Connect with us

Ruang Sujud

Menjaga Amanah dalam Sunyi

Published

on

Monitorday.com – Kisah ini bukan bermula dari ruang konferensi atau forum resmi, melainkan dari sebuah unggahan media sosial. Dinukil dari laman Facebook Haedar Nashir, Selasa dini hari, 10 Februari 2026, sebuah pengalaman kecil di perjalanan kereta api berubah menjadi refleksi tentang kepercayaan (amanah) dan profesionalisme layanan publik.

“Tepat pukul 01.24 WIB saya turun di Stasiun Tugu Yogyakarta dengan Kereta api Gajayana jurusan Malang,” tulisnya.

Kereta Api Gajayana berhenti sebentar di Stasiun Tugu Yogyakarta. Proses turun berjalan normal. Tak ada firasat apa pun. Namun baru sepertiga perjalanan menuju rumah, kesadaran itu datang: iPad mini yang biasa dipakai mengetik tertinggal di kereta.

“Kehilangan Ipad tentu sangat merisaukan. Bukan bendanya, tapi isinya,” tuturnya.

Di dalam perangkat itu tersimpan data, dokumen, serta bahan kuliah untuk mahasiswa S3 Program Studi Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Malam sebelumnya, ia memang sempat menulis bahan kuliah saat keberangkatan dari Stasiun Gambir pukul 18.50 WIB. Kantuk yang datang setelah agenda seharian membuatnya tertidur sesaat. Tanpa disadari, iPad terjatuh di pinggir kursi dan terlupakan ketika turun.

Laporan resmi segera dibuat. Petugas merespons dengan sigap dan detail, menanyakan jenis, warna, casing, hingga nomor kursi. Dalam situasi dini hari, respons cepat itu menjadi titik awal tumbuhnya harapan.

Karena menyangkut barang penting, Haedar Nashir juga menghubungi Kepala Stasiun Yogyakarta, Raja Husein Pandapotan Harahap, yang sebelumnya dikenal saat bertugas di Stasiun Gambir. Pesan WhatsApp dikirim pukul 01.49 WIB.

“Rasanya tidak nyaman mengganggu Pak Raja yang tentu sudah istirahat, tapi apa boleh buat,” tulisnya.

Balasan datang cepat. “Siap Bapak,” jawab Raja, sebagaimana dikisahkan Haedar Nashir.

Namun pukul 02.15 WIB, kabar berikutnya belum menggembirakan. iPad belum ditemukan di gerbong. Kegundahan sempat muncul.

“Sudahlah, kalau memang rizkinya, Ipad akan kembali. Kalau pun tidak, semoga ada yang menemukan dan berkenan mengembalikan,” ujarnya.

Pukul 06.15 WIB, kabar baik akhirnya datang. iPad ditemukan dalam perjalanan terakhir di Stasiun Kota Malang. Foto perangkat tersebut dikirim sebagai bukti. Rasa lega pun menyelimuti pagi itu.

Meski tanpa iPad, pukul 10.00 WIB kuliah tetap berlangsung. “Saya mengabarkan kalau kali ini kuliah tanpa tayangan powerpoint,” tulisnya. Ia menyebut bahan kuliah sedang “jalan-jalan” bersama Kereta Api Gajayana ke Malang. Perkuliahan berjalan menggunakan papan tulis whiteboard, bahkan terasa lebih leluasa.

Siang harinya, sekitar pukul 14.25 WIB, iPad tiba kembali di Yogyakarta dan diambil perwakilan tim Media Komunikasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Serah terima berlangsung resmi dan terdokumentasi.

“Alhamdulillah Ipad sudah saya terima dengan baik di rumah… Terimakasih untuk seluruh kru KAI atas pelayanan dan bantuan terbaiknya,” tulisnya lagi dalam pesan yang ia kirimkan kepada Kepala Stasiun.

Kisah sederhana ini menjadi catatan tentang bagaimana sistem layanan publik bekerja. Bagi Haedar Nashir, pengalaman tersebut bukan sekadar tentang perangkat yang kembali.

“KAI saat ini makin baik dan luar biasa pelayanannya… Tandanya manajemen KAI kian berkembang modern,” tuturnya.

