahid, Muhammad Arief Setiawan, Ferry Yunanda, dan Tata Maulana. Dani M. Nursalam kemudian menyerahkan diri pada Selasa (4/11/2025) petang.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fokus

Ariel NOAH Ungkap Alasan Absen di Konser Comeback Peterpan

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Band legendaris asal Bandung, Peterpan, resmi menggelar konser comeback mereka di Eldorado Dome, Bandung, Minggu (19/10). Dalam penampilan spesial ini, Peterpan tampil dengan formasi empat personel lama: Lukman (gitar), Indra (bass), Andika (keyboard), dan Reza (drum).

Yang menarik, posisi vokalis utama diisi secara bergantian oleh sejumlah musisi top Tanah Air, di antaranya Ello, Tiara Andini, Alex Teh, Fiersa Besari, dan Tantri. Masing-masing memberikan warna baru dalam lagu-lagu ikonik Peterpan yang membesarkan nama band tersebut di era 2000-an.

Namun, konser comeback ini tetap menyisakan tanda tanya besar: kehadiran Ariel, vokalis utama Peterpan sekaligus frontman NOAH, yang ternyata tidak ambil bagian dalam konser ini.

Ketidakhadiran Ariel bukan tanpa alasan. Dalam sebuah pernyataan, ia menyebut bahwa keikutsertaannya dalam konser Peterpan bisa berdampak pada status hiatus band NOAH yang saat ini tengah dijalani.

“Kalau gue ikut main (ke konser Peterpan), si konsep NOAH hiatusnya jadi udahan,” ungkap Ariel, dikutip Selasa (21/10).

Sebelumnya sempat beredar kabar bahwa Ariel akan tetap hadir dalam konser tersebut. Bahkan, pihak promotor menyatakan bahwa Ariel sudah berada di Indonesia usai kembali dari Amerika. Namun, jadwalnya yang padat membuat ia tak bisa bergabung.

“Kita sudah diskusi dan kebetulan dia juga sudah pulang dari Amerika. Tapi tadi pagi ada acara penting dan bilang pengin nyusul. Sementara konser kita dimajukan jadi jam 16.00. Jadi nggak keburu,” jelas CEO Aloka, Budi Aloka, selaku promotor konser.

Meski tak tampil langsung di panggung, Ariel tetap memberikan dukungan penuh terhadap konser ini. Ia bahkan disebut turut memberi sejumlah masukan terkait konsep panggung dan pencahayaan.

“Dia ngasih banyak masukan. Lampu-lampu ini juga masukan dari dia. Saat ini dia ada bentrok, terus izin. Ya udah nggak apa-apa, yang penting support-nya aja,” ujar Lukman, gitaris Peterpan.

Ariel diketahui sempat bertemu dengan personel Peterpan lainnya pada akhir Agustus 2025 lalu, tepat saat konser comeback sempat ditunda akibat situasi keamanan di Bandung.

Setelah sukses menggelar konser comeback di Bandung, Peterpan dikabarkan akan melanjutkan tur ke sejumlah kota di Indonesia dan bahkan ke negara-negara Asia.

“Sedang kita matangkan, dan yang pasti di Asia juga ya,” tandas Budi Aloka.

Konser ini menjadi penanda kembalinya semangat nostalgia Peterpan dan membuktikan bahwa karya-karya mereka masih memiliki tempat spesial di hati para penggemarnya.

Continue Reading

Fokus

Memahami Pernyataan Elon Musk dan CEO NVIDIA Soal Koding dan KA

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – CEO SpaceX, Elon Musk, dan CEO Nvidia, Jensen Huang, pernah menyuarakan pandangan yang sejalan: bahwa pembelajaran ilmu fisika dan matematika sebaiknya diprioritaskan dibandingkan koding atau pemrograman komputer. Pernyataan keduanya muncul di tengah arus pesat perkembangan kecerdasan artifisial (KA) saat ini.

Elon Musk menyampaikan pandangannya melalui platform X sebagai tanggapan terhadap unggahan CEO Telegram, Pavel Durov, yang mendorong siswa untuk menguasai matematika. Musk pun menambahkan bahwa fisika perlu menjadi fokus utama dalam pendidikan.

“Fisika (dengan matematika),” tulis Musk singkat menanggapi unggahan tersebut, dikutip pada Senin (4/8).

Sejalan dengan Musk, Jensen Huang juga menyatakan bahwa jika ia kembali berada di usia 20-an saat ini, ia akan memilih untuk mempelajari fisika ketimbang perangkat lunak.

“Saya mungkin akan mempelajari ilmu fisika,” ujar Huang.

Pernyataan Elon Musk yang menekankan pentingnya belajar fisika ketimbang Koding dan KA bukan berarti meremehkan peran keduanya. Sebaliknya, ini merupakan pandangan yang bersifat filosofis dan strategis. Untuk memahami esensinya secara menyeluruh, kita perlu melihat dari tiga sisi: visi Musk, pendekatan belajar berbasis prinsip dasar, serta relevansinya terhadap masa depan.

1. Visi Elon Musk: First Principles Thinking

Musk dikenal sebagai penganut kuat first principles thinking — metode berpikir yang kembali ke dasar paling fundamental, layaknya fisikawan merumuskan ulang dunia dari hukum-hukum alam, bukan sekadar analogi atau kebiasaan.

