Connect with us

Prabowo Gibran Diprediksi 1 Putaran

Lembaga survei Indo Barometer menyebut bahwa Pilpres 2024 berpotensi bergulir satu putaran. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan, di mana mayoritas memilih salah satu pasangan calon yang telah mendaftar ke KPU.

Deni Irawan

Published

on

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LakeyBanget

Layvin Kurzawa Ungkap Alasan Hijrah ke Persib Bandung

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com — Bek sayap anyar Persib Bandung, Layvin Kurzawa, membeberkan alasan di balik keputusannya menerima tawaran bergabung dengan klub BRI Super League tersebut pada bursa transfer paruh musim 2025/2026. Pemain asal Prancis itu mengaku tertarik dengan atmosfer sepak bola Bandung, mulai dari basis suporter hingga karakter kotanya.

Dikutip dari laman resmi klub, Senin, Kurzawa menyebut faktor pendukung Persib menjadi pertimbangan utama dalam keputusannya. Menurut dia, pengalaman menyaksikan langsung antusiasme suporter dan suasana kota memberikan kesan yang sangat kuat.

“Saya melihat fans, saya melihat stadion, dan saya melihat kotanya. Itu alasan saya bergabung. Sebelumnya saya belum benar-benar tahu, baru sekarang saya merasakannya, dan saya sangat senang berada di sini,” ujar Kurzawa.

Pemain berusia 33 tahun itu resmi diperkenalkan sebagai pemain Persib Bandung seusai pertandingan melawan PSBS Biak pada 25 Januari 2026. Momen perkenalan tersebut berlangsung meriah dengan kehadiran puluhan ribu suporter di stadion, yang memberikan kesan mendalam bagi Kurzawa dan keluarganya.

“Sungguh luar biasa. Keluarga saya juga menyaksikannya dari televisi. Istri saya sampai menangis terharu karena ini sangat luar biasa. Ada begitu banyak fans dan banyak orang yang menyebut nama saya. Ini sangat menyenangkan,” katanya.

Mantan pemain Paris Saint-Germain itu pun menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas sambutan hangat yang diterimanya sejak tiba di Bandung. Ia mengaku merasa diterima dan nyaman berada di lingkungan barunya.

“Saya merasa sangat senang dan sekarang seperti berada di rumah. Terima kasih kepada semuanya karena sudah membuat saya merasa seperti di rumah,” tutur Kurzawa.

Meski telah diperkenalkan secara resmi, Kurzawa belum menjalani debut bersama tim asuhan Bojan Hodak. Ia diharapkan dapat tampil perdana saat Persib Bandung menghadapi Malut United pada pekan ke-20 Super League di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Jumat mendatang.

Continue Reading

LakeyBanget

Pin “ICE OUT” Warnai Grammy Awards 2026

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com — Ajang penghargaan musik bergengsi Grammy Awards 2026 tak hanya menjadi panggung perayaan karya musik, tetapi juga ruang penyampaian pesan politik dan kemanusiaan. Sejumlah musisi ternama terlihat mengenakan pin hitam-putih bertuliskan “ICE OUT” saat melenggang di karpet merah Grammy Awards 2026 di Crypto.com Arena, Los Angeles, Minggu (1/2) malam.

Selebritas yang mengenakan pin tersebut antara lain Billie Eilish, Justin dan Hailey Bieber, Finneas, Kehlani, hingga penulis lagu Amy Allen, seperti dilaporkan The Hollywood Reporter. Pin tersebut menjadi simbol protes terhadap kebijakan dan praktik penegakan imigrasi di Amerika Serikat, khususnya yang melibatkan Immigration and Customs Enforcement (ICE).

Amy Allen menilai penggunaan pin “ICE OUT” di ajang sebesar Grammy Awards memiliki makna penting karena tingginya visibilitas acara tersebut. Menurutnya, panggung besar seperti Grammy memberikan kesempatan bagi figur publik untuk menyuarakan perlunya perubahan.

“Ini adalah malam dengan visibilitas besar. Siapa pun yang punya kesempatan untuk menyebarkan pesan dan menyuarakan bahwa perubahan memang perlu terjadi di negara ini, seharusnya memanfaatkannya,” ujar Allen.

Tak hanya di karpet merah, pesan serupa juga disampaikan dari atas panggung. Billie Eilish menyinggung situasi politik saat menerima penghargaan Lagu Terbaik Tahun Ini. Ia menegaskan nilai kemanusiaan dalam isu imigrasi.

“Tidak ada seorang pun yang ilegal di tanah hasil perampasan,” ujar Eilish. Ia menambahkan bahwa suara publik figur memiliki arti penting di tengah situasi yang sulit.

