Connect with us

News

Mengurai Perbedaan Lebaran di Indonesia

Published

on

[domain_ca[ital} – Perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia kembali terjadi tahun ini. Umat Islam merayakan Lebaran dalam tiga waktu berbeda—Kamis, Jumat, dan Sabtu. Fenomena ini memicu perdebatan publik, terutama di media sosial, yang kerap memandang perbedaan tersebut sebagai bentuk perpecahan.

Namun, para ulama menegaskan bahwa perbedaan ini justru merupakan bagian dari kekayaan tradisi keilmuan Islam, yang berakar pada konsep ijtihad.

Perbedaan penentuan Idul Fitri pada dasarnya bersumber dari tiga metode utama, yakni rukyat global, hisab, dan rukyat lokal. Masing-masing metode memiliki landasan dalil dan argumentasi yang kuat dalam khazanah fikih Islam.

Metode rukyat global berpegang pada prinsip bahwa jika hilal telah terlihat di suatu wilayah, maka hal tersebut berlaku bagi seluruh umat Islam di dunia. Pendekatan ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan umat Islam untuk berpuasa dan berbuka berdasarkan penglihatan hilal.

Sementara itu, metode hisab menggunakan pendekatan astronomi modern untuk menentukan posisi hilal secara presisi. Pendekatan ini dianut oleh Muhammadiyah melalui konsep wujudul hilal, yakni penetapan awal bulan ketika posisi bulan sudah berada di atas ufuk, tanpa harus menunggu pengamatan langsung.

Adapun metode rukyat lokal, yang digunakan pemerintah melalui sidang isbat dan diikuti oleh Nahdlatul Ulama, menetapkan awal bulan berdasarkan pengamatan hilal di wilayah Indonesia dengan kriteria tertentu. Jika hilal tidak terlihat, maka bulan digenapkan menjadi 30 hari.

Perbedaan metode ini bukanlah hal baru. Dalam sejarah Islam, perbedaan serupa telah terjadi sejak masa sahabat Nabi. Salah satu riwayat yang sering dijadikan rujukan adalah peristiwa yang melibatkan sahabat Ibnu Abbas dan Muawiyah.

Dalam hadis riwayat Imam Muslim, disebutkan bahwa penduduk Syam memulai puasa lebih awal setelah melihat hilal, sementara Ibnu Abbas di Madinah memilih untuk mengikuti rukyat lokal dan menyempurnakan bulan hingga 30 hari. Ketika ditanya mengapa tidak mengikuti hasil rukyat di Syam, Ibnu Abbas menjawab bahwa demikianlah yang diperintahkan Rasulullah.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perbedaan dalam penentuan awal bulan hijriah telah ada sejak generasi awal Islam dan diterima sebagai bagian dari ijtihad.

Pemerintah Indonesia sendiri menegaskan bahwa sidang isbat bertujuan untuk menetapkan, bukan memaksakan. Berbagai organisasi Islam turut dilibatkan dalam proses tersebut sebagai bagian dari musyawarah bersama.

Para ulama menyebut perbedaan ini sebagai “khilaf mu’tabar”, yakni perbedaan pendapat yang sah dan dapat ditoleransi. Karena itu, perbedaan hari raya seharusnya tidak menjadi alasan untuk memecah belah umat.

Sebaliknya, momentum Idul Fitri justru diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, saling memahami, dan menghormati perbedaan yang ada.

Di tengah keragaman metode dan pandangan, para ulama mengingatkan bahwa yang terpenting bukanlah menyeragamkan tanggal, melainkan menjaga ukhuwah dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Prabowo: Indonesia Tak Pernah Janji Bayar Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump

Published

on

Monitorday.Com – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak pernah berjanji, apalagi berkomitmen, untuk menyumbang sebesar 1 miliar dolar AS (sekitar Rp17 triliun) kepada Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Penegasan ini disampaikan Prabowo untuk meluruskan berbagai spekulasi yang beredar.

“Jadi, kita tidak pernah mengatakan bahwa kita mau ikut iuran 1 miliar dolar,” ujar Prabowo dalam sebuah wawancara, sebagaimana keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.