Dalam konteks ini, fisika bukan sekadar ilmu tentang benda dan gaya, tapi cara berpikir mendasar, rasional, dan kreatif untuk memahami serta membangun dunia dari nol. Fisika melatih seseorang untuk bertanya: “Apa hukum dasar yang berlaku di sini?”, lalu membangun solusi dari prinsip itu, bukan dari asumsi yang sudah ada.

2. Koding dan KA adalah Tools, Fisika adalah Framework

Koding dan KA adalah alat (tools) — sangat penting, tapi bergantung pada arah dan nilai yang diberikan oleh manusia. Sedangkan fisika memberi kita kerangka berpikir universal, dari memahami energi hingga memprediksi sistem kompleks.

Dengan fisika, seseorang bisa memahami batas dan potensi teknologi KA. Juga menganalisis sistem secara sistemik (misalnya: climate modeling, ekonomi berbasis fisika statistik, dll). Last, dengan fisika seseorang juga bisa membangun teknologi lintas disiplin — seperti roket (SpaceX), mobil listrik (Tesla), atau brain-machine interface (Neuralink) — yang semua berakar dari fisika.

3. Konteks Masa Depan: Interdisipliner

Musk melihat masa depan bukan sekadar dipenuhi coders, tetapi orang-orang yang mampu menggabungkan prinsip-prinsip ilmiah, pemrograman, dan visi besar.

Belajar fisika tidak menutup pintu Koding atau KA, justru memperkuat fondasinya. Seorang fisikawan bisa belajar koding, tapi belum tentu sebaliknya.

4. Analogi Singkat:

Belajar coding adalah seperti belajar memainkan piano. Belajar fisika adalah seperti belajar teori musik — memahami kenapa nada-nada itu bisa menghasilkan harmoni, dan bagaimana menciptakan aliran baru dalam musik.

5. Implikasi untuk Pendidikan dan Anak Muda

Bagi generasi muda, ini menjadi seruan agar tidak hanya mengejar keterampilan teknis instan (coding, prompt engineering), tapi juga melatih kedalaman berpikir dan fondasi ilmiah. Fisika melatih logika, abstraksi, dan intuisi sistemik — tiga hal yang akan tetap relevan bahkan ketika AI sudah menguasai dunia teknis.

6. Computational Thinking: Titik Temu Fisika, Matematika, dan KA

Pernyataan Elon Musk dan Jensen Huang yang menekankan pentingnya fisika dan matematika sesungguhnya selaras dengan semangat Computational Thinking—sebuah pendekatan berpikir yang kini menjadi inti dari mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) di sekolah.

Computational Thinking melatih siswa untuk memecah masalah kompleks menjadi bagian-bagian kecil (dekomposisi), mengenali pola, merumuskan abstraksi, hingga membuat algoritma sebagai solusi. Kemampuan ini tidak hanya relevan dalam pemrograman, tetapi juga mencerminkan cara berpikir ilmiah—sebagaimana ditekankan Musk dan Huang.

Dengan kata lain, Computational Thinking adalah jembatan antara logika fisika-matematika dengan praktik teknologi digital. Ia mengasah nalar siswa untuk tidak hanya menggunakan teknologi, tapi juga memahami prinsip-prinsip dasarnya secara sistemik dan kritis.

Mata pelajaran Koding dan KA yang diinisiasi oleh Kemendikdasmen tak sekadar mengajarkan “cara menulis kode”, tapi menanamkan way of thinking yang sejalan dengan pemikiran para inovator dunia. Di sinilah posisi strategis pendidikan kita: tidak terjebak pada keterampilan teknis semata, melainkan membentuk fondasi berpikir untuk mencipta.

Menurut Jeanette Wing (2006), yang pertama kali mempopulerkan istilah ini dalam artikel seminalnya, Computational Thinking adalah:

“A fundamental skill for everyone, not just for computer scientists. It involves solving problems, designing systems, and understanding human behavior, by drawing on the concepts fundamental to computer science.”

CT bukan sekadar “belajar koding,” melainkan cara berpikir sistemik dan algoritmik dalam menyelesaikan masalah.

Artinya, Elon Musk tidak sedang meremehkan Koding dan Ai, tapi mengingatkan kita: jika ingin jadi pencipta masa depan, bukan sekadar pengguna teknologi, belajarlah sampai ke akar. Dan akar itu adalah cara berpikir fisika, matematika, atau berpikir komputasional. Karena dunia bisa berubah, teknologi bisa digantikan, tapi cara berpikir mendasar akan selalu menjadi kompas di tengah badai perubahan.

Continue Reading

Fokus

Mengebiri atau Mentransformasi Demokrasi?

Ma'ruf Mtq

Published

on

BAGI HAMDAN JUHANNIS, Guru Besar sekaligus Rektor UIN Alauddin Makassar, kantor polisi adalah tempat asing baginya. Sebagai seorang akademisi, ia mungkin tak pernah membayangkan harus datang ke sana. Namun, Kamis [20/12/2024], ia terpaksa melangkahkan kaki ke Mapolres Gowa. Bukan untuk mengurus SIM atau SKCK, tetapi untuk menghadiri konferensi pers yang berat: menjelaskan skandal yang melibatkan institusi yang ia pimpin.

Tatapannya tajam, penuh beban, dan alisnya sedikit berkerut saat ia berdiri di hadapan para wartawan. Dengan suara yang terdengar bergetar, ia berkata, “Saya hadir di sini selaku Rektor UIN Alauddin. Ini adalah bukti nyata dukungan kami terhadap polisi untuk mengungkap kasus ini sampai ke akar-akarnya.” Hamdan menarik napas panjang beberapa kali, mencoba menenangkan gejolak emosi di tengah situasi yang berat.

