Monitorday.com – Pemerintah Kota Tual terus memperkuat arah pembangunan ekonomi berbasis kelautan dan perikanan melalui konsep pembangunan agro-maritim berkelanjutan, yang diyakini menjadi motor peningkatan daya saing, pertumbuhan ekonomi, serta kesejahteraan masyarakat.
Gagasan besar ini mengemuka dalam Rapat Koordinasi “Pengembangan Potensi Daerah pada Sektor Agriomaritim” yang dihadiri langsung oleh Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, Anggota DPR RI dan pakar ekonomi kelautan nasional.
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa Tual memiliki posisi strategis di kawasan timur Indonesia dengan luas laut mencapai 19.008 km² atau 98,7 persen dari total wilayahnya. Kondisi geografis ini menempatkan Tual sebagai daerah yang sangat potensial untuk mengembangkan ekonomi biru, ekonomi yang bertumpu pada pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.
“Dengan kekayaan laut yang luar biasa, Tual seharusnya menjadi pusat pertumbuhan baru di sektor kelautan dan perikanan. Kuncinya ada pada SDM unggul, tata kelola yang baik, dan kepemimpinan yang visioner,” ujar Prof Rokhmin dalam forum yang berlangsung di Kantor Wali Kota Tual, Rabu (5/11).
Data BPS menunjukkan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyumbang terbesar PDRB Tual, yakni 39,3 persen pada 2024. Namun, Prof Rokhmin mengingatkan perlunya transformasi struktural agar ekonomi daerah tidak hanya bergantung pada sumber daya alam mentah. Ia mendorong pengembangan industri pengolahan hasil laut, inovasi berbasis riset, serta kemitraan pentahelix antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
Di sisi lain, tantangan pembangunan Tual masih signifikan. Tingkat kemiskinan mencapai 20,01 persen, sementara pengangguran terbuka berada di angka 8,68 persen, tertinggi kedua di Maluku setelah Ambon. Meski demikian, indikator sosial seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menunjukkan tren positif, naik menjadi 72,48 pada 2024. “Kita tidak boleh hanya puas dengan angka pertumbuhan. Pembangunan harus menyentuh kesejahteraan nyata rakyat,” tegas Prof Rokhmin.
Konsep Ekonomi Biru Berkelanjutan yang dipaparkan Prof Rokhmin meliputi peningkatan produktivitas perikanan tangkap dan budidaya, pengembangan wisata bahari, energi terbarukan, serta industri kelautan kreatif. Ia juga menyoroti pentingnya kedaulatan pangan laut, digitalisasi sektor perikanan, dan pendidikan vokasi kelautan untuk menyiapkan tenaga kerja kompeten.
Pemerintah Kota Tual sendiri menyambut baik arah kebijakan tersebut dan menegaskan komitmennya menjadikan Tual sebagai kota maritim berdaya saing tinggi di kawasan timur Indonesia. Melalui program quick wins seperti penguatan koperasi nelayan, pembangunan pelabuhan perikanan terpadu, serta pelatihan kewirausahaan berbasis hasil laut, diharapkan masyarakat pesisir dapat menikmati manfaat langsung dari pertumbuhan ekonomi biru.
“Pembangunan yang berpihak pada laut adalah masa depan kita,” pungkas Prof Rokhmin. “Jika kita mampu merencanakan dengan benar, konsisten, dan berintegritas, Tual tidak hanya akan sejahtera, tetapi juga berdaulat di atas kekayaan lautnya sendiri.”