Menurut Prabowo, sejak awal Indonesia memang tidak pernah menyampaikan komitmen finansial apa pun terkait keikutsertaan dalam inisiatif tersebut. Hal ini juga terlihat dari posisi Indonesia yang tidak termasuk dalam pertemuan para penyumbang awal (founding donors).

“Tidak, tidak pernah. Dalam pertemuan di Washington pada 19 Februari lalu, itu adalah pertemuan founding donors. Mereka masing-masing menyumbang, mungkin ada yang lebih besar, tetapi Indonesia tidak ada di situ. Karena sejak awal, saat ditanya, saya tidak berkomitmen soal uang sama sekali,” tegas Prabowo.

Meski begitu, Indonesia tetap membuka ruang untuk berkontribusi—namun bukan dalam bentuk dana. Prabowo menekankan bahwa Indonesia lebih memilih peran yang sesuai dengan tradisi kontribusinya, yakni melalui pengiriman pasukan perdamaian.

“Kita menyatakan siap mengirim pasukan perdamaian sesuai kebutuhan,” katanya.

Lebih lanjut, pemerintah juga tidak menutup kemungkinan untuk ikut terlibat dalam tahap rekonstruksi Gaza, jika situasi memungkinkan, terutama jika gencatan senjata tercapai dan proses pembangunan kembali dimulai.

“Kalau gencatan senjata berhasil dan pembangunan dimulai, bukan tidak mungkin Indonesia ikut serta. Kita punya Baznas, dan sebelumnya juga sudah membangun rumah sakit serta berbagai bantuan lainnya di sana,” jelasnya.

Namun demikian, Prabowo kembali menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada komitmen apa pun dari Indonesia terkait pembayaran iuran untuk menjadi anggota Dewan Perdamaian tersebut.

“Tidak ada komitmen sama sekali,” ucap Presiden.

Sebelumnya, laporan Bloomberg pada Minggu (18/1) menyebut bahwa dalam rancangan piagam Dewan Perdamaian, negara yang ingin menjadi anggota tetap diwajibkan menyumbang hingga 1 miliar dolar AS. Bahkan, negara yang memberikan kontribusi lebih besar berpotensi mendapatkan keanggotaan tanpa batas waktu.

Meski isu tersebut mencuat, pemerintah memastikan posisi Indonesia tetap jelas: berkontribusi pada perdamaian dunia, tanpa harus terikat pada komitmen finansial besar.

Continue Reading

News

Momen Hangat Prabowo Halalbihalal Bareng Jokowi di Istana Merdeka

Hendi Firdaus

Published

on

Monitordaycom – Presiden Prabowo Subianto menggelar acara silaturahmi Idulfitri di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu waktu setempat. Dalam kesempatan tersebut, Presiden ke-7 RI Joko Widodo hadir bersama istrinya Iriana Jokowi serta putra mereka, Kaesang Pangarep.

Kedatangan Joko Widodo disambut langsung oleh Prabowo di halaman Istana Merdeka. Keduanya kemudian berjalan berdampingan menuju ruang pertemuan untuk melanjutkan silaturahmi dalam suasana hangat dan penuh keakraban.

Di dalam ruangan, kedua tokoh bersama keluarga tampak berbincang santai. Nuansa Lebaran terasa kental dengan suguhan khas seperti kue kering dan aneka camilan tradisional yang tersaji di meja.

Prabowo turut didampingi putranya, Didit Hediprasetyo, dalam pertemuan tersebut. Acara berlangsung secara tertutup dan tidak dibuka untuk umum.

Selain Joko Widodo, Prabowo juga menerima kunjungan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono yang hadir bersama kedua putranya, Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono.

Sekretariat Presiden menyampaikan bahwa pertemuan para tokoh bangsa ini mencerminkan hubungan yang tetap terjaga dengan baik dalam suasana kekeluargaan.

“Gelar griya Idulfitri tahun ini menjadi ruang temu yang sarat makna untuk mempererat tali persaudaraan, merawat harmoni antarpemimpin, serta meneguhkan pesan bahwa persatuan adalah fondasi utama dalam perjalanan bangsa menuju masa depan,” demikian pernyataan resmi Sekretariat Presiden RI.