Rasa malu semakin membuncah saat terungkap bahwa salah satu pelaku utama sindikat uang palsu ini adalah Kepala Perpustakaan UIN Alauddin, Andi Ibrahim. Sorot mata Hamdan menunjukkan kekecewaan mendalam, sementara ia mencoba menjaga ketenangan di hadapan para wartawan dan kamera yang terus merekam setiap gerakannya. “Kami sangat menyesalkan kejadian ini,” katanya, menutup pernyataannya dengan nada penuh kesungguhan.

Selain fakta keterkaitan pihak kampus UIN Alauddin Makassar, skandal ini juga mengungkap fakta mengejutkan lainnya, yaitu bahwa uang palsu tersebut sempat akan digunakan untuk kepentingan pilkada di salah satu kota di Sulawesi Selatan.

Skandal besar ini mencuatkan fakta mengejutkan tentang bagaimana politik uang, bahkan dengan modus uang palsu, telah merasuki sistem demokrasi kita. Penemuan ini menjadi simbol gelap dari dinamika pilkada yang semakin berbiaya tinggi. Di atas meja, lembaran-lembaran uang palsu dengan jumlah ratusan juta rupiah berserakan, hasil pengungkapan operasi yang mengejutkan publik.

Penemuan ini menjadi pintu masuk untuk menggali sisi kelam demokrasi di Indonesia, di mana hiruk-pikuk pilkada kerap dihiasi oleh mahalnya biaya politik dan praktik-praktik tak terpuji. Di sepanjang jalan utama kota besar, baliho besar menghiasi langit dengan wajah-wajah tersenyum para kandidat. Di media massa, iklan-iklan pemilu tak henti-hentinya menyerukan visi-misi dengan nada penuh janji.

Sementara itu, media sosial menjadi medan pertempuran sengit, dengan unggahan kampanye yang memanfaatkan influencer hingga serangan buzzer. Namun, hiruk-pikuk ini menyimpan sisi gelap: politik uang yang merajalela. Aparat berhasil menyita uang palsu senilai ratusan juta rupiah yang diduga kuat akan digunakan untuk memengaruhi hasil pemilu. Penangkapan ini mengungkap sisi gelap kontestasi politik yang sering kali diselimuti kemewahan dan janji-janji manis.

Mahalnya Demokrasi

Pilkada, yang sejak 2005 memberikan hak suara langsung kepada rakyat untuk memilih kepala daerah, sering dianggap sebagai puncak pesta demokrasi di tingkat lokal. Namun, pesta ini tidak lepas dari biaya tinggi. Laporan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebutkan bahwa calon kepala daerah sering menghabiskan dana miliaran rupiah untuk memenangkan kursi. Tak jarang, biaya besar ini mendorong praktik politik uang yang mencederai nilai-nilai demokrasi.

“Kami melihat bahwa ongkos politik sangat tinggi dalam pilkada langsung, sehingga sering kali memicu kepala daerah terpilih untuk melakukan korupsi demi mengembalikan modal,” ungkap Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis [21/12/2023].

Selain itu, banyak pihak menilai bahwa biaya penyelenggaraan pilkada juga terlalu besar. Anggaran ini meliputi logistik, keamanan, dan pengelolaan sistem pemilu. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD kembali menjadi topik hangat.

Wacana ini, yang digaungkan kembali oleh Presiden Prabowo Subianto, menuai pro dan kontra. Prabowo sempat mengatakan bahwa sistem ini akan lebih efisien secara anggaran dan sesuai dengan fungsi gubernur sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat.

“Anggaran yang besar dari pilkada langsung bisa dialokasikan untuk kebutuhan rakyat, seperti perbaikan sekolah dan infrastruktur,” ujar Prabowo dalam wawancara di Bogor, Jumat [15/12/2023].

Prabowo Subianto juga mencontohkan negara-negara seperti Malaysia dan India, di mana kepala daerah dipilih oleh anggota legislatif, bukan langsung oleh rakyat.

Namun, kritik juga datang dari berbagai pihak. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menyebutkan bahwa wacana ini adalah langkah mundur ke era Orde Baru, ketika rakyat hanya menjadi penonton. “Kita tidak bisa kembali ke masa di mana demokrasi dibatasi. Itu bukan jalan yang tepat untuk rakyat,” kata Ahok di Jakarta, Senin [18/12/2023].

Transformasi Digital: Realistiskah?

Di tengah perdebatan antara pilkada langsung dan melalui DPRD, muncul ide lain yang menggugah: pemilu digital. Estonia, sebuah negara kecil di Eropa, telah memelopori sistem pemilu online yang aman dan transparan. Dengan teknologi blockchain, mereka mampu menjaga integritas suara rakyat.

Namun, apakah pemilu digital realistis di Indonesia? Tantangannya cukup besar. Dari segi infrastruktur, belum semua daerah memiliki akses internet yang memadai. Ketimpangan digital masih menjadi kendala, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Selain itu, masalah keamanan siber juga menjadi sorotan. Indonesia, yang beberapa kali mengalami kebocoran data besar-besaran, perlu memperkuat sistem perlindungan data sebelum dapat mengadopsi pemilu digital secara penuh.

“Pemilu digital adalah masa depan, tetapi untuk sekarang, kita masih perlu membangun fondasi yang kuat. Infrastruktur teknologi harus merata dan masyarakat perlu diberi literasi digital,” kata pengamat politik dari Universitas Indonesia, Ade Kurniawan, dalam seminar di Depok, Rabu [20/12/2023].