Dalam perspektif administrasi publik, peristiwa ini menegaskan bahwa kepercayaan publik tidak lahir dari slogan, melainkan dari pengalaman konkret warga ketika berhadapan dengan layanan negara. Seperti dikemukakan Mark H. Moore, nilai publik (public value) terbentuk ketika institusi mampu menghadirkan manfaat nyata dan dapat dirasakan. Respons cepat, koordinasi yang efektif, dan akuntabilitas dalam pengembalian barang adalah bentuk nilai itu.

Paradigma New Public Service yang diperkenalkan Janet V. Denhardt dan Robert B. Denhardt menegaskan bahwa tugas aparatur bukan sekadar menjalankan prosedur, tetapi melayani warga dengan integritas. Profesionalisme bukan hanya soal sistem, tetapi juga etika.

Dan di situlah kisah Sang Ketum PP Muhammadiyah ini menemukan resonansinya dengan bulan puasa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan integritas—berbuat benar meski tak diawasi. Aparatur yang tetap bekerja sigap pukul 02.00 WIB, tanpa sorot kamera, tanpa publikasi, sejatinya sedang mempraktikkan nilai yang sama: bekerja dalam sunyi, tetapi bernilai bagi orang lain.

Jika puasa melatih manusia untuk jujur pada Tuhan dalam kesendirian, maka profesionalisme melatih aparatur untuk jujur pada amanah dalam tugasnya. Keduanya bertemu pada satu titik: kepercayaan.

Dan mungkin, pagi itu, yang kembali bukan hanya iPad.

Yang kembali adalah keyakinan bahwa pelayanan publik, seperti puasa, menemukan maknanya justru ketika dijalankan dengan tulus—meski tak selalu terlihat.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ruang Sujud

Ekonomi Berdikari Prabowo dalam Perspektif Pemikir Dunia dan Indonesia

Konsep ekonomi berdikari yang digaungkan Presiden Prabowo dinilai memiliki akar kuat dalam teori kemandirian ekonomi global dan gagasan ekonomi kerakyatan Indonesia.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan pentingnya “ekonomi berdikari” sebagai arah pembangunan nasional di tengah ketidakpastian global. Menurut sejumlah pidato dan pernyataan resmi yang dikutip media nasional, Prabowo menyebut bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi, terutama dalam sektor pangan, energi, dan industri strategis.

Secara konseptual, gagasan berdikari memiliki resonansi kuat dengan pemikiran Soekarno. Dalam pidato-pidatonya, Soekarno menekankan prinsip “berdikari dalam ekonomi” sebagai bagian dari Trisakti: berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Bagi Soekarno, ketergantungan pada kekuatan asing berpotensi melemahkan kedaulatan nasional. Konsep ini menempatkan produksi nasional dan penguasaan sumber daya sebagai fondasi kemerdekaan sejati.

Dari sisi teori ekonomi dunia, gagasan ekonomi berdikari dapat dikaitkan dengan pemikiran Friedrich List tentang “National System of Political Economy”. List menolak liberalisme pasar bebas absolut yang digagas Adam Smith, dan menekankan perlunya proteksi industri nasional pada tahap awal pembangunan. Menurut List, negara berkembang perlu melindungi dan memperkuat industrinya sebelum bersaing secara penuh di pasar global. Pendekatan ini relevan dengan strategi hilirisasi dan substitusi impor yang kini digencarkan pemerintah.

Selain itu, teori “dependency” yang dipopulerkan oleh Andre Gunder Frank juga memberi konteks akademik pada ekonomi berdikari. Teori ini menjelaskan bagaimana negara berkembang sering terjebak dalam ketergantungan struktural terhadap negara maju melalui ekspor bahan mentah dan impor produk jadi. Dalam perspektif ini, hilirisasi sumber daya alam yang didorong pemerintah menjadi upaya memutus pola ketergantungan tersebut.

Di Indonesia sendiri, pemikiran Mohammad Hatta tentang koperasi sebagai sokoguru perekonomian juga sejalan dengan semangat berdikari. Hatta menekankan ekonomi kerakyatan berbasis gotong royong, bukan dominasi modal besar semata. Konsep ini tercermin dalam dorongan pemerintah untuk memperkuat UMKM, petani, dan pelaku usaha lokal sebagai aktor utama pertumbuhan ekonomi.