Continue Reading

News

KBRI Ankara Rayakan Idul Fitri, Dubes Achmad Rizal: Pentingnya Persatuan WNI

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ankara menggelar silaturahmi Idul Fitri 1447 Hijriah di Wisma Duta Besar RI, Ankara, Jumat (20/3/2026). Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 600 warga negara Indonesia (WNI) yang terdiri dari mahasiswa, profesional, dan diaspora yang bermukim di berbagai wilayah Turki.

Perayaan Idul Fitri di Turki tahun ini jatuh pada Jumat (20/3/2026), satu hari lebih awal dibandingkan di Indonesia. Momentum tersebut dimanfaatkan oleh KBRI Ankara untuk menghadirkan suasana kekeluargaan bagi WNI yang merayakan Lebaran jauh dari tanah air.

Antusiasme masyarakat terlihat tinggi. WNI tidak hanya datang dari Ankara dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai kota lain dengan jarak tempuh cukup jauh. Sejumlah warga tercatat datang dari Sakarya (sekitar 300 km), Bursa (380 km), Manisa (560 km), hingga Erzurum yang berjarak sekitar 800 km dari Ankara.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Turki, Achmad Rizal Purnama, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Idul Fitri tahun ini memiliki makna mendalam di tengah situasi global yang diwarnai berbagai konflik.

“Perayaan Idul Fitri di tengah situasi dunia yang dipenuhi konflik mengingatkan kita semua akan arti penting perdamaian,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Lebaran tidak hanya menjadi seremoni keagamaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat kebersamaan dan kecintaan terhadap tanah air.

“Saya mengajak seluruh masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di Turki, untuk terus menumbuhkan kepedulian dan solidaritas, baik antar sesama warga Indonesia maupun antar bangsa, serta bersama-sama berkontribusi bagi Indonesia yang lebih damai, adil, dan sejahtera,” tambahnya.

Selain dihadiri WNI, kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah perwakilan negara sahabat. Beberapa duta besar dari negara seperti Sri Lanka, Pakistan, Singapura, Filipina, Kamboja, Bangladesh, dan Brunei Darussalam turut hadir, bersama Kuasa Usaha Malaysia, sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan diplomatik.

Dalam acara tersebut, KBRI Ankara juga menyajikan berbagai hidangan khas Nusantara, seperti Opor Ayam dan Rendang. Sajian tersebut menjadi simbol kekayaan kuliner Indonesia yang telah dikenal luas di dunia internasional.

Melalui kegiatan ini, KBRI Ankara berharap nilai-nilai kebersamaan dan perdamaian terus terjaga di tengah masyarakat Indonesia di Turki. Perayaan ditutup dengan ucapan khas masyarakat Turki saat Lebaran, “Ramazan Bayramımız mübarek olsun,” yang berarti semoga Idul Fitri membawa keberkahan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi semua.

Continue Reading

News

Rismon Klarifikasi, Sains Mengoreksi Diri?

Klarifikasi Rismon Sianipar menunjukkan bahwa dalam sains, kebenaran adalah proses yang terus diuji, bukan kesimpulan instan.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Fenomena klarifikasi yang dilakukan Rismon Sianipar atas analisis ijazah Presiden ke-7 Joko Widodo menjadi sorotan publik dalam beberapa waktu terakhir. Peristiwa ini terjadi di tengah derasnya arus informasi di media sosial yang sering kali mendahului proses verifikasi ilmiah. Menurut berbagai sumber media yang mengulas kasus ini, perdebatan bermula dari analisis awal yang menimbulkan keraguan publik, sebelum akhirnya dikoreksi oleh penelitinya sendiri.

Kasus ini bermula ketika Rismon melakukan analisis terhadap dokumen ijazah Joko Widodo. Temuan awalnya memunculkan spekulasi di ruang publik mengenai keaslian dokumen tersebut. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, Rismon kembali melakukan penelitian ulang dengan metode yang lebih komprehensif dan menyatakan bahwa kesimpulan awalnya tidak tepat. Klarifikasi ini menjadi momen penting yang jarang terjadi di ruang publik digital.