Musisi Bad Bunny turut menyampaikan pesan serupa saat menerima Grammy untuk kategori album música urbana terbaik. Ia menyerukan agar ICE dikeluarkan dari komunitas dan menekankan pentingnya melawan kebencian dengan cinta.

“Kami manusia dan kami orang Amerika. Kebencian tidak bisa dilawan dengan kebencian. Yang lebih kuat dari kebencian adalah cinta,” kata Bad Bunny.

Pin “ICE OUT” merupakan bagian dari kampanye yang diorganisasi oleh sejumlah kelompok advokasi, antara lain American Civil Liberties Union (ACLU), Maremoto, National Domestic Workers Alliance, dan Working Families Power. Kampanye ini bermula pada ajang Golden Globes dan berkembang pesat dalam beberapa pekan terakhir seiring meningkatnya sorotan terhadap penegakan kebijakan imigrasi.

Direktur Strategi Working Families Power, Nelini Stamp, mengungkapkan ide penggunaan pin tersebut muncul hanya sekitar 36 jam sebelum Golden Globes pada 11 Januari. Saat itu, insiden penembakan oleh petugas ICE memicu kemarahan dan keprihatinan para aktivis, yang kemudian menjalin komunikasi dengan sejumlah figur Hollywood.

Sejumlah selebritas seperti Mark Ruffalo, Ariana Grande, Jean Smart, Natasha Lyonne, dan Wanda Sykes kemudian ikut mengenakan pin tersebut di berbagai acara. Aksi ini berlanjut di Festival Film Sundance, Resonator Awards, hingga rangkaian acara Grammys Week, dengan dukungan dari nama-nama seperti Olivia Wilde, Natalie Portman, Zoey Deutch, Olivia Rodrigo, dan Dave Grohl.

Stamp menegaskan musik dan budaya populer sejak lama menjadi sarana perlawanan dan ekspresi protes sosial di Amerika Serikat. Menurutnya, hal itu semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait isu imigrasi.

“Jika para pemegang kekuasaan tidak bertindak, maka pesan ‘ICE OUT’ harus terus terlihat di setiap acara budaya,” ujar Stamp.

Ia menepis anggapan bahwa penggunaan pin hanya bersifat simbolis. Menurut Stamp, tujuan utama kampanye ini adalah mempopulerkan tuntutan agar ICE disingkirkan dari komunitas-komunitas di AS.

“Saya berharap orang-orang melihat itu dan berpikir, ‘Jika mereka bisa melakukannya di salah satu panggung terbesar di dunia, saya juga bisa melakukan sesuatu,’” katanya.

Continue Reading

LakeyBanget

Timnas Indonesia U-17 vs Tiongkok, Catat Harga Tiket dan Jam Tayangnya

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Tim Nasional Indonesia U-17 akan melakoni dua laga uji coba internasional melawan Tiongkok dalam ajang International U-17 Friendly Match. Pertandingan tersebut akan digelar di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, sebagai bagian dari persiapan Garuda Muda menuju Piala Asia U-17 2026 di Arab Saudi.

Dua laga uji coba ini dijadwalkan berlangsung pada Minggu (8/2/2026) dan Rabu (11/2/2026). Kick-off pertandingan pertama akan dimulai pukul 21.00 WIB, sementara laga kedua digelar lebih awal pada pukul 18.30 WIB.

PSSI telah menyiapkan tiket dengan harga terjangkau agar suporter dapat memberikan dukungan langsung kepada Timnas U-17. Tiket dijual dalam dua kategori, yakni Mandiri Garuda West dan Freeport Garuda East, dengan harga Rp50.000.

Penjualan tiket dimulai pada Senin (2/2/2026) melalui aplikasi Livin’ by Mandiri dengan tautan bmri.id/TimnasMandiri. Selain itu, tiket juga dapat dibeli melalui situs KitaGaruda.id mulai Kamis (5/2/2026).

PSSI mewajibkan setiap pembeli tiket memiliki akun Garuda ID. Seluruh penonton yang membeli tiket resmi juga akan mendapatkan jaminan perlindungan asuransi selama pertandingan berlangsung.

PSSI mengimbau para suporter untuk membeli tiket melalui kanal resmi secara daring dan tidak menggunakan jasa calo. Selain harga yang lebih mahal, tiket dari calo tidak terjamin keasliannya serta berisiko menimbulkan berbagai masalah.

Sebagai informasi, Piala Asia U-17 2026 akan diikuti 16 negara dan dijadwalkan berlangsung pada 30 April hingga 17 Mei 2026 di Arab Saudi.