Dalam kebuntuan ini, mungkin solusi terbaik adalah pendekatan bertahap. Pemilu hybrid dapat menjadi langkah awal. Di kota-kota besar dengan infrastruktur memadai, pemilu digital bisa diuji coba. Di sisi lain, pemilu langsung tetap dipertahankan di daerah yang lebih tradisional.

Continue Reading

Fokus

Meniti Asa di Ruang Kelas yang Retak

Ma'ruf Mtq

Published

on

Program revitalisasi sekolah senilai Rp20,3 triliun digagas Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Perbaikan infrastruktur, kolaborasi lintas stakeholder, dan digitalisasi menjadi kunci sukses memperkuat masa depan pendidikan.

LANGIT pagi menggantung kelabu di Desa Rumpin, Kabupaten Bogor. Dari wajah-wajah mungil para pelajar SDN Leuwibatu 02 dan SDN Leuwibatu 03, sekilas tampak gurat kegembiraan. Bocah-bocah itu menampakkan ekspresi ceria ketika menyapu dan mengepel lantai kelas yang berdebu. Tawa sesekali pecah di antara mereka, seolah menutupi keadaan sebenarnya: atap yang menganga, bangku retak, dan jendela reot yang rentan copot kapan saja.

Jika ditelisik lebih dalam—tatapan mata guru yang terpaksa beralih dari papan tulis ke plafon rapuh, senyum tipis orang tua murid yang menyiratkan kekhawatiran—semua menunjukkan ekspresi kegelisahan. Betapa tidak, di balik canda anak-anak, bayang-bayang penyangga atap yang bisa runtuh pada musim hujan menjadi ancaman nyata. Ironisnya, jarak ke pusat pemerintahan tak sejauh yang dibayangkan. Hanya 21 kilometer dari Istana Bogor dan 64 kilometer dari Istana Negara, sekolah-sekolah ini tetap saja seperti diabaikan.

Salah satu guru, Djoko, dengan nada datar namun wajah sarat keprihatinan, mengungkapkan betapa sulitnya menyiasati kekurangan ruang dan peralatan belajar. “Kami harus menyiasati agar hak belajar anak-anak kami tidak hilang. Kekurangan ruang. Akhirnya, tidak semua (siswa) bisa masuk pagi pukul 07.00 (WIB). Ruang kelas berbagi,” ujar Djoko, guru SDN Leuwibatu 03. 

Pergantian jadwal belajar pun terpaksa dilakukan; beberapa kelas selesai lebih cepat, sementara kelas lainnya baru dimulai mendekati siang. Djoko menambahkan, “Kami maunya ada kelas di atas pukul 13.00 untuk menyiasati kekurangan kelas, tetapi itu susah terlaksana karena di Bogor sini anak-anak lanjut sekolah agama setelah sekolah (formal).”

Di sela-sela keriuhan anak-anak menyapu lantai—seraya merasakan debu yang menempel di ujung sepatu—tersirat satu pertanyaan: sejauh mana kita, sebagai bangsa, menaruh perhatian pada sarana belajar generasi penerus?

Kondisi Sekolah [Data BPS]
Kondisi SDN Leuwibatu 02 dan SDN Leuwibatu 03 hanyalah sekelumit dari luasnya bentangan persoalan. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun ajaran 2021/2022, hampir di semua jenjang pendidikan mengalami peningkatan kerusakan sarana sekolah. Tercatat 60,60 persen ruang kelas SD dalam kondisi rusak ringan atau sedang pada tahun ajaran 2021/2022—angka ini lebih tinggi 3,47 persen dibandingkan setahun sebelumnya.

Sementara itu, di jenjang SMP, ruang kelas yang mengalami rusak ringan atau sedang mencapai 53,30 persen, naik 2,74 persen dari tahun ajaran 2020/2021. Keadaan serupa pun terlihat di SMA: 45,03 persen ruang kelas rusak ringan atau sedang. Persentasenya naik 2,16 persen poin dibandingkan setahun sebelumnya.

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan representasi kerikil-kerikil tajam di jalan panjang pendidikan nasional. Bagaimana anak-anak dapat menuntut ilmu dengan tenang, jika bangunan fisiknya pun tak mendukung? Rerie, Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem, menegaskan bahwa kondisi fisik sekolah harus menjadi perhatian serius. Menurutnya, sarana dan prasarana publik, termasuk sekolah, mesti memiliki kualitas terbaik demi keamanan serta kenyamanan para murid.

Harapan membuncah agar proses pembangunan di sektor pendidikan bisa dilakukan secara benar dan transparan. Pasalnya, sekolah tak hanya menjadi tempat belajar akademis, tetapi juga lahan subur tempat benih karakter bangsa ditabur.

Revitalisasi Sekolah
Di tengah kegelisahan tersebut, secercah harapan muncul melalui rencana revitalisasi sekolah yang dikemukakan Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Pada salah satu kesempatan, Prabowo mengungkapkan bahwa pada 2025 pemerintah akan mengalokasikan dana Rp17,15 triliun untuk merehabilitasi 10.440 sekolah negeri maupun swasta. 

Gayungpun bersamput, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengamini dan bahkan menggenapkan anggaran tersebut menjadi sebesar Rp20,3 triliun. “Bapak Presiden Terpilih [Prabowo Subianto] meminta supaya revitalisasi sekolah ditekankan. Kami alokasikan Rp20,3 triliun untuk kualitas sekolah utamanya bangunan.”