Lebih jauh, pendekatan ekonomi berdikari juga dapat dibaca melalui perspektif pembangunan struktural ala Alexander Hamilton yang mendorong industrialisasi nasional Amerika Serikat melalui kebijakan proteksi dan penguatan manufaktur. Strategi hilirisasi mineral seperti nikel dan bauksit yang kini dijalankan Indonesia menunjukkan kemiripan dengan strategi industrial policy yang pernah diterapkan negara-negara maju pada fase awal pertumbuhannya.

Namun, ekonomi berdikari bukan berarti autarki atau menutup diri dari perdagangan internasional. Dalam teori ekonomi modern, keterbukaan tetap penting, tetapi harus diimbangi dengan kapasitas domestik yang kuat. Pendekatan ini selaras dengan gagasan “strategic trade policy” dalam ekonomi internasional yang memungkinkan negara melindungi sektor-sektor strategisnya tanpa sepenuhnya keluar dari sistem global.

Menurut sejumlah analis yang dikutip media nasional, implementasi ekonomi berdikari membutuhkan konsistensi kebijakan, investasi pada sumber daya manusia, dan penguatan infrastruktur. Tanpa reformasi struktural, visi kemandirian berisiko menjadi retorika. Namun dengan bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, dan pasar domestik yang besar, Indonesia memiliki modal objektif untuk mewujudkan strategi tersebut.

Pada akhirnya, ekonomi berdikari yang disebut Prabowo merupakan sintesis antara warisan pemikiran pendiri bangsa dan teori pembangunan modern dunia. Ia menggabungkan semangat nasionalisme ekonomi ala Soekarno, ekonomi kerakyatan ala Hatta, serta pendekatan industrial policy ala List dan Hamilton. Tantangan global justru menjadi momentum untuk menata ulang struktur ekonomi nasional agar lebih tangguh, berdaulat, dan berdaya saing dalam jangka panjang.

Continue Reading

Ruang Sujud

KHGT Tawarkan Kepastian, Perbedaan Awal Ramadan Tetap Tak Terhindarkan

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) oleh Muhammadiyah memicu diskusi mengenai potensi perbedaan penetapan awal Ramadan dengan pemerintah. Isu ini mencuat dalam sesi tanya jawab pada Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Jumat (13/02).

Para peserta menyoroti adanya perbedaan mendasar antara kriteria hisab yang kini diadopsi Muhammadiyah dengan metode imkanur rukyat yang digunakan pemerintah, serta implikasi sistem kalender global terhadap keseragaman awal ibadah puasa.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Maesyarah, menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah beralih dari metode hisab hakiki wujudul hilal lama ke KHGT yang berbasis kriteria astronomis global. Ia menerangkan bahwa standar KHGT lebih ketat, yaitu tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat, berbeda dengan wujudul hilal sebelumnya yang hanya mensyaratkan ijtimak dan hilal di atas ufuk berapapun ketinggiannya.

Menekankan prinsip global KHGT, Maesyarah menyatakan, “Kalau kriteria itu terpenuhi di mana pun di dunia, selama ijtimak terjadi sebelum pukul 24.00 UTC, maka dihitung sebagai awal bulan hijriah.”

Menurut Maesyarah, perbedaan dengan pemerintah berpotensi terjadi karena pemerintah mengadopsi pendekatan wilayah lokal (wilayatul hukmi), sementara KHGT berpegang pada prinsip matlak global. Hal ini mengakibatkan hasil penetapan awal bulan berpotensi tidak selalu sama.

Ia menegaskan perbedaan mendasar tersebut, “Karena kita global, sementara pemerintah lokal. Jadi tidak selalu bertemu.”

Continue Reading

Ruang Sujud

Imam Al-Ghazali Mundur Sebagai Rektor Universitas, ketika Banyak Ulama Sibuk Menjilat Penguasa

Tubagus F Madroi

Published

on

Ruangsujud.com – Di masa mudanya, Al-Ghazali adalah merupakan Akademisi Mashur. Di mana saat usia 33 tahun, ia menjabat sebagai pemimpin Madrasah Nidhomiyyah di Baghdad, universitas paling prestisius di dunia Islam saat itu.

Posisinya setara dengan Rektor Universitas Negeri dan Penasihat Presiden saat ini. la dekat dengan Sultan, gajinya besar, dan fatwanya ditunggu-tunggu oleh negara.

Namun, di puncak kejayaan itu, Al-Ghazali melihat sesuatu yang busuk.

la menyadari bahwa kampus yang dipimpinnya bukan lagi tempat mencari kebenaran, melainkan Alat Politik Negara.