Jadwal International U-17 Friendly Match Indonesia vs Tiongkok:

Matchday 1
Minggu, 8 Februari 2026
Kick-off: 21.00 WIB
Venue: Stadion Indomilk Arena, Tangerang

Matchday 2
Rabu, 11 Februari 2026
Kick-off: 18.30 WIB
Venue: Stadion Indomilk Arena, Tangerang

Continue Reading

News

Wamen Fajar Beberkan Kunci Jadi Generasi Muda Unggul di Era AI

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan pentingnya integritas dan mentalitas bertahan (survive) bagi santri dalam menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pesan tersebut ia sampaikan saat mengisi kuliah umum bertema “Menyikapi Zaman Artificial Intelligence dan Peran Selaku Santri” di Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (31/1).

Dalam kesempatan tersebut, Wamen Fajar menyampaikan bahwa alasan seorang santri masuk pesantren bisa bermacam-macam, baik karena keinginan sendiri, permintaan orang tua, maupun ajakan teman. Namun, menurutnya, ketika sudah berada di lingkungan pesantren, setiap santri perlu memiliki kebulatan tekad dan totalitas dalam menjalani proses belajar.

Ia menekankan bahwa totalitas dalam belajar harus dijalani dengan hati dan jiwa. Ketekunan, keuletan, dan kesabaran menjadi hal penting yang melengkapi kecerdasan intelektual. “Kalau adek-adek punya kecerdasan, punya keuletan, itu satu formulasi yang sempurna sebenarnya,” tekannya.

Wamen Fajar juga mencontohkan jejak alumni pondok pesantren yang berkontribusi di berbagai bidang, mulai dari pendidik, pengusaha, hingga pejabat publik. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari mentalitas bertahan (survive) yang dibangun pesantren.

Lebih lanjut, Wamen Fajar menjelaskan bahwa ukuran kesuksesan tidak semata-mata dapat diukur dari kekayaan atau jabatan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada orang lain. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi ciri khas pendidikan pesantren yang relevan dengan kehidupan saat ini.

Menanggapi maraknya penggunaan teknologi AI dalam dunia pendidikan, Wamen Fajar menyebutkan bahwa kedisiplinan, integritas, kejujuran, dan amanah merupakan nilai paling penting. Ia menambahkan bahwa pemanfaatan AI dalam proses belajar dapat dilakukan, selama digunakan secara jujur dan bertanggung jawab.

“Orang boleh dalam proses belajar di sekolah atau nanti di perguruan tinggi, menggunakan aplikasi kecerdasan buatan, karena itu memang bisa meningkatkan proses pembelajaran. Tetapi, kalau tidak ada kejujuran dalam menggunakan teknologi, tidak punya integritas dalam menggunakan teknologi, maka kita akan menjadi subordinasi dari teknologi,” ujarnya.

Selain penguatan karakter, Wamen Fajar menambahkan bahwa inti pendidikan tidak hanya mengasah intelektual, tetapi juga mempertajam kepekaan nurani dan hati serta kemampuan berpikir kritis dan analitis. Kalau adek-adek hafal rumus fisika, rumus matematika, mungkin juga termasuk hafal al quran, itu tidak cukup hari ini. Itu semua harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis, kemampuan berpikir analitis,” tambahnya.

Dalam sesi tanya jawab, Wamen Fajar menyampaikan bahwa hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi bahan evaluasi Kemendikdasmen untuk melihat kembali model pembelajaran yang selama ini dilakukan di sekolah. Evaluasi tersebut tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada cara guru menyampaikan materi.

Ia menutup dengan menyatakan bahwa pembelajaran mendalam (deep learning) mendorong pembelajaran yang bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan. “Jadi, kami sekarang dengan pembelajaran mendalam itu mendorong kepada semua guru agar yang diperbaiki cara mengajarnya, bukan materi yang diajarkan”, tutupnya.

Melalui pembelajaran mendalam (deep learning), Kemendikdasmen terus mendorong para guru untuk memperbaiki metode mengajar agar murid menjadi pribadi yang berkarakter, berintegritas, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Continue Reading

Review

Di Tengah Badai Masalah, Presiden Justru Bahas Isu “Gentengisasi”

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Awal tahun 2026 dibuka dengan lanskap nasional yang penuh problematika. Harga kebutuhan pokok belum sepenuhnya stabil, lapangan kerja masih menjadi kecemasan publik, konflik agraria tak surut, sementara tekanan geopolitik global terus membayangi ekonomi domestik. Namun, di tengah daftar panjang persoalan tersebut, perhatian publik justru tersedot pada satu istilah yang mendadak naik panggung: gentengisasi.