Angka sebesar itu menandakan keseriusan pemerintah. Pada 2025, pemerintahan mendatang berencana merehabilitasi sedikitnya 22.000 sekolah umum maupun keagamaan di seluruh Indonesia. Selain memperbaiki infrastuktur, alokasi anggaran pendidikan yang mencapai Rp722,6 triliun juga akan digunakan untuk peningkatan akses, penguatan kompetensi guru, hingga penguatan pendidikan vokasi. Hal ini diharapkan dapat memantik multiplier effect—dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 178.000 orang serta pertumbuhan ekonomi yang berpotensi meningkat berkat keterlibatan perusahaan konstruksi lokal.

Tentu saja, pertanyaan yang tak terelakkan kemudian mencuat: apakah Rp20 triliun itu cukup? Melihat skala kerusakan yang menimpa ribuan, bahkan puluhan ribu ruang kelas, dana tersebut mungkin hanya menjadi tahap awal. Faktor lokasi, tingkat kerusakan (ringan, sedang, berat), hingga perlunya sarana pendukung (laboratorium, perpustakaan, sanitasi) membuat realisasi perbaikan memerlukan kolaborasi lebih luas.

Semesta Partisipatif
Saat menghadiri Rapat Kerja bersama Komisi X Dewa Perwakilan Rakyat republik Indonesia (DPR RI) di Jakarta, Rabu (6/11) Mendikdasmen Abdul Mu’ti sempat menyinggung soal pentingnya peran stakeholder lain dalam memajukan pendidikan [semesta partisipatif]. Yakni sebuah gerakan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, organisasi keagamaan, dan sektor lainnya. Terlebih, persoalan yang rumit tidak cukup diselesaikan dengan alokasi anggaran semata. Perlu ada pengawasan ketat dan keterbukaan informasi, agar setiap rupiah benar-benar bertransformasi menjadi bangunan sekolah yang kokoh, ruang kelas yang layak, dan fasilitas penunjang yang memadai.

Pentingnya semesta partisipatif kian terasa apabila kita menilik peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perusahaan swasta, filantropi, hingga pengusaha lokal. BUMN bisa menyisihkan dana tanggung jawab sosial (CSR) untuk pembangunan infrastruktur sekolah atau penyediaan laboratorium sains. Swasta dan para pengusaha pun memiliki kelenturan finansial yang dapat berkontribusi dalam proyek rehabilitasi sekolah—mulai dari penyediaan material bangunan, pemberian beasiswa, hingga pelatihan guru-guru di area terpencil. Serupa halnya dengan gerakan filantropi yang kerap menggerakkan relawan, baik untuk renovasi fisik maupun pendampingan belajar.  

Namun, keterlibatan para stakeholder ini mesti berlandaskan dua pilar utama: data dan keberlanjutan. Pertama, data yang akurat dan terperinci diperlukan agar bantuan bisa tepat sasaran. Dengan memetakan lokasi sekolah, tingkat kerusakan, dan kebutuhan prioritas (seperti ruang kelas, sanitasi, atau perangkat TIK), setiap sumber daya akan teralokasi sesuai urgensi di lapangan. Kedua, keberlanjutan menjadi isu krusial. Seringkali, bangunan sekolah atau rumah ibadah mendapat donasi sekali saja, namun tak dilanjutkan dengan perawatan atau monitoring berkala. Akibatnya, infrastruktur yang sudah dibangun mangkrak karena tak ada anggaran pemeliharaan, tak ada tenaga ahli, atau tak ada mekanisme supervisi.  

Di sinilah pentingnya sinergi lintas sektor. Pemerintah—melalui kebijakan dan sistem pengawasan—dapat memastikan berjalannya program perbaikan jangka panjang. Pihak BUMN maupun swasta, yang mengucurkan dana CSR, bisa menyertai bantuan dengan pelatihan manajemen sekolah, panduan pemeliharaan sarana, hingga dukungan teknologi digital. Sementara itu, komunitas dan organisasi sosial bisa menghadirkan program sukarelawan yang memantau progres pembangunan, mengevaluasi pemanfaatan fasilitas, serta memberikan masukan untuk tahap berikutnya. Dengan cara inilah cita-cita semesta partisipatif benar-benar dapat diwujudkan, sehingga revitalisasi sekolah tidak berhenti pada momentum bantuan, tetapi terus berdenyut sepanjang masa.

Di era serba digital, proses revitalisasi sekolah tidak bisa lagi bersandar pada pendekatan konvensional. Digitalisasi menjadi penentu keberhasilan jangka panjang. Mulai dari pendataan sarana prasarana hingga sistem pengawasan progres pembangunan, semua perlu terintegrasi dalam platform berbasis teknologi. Hal ini juga menyentuh pembelajaran di kelas. Ruang-ruang kelas yang baru, idealnya dilengkapi infrastruktur internet dan perangkat teknologi pembelajaran, supaya kualitas mengajar bisa turut meningkat.

Kembali ke SDN Leuwibatu 02 dan SDN Leuwibatu 03, anak-anak di sana barangkali belum mengerti rencana ambisius pemerintah. Namun mereka tahu persis bagaimana langit bocor di atas kepala, dan lantai berdebu di bawah kaki. Kita bisa membayangkan masa depan di mana anak-anak tidak lagi perlu bergantian ruang kelas, tak perlu takut atap ambruk, dan dapat menyongsong pagi dengan senyum tulus tanpa dibayangi kekhawatiran. Semua itu hanya mungkin terjadi jika janji revitalisasi sekolah dijalankan sungguh-sungguh, dikawal transparansi, dan didorong partisipasi semesta—bersama spirit digitalisasi yang menuntun kita melangkah lebih jauh.