Dalam kajian ilmiah, khususnya bidang Digital Image Processing, sebuah citra tidak hanya dilihat sebagai gambar statis, melainkan hasil interaksi kompleks antara cahaya, sudut pengambilan, resolusi, dan perangkat perekam. Perubahan kecil pada variabel-variabel tersebut dapat menghasilkan interpretasi yang berbeda. Menurut penjelasan yang dikutip dari berbagai analisis media, kesalahan awal diduga terjadi karena keterbatasan dalam mengontrol variabel seperti pencahayaan dan resolusi, yang menyebabkan fenomena false negative—yakni objek yang sebenarnya ada tetapi tidak terdeteksi.

Setelah melakukan perbaikan metode, Rismon menggunakan pendekatan yang lebih menyeluruh, seperti analisis gradien, rekonstruksi citra, serta verifikasi multi-metode. Hasilnya menunjukkan bahwa elemen-elemen yang sebelumnya dianggap tidak ada, seperti watermark dan emboss, justru dapat teridentifikasi dengan jelas. Hal ini menegaskan bahwa perubahan hasil bukan berasal dari objek yang dianalisis, melainkan dari cara analisis itu dilakukan.

Peristiwa ini menjadi contoh konkret bagaimana sains bekerja melalui mekanisme koreksi diri. Kesalahan dalam penelitian bukanlah kegagalan akhir, melainkan bagian dari proses menuju pemahaman yang lebih akurat. Namun, di sisi lain, dinamika media sosial sering kali mempercepat penyebaran kesimpulan awal dibandingkan klarifikasi yang lebih valid.

Kasus ini juga membuka pertanyaan lebih luas tentang literasi publik dalam memahami proses ilmiah. Di era digital, masyarakat dihadapkan pada pilihan antara mempercayai informasi secara instan atau menunggu proses verifikasi yang lebih mendalam. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kebenaran ilmiah membutuhkan waktu, metode, dan keterbukaan untuk dikoreksi.

Pada akhirnya, klarifikasi Rismon Sianipar bukan hanya soal satu kasus, melainkan refleksi tentang bagaimana masyarakat memaknai kebenaran. Pertanyaannya kini, apakah publik siap memahami bahwa kebenaran dalam sains adalah proses yang terus diuji, bukan sesuatu yang selesai dalam satu kesimpulan.

Continue Reading

News

Investasi Aset Digital Menurut Islam

Langkah ini menjadi respons terhadap perkembangan pesat teknologi finansial dan meningkatnya minat masyarakat terhadap aset kripto

Amalan Saliha

Published

on

Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah menegaskan bahwa kripto sebagai aset digital belum memenuhi kriteria syariah, baik sebagai alat tukar maupun instrumen investasi. Kripto dinilai tidak sah digunakan sebagai mata uang karena tidak memiliki otoritas resmi, stabilitas nilai, serta mengandung unsur gharar (ketidakjelasan) dan maysir (spekulasi) yang tinggi. Selain itu, kripto juga dianggap tidak memiliki underlying asset yang jelas dan tidak terhubung langsung dengan sektor riil yang produktif.

Meskipun di Indonesia kripto diakui sebagai komoditas oleh negara, fatwa tersebut menegaskan bahwa legalitas formal tidak otomatis menjadikannya halal secara syariah. Tingginya volatilitas dan potensi manipulasi pasar memperkuat risiko yang melekat pada kripto. Karena itu, Muhammadiyah mengimbau umat Islam untuk berhati-hati dan cenderung menghindari praktik investasi spekulatif, serta mengarahkan pilihan pada instrumen yang lebih jelas, produktif, dan sesuai dengan prinsip keadilan dalam Islam.Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dikabarkan telah mengeluarkan fatwa mengenai status mata uang kripto sebagai aset digital. Keputusan ini diharapkan dapat memberikan panduan syariah bagi umat Islam di Indonesia terkait investasi dan transaksi menggunakan aset digital yang semakin populer.