Istilah itu mengemuka ketika Presiden Prabowo Subianto berbicara di lingkungan Kementerian Dalam Negeri. Alih-alih membahas isu strategis yang selama ini menghantui ruang publik, Presiden menyinggung pentingnya gentengisasi sebuah konsep yang terdengar teknis, lokal, sekaligus mengundang kebingungan. Dalam hitungan jam, istilah tersebut menjadi perbincangan luas, bukan karena urgensinya, melainkan karena kesan absurd yang melekat padanya.

Secara harfiah, gentengisasi merujuk pada penggunaan genteng sebagai penutup atap bangunan. Dalam konteks pembangunan, istilah ini sejatinya bukan hal baru. Namun, ketika disampaikan di level kebijakan nasional, di tengah kondisi negara yang sedang menghadapi tantangan struktural, publik pun bertanya-tanya: apakah ini prioritas, metafora, atau sekadar selip humor yang luput dari penjelasan?

Di ruang-ruang diskusi publik, gentengisasi segera ditarik ke berbagai tafsir. Ada yang mencoba memahaminya sebagai simbol kemandirian industri bahan bangunan lokal. Ada pula yang membaca sebagai upaya standardisasi pembangunan perumahan rakyat. Namun tak sedikit yang melihatnya sebagai contoh komunikasi kebijakan yang terlepas dari konteks krisis nyata yang sedang dihadapi masyarakat.

Nada satir pun tak terhindarkan. Di media sosial, genteng mendadak naik kelas dari sekadar material bangunan menjadi metafora negara. “Negeri bocor, solusinya genteng,” tulis seorang warganet. Yang lain berkelakar, sebelum berbicara tentang kecerdasan buatan, transisi energi, atau reformasi birokrasi, negara kini tampak sibuk memastikan atap tidak bocor.

Para pengamat kebijakan menilai, persoalan utamanya bukan pada istilah gentengisasi itu sendiri, melainkan pada momentum dan cara penyampaiannya. Dalam situasi ketika publik menunggu arah besar pemerintahan—tentang ekonomi, keadilan sosial, dan keberlanjutan—narasi yang muncul justru terkesan minor dan terfragmentasi.

“Komunikasi politik di masa krisis membutuhkan sensitivitas simbolik,” ujar seorang analis kebijakan publik. Menurutnya, setiap kata yang keluar dari kepala negara akan dibaca sebagai cerminan prioritas. Ketika simbol yang muncul terasa remeh, publik dengan mudah menilai negara sedang kehilangan fokus.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi yang komprehensif mengenai maksud strategis gentengisasi dalam kerangka kebijakan nasional. Di tengah ketidakjelasan itu, istilah tersebut terlanjur menjadi artefak awal tahun sebuah penanda bagaimana jarak antara bahasa kekuasaan dan kegelisahan rakyat bisa terasa semakin lebar.

Di saat negeri membutuhkan peta jalan yang kokoh, gentengisasi justru hadir sebagai ironi: atap dibicarakan panjang lebar, sementara fondasi persoalan bangsa masih retak di banyak sisi.

Continue Reading

News

Programmer Tewas Usai Lembur, Masih Dikirimi Tugas Saat Sekarat

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Seorang pria di China dilaporkan meninggal dunia akibat kelelahan setelah menjalani kerja lembur intensif. Namun tragedi itu belum benar-benar berhenti di titik kematian. Delapan jam setelah dinyatakan wafat, ponsel milik korban justru masih menerima pesan tugas kantor. Peristiwa ini memicu keprihatinan, kemarahan, sekaligus humor pahit publik terhadap budaya kerja yang dianggap telah melampaui batas kemanusiaan.

Korban adalah seorang programmer berusia awal 30-an yang bekerja di perusahaan teknologi di wilayah Guangzhou. Ia dikenal sebagai pekerja rajin, nyaris tak pernah menolak lembur, dan kerap bekerja hingga larut malam. Pada hari terakhirnya, korban tetap masuk kerja meski kondisi tubuhnya tidak fit. Tak lama kemudian, ia mendadak pingsan dan meninggal dunia akibat serangan jantung.

Kabar duka tersebut semestinya menjadi akhir dari rutinitas kerja yang melelahkan. Namun kenyataan berkata lain. Sekitar delapan jam setelah kematian korban, ponselnya masih menerima pesan pekerjaan dari rekan kantor. Isinya bukan ucapan belasungkawa, melainkan permintaan penyelesaian tugas karena hasil inspeksi dinilai bermasalah dan perlu segera diperbaiki.