Continue Reading

Fokus

Perkuat Bagian Timbunan, Tol Bocimi Ruas Cigombong-Cibadak Siap Difungsikan Hari Ini

Aam Imanullah

Published

on

Monitorday.com, – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, memimpin upaya perbaikan darurat jembatan tol Bocimi yang mengalami longsor dan amblas pada Rabu, 3 April 2024. Setelah proses perbaikan yang intensif, bagian timbunan jembatan tersebut telah diperkuat sehingga memungkinkan untuk dibuka fungsional.

Pada Selasa malam, 9 April 2024, Basuki menyatakan bahwa pemasangan tiang pancang (sheet pile) sebagai bagian dari upaya perbaikan telah mencapai tahap signifikan. “Alhamdulillah 45 sheetpile yang ada di bagian bawah struktur tol sudah terpasang semua untuk menahan longsor, kemudian yang di bagian atas akan dipasang 60 sheetpile lagi. Sampai siang tadi sudah terpasang 37 buah sheetpile. Nanti jam 24.00 WIB malam mudah-mudahan bisa selesai semua,” ungkap Basuki melalui Instagram resmi @kemenpupr.

Dalam kunjungannya pada Selasa, 9 April 2024, Basuki menyampaikan rencana untuk membersihkan badan jalan pada Rabu pagi, 10 April 2024, setelah proses pemasangan sheet pile selesai dilakukan. “Sehingga diupayakan pada hari Kamis (11/4/2024) sudah dapat dibuka satu lajur fungsional sebagai cadangan kalau terjadi kemacetan di jalur nasional. Nanti untuk teknisnya akan diatur oleh pihak kepolisian,” tambahnya.

Rencananya, penanganan permanen akan dilakukan setelah periode mudik Lebaran 2024. Keterbatasan material baru yang bisa tersedia setelah H+3 Lebaran menjadi alasan utama penundaan tersebut. “Berhubung libur Lebaran, setelah H+3 Lebaran material baru bisa datang lagi. Kita mulai kerja untuk penanganan permanen dan akan kita upayakan selesai dalam waktu sekitar dua hingga tiga bulan,” ungkap Basuki.

Longsor yang terjadi pada jalan tol Bocimi disebabkan oleh gerusan air akibat hujan deras di sekitar lokasi pada Rabu, 3 April 2024. Akibatnya, akses arah dari Parungkuda menuju Ciawi ditutup sementara untuk menghindari potensi longsor susulan. Pihak terkait telah meminta pengendara untuk memahami aturan tersebut demi keselamatan.

Dengan upaya keras dari Kementerian PUPR dan pihak terkait, Tol Bocimi ruas Cigombong-Cibadak siap difungsikan pada hari ini, Kamis, 11 April 2024, membantu mengurangi kepadatan lalu lintas selama masa mudik Lebaran 2024.

Continue Reading

Fokus

TPN Dorong Kehadiran Jokowi ke MK untuk Beri Keterangan

Mutia F Trimaharani

Published

on

Monitorday.com – Deputi Hukum Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Todung Mulya Lubis, mengemukakan bahwa akan menjadi sangat ideal jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) dihadirkan di Mahkamah Konstitusi (MK) untuk memberikan keterangan.

Pernyataan tersebut disampaikan menjawab pertanyaan awak media usai sidang lanjutan perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres di Gedung MK, Jakarta, Rabu (3/4) terkait relevansi kehadiran Presiden Jokowi dalam sidang tersebut.

“Presiden Jokowi merupakan kepala pemerintahan. Jika Presiden dapat dihadirkan oleh Ketua Majelis Hakim MK, itu akan sangat ideal karena tanggung jawab pengelolaan dana bantuan sosial (bansos) pada akhirnya berada pada Presiden,” kata Todung.

Meskipun menteri yang terkait langsung dengan bansos, seperti Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Sosial Tri Rismaharini, dijadwalkan akan memberikan keterangan di MK, Todung menegaskan bahwa tanggung jawab utama tetap berada pada Presiden.

“Jadi, menurut saya, jika Presiden dapat dihadirkan, itu akan sangat bagus, sangat ideal, dan akan menjawab semua pertanyaan yang ada di benak publik,” tambahnya.

Namun, Todung meragukan apakah Majelis Hakim MK akan mempertimbangkan untuk memanggil Presiden.

“Tidak terlihat tanda-tanda bahwa Ketua Majelis mempertimbangkan hal tersebut. Mungkin Ketua Majelis beranggapan bahwa dengan empat menteri yang dipanggil, sudah cukup untuk menjelaskan mengenai bansos. Namun, menurut kami, untuk penyelesaian yang komprehensif, Presiden Jokowi seharusnya dihadirkan,” ungkapnya.

MK menjadwalkan pemanggilan empat menteri Kabinet Indonesia Maju untuk memberikan keterangan dalam sidang lanjutan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2024, Jumat (5/4). Keempat menteri yang dipanggil adalah Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Sosial Tri Rismaharini. Selain keempat menteri tersebut, MK juga menjadwalkan pemanggilan untuk Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu.