Kurikulum didesain untuk mencetak hakim dan birokrat yang loyal pada penguasa Bani Seljuk.

Ulama berlomba-lomba menjilat istana demi jabatan. Ilmu agama dijadikan komoditas untuk meraih status sosial.

Tapi Al-Ghazali tidak menunjuk hidung orang lain. Justru Ia menunjuk dirinya sendiri.

Dalam otobiografinya, ia menulis pengakuan yang jujur: “Aku memeriksa niatku dalam mengajar. Ternyata itu tidak murni karena Allah, melainkan demi mencari popularitas.

la sadar, bahwa dirinya adalah bagian dari masalah. Karena la adalah “petinggi” dari sistem yang memproduksi kemunafikan.

Krisis batin itu begitu hebat. Hatinya menolak untuk terus berpura-pura menjadi pejabat saleh di tengah sistem yang korup.

Al-Ghazali pun kemudian mengambil keputusan yang mengguncang Baghdad. la mengundurkan diri. la tinggalkan jabatan, dan semua fasilitas mewah yang selama ini ia dapat.

la kemudian memilih menjadi pengembara miskin, menyapu lantai masjid di Damaskus, demi menyelamatkan integritas jiwanya.

Dalam pengasingannya, ia menulis karya momumental, Ihya Ulumuddin, untuk mengingatkan bahwa ilmu agama yang diterapkan dalam kehidupan kita, harus disertai dengan ruh spiritualitas.

Continue Reading

Ruang Sujud

AI, Iman, dan Cermin Kekuasaan

Tulisan ini menyoroti bagaimana kecerdasan buatan menjadi “cermin baru” yang memantulkan sekaligus membentuk iman, otoritas, dan relasi kuasa di era digital.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini tak hanya menyentuh sektor ekonomi dan pendidikan, tetapi juga memasuki ruang-ruang spiritual dan wacana keagamaan. Dalam berbagai ulasan terbaru, AI digambarkan sebagai “cermin baru” bagi manusia modern—alat yang tidak sekadar memproses data, tetapi juga memantulkan nilai, keyakinan, serta struktur kekuasaan yang hidup di tengah masyarakat.

Konsep “cermin” ini merujuk pada kemampuan AI mereproduksi dan merefleksikan apa yang ditanamkan kepadanya. Ketika teknologi ini digunakan untuk menjawab pertanyaan agama, merangkum tafsir, atau memberikan nasihat spiritual, muncul pertanyaan mendasar tentang otoritas. Siapa yang memegang kendali pengetahuan: ulama, institusi, atau algoritma yang dirancang manusia?

Di sisi lain, kehadiran AI juga memunculkan kekhawatiran akan pergeseran pola otoritas tradisional. Sistem yang mampu mengakses ribuan referensi dalam hitungan detik dinilai berpotensi mengubah cara umat mencari jawaban keagamaan. Namun demikian, AI tetap bergantung pada data, perspektif, dan batasan yang diprogramkan manusia, sehingga tidak sepenuhnya berdiri netral.

Berbagai ulasan juga menekankan pentingnya etika dalam pengembangan dan penggunaan AI di ruang keimanan. Tanpa kerangka moral yang jelas, teknologi dapat memperkuat bias, kepentingan, atau bahkan dominasi tertentu. Karena itu, literasi digital dan kesadaran teologis menjadi prasyarat penting agar masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen teknologi.

Pada akhirnya, AI dipandang sebagai alat—bukan pengganti iman atau otoritas spiritual. Ia dapat menjadi sarana memperkaya diskusi dan akses pengetahuan, tetapi tetap memerlukan pengawasan nilai serta tanggung jawab kolektif agar tidak menimbulkan ketimpangan baru dalam lanskap keagamaan.

Continue Reading

Ruang Sujud

Buah Khuldi yang Dimakan oleh Adam dan Hawa Tidaklah Seperti yang Kita Bayangkan

Tubagus F Madroi

Published

on

Ruangsujud.com – Di taman surga nan indah, Nabi Adam Alaihissalam dan Siti Hawa menikmati segala buah-buahan dan kenikmatan surga.

Mereka bebas mencicipi apa saja, kecuali satu pohon terlarang yang diperingatkan Allah untuk tidak mendekatinya.