Peristiwa ini dengan cepat menyebar di media sosial dan menuai reaksi luas. Banyak warganet menyebut kejadian tersebut sebagai simbol ekstrem budaya kerja “always on”, di mana batas antara jam kerja, waktu istirahat, bahkan hidup dan mati, menjadi kabur. “Deadline ternyata lebih abadi daripada nyawa,” tulis seorang pengguna internet dengan nada satir.

Ironi semakin terasa ketika terungkap bahwa sebelum meninggal, korban masih aktif di grup percakapan kerja, bahkan saat kondisinya kritis. Situasi ini memperlihatkan bagaimana tekanan kerja membuat manusia diperlakukan layaknya mesin: selama ponsel masih aktif, pekerjaan dianggap tetap bisa dijalankan.

Secara hukum, China memiliki aturan jam kerja yang membatasi waktu kerja harian dan mingguan. Namun dalam praktiknya, terutama di sektor teknologi, lembur sering dianggap sebagai bentuk loyalitas dan dedikasi. Mereka yang menolak kerap dicap tidak profesional, sementara yang patuh perlahan mengorbankan kesehatan fisik dan mental.

Kasus ini pun memicu diskusi serius tentang keselamatan kerja, kesehatan mental, dan tanggung jawab perusahaan. Banyak pihak menilai kematian tersebut bukan sekadar musibah individual, melainkan kegagalan sistemik dalam melindungi pekerja. Humor yang muncul di ruang publik sejatinya adalah ekspresi keputusasaan: tertawa agar tidak ikut runtuh.

“Kerja sampai mati” bukan lagi metafora, melainkan realitas yang benar-benar terjadi. Dan ketika pesan kerja masih berdatangan setelah kematian, tragedi itu berubah menjadi kritik telanjang terhadap dunia kerja modern yang terlalu memuja produktivitas.

Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa di balik layar komputer dan notifikasi ponsel, ada tubuh manusia yang memiliki batas. Jika batas itu terus diabaikan, maka bukan tidak mungkin kematian hanya dianggap sebagai gangguan kecil, sementara tugas tetap harus diselesaikan.

Continue Reading

News

Jam Kiamat Makin Dekat, Dunia Tinggal 85 Detik Menuju Tengah Malam

Para ilmuwan memperingatkan umat manusia kini berada di titik paling berbahaya sepanjang sejarah Jam Kiamat.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Para ilmuwan internasional kembali menggeser posisi Jam Kiamat (Doomsday Clock) semakin mendekati tengah malam. Kini, jarum jam tersebut berada di posisi 85 detik menuju tengah malam, jarak terdekat sejak Jam Kiamat pertama kali diperkenalkan hampir 80 tahun lalu.

Pengumuman ini disampaikan oleh Bulletin of the Atomic Scientists, lembaga yang secara rutin menilai tingkat ancaman global terhadap kelangsungan hidup umat manusia. Penyesuaian waktu ini mencerminkan meningkatnya risiko kehancuran akibat berbagai faktor global yang saling berkaitan.

Menurut para ilmuwan, ancaman utama datang dari eskalasi senjata nuklir, krisis perubahan iklim yang semakin tak terkendali, serta perkembangan kecerdasan buatan yang melaju lebih cepat dibandingkan kemampuan regulasi dan etika global. Selain itu, penyebaran disinformasi juga dinilai memperparah ketidakstabilan politik dan konflik internasional.

Mereka menilai dunia saat ini berada dalam kondisi rapuh, di mana kesalahan perhitungan politik atau teknologi dapat berujung pada konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan. Ketegangan geopolitik antarnegara pemilik senjata nuklir disebut menjadi salah satu faktor paling mengkhawatirkan.

Para ahli menyerukan langkah kolektif global yang lebih serius, termasuk penguatan diplomasi, pengendalian senjata, komitmen nyata terhadap penanganan krisis iklim, serta tata kelola kecerdasan buatan yang bertanggung jawab. Tanpa upaya bersama, peringatan Jam Kiamat ini dikhawatirkan bukan lagi sekadar simbol, melainkan gambaran nyata masa depan umat manusia, menurut laporan Muslim Network TV.

Continue Reading

News

Fikih Umrah Berkemajuan, Menjaga Kesahihan Ibadah di Tengah Praktik Massal

Fikih umrah berkemajuan menegaskan keseimbangan antara ketepatan syariat dan kemaslahatan jemaah di tengah meningkatnya praktik umrah massal.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Umrah merupakan ibadah yang memiliki kedudukan penting dalam Islam, meskipun tidak termasuk rukun Islam seperti haji. Dalam praktiknya, umrah menjadi ibadah yang semakin diminati umat Islam Indonesia, bahkan sering dilakukan lebih dari sekali. Fenomena ini menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait pemahaman fikih umrah agar ibadah tidak hanya sah secara ritual, tetapi juga selaras dengan tujuan syariat.