Continue Reading

Fokus

KCIC Terapkan Tarif Dinamis untuk Kereta Cepat Whoosh

Aam Imanullah

Published

on

Monitorday.com, Mulai 3 Februari 2024, penumpang Kereta Cepat Whoosh harus siap-siap mengeluarkan uang lebih banyak untuk tiket perjalanan. Pasalnya, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menerapkan skema “dynamic pricing” atau tarif dinamis yang berubah-ubah sesuai dengan permintaan dan waktu.

General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan, skema tarif dinamis ini bertujuan untuk memberikan fleksibilitas harga kepada penumpang. Dengan demikian, penumpang bisa mendapatkan tiket dengan harga yang lebih hemat jika melakukan perjalanan di waktu tertentu.

“Dalam skema baru ini dimungkinkan dalam satu hari terdapat beberapa tarif yang berbeda untuk perjalanan Whoosh,” kata Eva dalam keterangannya yang diterima di Bandung, Senin (29/1/2024).

Eva menjelaskan, beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan tarif dinamis antara lain jam sibuk atau jam non sibuk, momen liburan atau non liburan, hingga hari kerja atau akhir pekan. Pada jam sibuk, tarif akan lebih tinggi, sebaliknya pada di luar jam sibuk, tarif akan lebih murah.

“Penumpang diberi alternatif perjalanan dengan tarif yang berbeda-beda menyesuaikan dengan kebutuhan, keinginan, dan daya belinya,” ujar dia.

Dia menyebut, tarif yang akan diberlakukan nanti untuk kelas premium ekonomi berkisar mulai dari Rp150.000, Rp175.000, Rp200.000, Rp225.000, hingga Rp250.000. Tarif ini bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan skema tarif dinamis.

Eva mengklaim, tarif dinamis ini akan memberikan nilai tambah bagi penumpang. Dia berharap, adanya fleksibilitas harga ini dapat memberikan manfaat yang lebih baik kepada masyarakat.

“Penerapan tarif dinamis ini akan terus dipantau dan dievaluasi oleh KCIC untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada penumpang,” tutup dia.

Continue Reading

Fokus

FOKUS: Payung Teduh Bernama Pembangunan Berkelanjutan

Deni Irawan

Published

on

Kesadaran soal pentingnya hidup berdampingan dengan alam, sebetulnya sudah dijalani para leluhur kita sejak lama. Menciptakan hubungan yang erat dan harmonis dengan lingkungan sekitar.

Dahulu, masyarakat tradisional cenderung memiliki pemahaman mendalam tentang keanekaragaman alam, siklus musiman, dan sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka. Gaya hidup yang berdampingan dengan alam ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari dan praktik budaya yang turun-temurun.

Masyarakat tradisional seringkali menggantungkan keberlangsungan hidup mereka pada pengetahuan lokal tentang flora dan fauna, teknik bertani yang ramah lingkungan, serta cara-cara berkelana yang memperhatikan keseimbangan ekosistem. Mereka memanfaatkan sumber daya alam dengan bijaksana, memastikan bahwa penggunaan yang berlebihan atau eksploitasi tidak merugikan keberlanjutan lingkungan.

Karena itu, ketika saat ini tuntutan adannya pembangunan berkelanjutan yang muncul sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang dihadapi oleh planet ini, termasuk kerusakan iklim, bangsa Indonesia mestinya mudah saja.

Pembangunan berkelanjutan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Tuntutan ini muncul seiring dengan pemahaman bahwa model pembangunan konvensional, yang seringkali eksploitatif terhadap sumber daya alam, dapat menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan dan menyebabkan perubahan iklim yang tidak terkendali.

Di edisi kali ini, Fokus Monitorday mencoba memonitor sejauh mana visi pembanngunan berkelanjutan yang diusung paslon nomor urut 2, Prabowo Gibran. Calon presiden dan wakil presiden yang dinilai paling berkomitmen untuk mencari keseimbangan pembangunan dan pelestarian alam. Contoh nyatanya, adalah dukungan dan komitmen mereka dalam melanjutkan pembangunan Ibukota Nusantara atau IKN.

Pembangunan IKN bagi paslon nomor urut 2, Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka bukan sekadar omon-omon, namun bukti nyata. Bahwa pembangunan di Indonesia di masa depan harus memperhatikan semua aspek kehidupan, terutama kelestarian alam. []

Continue Reading

Fokus

Strategi Perkuat UMKM dan Startup Milenial

Deni Irawan

Published

on

Usaha mikro, kecil, dan menengah [UMKM] di Indonesia seringkali kita sebut punya kontribusi penting bagi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Katanya, hampir 98 persen perusahaan di Indonesia merupakan bagian dari UMKM.

Sumbangannya juga tidak kecil, sekitar 57% PDB kita dihasilkan oleh mereka. Dari jumlah ini, 60 persen tenaga kerja berhasil mereka serap. Namun begitu, UMKM sering menghadapi kendala. Paling utama soal akses untuk mendapatkan kredit pembiayaan.

Alhasil, pertumbuhan dan peluang investasi mereka pun jadi terbatas. Padahal, Undang-undang No.20 tahun 2008 tentang UMKM jelas mengamanatkan kepada Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk menumbuhkan iklim usahanya terutama dari aspek pendanaan. Sumber pendanaan yang memfasilitasi UMKM harus diperbanyak.

Baik perbankan, maupun lembaga keuangan lainnya sebetulnya sudah memadai. Terutama dengan adanya program KUR. Pemerintah sendiri sudah menyiapkan Rp460 triliun untuk membantu UMKM. Bank pelaksana KUR sudah ditunjuk, perusahaan penjamin juga sudah ditentukan. Namun sayangnya, realiasi KUR masih belum maksimal. Hingga Oktober 2023, realisasinya baru sebesar Rp207,17 triliun atau sekira 68,74 persen.

