Monitorday.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pengawas dan penilik sekolah memiliki peran strategis dalam menciptakan dan menjaga budaya mutu pendidikan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menutup Bimbingan Teknis (Bimtek) Program Prioritas Kemendikdasmen untuk Pengawas Sekolah Angkatan III di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Tengah, Senin (7/7).
“Budaya mutu tidak boleh hanya menjadi jargon. Ia harus hadir dalam praktik dan menjadi napas setiap insan pendidikan, dari ruang kelas hingga kantor dinas,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menekankan pentingnya pengawasan yang bukan hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh substansi pendidikan. Dalam konteks penjaminan mutu pendidikan eksternal (SPME), Mendikdasmen menyoroti dua aspek utama: akreditasi dan peran aktif pengawas serta penilik sekolah.
Selain itu, menurutnya, penilaian dari masyarakat sebagai penerima layanan pendidikan juga sangat penting. “Masyarakat bisa menilai sejauh mana pendidikan berdampak pada capaian akademik, pembentukan karakter, dan manfaat sosial,” tambah Mu’ti.
Menteri juga mendorong pengawas menjadi jembatan antara kebijakan pendidikan dan masyarakat, serta memahami arah transformasi pendidikan nasional secara menyeluruh.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen, Gogot Suharwoto, menyampaikan bahwa Kementerian sedang memperkuat peran BBPMP dan BPMP sebagai motor penggerak budaya mutu pendidikan di seluruh Indonesia.
“Kami melakukan penguatan dari sisi regulasi, strategi implementasi, hingga dukungan sistem digital, baik dalam penjaminan mutu internal (SPMI) maupun eksternal (SPME),” jelas Gogot.
Ia berharap para pengawas dan penilik sekolah dapat bertransformasi menjadi agen perubahan: memberi teladan, membangun semangat, dan mendorong kemajuan satuan pendidikan.
Kepala BBPMP Provinsi Jawa Tengah, Nugraheni Triastuti, menegaskan bahwa pihaknya menjalin kemitraan erat dengan pengawas dan penilik untuk memastikan kebijakan kementerian benar-benar diterapkan di lapangan.
“Dengan lebih dari 52.000 satuan pendidikan di Jawa Tengah, mustahil BBPMP bekerja sendiri. Kami membutuhkan pengawas dan penilik sebagai mitra strategis,” tegasnya.
Bimtek yang berlangsung sejak 1 Juli 2025 ini merupakan bagian dari delapan program prioritas Kemendikdasmen, termasuk penguatan karakter, digitalisasi pembelajaran, kecerdasan buatan, dan Sekolah Sehat. Program ini juga terintegrasi dengan Rapor Pendidikan, SPMI berbasis data, dan perencanaan berbasis data (PBD).
Lebih dari sekadar pelatihan, para pengawas pasca-bimtek akan menjalankan supervisi nyata, pendampingan, serta pengawasan ke satuan pendidikan.
Untuk mendukung hal tersebut, BBPMP Jateng telah menyiapkan microsite khusus untuk mengunggah dan memantau hasil kerja pengawas, serta membagikan praktik baik ke seluruh Indonesia. Selain itu, Sistem Manajemen Rekam Jejak (RMS) juga tengah dikembangkan untuk mencatat setiap aktivitas pengawas secara digital dan transparan.
“Jangan menunggu diawasi untuk bekerja dengan mutu. Jadikan mutu sebagai budaya. Kita bekerja bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan generasi Indonesia,” pungkas Abdul Mu’ti.
Kemendikdasmen berharap model kolaborasi antara pusat dan daerah ini dapat menjadi contoh nasional dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.