Monitorday.com – Kenabian (nubuwah) bukanlah kedudukan yang bisa diraih melalui usaha pribadi, melainkan anugerah dari Allah SWT. Untuk memastikan bahwa kenabian benar-benar berasal dari Allah dan bisa dipercaya oleh umat, para Nabi harus memiliki sifat-sifat khusus yang menjadi bukti keabsahan mereka. Artikel ini akan membahas sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi para Nabi dalam kerangka syariat Islam.
Sifat-Sifat Wajib bagi Para Nabi
Ulama aqidah menyepakati bahwa ada empat sifat yang wajib dimiliki oleh setiap Nabi. Keempat sifat ini menjadi landasan teologis dan logis dalam membuktikan kebenaran nubuwah mereka:
1. Shidiq (Jujur)
Nabi tidak pernah berdusta. Setiap perkataan dan tindakannya mencerminkan kebenaran. Jika seorang Nabi berbohong, maka kepercayaan terhadap wahyu akan runtuh. Rasulullah SAW, bahkan sebelum diangkat menjadi Nabi, dikenal dengan gelar “Al-Amin” karena kejujurannya yang luar biasa.
2. Amanah (Dapat Dipercaya)
Para Nabi tidak mungkin berkhianat terhadap amanah Allah maupun terhadap umat. Mereka memegang teguh janji, kepercayaan, dan tanggung jawab dakwah. Amanah menjadikan seorang Nabi sosok yang dapat diandalkan sebagai pembawa wahyu.
3. Tabligh (Menyampaikan Wahyu Secara Sempurna)
Para Nabi menyampaikan seluruh isi wahyu tanpa mengurangi ataupun menambahkan. Mereka tidak menyembunyikan ajaran Allah. Dalam QS. Al-Ma’idah: 67, Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan seluruh isi wahyu, dan ini berlaku bagi seluruh Nabi sebelumnya.
4. Fathanah (Cerdas)
Para Nabi memiliki kecerdasan luar biasa. Mereka mampu memahami wahyu, merespons tantangan sosial, dan menyampaikan pesan-pesan Ilahi secara efektif. Fathanah juga mencakup kebijaksanaan dan kepekaan terhadap dinamika umat.
Sifat-Sifat Mustahil bagi Para Nabi
Sebaliknya, ada sifat-sifat yang mustahil dimiliki oleh Nabi. Jika sifat-sifat ini ditemukan pada seseorang, maka ia tidak layak disebut Nabi. Sifat-sifat tersebut adalah:
Kidzib (Dusta)
Khiyanah (Berkhianat)
Kitman (Menyembunyikan wahyu)
Baladah (Bodoh atau tidak cerdas)
Mustahil seorang Nabi memiliki karakter yang bisa merusak kepercayaan umat. Bahkan dalam sejarah, para Nabi selalu tampil sebagai pribadi yang bermartabat dan penuh kehormatan.
Sifat Jaiz bagi Nabi
Selain sifat wajib dan mustahil, ada sifat yang disebut jaiz (boleh terjadi) bagi Nabi, yaitu sifat-sifat manusiawi yang tidak bertentangan dengan misi kenabian. Misalnya:
Merasa lapar atau haus
Mengantuk atau sakit
Merasa sedih atau gembira
Menikah dan memiliki keluarga
Sifat-sifat ini membuktikan bahwa Nabi adalah manusia, bukan makhluk gaib. Ini penting agar umat tidak berlebihan hingga mengultuskan Nabi secara tidak proporsional, seperti yang terjadi pada beberapa umat terdahulu.
Keteladanan Sifat-Sifat Nabi
Sifat-sifat Nabi tidak hanya menjadi syarat kenabian, tetapi juga menjadi pedoman akhlak bagi umat Islam. Rasulullah SAW menjadi teladan dalam segala aspek kehidupan: jujur dalam perdagangan, amanah dalam memimpin, tegas dalam menegakkan kebenaran, dan lembut dalam berdakwah.
Dalam QS. Al-Ahzab: 21, Allah berfirman:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”
Ini menunjukkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk meniru sifat-sifat Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Kesempurnaan Sifat Nabi sebagai Legitimasi Risalah
Kenabian bukan hanya soal menerima wahyu, tetapi juga soal kredibilitas. Sifat-sifat para Nabi adalah jaminan bahwa wahyu disampaikan oleh orang yang layak dipercaya. Tanpa sifat-sifat ini, risalah akan mudah dipertanyakan dan bahkan ditolak oleh masyarakat.
Contohnya, ketika Rasulullah SAW diangkat menjadi Nabi, banyak orang awalnya menolak ajaran beliau, tetapi tak bisa menyangkal akhlaknya. Bahkan musuh-musuhnya pun mengakui kejujuran dan integritas beliau.
Perbedaan Nabi dengan Manusia Biasa
Meski para Nabi adalah manusia biasa, mereka memiliki keistimewaan dalam hal akhlak, spiritualitas, dan perlindungan dari dosa (ismah). Allah menjaga para Nabi dari dosa besar dan maksiat yang dapat merusak misi kenabian.
Ini bukan berarti Nabi tidak bisa melakukan kesalahan kecil (khata’ insani), namun kesalahan itu langsung dikoreksi oleh Allah melalui wahyu. Contohnya adalah peristiwa “Abasa” dalam QS. ‘Abasa: 1-10, di mana Rasulullah ditegur karena kurang memperhatikan orang buta yang ingin belajar agama.
Relevansi di Masa Kini
Sifat-sifat Nabi tetap relevan dalam kehidupan modern. Dalam dunia yang penuh manipulasi dan kebohongan, sifat shidiq menjadi inspirasi. Di tengah korupsi dan pengkhianatan, amanah adalah nilai langka yang perlu diperjuangkan. Tabligh mendorong kita untuk jujur dalam menyampaikan kebenaran, dan fathanah mengajarkan pentingnya kecerdasan dalam bermuamalah.
Penutup
Sifat-sifat Nabi adalah fondasi yang menegaskan keabsahan nubuwah dalam syariat Islam. Melalui sifat-sifat itu, umat dapat meyakini bahwa para Nabi benar-benar pembawa wahyu yang terpercaya dan layak dijadikan panutan. Lebih dari sekadar teori, sifat-sifat ini adalah ajaran hidup yang perlu dihidupkan dalam diri setiap Muslim, sebagai bukti cinta dan loyalitas kepada ajaran para Nabi.