Tentu saja ada banyak faktor yang membuat masih rendahnya realisasi KUR pasca pandemi ini. Terutama setelah ratusan perusahaan financial technology dengan model bisnis peer to peer lending atau pinjalan online [pinjol] dirilis ke publik. Kita tidak sedang menyalahkan Pinjol, namun harus diakui jika model model bisnis pinjol lebih mudah dipahami dan diakses oleh masyarakat. Model bisnis yang belum bisa diakomodasi oleh KUR. Program KUR masih dianggap model lama, dengan ketentuan akses yang sama (sulit).

Di edisi kali ini, Fokus Monitorday mencoba memonitor sejauh mana kebijakan KUR berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama UMKM. Apa langkah yang harus diambil, agar akses terhadap KUR bisa semudah pinjol.

Yang terpenting tentu saja, bagaimana KUR bisa membuat UMKM sebagai tulang punggung ekonomi negara tak hanya jadi jargon saja. Tapi betul-betul nyata. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, tentu saja transformasi KUR mutlak dilakukan. [red]

Continue Reading

Fokus

FOKUS: Masa Depan Bisnis Rintisan di Tangan Gibran

Deni Irawan

Published

on

Sebagai bagian dari industri kreatif keberadaan usaha rintisan punya peran sangat penting dalam perekonomian di suatu negara. Usaha rintisan bisa melahirkan perusahaan yang berkualitas dan memberikan dampak positif dalam menyelesaikan permasalah-permasalahan di tengah masyarakat.

Usaha-usaha rintisan muncul dan berlari membawa obor perubahan. Apa pun yang usang harus terbuang.

Membuat hidup tak lagi ditentukan hanya oleh uang, tapi juga kecepatan menangkap peluang.
Usaha rintisan menuntut kita berpindah dari era yang serba konvensional ke era digital yang cepat dan transparan. Usaha rintisan turut berperan dalam menciptakan lapangan pekerjaan.
Di Indonesia, usaha-usaha rintisan sempat tumbuh akseleratif. Jumlahnya melonjak tajam, hingga 2.347, terbesar kelima di dunia (start-up ranking, 2022). Mereka mampu mengatrol pertumbuhan dan memperkuat ekosistem ekonomi digital.

Sayang, setelah sempat booming mereka harus menghadapi musim gugur. Beberapa start-up seperti STOQO, Qlapa, dan Beres.Id terpaksa gulung tikar. Sementara ratusan lainnya mulai sempoyongan.

Sebab utamanya, seperti disebut Forbes maupun Mckensey, 70 % perusahaan gagal melakukan transformasi digital gegara persoalan dana. Karena semakin besar skala bisnis yang digarap, semakin besar pula dana yang harus dibakar (cash burn).

Karena itu, gagasan Gibran soal Kartu Startup Milenial dinilai sangat positif bagi masa depan usaha rintisan yang dikelola kalangan milenial dan gen Z. membantu mereka menyiapkan permodalan. Menjadikan mereka sebagai pengusaha baru yang mampu membuka lapangan pekerjaan. [red]

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



Review53 minutes ago

Di Tengah Badai Masalah, Presiden Justru Bahas Isu “Gentengisasi”

News1 hour ago

Programmer Tewas Usai Lembur, Masih Dikirimi Tugas Saat Sekarat

News5 hours ago

Jam Kiamat Makin Dekat, Dunia Tinggal 85 Detik Menuju Tengah Malam

News6 hours ago

Fikih Umrah Berkemajuan, Menjaga Kesahihan Ibadah di Tengah Praktik Massal

News7 hours ago

Inovasi Teknologi Menuju Indonesia Emas 2045

News11 hours ago

28 SMA di DIY Rampungkan Revitalisasi, Wamen Atip Dorong Sekolah Lebih Hidup dan Berkualitas

LakeyBanget12 hours ago

Dion Markx Siap Bersaing di Lini Belakang Persib Bandung

LakeyBanget12 hours ago

Presiden Inter Kutuk Insiden Flare dan Puji Profesionalisme Emil Audero

News12 hours ago

Komdigi Mulai Normalisasi Akses Grok AI Secara Bersyarat

News12 hours ago

Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI, Siapa Jeffrey Hendrik?

News22 hours ago

Perbatasan Rafah Gaza Dibuka Kembali Usai 2 Tahun Ditutup Israel

News22 hours ago

Hadapi Ancaman Digital, Pemerintah Siapkan Talenta Muda Kuasai Keamanan Siber dan AI

LakeyBanget23 hours ago

Dominasi Thailand Masters 2026, Indonesia Borong Empat Gelar Juara

News23 hours ago

Bank Mandiri Distribusikan Bantuan untuk Korban Longsor Bandung Barat

LakeyBanget24 hours ago

Menperin Tegaskan Motor Listrik Tanpa Insentif Baru Tahun Ini

LakeyBanget1 day ago

Tangis Haru Pecah Usai Usai Raih Gelar Perdana di Thailand Masters 2026

News1 day ago

Vera Rubin, Mesin NVIDIA di Balik Revolusi AI Global

Review2 days ago

Doktor: Disertasi Meluncur, Novelty Tertinggal

Review2 days ago

Pemimpin Defisit Intelektual! No More

News2 days ago

Komisi XI DPR Pastikan Pengisian Jabatan OJK dan BEI Tanpa Unsur Danantara dan BUMN

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.