Pohon misterius itu kemudian tersohor sebagai pohon khuldi, meski Al-Qur’an tidak pernah menyebut nama buah tersebut.

Iblis pun melihat celah untuk menggoda. Ia berbisik dengan tipu daya bahwa pohon terlarang itu sebenarnya “pohon keabadian” yang akan membuat Adam dan Hawa kekal di surga.

Terpedaya rayuan tersebut, keduanya memetik dan memakan buah itu.

Seketika aurat mereka tersingkap dan penyesalan pun memenuhi hati.

Mereka telah melanggar titah Ilahi, sehingga harus turun dari surga ke bumi, memulai hidup baru sambil memohon ampunan Tuhan.

Misteri buah terlarang itu pun mengundang tanya, sebab Al-Qur’an tak pernah merincinya dan hanya menyebutnya sebagai “pohon”.

Para ulama berbeda pendapat tentang apa sebenarnya buah huldi itu.

Sebagian mengatakan bahwa buah khuldi adalah anggur, karena menyimbolkan sesuatu yang memabukkan hingga hilang kesadaran.

Sementara yang lain ada yang menyebut buah khuldi adalah gandum, atau bahkan membayangkannya sebagai buah apel.

Namun lebih banyak ulama menegaskan bahwa manusia tak perlu memastikan jenis buah ini.

Cendekiawan modern Sayyid Qutub bahkan menganggap “pohon khuldi” adalah sekedar simbol larangan Tuhan yang dihadapi manusia di bumi.

Sebab, inti kisah ini adalah ujian ketaatan dan konsekuensi melanggar perintah Allah, bukan pada jenis buah tersebut.

Continue Reading

Ruang Sujud

Saat Abdurrahman bin Auf Mengimami Rasulullah

Published

on

Sepanjang hidupnya, saat menunaikan shalat lima waktu, Rasulullah Saw hampir tak pernah menjadi makmum bagi siapa pun. Beliau selalu berdiri di depan, memimpin langsung para sahabat. Namun ada satu kisah istimewa yang tercatat dalam Shahih Muslim: hanya satu sahabat yang pernah benar-benar menjadi imam ketika Rasulullah Saw ikut shalat bersamanya. Dialah Abdurrahman bin Auf.

Beberapa kali Rasulullah Saw sebenarnya pernah meminta para sahabat untuk maju menjadi imam. Tapi setiap kali itu pula mereka mundur. Tak ada yang merasa pantas berdiri di depan manusia paling mulia di muka bumi. Rasa hormat dan cinta membuat mereka gemetar untuk mengambil posisi itu.

Suatu hari, ketika Rasulullah Saw sedang sakit, Abu Bakar Ash-Shiddiq akhirnya maju menjadi imam. Di tengah shalat, saat tasyahud awal, Rasulullah Saw datang dengan dipapah Ali bin Abi Thalib dan seorang sahabat lainnya. Beliau lalu duduk di belakang Abu Bakar. Menyadari kehadiran Rasulullah, Abu Bakar spontan mundur. Ia tak sanggup meneruskan shalat sebagai imam di hadapan Nabi.

Namun setelah shalat usai, Rasulullah Saw justru menegur dengan lembut. “Mengapa tadi tidak engkau teruskan saja? Supaya suatu saat ada pengganti ketika aku sakit atau berhalangan,” sabda beliau. Abu Bakar menjawab dengan rendah hati, “Bagaimana mungkin saya menjadi imam bagi manusia paling sempurna di muka bumi?”

Keesokan harinya, menjelang shalat Ashar, waktu sudah masuk awal. Rasulullah Saw sedang pergi untuk menunaikan hajat. Para sahabat bersiap shalat. “Shalat di awal waktu adalah ajaran beliau sendiri,” kata salah satu sahabat. Tapi lagi-lagi, tak ada yang berani maju menjadi imam.

Tiba-tiba, Abdurrahman bin Auf melangkah ke depan. Tanpa ragu ia mengangkat takbir dengan suara lantang dan merdu. Shalat pun dimulai.

Di tengah rakaat, Rasulullah Saw datang dan ikut bergabung sebagai makmum. Para sahabat yang melihat itu memberi isyarat—seakan meminta Abdurrahman mundur agar Rasulullah maju menjadi imam. Tapi Abdurrahman tetap tenang. Ia tak menoleh, tak goyah. Ia melanjutkan shalat hingga selesai.

