Monitorday.com – Dalam Islam, nubuwah (kenabian) bukan hanya tentang menerima wahyu, tetapi juga menyangkut amanah besar untuk menyampaikan risalah Ilahi kepada umat manusia. Para Nabi adalah penghubung antara langit dan bumi, membawa pesan dari Allah yang menjadi pedoman hidup manusia. Artikel ini akan membahas pentingnya peran kenabian dalam menyampaikan wahyu dan membentuk peradaban berdasarkan nilai-nilai tauhid.
Nubuwah Sebagai Amanah Ilahiyah
Allah tidak membiarkan manusia hidup tanpa petunjuk. Oleh karena itu, Dia mengutus para Nabi untuk menyampaikan wahyu-Nya. Nubuwah menjadi mekanisme Ilahi agar manusia tidak tersesat. Dalam QS. An-Nahl: 36 disebutkan:
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah Thagut.”
Ini menunjukkan bahwa kenabian adalah sistem Ilahi yang berlaku lintas zaman dan tempat.
Kenabian Sebagai Media Risalah
Para Nabi menjadi perantara yang menyampaikan wahyu secara langsung dari Allah. Mereka bukan pencipta ajaran, melainkan penyampai murni dari wahyu yang diterima. Tidak ada kebebasan dalam mengubah isi wahyu, dan hal ini menegaskan bahwa risalah yang dibawa para Nabi berasal dari sumber yang Maha Benar dan Maha Sempurna.
Rasulullah SAW sendiri ditegaskan dalam QS. Al-Ma’idah: 67:
“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…”
Ini menunjukkan betapa penting dan sentralnya posisi Nabi dalam penyampaian risalah.
Fungsi Utama Para Nabi
Fungsi Nabi tidak terbatas pada menyampaikan wahyu, tetapi juga mencakup peran sebagai:
1. Muballigh (penyampai ajaran)
2. Mudzakkir (pemberi peringatan)
3. Basyir (pembawa kabar gembira)
4. Hakim (penegak hukum Allah)
5. Mu’allim (pendidik umat)
Kelima peran ini mencerminkan betapa luas cakupan tugas kenabian. Nabi bukan hanya pengkhotbah, tetapi juga pemimpin, pendidik, dan pembaru sosial.
Strategi Nabi dalam Menyampaikan Risalah
Setiap Nabi memiliki pendekatan dakwah yang disesuaikan dengan kondisi kaumnya. Nabi Nuh AS menggunakan kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi pembangkangan kaumnya selama ratusan tahun. Nabi Musa AS menghadapi tirani Firaun dengan keberanian dan mukjizat. Rasulullah Muhammad SAW menggunakan pendekatan damai, kelembutan hati, dan strategi diplomasi yang cerdas dalam menyampaikan Islam.
Hal ini menunjukkan bahwa menyampaikan risalah membutuhkan hikmah, kesabaran, serta kecakapan sosial dan politik.
Tantangan dalam Menyampaikan Risalah
Setiap Nabi menghadapi tantangan berat. Kaum yang keras kepala, pemimpin zalim, dan sistem sosial yang rusak menjadi hambatan serius. Bahkan, beberapa Nabi mengalami pengusiran, penyiksaan, dan pembunuhan. Namun, mereka tetap konsisten menyampaikan risalah tanpa kompromi terhadap prinsip-prinsip tauhid.
Rasulullah SAW sendiri pernah ditolak oleh kaumnya, dicaci, dilempari batu, hingga mengalami boikot sosial dan ekonomi. Namun beliau tetap melanjutkan dakwah hingga Islam berjaya.
Kenabian Sebagai Penyeimbang Dunia
Tanpa kenabian, dunia akan dipenuhi oleh hawa nafsu, kezaliman, dan penyembahan kepada makhluk. Nubuwah menjadi penyeimbang agar manusia tetap memiliki standar moral yang objektif dan tertinggi, yang berasal dari Allah. Dengan risalah para Nabi, manusia bisa membedakan antara haq dan batil.
Kenabian Penutup: Rasulullah Muhammad SAW
Nubuwah mencapai puncaknya dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah Nabi terakhir dan membawa risalah yang universal untuk seluruh umat manusia. Dalam QS. Saba: 28 ditegaskan:
“Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan…”
Dengan wafatnya Rasulullah SAW, wahyu pun berhenti. Namun, ajaran beliau tetap hidup melalui Al-Qur’an dan Sunnah.
Pewarisan Risalah: Umat Sebagai Penyambung
Setelah kenabian berakhir, tugas menyampaikan risalah diteruskan oleh umat Islam, khususnya para ulama dan dai. Rasulullah bersabda:
“Ulama adalah pewaris para Nabi.” (HR. Abu Dawud)
Ini menegaskan bahwa peran kenabian dalam menyampaikan risalah masih berlangsung dalam bentuk estafet dakwah yang tidak boleh berhenti.
Penutup
Nubuwah bukan hanya peristiwa spiritual, tetapi peran sentral yang membentuk sejarah dan moralitas umat manusia. Melalui para Nabi, Allah menyampaikan pesan-Nya agar manusia hidup sesuai petunjuk-Nya. Para Nabi telah menunaikan tugas berat dengan penuh kesabaran dan keberanian. Kini, tugas itu diwariskan kepada kita untuk terus menyampaikan kebenaran, menjaga risalah, dan menjadikannya cahaya dalam kehidupan.