Secara fikih, umrah memiliki ketentuan yang relatif lebih ringkas dibandingkan haji, namun tetap mensyaratkan pemahaman yang tepat. Fikih umrah membahas syarat, rukun, wajib, serta larangan selama ihram. Rukun umrah meliputi ihram, tawaf, sa’i, dan tahallul. Keempat rukun ini bersifat mutlak dan tidak dapat ditinggalkan. Dalam pandangan Manhaj Tarjih Muhammadiyah, ketepatan dalam melaksanakan rukun menjadi fondasi utama kesahihan ibadah.

Dari aspek what (apa), fikih umrah berfungsi sebagai panduan normatif agar setiap rangkaian ibadah dilakukan sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. Ihram bukan sekadar mengenakan pakaian tertentu, tetapi juga memasuki keadaan spiritual yang menuntut pengendalian diri. Tawaf, sa’i, dan tahallul memiliki makna simbolik yang menegaskan ketaatan dan ketundukan manusia kepada Allah SWT.

Dilihat dari who (siapa), umrah dapat dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mampu secara fisik dan finansial. Tidak adanya batasan waktu tertentu seperti haji menjadikan umrah lebih fleksibel. Namun fleksibilitas ini sering kali disalahpahami sebagai kelonggaran tanpa batas. Menurut Muhammadiyah.or.id, pembimbing ibadah memiliki peran penting dalam meluruskan pemahaman jemaah agar tidak terjebak pada praktik yang kurang tepat, seperti mengabaikan larangan ihram atau memaksakan ibadah di luar kemampuan fisik.

Aspek where (di mana) dalam fikih umrah menegaskan bahwa seluruh rangkaian ibadah hanya sah dilakukan di Masjidil Haram dan tempat-tempat terkait, dengan memulai ihram dari miqat yang telah ditentukan. Kesalahan dalam menentukan miqat atau ketidaktahuan tentang ketentuannya dapat berimplikasi pada kewajiban dam. Oleh karena itu, pemahaman fikih umrah yang aplikatif menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi jemaah pemula.

Sementara itu, umrah dapat dilakukan hampir sepanjang tahun, kecuali pada waktu-waktu tertentu yang diperselisihkan ulama. Dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah, umrah dipandang sah dilakukan kapan saja, termasuk pada bulan-bulan haji, selama memenuhi ketentuan syariat. Pandangan ini menunjukkan fleksibilitas fikih yang tetap berlandaskan dalil yang kuat.

Fikih umrah perlu ditegaskan kembali muncul dari realitas umrah massal yang kerap berorientasi pada kuantitas. Tidak sedikit jemaah yang menunaikan umrah berulang kali, tetapi kurang memperhatikan nilai-nilai etik dan sosial yang terkandung di dalamnya. Menurut Republika, tantangan utama umrah saat ini bukan pada akses, melainkan pada kualitas pemahaman ibadah.

Dalam konteks how (bagaimana), fikih umrah berkemajuan menekankan prinsip kemudahan dan penghilangan kesulitan tanpa mengabaikan kesahihan. Penggunaan alat bantu, pengaturan waktu tawaf untuk menghindari kepadatan, hingga pelaksanaan sa’i dengan kursi roda dipandang sah selama memenuhi syarat fikih. Prinsip رفع الحرج menjadi landasan utama dalam menghadapi kondisi jemaah yang beragam.

Lebih jauh, fikih umrah juga menuntut refleksi pasca-ibadah. Umrah tidak berhenti pada selesainya tahallul, tetapi harus berdampak pada akhlak dan kehidupan sosial jemaah. Ibadah ini seharusnya melahirkan sikap tawaduk, kepedulian sosial, dan kesadaran spiritual yang lebih kuat. Dalam pandangan Tarjih Muhammadiyah, nilai inilah yang menjadi esensi umrah yang diterima Allah SWT.

Dengan pendekatan fikih yang berkemajuan, umrah tidak sekadar menjadi ritual berulang, tetapi sarana pembinaan spiritual yang berkelanjutan. Fikih umrah hadir sebagai penuntun agar ibadah ini tetap bermakna, sah secara syariat, dan relevan dengan tantangan zaman.