Selesai salam, sebagian sahabat cemas. Jangan-jangan Rasulullah Saw marah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Rasulullah tersenyum, lalu menepuk pundak Abdurrahman bin Auf. “Bagus. Engkau telah melaksanakan shalat sesuai dengan ajaran dan hadits yang aku sampaikan.”

Dari kisah ini, ada pelajaran besar tentang keberanian dan ketaatan. Bukan soal siapa yang berdiri di depan, tapi soal konsistensi menjalankan perintah. Abdurrahman bin Auf bukan sedang merasa paling pantas. Ia hanya sedang patuh pada prinsip: shalat di awal waktu, dan ketika dibutuhkan, maju tanpa ragu.

Continue Reading

News

Bedah Buku 30 Fatwa Ramadhan Ustadz Abdul Somad

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Ustadz Abdul Somad memimpin acara Tarhib Ramadhan yang berfokus pada bedah buku “30 Fatwa Ramadhan”. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan suci Ramadhan, menarik perhatian jamaah yang ingin memperdalam pemahaman mereka tentang hukum dan tata cara ibadah puasa.

Acara tersebut bertujuan untuk membekali umat Islam dengan pengetahuan yang komprehensif mengenai berbagai permasalahan fiqih seputar Ramadhan. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa sesuai dengan tuntunan syariat, serta memaksimalkan keberkahan di bulan yang mulia.

Dalam ceramahnya, Ustadz Abdul Somad menekankan pentingnya ilmu sebagai fondasi dalam setiap amal ibadah. “Sesungguhnya, beribadah tanpa ilmu ibarat berjalan di kegelapan,” ujar Ustadz Abdul Somad. “Ramadhan adalah waktu untuk meningkatkan ketakwaan, dan ketakwaan itu harus didasari oleh pemahaman yang benar.”

Beliau juga menggarisbawahi relevansi dan urgensi pembahasan fatwa-fatwa terkait Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari umat. “Buku ’30 Fatwa Ramadhan’ ini hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sering muncul di tengah masyarakat,” katanya. “Dengan memahami fatwa ini, umat akan lebih mantap dalam beribadah dan menjauhi keraguan.”

Kegiatan Tarhib Ramadhan yang dipimpin oleh Ustadz Abdul Somad ini disambut antusias oleh para hadirin. Diskusi interaktif juga menjadi bagian dari acara, memberikan kesempatan bagi jamaah untuk bertanya langsung mengenai persoalan fiqih yang mereka hadapi.

Antusiasme jamaah dalam mengikuti bedah buku dan ceramah menunjukkan tingginya kesadaran akan pentingnya persiapan spiritual dan intelektual menjelang Ramadhan. Acara ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan kualitas ibadah puasa umat Islam.

Continue Reading

Ruang Sujud

MBG: Dari Nilai Sahabat Nabi ke Kebijakan Nasional

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Program makan bergizi gratis yang kini digagas Presiden Prabowo Subianto sejatinya bukanlah gagasan yang lahir dari ruang hampa. Dalam sejarah Islam, semangat berbagi makanan telah dicontohkan sejak masa para sahabat Nabi Muhammad SAW. Solidaritas sosial dibangun bukan atas dasar kemewahan hidangan, melainkan atas niat tulus memenuhi kebutuhan dasar sesama.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, misalnya, diriwayatkan bahwa beliau kerap berkeliling pada malam hari untuk memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan. Ketika menemukan keluarga yang hanya merebus batu karena tak memiliki makanan, Umar sendiri memikul gandum dari Baitul Mal dan memasaknya hingga anak-anak itu tertidur dalam keadaan kenyang. Pesan moralnya jelas: yang utama adalah memastikan perut rakyat terisi, bukan memperdebatkan menu yang tersaji.

Kisah serupa juga tampak pada diri Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tetap memberi makan fakir miskin meski dalam kondisi sederhana. Bahkan dalam berbagai riwayat, para sahabat tidak pernah mempermasalahkan apakah lauk yang dibagikan hanya kurma, gandum, atau roti kasar. Nilai yang dijunjung adalah keberkahan berbagi dan keadilan sosial.

Dalam konteks kekinian, kebijakan makan bergizi gratis yang digagas Prabowo Subianto dapat dibaca dalam semangat yang sama. Program ini bertujuan memastikan anak-anak Indonesia—terutama dari keluarga kurang mampu mendapat asupan gizi yang layak demi tumbuh kembang optimal. Tentu dalam praktiknya, menu yang disajikan akan menyesuaikan ketersediaan bahan pangan lokal dan standar gizi yang ditetapkan. Tidak selalu mewah, tidak selalu variatif setiap hari.