Langkah ini menjadi respons terhadap perkembangan pesat teknologi finansial dan meningkatnya minat masyarakat terhadap aset kripto, yang selama ini masih menjadi perdebatan dalam berbagai perspektif, termasuk dari sisi agama dan hukum Islam. Fatwa ini diharapkan mengisi kekosongan panduan resmi dari salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Penyusunan fatwa ini diduga melibatkan kajian mendalam dari berbagai aspek, mulai dari karakteristik teknologi blockchain, volatilitas nilai, hingga potensi risiko dan manfaatnya sesuai prinsip-prinsip syariah. Tujuannya adalah memastikan bahwa aktivitas ekonomi umat Islam selaras dengan nilai-nilai keagamaan.

Meskipun detail spesifik mengenai isi fatwa belum dirilis secara luas, publik menantikan kejelasan apakah aset kripto dikategorikan sebagai māl (harta) yang sah secara syariah, atau terdapat batasan-batasan tertentu dalam penggunaannya sebagai alat investasi atau tukar.

Keputusan Tarjih Muhammadiyah ini diperkirakan akan memiliki implikasi signifikan terhadap perilaku investasi dan ekonomi syariah di Indonesia. Ini juga dapat memicu diskusi lebih lanjut di kalangan ulama dan pakar ekonomi syariah mengenai adaptasi hukum Islam terhadap inovasi finansial modern.

Adanya fatwa ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam memberikan bimbingan keagamaan yang relevan dan kontekstual terhadap isu-isu kontemporer. Diharapkan, fatwa tersebut dapat menjadi rujukan penting bagi umat dalam mengambil keputusan finansial di era digital.

Continue Reading

News

Jurus Prabowo Tangkis Dampak Perang Timur Tengah Pajak hingga WFH Disiapkan

Pemerintah siapkan langkah strategis dari pajak batu bara hingga skema WFH demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (19/3/2026), untuk merespons dampak dinamika global, khususnya perang di Timur Tengah yang berimbas pada kenaikan harga energi dan komoditas. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas ekonomi nasional agar tidak membebani masyarakat.

Dalam rapat tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan defisit APBN tetap berada di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Upaya ini dilakukan melalui efisiensi belanja kementerian dan lembaga (K/L) agar kondisi fiskal tetap terkendali di tengah tekanan global.

Salah satu kebijakan yang disiapkan adalah peningkatan produksi batu bara melalui penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Selain itu, pemerintah juga mengkaji penyesuaian pajak ekspor batu bara guna meningkatkan penerimaan negara, seiring tren kenaikan harga komoditas. Kebijakan ini diharapkan menjadi bantalan fiskal menghadapi ketidakpastian global.

Di sektor energi, pemerintah mendorong percepatan konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Langkah ini merupakan strategi efisiensi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak yang harganya tengah melonjak akibat konflik geopolitik.

Tak hanya itu, pemerintah juga mengkaji penerapan skema Work From Home (WFH) satu hari dalam lima hari kerja. Kebijakan ini bertujuan menghemat konsumsi bahan bakar dari mobilitas harian. Rencana ini tidak hanya berlaku bagi ASN, tetapi juga diharapkan dapat diadopsi sektor swasta dan pemerintah daerah, dengan target implementasi setelah Idulfitri 2026.

Meski berbagai kebijakan disiapkan, pemerintah memastikan tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Langkah-langkah tersebut menunjukkan respons adaptif pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah gejolak global yang masih berlangsung.

Continue Reading

News

Prabowo Ajak Bangsa Eratkan Persatuan di Momen Lebaran

Published

on

Monitorday.Com – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ia mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan momen kemenangan ini sebagai ajang memperkuat persatuan nasional.

Dalam pesannya, Prabowo mengungkapkan rasa syukur atas pertemuan kembali umat Muslim dengan Idul Fitri, serta menyampaikan ucapan selamat atas nama pribadi, keluarga, dan pemerintah Republik Indonesia.

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin. Mari kita manfaatkan momen Idul Fitri ini untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi dan memperkuat persatuan sebagai satu bangsa di tengah berbagai tantangan yang kita hadapi,” ujar Prabowo.