Continue Reading

News

Inovasi Teknologi Menuju Indonesia Emas 2045

Peran strategis teknologi dan SDM unggul untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Seminar Nasional Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Angkatan 1980 digelar di Aula Timur ITB, Bandung, Jumat (31/1/2026). Forum ini menjadi ruang strategis bagi para teknokrat, akademisi, dan praktisi industri untuk merumuskan kontribusi nyata menuju visi besar Indonesia Emas 2045, dengan fokus pada peningkatan produktivitas ekonomi berbasis teknologi dan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Kegiatan yang mengusung tema “Mendorong Produktivitas untuk Pertumbuhan Ekonomi: Strategi Teknologi Industri dan SDM Menuju Indonesia Emas 2045” ini membahas tantangan utama pembangunan nasional, khususnya ancaman middle income trap. Menurut panitia Seminar Nasional Alumni ITB 80, Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada pola lama berbasis eksploitasi sumber daya alam tanpa nilai tambah.

Dalam paparannya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto menegaskan bahwa kunci lompatan Indonesia menjadi negara maju terletak pada penguasaan teknologi dan kualitas manusia. Menurutnya, negara-negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan membangun kekuatan ekonomi bukan dari kekayaan alam, melainkan dari inovasi, riset, dan rekayasa industri yang berkelanjutan.

Seminar ini juga menyoroti peran strategis insinyur (engineer) sebagai arsitek peradaban ekonomi. Insinyur diposisikan bukan sekadar pelaksana teknis, tetapi penggerak efisiensi produksi, pencipta solusi industri, sekaligus penjaga kedaulatan teknologi nasional agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor teknologi asing.

Sebagai bukti konkret, forum ini mengangkat kisah sukses PT Insera Sena (Polygon) yang dipimpin Mas Suyanto, alumni ITB 80. Menurut paparan dalam seminar, Polygon berhasil menembus pasar global melalui inovasi manufaktur, riset material, dan penguatan merek internasional. Keberhasilan ini dinilai menjadi contoh nyata hilirisasi industri yang menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekosistem industri nasional.

Tidak berhenti pada diskusi, Alumni ITB 80 juga merancang langkah tindak lanjut berupa pembentukan kluster sektor strategis, pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bersama BUMN seperti Pertamina, serta penyusunan rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada kementerian terkait dan KADIN. Menurut pengurus IA-ITB 80, hasil seminar ini diharapkan menjadi masukan konkret bagi arah kebijakan pembangunan nasional.

Menutup rangkaian acara, para alumni membacakan ikrar bersama bertajuk “Belajar Bersama, Berkawan Selamanya”. Ikrar ini menegaskan komitmen Alumni ITB 80 untuk terus berkontribusi bagi bangsa, dengan menjadikan teknologi, inovasi, dan kolaborasi sebagai fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045.

Continue Reading

News

28 SMA di DIY Rampungkan Revitalisasi, Wamen Atip Dorong Sekolah Lebih Hidup dan Berkualitas

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com — Komitmen menghadirkan pendidikan bermutu dan merata kembali ditegaskan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI. Sebanyak 28 satuan pendidikan jenjang SMA di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini resmi menuntaskan program revitalisasi sarana dan prasarana sekolah dengan capaian 100 persen.

Peresmian hasil revitalisasi dilakukan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, di SMA Ali Maksum Krapyak, Sabtu (31/1/2026). Atip menegaskan, program revitalisasi tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, melainkan diarahkan untuk meningkatkan kualitas ekosistem pembelajaran di sekolah.

“Kenapa disebut revitalisasi? Karena bukan hanya membangun fisiknya. Pembelajaran di sekolah juga harus benar-benar meningkat. Sekolah itu harus hidup kembali,” ujar Atip.

Menurut dia, revitalisasi tidak boleh dimaknai sekadar rehabilitasi bangunan. Perbaikan ruang kelas, laboratorium, hingga fasilitas pendukung lainnya ditujukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan kondusif bagi pengembangan potensi peserta didik.

Atip juga menyoroti penerapan skema swakelola dalam pelaksanaan revitalisasi. Model ini dinilai lebih efektif karena menumbuhkan rasa memiliki di tingkat sekolah sekaligus memastikan hasil pembangunan sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Suhirman, mengungkapkan total anggaran revitalisasi untuk 28 SMA di wilayahnya mencapai Rp19,97 miliar. Seluruh pekerjaan, baik fisik maupun administrasi, berhasil diselesaikan tepat waktu.

“Ketersediaan sarana yang memadai sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Kami berharap dampaknya terlihat pada peningkatan prestasi sekolah-sekolah di Yogyakarta,” ujar Suhirman.

Sebagai lokasi peresmian, SMA Ali Maksum Krapyak menerima bantuan pembangunan empat ruang kelas baru lengkap dengan perabot senilai Rp1,36 miliar. Kepala sekolah Khoirul Fuad menyebut program tersebut membawa perubahan signifikan, mengingat sebelumnya sebagian siswa harus belajar di ruang terbuka akibat keterbatasan kelas.