Namun di ruang publik, muncul nada-nada sumbang yang meremehkan. Ada yang menyindir, “itu-itu saja menunya, cuma tempe, daging, dan seterusnya.” Kritik tentu sah dalam demokrasi. Tetapi kritik yang terjebak pada nyinyir tanpa melihat substansi kerap mengaburkan tujuan besar program tersebut. Bukankah yang terpenting adalah kandungan gizi, bukan gengsi hidangan?

Semangat gotong royong ini juga mendapat dukungan dari Listyo Sigit Prabowo selaku Kapolri (Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo). Dukungan institusi kepolisian menunjukkan bahwa program ini dipandang sebagai upaya strategis membangun generasi sehat sekaligus menjaga stabilitas sosial. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi, potensi kerawanan sosial akibat kesenjangan ekonomi dapat ditekan.

Belajar dari teladan para sahabat Nabi, kebijakan publik yang berpihak pada pemenuhan kebutuhan dasar adalah wujud kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan. Kita boleh berbeda pandangan, boleh mengkritisi teknis pelaksanaan, tetapi jangan sampai mengabaikan niat baik dan semangat berbagi yang menjadi ruh kebijakan tersebut.

Pada akhirnya, sejarah mengajarkan bahwa peradaban besar dibangun bukan oleh kemewahan jamuan, melainkan oleh kepedulian terhadap yang lapar. Jika hari ini negara hadir memastikan anak-anaknya makan bergizi, semangat itu patut diapresiasi. Sebab dari piring sederhana yang terisi, masa depan bangsa sedang dipupuk.

Continue Reading

Ruang Sujud

Kisah Berhala yang Bisa Bicara dan Menyampaikan Kebenaran Nabi Muhammad

Tubagus F Madroi

Published

on

Ruangsujud.com – Pada masa awal kemunculan Islam, Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu menceritakan sebuah peristiwa yang menggetarkan hati.

Suatu hari, seorang lelaki bernama Ghossan bin Malik Al-Amiri datang menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam setelah menempuh perjalanan panjang yang berat.

Ia membawa kisah aneh dari kaumnya, tentang sebuah berhala yang selama ini mereka sembah di bulan Rajab.

Ketika seorang lelaki bernama Ushom hendak menyembelih persembahan di hadapan berhala itu, tiba-tiba terdengar suara dari dalamnya yang menyeru bahwa Islam telah datang, berhala adalah batil, dan agama yang benar telah tampak.

Beberapa waktu kemudian, peristiwa serupa terjadi pada Thoriq, yang juga mendengar suara berhala mengabarkan diutusnya seorang Nabi dari keturunan Hasyim yang membawa petunjuk menuju penyembahan kepada Allah semata.

Kabar-kabar itu mengguncang keyakinan mereka hingga Ghossan sendiri mendengar seruan yang sama. Berhala tersebut bahkan jatuh telungkup seakan mengakui kebatilan dirinya.

Ketika Ghossan menyampaikan kisahnya itu, Rasulullah bertakbir dan para sahabat pun mengikutinya.

Dengan penuh keyakinan, Ghossan melantunkan syair dan bersaksi bahwa Allah adalah Yang Maha Esa, serta Islam adalah agama yang ia yakini sepanjang hidupnya.

Continue Reading

Ruang Sujud

Inilah Kota dengan Waktu Puasa Terlama di Dunia

Published

on

Monitorday.Com – Berpuasa di Indonesia bisa dibilang “bersahabat”. Di Jakarta misalnya, umat Islam rata-rata menjalani puasa sekitar 13 jam sehari, mulai dari azan Subuh hingga azan Magrib. Dibanding sejumlah negara lain, durasi ini tergolong sedang, bahkan relatif singkat.

Faktanya, lama puasa di berbagai belahan dunia memang berbeda-beda. Ada yang hanya sekitar 12 jam, tapi ada juga yang tembus 18 jam. Semua bergantung pada panjang siang dan malam di masing-masing wilayah. Semakin panjang siang hari, semakin lama pula waktu berpuasa.

Lalu, di mana puasa berlangsung paling lama?