Presiden menekankan pentingnya memanfaatkan Idul Fitri sebagai momentum untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahmi. Menurutnya, kebersamaan dan persatuan merupakan kunci esensial dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa di masa mendatang.

Prabowo juga menyoroti urgensi menjaga semangat gotong royong sebagai satu keluarga besar bangsa Indonesia.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus bekerja keras dalam membangun negara yang lebih adil, sejahtera, dan kuat demi masa depan.

Continue Reading

News

Pesan Idul Fitri 1447 H, Muchlas Rowi: Kedewasaan Umat Diuji dalam Perbedaan

Published

on

Monitorday.com, Bandung — Idul Fitri sering dipahami sebagai puncak kemenangan. Namun bagi Dr. M. Muchlas Rowi, kemenangan itu bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari ujian yang lebih halus: bagaimana manusia menjaga kelapangan hati setelah sebulan ditempa.

Dalam khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Antapani, Kota Bandung pada Jum’at (20/3), Wakil Bendahara Majlis Diktilitbang PP Muhammadiyah ini mengajak jamaah melihat kembali satu peristiwa penting dalam sejarah Islam: Perang Uhud.

“Dari peristiwa Uhud kita belajar satu hal yang sangat penting: kemenangan dalam Islam bukan berarti perjalanan hidup tanpa ujian,” ujarnya.

Nada khutbahnya tidak meninggi, tetapi mengendap—seperti mengajak setiap orang bercermin.

Ramadhan, menurutnya, bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Lebih dalam dari itu, ia adalah latihan pengendalian diri yang paling jujur.

“Ramadhan mengajarkan kita menahan diri—menahan amarah, menahan ego, menahan lisan dari kata-kata yang menyakiti orang lain,” kata Muchlas.

Namun refleksi itu tidak berhenti pada dimensi personal. Ia bergerak ke ruang sosial—ke sesuatu yang setiap tahun kembali hadir, dan setiap tahun pula menguji kedewasaan umat: perbedaan.

Dalam Ramadhan tahun ini, umat Islam di Indonesia kembali dihadapkan pada realitas yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan beragama: perbedaan dalam menentukan awal puasa dan hari Lebaran.

Sebagian memulai lebih awal. Sebagian menyusul. Sebagian merayakan hari ini. Sebagian lagi mungkin esok.

Bagi Staf Ahli Mendikdasmen Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial ini, perbedaan itu bukan masalah. Cara menyikapinya lah yang menentukan kualitas keimanan.

“Namun perbedaan itu seharusnya tidak menjadikan hati kita sempit. Justru di situlah kedewasaan umat diuji,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa takwa tidak hanya diukur dari intensitas ibadah, tetapi dari keluasan hati dalam menerima realitas yang tidak selalu seragam.

“Orang yang bertakwa bukan hanya yang rajin beribadah, tetapi juga yang lapang hatinya dalam menyikapi perbedaan,” ujarnya.

Di tengah masyarakat yang kerap mudah terbelah oleh perbedaan kecil, pesan itu terasa relevan—bahkan mendesak.

Idul Fitri, dalam tafsir Muchlas, bukan sekadar momentum kembali ke fitrah secara spiritual, tetapi juga kesempatan memperluas ruang batin: menerima, memahami, dan tetap bersaudara di tengah perbedaan.

Sebab mungkin, kemenangan sejati bukan ketika semua menjadi sama, melainkan ketika perbedaan tidak lagi melahirkan jarak.

Continue Reading

News

Sekolah Bakal Terapkan Pembelajaran Hybrid Imbas Kebijakan Hemat Energi, Mulai Kapan?

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com — Pemerintah memastikan kebijakan penghematan energi nasional akan berdampak langsung pada sistem kegiatan belajar mengajar di Indonesia. Mulai April 2026, sekolah di berbagai daerah akan menerapkan penyesuaian metode pembelajaran, termasuk kombinasi daring dan tatap muka.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi efisiensi energi nasional menyusul kenaikan harga minyak dunia. Sektor pendidikan menjadi salah satu fokus utama selain kesehatan dan layanan publik lainnya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menyatakan bahwa penyesuaian metode pembelajaran akan dilakukan secara fleksibel, menyesuaikan karakteristik setiap mata pelajaran.

