Monitorday.com – Program Studi Linguistik Terapan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sukses menggelar International Seminar on Humanity, Education and Language (ISHEL) 2025.
Seminar internasional bergengsi ini berhasil mempertemukan akademisi lintas universitas, peneliti, serta praktisi pendidikan untuk saling bertukar gagasan inovatif demi kemajuan keilmuan di bidang kemanusiaan, pendidikan, dan bahasa, termasuk partisipasi istimewa dari Assoc. Prof. Dr. Yusri bin Kamin, pakar pendidikan dari Universiti Teknologi Malaysia.
Dalam presentasinya, Dr. Yusri menyampaikan bahwa Malaysia terus melakukan pembenahan sistem pendidikan secara sistematis dan terpusat.
“Dengan pendekatan top-down yang konsisten, kami berupaya membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia dan siap memasuki dunia kerja,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa paparan tersebut bukan untuk membandingkan, melainkan berbagi pengalaman yang bisa menjadi bahan diskusi antarnegara serumpun seperti Indonesia.
Pendidikan di Malaysia diatur melalui Undang-Undang Pendidikan 1996 dan dikelola oleh Kementerian Pendidikan. Setiap anak dijamin mendapat akses pendidikan gratis selama 11 tahun, dari jenjang dasar hingga menengah.
Di setiap negara bagian, kantor pendidikan beroperasi secara terkoordinasi dengan pusat, dengan kurikulum yang dirancang oleh Curriculum Development Division.
Dr. Yusri menjelaskan bahwa pendidikan dasar di Malaysia berlangsung selama enam tahun dan bersifat wajib bagi anak usia tujuh tahun. Sekolah dasar terbagi menjadi sekolah nasional berbahasa Melayu dan sekolah jenis kebangsaan dengan pengantar Mandarin atau Tamil. Sementara itu, pendidikan menengah terbagi dalam tiga fase, yaitu transisi, menengah rendah, dan menengah atas, yang memberi keleluasaan siswa memilih jalur seni atau sains.
Lebih lanjut, tersedia beragam sekolah khusus seperti sekolah agama, sekolah teknis, sekolah berasrama penuh, hingga sekolah elit seperti Maktab Rendah Sains MARA (MRSM) dan Cluster School of Excellence yang memiliki otonomi lebih luas untuk berinovasi.
Untuk jenjang pasca-sekolah menengah, siswa memiliki banyak pilihan jalur seperti Form 6, program matrikulasi, foundation, atau diploma. Malaysia kini memiliki infrastruktur pendidikan tinggi yang luas, dengan 37 universitas swasta, 20 kolej universitas swasta, 7 kampus cabang universitas asing, dan ratusan kolej swasta yang melengkapi universitas negeri ternama seperti UTM, UKM, dan UPSI.
Filosofi pendidikan nasional Malaysia menekankan pengembangan potensi manusia secara menyeluruh, mencakup aspek intelektual, spiritual, emosional, dan jasmani untuk mencetak warga negara berilmu, berbudi pekerti, dan bertanggung jawab. Filosofi ini juga menjadi dasar dalam pendidikan guru, yang bertujuan mencetak tenaga pendidik progresif, menjunjung tinggi budaya, dan mampu menjadi pemersatu masyarakat dalam semangat demokratis.
Program pendidikan guru membekali calon pendidik dengan berbagai strategi pembelajaran, kemampuan menyusun kurikulum, hingga metode evaluasi siswa. Spesialisasi yang ditawarkan pun luas, dari pendidikan anak usia dini hingga asesmen pendidikan. Lulusan program ini tidak hanya menjadi guru, tetapi juga konselor, pengembang kurikulum, mentor belajar, bahkan dosen dan pemilik sekolah.
Salah satu transformasi signifikan yang tengah didorong Malaysia adalah pergeseran dari pendekatan akademik ke pendidikan berbasis keterampilan. Melalui Malaysia Education Blueprint, pemerintah menguatkan program Pendidikan dan Pelatihan Teknikal dan Vokasional (TVET) sebagai upaya menjawab tantangan dunia kerja yang dinamis dan beragam.
Tak hanya itu, Malaysia juga memperluas peran komunitas dalam pendidikan, mengembangkan metode pengajaran berbasis teknologi, dan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat. Semangat inklusi dan inovasi menjadi pondasi utama dalam membentuk sistem pendidikan yang tangguh dan berorientasi masa depan.
“Pendidikan bukan semata-mata soal angka atau nilai. Ia adalah jalan panjang membangun masyarakat yang harmonis, demokratis, dan siap bersaing secara global,” pungkas Dr. Yusri .