Mengutip Al-Jazeera, Kota Nuuk di Greenland disebut sebagai salah satu wilayah dengan durasi puasa terpanjang di dunia. Di sana, umat Islam bisa berpuasa hingga sekitar 18 jam 12 menit dalam sehari—mengikuti rentang waktu dari terbit hingga terbenamnya matahari.

Greenland sendiri merupakan pulau terbesar di dunia, terletak di kawasan Arktik dan Atlantik Utara. Wilayah ini berada sangat jauh di utara dan masih menjadi bagian dari Kerajaan Denmark. Letaknya yang mendekati Kutub Utara membuat durasi siang hari bisa jauh lebih panjang dibanding negara-negara di kawasan tropis seperti Indonesia.

Tak hanya Greenland, negara-negara lain di belahan Bumi utara seperti Islandia juga mengalami durasi puasa yang lebih panjang dibanding negara-negara di belahan selatan. Perbedaan ini terjadi karena posisi Bumi terhadap matahari yang membuat panjang siang dan malam berubah sepanjang tahun.

Menariknya, durasi puasa di belahan Bumi utara sebenarnya akan sedikit berkurang setiap tahunnya hingga 2031. Pada periode itu, Ramadan diperkirakan bertepatan dengan titik balik matahari musim dingin—hari terpendek dalam setahun. Artinya, waktu siang lebih singkat dan jam puasa pun lebih pendek.

Setelah melewati fase tersebut, durasi puasa akan kembali bertambah seiring Ramadan bergerak menuju musim panas, ketika siang hari menjadi semakin panjang.

Jadi, kalau di Indonesia 13 jam terasa cukup menantang, bayangkan menjalani puasa lebih dari 18 jam di wilayah dekat Kutub Utara. Perbedaan ini menunjukkan betapa uniknya Ramadan dirasakan oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia—semuanya tetap dalam satu ibadah yang sama, meski dengan panjang hari yang berbeda.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



News8 minutes ago

Kamis Pagi Ceria IHSG Menguat 47,22 Poin

News13 minutes ago

Prabowo Jelang Rapat BoP: Kami Terus Upayakan Solusi Nyata untuk Palestina

Ruang Sujud16 minutes ago

Menjaga Amanah dalam Sunyi

News28 minutes ago

Militer AS Siaga Serang Iran, Tinggal Tunggu Perintah Trump

LakeyBanget2 hours ago

Soal Dugaan Rasisme Menimpa Vinicius, Presiden FIFA Buka Suara

News2 hours ago

Prabowo Ajak Pebisnis AS Berinvestasi di Indonesia, Tawarkan 18 Proyek Hilirisasi

LakeyBanget3 hours ago

Kecewa ke Wasit, Bojan Hodak Bakal Layangkan Protes ke AFC

LakeyBanget12 hours ago

Menang atas Ratchaburi, Persib Tetap Tersingkir di AFC Champions League Two

News13 hours ago

Uni Eropa dan CPTPP Jajaki Aliansi Ekonomi Besar di Tengah Ancaman Tarif AS

News13 hours ago

Sanae Takaichi Kembali Jadi Perdana Menteri Jepang ke-105

LakeyBanget14 hours ago

Mckenna Grace Bakal Perankan Karakter Ikonik di Serial Live-Action “Scooby-Doo”

News14 hours ago

Kemendikdasmen Naikkan Penerima Tunjangan Guru 3T di 2026

News15 hours ago

Kemendikdasmen: MBG Berdampak Positif Terhadap Konsentrasi Belajar

News15 hours ago

Menkop Ungkap Progres Pembangunan Kopdes Merah Putih

News16 hours ago

Menkeu Tegaskan Tak Naikkan Tarif Pajak, Pilih Perluas Basis dan Genjot Pertumbuhan

LakeyBanget17 hours ago

Bulgaria Siap Berlaga di FIFA Series 2026 Indonesia

News22 hours ago

Wamen Fajar: Kualitas Guru Jadi Prioritas Tutup Jurang Mutu Pendidikan

News22 hours ago

Prabowo Bertemu Trump Bahas Tarif Dagang

LakeyBanget1 day ago

Aksi Spektakuler Farhan di Liga Voli Jepang Viral, Disorot Volleyball World

LakeyBanget1 day ago

Inter dan Atletico Jalani Tandang Krusial di Playoff Liga Champions

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.