“Penyesuaian metode pembelajaran daring dan luring akan dilakukan sesuai karakteristik mata pelajaran,” ujar Pratikno dalam keterangannya di Jakarta.

Ia menegaskan bahwa kegiatan pembelajaran yang membutuhkan praktik langsung tetap dilaksanakan secara tatap muka guna menjaga kualitas dan capaian kompetensi siswa.

Meski pembelajaran daring akan diperluas, pemerintah memastikan kualitas pendidikan tidak akan dikorbankan. Mata pelajaran berbasis praktikum akan tetap berlangsung secara langsung di sekolah.

Menurut Pratikno, kebijakan ini dirancang secara hati-hati agar tidak menimbulkan dampak negatif yang berlebihan di masyarakat. Pendekatan yang digunakan berbasis data konsumsi energi dan tingkat mobilitas di tiap sektor.

Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, yang meminta kementerian dan lembaga menyusun strategi penghematan energi lintas sektor secara responsif dan berbasis data.

Pembahasan teknis dilakukan melalui Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Kebijakan Penghematan BBM yang digelar secara daring dan melibatkan sejumlah kementerian terkait.

Dalam rapat tersebut, pemerintah menyepakati lima strategi utama penghematan energi, yaitu:

  1. Penerapan skema kerja fleksibel bagi aparatur sipil negara (ASN)
  2. Optimalisasi platform digital dalam layanan publik
  3. Pembatasan mobilitas perjalanan dinas
  4. Efisiensi operasional gedung perkantoran dan sekolah
  5. Penyesuaian pembelajaran daring dan luring

Khusus sektor pendidikan, implementasi pembelajaran daring akan mempertimbangkan kebutuhan tiap jenjang serta jenis mata pelajaran.

Pemerintah juga mencermati sejumlah isu lanjutan, seperti kemungkinan penyesuaian distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) apabila terjadi perubahan pola kehadiran siswa di sekolah.

Selain itu, opsi skema pembiayaan alternatif tengah dikaji guna memastikan akses internet bagi peserta didik tetap terjamin selama penerapan pembelajaran daring.

Koordinasi lintas kementerian disebut menjadi kunci keberhasilan implementasi kebijakan ini agar tidak mengganggu pelayanan publik.

Sebagai tindak lanjut, hasil rapat akan dirumuskan dalam laporan resmi kepada Presiden yang memuat analisis konsumsi energi sektor pembangunan manusia serta rekomendasi langkah penghematan dari masing-masing kementerian.

Pemerintah menargetkan kebijakan penghematan energi lintas sektor ini mulai diterapkan pada April 2026. Sejumlah kementerian yang terlibat antara lain Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Agama, Kementerian PAN-RB, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Dengan pendekatan berbasis data serta pengalaman pengaturan mobilitas selama pandemi COVID-19, pemerintah optimistis efisiensi energi dapat berjalan tanpa mengorbankan mutu pendidikan nasional.

Continue Reading

News

Trump dan Putin Sampaikan Ucapan Idulfitri 2026, Tekankan Nilai Kebersamaan dan Spiritual

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idulfitri 2026 kepada umat Islam di negaranya. Dalam pernyataan resmi Gedung Putih yang dirilis pada Rabu (18/3), Trump menekankan bahwa Idulfitri merupakan momen penting untuk mempererat hubungan keluarga, sahabat, dan komunitas setelah menjalani ibadah selama bulan Ramadan.

Ia juga menyebut hari raya tersebut sebagai pengingat akan prinsip dasar Amerika Serikat, khususnya kebebasan beragama yang menurutnya terus diperjuangkan pemerintahannya.

“Saya dan Ibu Negara menyampaikan ucapan selamat terbaik kami kepada setiap warga Amerika yang merayakan Idulfitri. Kami juga mengirimkan salam hangat untuk Idulfitri yang penuh berkah kepada semua yang merayakan,” ujar Trump dalam pernyataannya.