“Kini anak-anak bisa belajar di ruang yang lebih layak, nyaman, dan kondusif. Ini sangat membantu proses belajar mengajar,” katanya.

Guru SMA Ali Maksum, Ika Setiawati, juga merasakan suasana pembelajaran menjadi lebih tenang dan fokus setelah adanya penambahan ruang kelas.

Manfaat serupa dirasakan sekolah lain. SMA Muhammadiyah Boarding School Sleman menerima pembangunan laboratorium Fisika, Kimia, serta ruang Bimbingan Konseling. Guru setempat, Roig, menilai fasilitas baru tersebut membuat pembelajaran sains lebih optimal.

“Anak-anak sekarang bisa praktik dengan maksimal. Kami berharap prestasi mereka ikut meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, SMA Negeri 5 Yogyakarta merasakan peningkatan kualitas ruang kelas yang kini lebih terang dan aman. Di SMA Stella Duce Bambanglipuro, Bantul, revitalisasi difokuskan pada perbaikan laboratorium yang sebelumnya rusak berat. Kepala sekolah Thomas menilai skema swakelola memungkinkan sekolah mengutamakan kualitas pembangunan.

“Sekarang gedungnya kokoh, bersih, aman, dan sangat mendukung kegiatan belajar,” ujarnya.

Suara Siswa: Belajar Lebih Nyaman

Dampak revitalisasi juga dirasakan langsung oleh siswa. Nufaisah, siswi kelas XI IPS 2 SMA Ali Maksum, mengaku suasana kelas kini lebih lega dan nyaman dibanding sebelumnya.

“Dulu terasa padat dan ramai, jadi kurang fokus. Sekarang lebih luas dan tenang,” katanya.

Hal senada disampaikan Gathan Asnanto, siswa kelas XI IPA 1. “Kelas jadi lebih rapi, terang, dan menyenangkan untuk belajar,” ujarnya.

Program revitalisasi ini menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak terlepas dari kualitas fasilitas belajar. Dengan ruang yang lebih layak dan aman, sekolah diharapkan benar-benar hidup sebagai ruang tumbuh generasi masa depan menuju visi Indonesia Emas 2045.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



LakeyBanget3 hours ago

Layvin Kurzawa Ungkap Alasan Hijrah ke Persib Bandung

LakeyBanget3 hours ago

Pin “ICE OUT” Warnai Grammy Awards 2026

LakeyBanget3 hours ago

Timnas Indonesia U-17 vs Tiongkok, Catat Harga Tiket dan Jam Tayangnya

News4 hours ago

Wamen Fajar Beberkan Kunci Jadi Generasi Muda Unggul di Era AI

Review16 hours ago

Di Tengah Badai Masalah, Presiden Justru Bahas Isu “Gentengisasi”

News17 hours ago

Programmer Tewas Usai Lembur, Masih Dikirimi Tugas Saat Sekarat

News21 hours ago

Jam Kiamat Makin Dekat, Dunia Tinggal 85 Detik Menuju Tengah Malam

News21 hours ago

Fikih Umrah Berkemajuan, Menjaga Kesahihan Ibadah di Tengah Praktik Massal

News23 hours ago

Inovasi Teknologi Menuju Indonesia Emas 2045

News1 day ago

28 SMA di DIY Rampungkan Revitalisasi, Wamen Atip Dorong Sekolah Lebih Hidup dan Berkualitas

LakeyBanget1 day ago

Dion Markx Siap Bersaing di Lini Belakang Persib Bandung

LakeyBanget1 day ago

Presiden Inter Kutuk Insiden Flare dan Puji Profesionalisme Emil Audero

News1 day ago

Komdigi Mulai Normalisasi Akses Grok AI Secara Bersyarat

News1 day ago

Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI, Siapa Jeffrey Hendrik?

News2 days ago

Perbatasan Rafah Gaza Dibuka Kembali Usai 2 Tahun Ditutup Israel

News2 days ago

Hadapi Ancaman Digital, Pemerintah Siapkan Talenta Muda Kuasai Keamanan Siber dan AI

LakeyBanget2 days ago

Dominasi Thailand Masters 2026, Indonesia Borong Empat Gelar Juara

News2 days ago

Bank Mandiri Distribusikan Bantuan untuk Korban Longsor Bandung Barat

LakeyBanget2 days ago

Menperin Tegaskan Motor Listrik Tanpa Insentif Baru Tahun Ini

LakeyBanget2 days ago

Tangis Haru Pecah Usai Usai Raih Gelar Perdana di Thailand Masters 2026

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.