Monitorday.com – Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, menjadi saksi semangat kemanusiaan yang membara. Kamis, 26 Juni 2025, lebih dari seribu peserta dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul dalam Jambore Relawan Muhammadiyah dan Aisyiyah yang digelar oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Kegiatan ini tak hanya menjadi ajang pelatihan kesiapsiagaan, tapi juga penguatan tekad untuk terus menanamkan nilai nasionalisme dan kepedulian sesama anak bangsa.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa peran Muhammadiyah dalam setiap bencana yang melanda Indonesia selalu konsisten dan menginspirasi. Ia menyebut bahwa Muhammadiyah selalu hadir paling awal, paling siap, dan paling peduli dalam memberikan harapan di tengah krisis yang menimpa masyarakat.
“Kegiatan ini yang digelar oleh MDMC hari ini adalah bentuk nyata dari upaya kita menguatkan rasa kebangsaan. Muhammadiyah sedang mencari insan-insan muda yang tidak hanya tangguh secara fisik, tapi juga kuat secara jiwa dan mental untuk menjadi relawan dalam menghadapi bencana,” ujar Muzani penuh semangat di hadapan para peserta.
Ia menambahkan bahwa kehadiran ribuan relawan ini adalah bukti nyata bahwa gerakan sosial berbasis nilai keagamaan mampu merangkul generasi muda untuk bergerak nyata. Dalam sambutannya, Muzani menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa diperluas ke lebih banyak daerah, mengingat pentingnya relawan bencana di negara yang rawan gempa, banjir, letusan gunung api, dan bencana sosial lainnya seperti Indonesia.
MDMC sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan sipil yang memiliki struktur dan kecepatan respons luar biasa dalam menangani bencana. Sejak gempa Aceh 2004, banjir Jakarta, gempa Palu, hingga pandemi COVID-19, kehadiran MDMC selalu menjadi penopang utama dalam distribusi bantuan, pelayanan kesehatan, dan pendampingan psikososial.
Kegiatan Jambore di Tawangmangu kali ini juga menjadi panggung penting untuk mempertemukan para relawan dari 30 provinsi. Mereka dilatih, disimulasikan, dan disatukan dalam misi kemanusiaan yang sama—membantu siapa pun yang terdampak tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang sosial. Ini adalah bentuk dakwah nyata Muhammadiyah di bidang kemanusiaan.
Ahmad Muzani dalam wawancara singkat usai acara mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia saat ini butuh lebih banyak anak muda yang siap siaga, bukan hanya sebagai penggerak ekonomi, tapi juga sebagai penjaga solidaritas bangsa. Ia menilai bahwa semangat kolektif yang ditunjukkan Muhammadiyah dan Aisyiyah adalah teladan yang patut ditiru oleh seluruh organisasi sosial dan keagamaan.
“Kalau ada bencana, orang pertama yang datang seringkali bukan lembaga negara, tapi relawan-relawan Muhammadiyah. Mereka datang tanpa pamrih, langsung kerja, langsung bantu. Ini kekuatan bangsa yang tidak boleh diabaikan,” tegasnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan seluruh jaringan MDMC di daerah yang terus bergerak, bahkan di saat sorotan publik mulai surut. Ketulusan dan keberlanjutan gerakan relawan ini, menurut Muzani, adalah wajah sejati dari rasa cinta kepada tanah air.
Dalam penutupnya, Muzani mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menumbuhkan semangat kerelawanan. “Negara ini terlalu luas untuk dijaga oleh segelintir orang. Kita butuh relawan. Dan Muhammadiyah telah membuktikan bahwa mereka mampu melahirkan ribuan,” ujarnya.
Melalui Jambore ini, harapan tumbuh bahwa Indonesia ke depan akan memiliki barisan pelindung yang bukan hanya kuat secara teknis, tapi juga berlandaskan nilai moral dan cinta tanah air. Dan Muhammadiyah, seperti biasa, telah lebih dulu melangkah dalam diam yang bermakna.