Ucapan serupa juga datang dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menyampaikan pesan kepada umat Islam di negaranya melalui pernyataan resmi Kedutaan Besar Rusia di Indonesia. Putin menilai Idulfitri sebagai simbol upaya spiritual umat Islam dalam mencapai kesempurnaan moral, sekaligus menjunjung tinggi nilai kemurahan hati dan kasih sayang.

Ia menambahkan bahwa umat Islam di Rusia terus menjaga tradisi sejarah dan spiritual warisan leluhur serta merayakan hari raya tersebut secara luas, baik di lingkungan keluarga maupun komunitas.

Putin juga menyoroti berbagai kegiatan selama bulan Ramadan, seperti acara amal, budaya-edukatif, hingga kegiatan untuk anak-anak, yang dinilai telah menjadi tradisi positif. Menurutnya, organisasi-organisasi Islam di Rusia berperan penting dalam memperkuat institusi keluarga, membina generasi muda, serta membangun dialog konstruktif dengan negara dan masyarakat.

Lebih lanjut, Putin memberikan apresiasi khusus kepada umat Islam yang turut berkontribusi dalam membela negara dan mendukung keluarga para pahlawan.

Umat Islam di Amerika Serikat dan Rusia diketahui merayakan Idulfitri pada Jumat (20/3). Di AS, sejumlah masjid, termasuk yang dikelola oleh North American Foundation of Islamic Services di Chicago, menggelar salat Id berjamaah. Sementara itu, di Rusia, salat Id juga dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah, terutama di kawasan selatan yang mayoritas penduduknya Muslim.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



News5 minutes ago

Prabowo: Indonesia Tak Pernah Janji Bayar Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump

News13 minutes ago

Mengurai Perbedaan Lebaran di Indonesia

News10 hours ago

Momen Hangat Prabowo Halalbihalal Bareng Jokowi di Istana Merdeka

LakeyBanget11 hours ago

Moto3 Brasil: Veda Ega Start Keempat, Peluang Raih Poin Terbuka Lebar

LakeyBanget11 hours ago

Juara Sprint Race MotoGP Brasil, Marc Marquez Kasih Paham Di Giannantonio

LakeyBanget18 hours ago

Cristiano Ronaldo Sampaikan Ucapan Selamat Idul Fitri 1447 H untuk Umat Muslim

LakeyBanget19 hours ago

Menpora Erick Kirim Pesan Menyentuh di Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah

LakeyBanget19 hours ago

Comeback Spektakuler! BTS Pecahkan Rekor Baru Lewat Album “Arirang”

LakeyBanget19 hours ago

Ivan Gunawan: Idul Fitri Jadi Momentum Berbagi Kasih Meski Terpisah Jarak

LakeyBanget20 hours ago

Kejutan Skuad Garuda, John Herdman Rilis 24 Pemain untuk FIFA Series 2026

News24 hours ago

KBRI Ankara Rayakan Idul Fitri, Dubes Achmad Rizal: Pentingnya Persatuan WNI

News1 day ago

Rismon Klarifikasi, Sains Mengoreksi Diri?

News2 days ago

Investasi Aset Digital Menurut Islam

News2 days ago

Jurus Prabowo Tangkis Dampak Perang Timur Tengah Pajak hingga WFH Disiapkan

News2 days ago

Prabowo Ajak Bangsa Eratkan Persatuan di Momen Lebaran

Review2 days ago

Dialektika dalam Penetapan Awal dan Akhir Ramadhan: Keniscayaan atau Kelemahan

News2 days ago

Pesan Idul Fitri 1447 H, Muchlas Rowi: Kedewasaan Umat Diuji dalam Perbedaan

News2 days ago

Sekolah Bakal Terapkan Pembelajaran Hybrid Imbas Kebijakan Hemat Energi, Mulai Kapan?

News2 days ago

Trump dan Putin Sampaikan Ucapan Idulfitri 2026, Tekankan Nilai Kebersamaan dan Spiritual

News2 days ago

Haedar Nashir Imbau Elite Bangsa Beri Teladan

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.