Monitorday.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan operasi modifikasi cuaca (OMC) tidak dapat diterapkan pada siklon tropis. Meski demikian, dampak yang ditimbulkan oleh sistem siklon, terutama peningkatan curah hujan, masih dapat dimitigasi di wilayah terdampak.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan hingga kini tidak ada negara yang mampu melakukan modifikasi cuaca terhadap bibit maupun pusat siklon tropis. Hal itu disampaikannya usai rapat bersama Komisi V DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (28/1).
“Kalau untuk siklon, kita tidak mampu melakukan modifikasi. Tidak ada satu negara pun yang bisa melakukan modifikasi cuaca pada bibit siklon atau pusat siklonnya,” ujar Faisal.
Namun demikian, BMKG dapat melakukan langkah antisipasi terhadap efek siklon di wilayah sekitarnya. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca untuk menekan peningkatan curah hujan sebelum maupun sesudah terjadinya siklon.
Faisal mencontohkan, ketika terdapat siklon di wilayah barat daya Lampung, BMKG melakukan modifikasi cuaca di sejumlah daerah terdampak seperti Lampung, Bengkulu, hingga Banten. Upaya tersebut bertujuan agar intensitas hujan tidak meningkat melebihi kondisi normal.
“Modifikasi cuaca dilakukan agar intensitas hujan tidak naik di atas kondisi normal, sehingga potensi bencana hidrometeorologi bisa ditekan,” jelasnya.
Menurut Faisal, operasi modifikasi cuaca mampu mengurangi intensitas hujan hingga sekitar 30 persen, angka yang dinilai cukup signifikan dalam upaya mitigasi bencana. Dengan pengurangan tersebut, wilayah tangkapan hujan hanya menerima sekitar 70 persen dari total curah hujan yang seharusnya turun.
Di sisi lain, Faisal juga menyoroti persoalan perubahan kondisi lahan sebagai faktor penting dalam meningkatkan risiko bencana. Ia menyebut, perubahan tata guna lahan, pesatnya pembangunan, serta tekanan terhadap lingkungan membuat curah hujan dengan intensitas yang relatif sama kini berpotensi memicu banjir dan tanah longsor.
“Beberapa tahun lalu, dengan curah hujan seperti sekarang, kondisi lahan masih relatif aman. Namun saat ini, dengan perubahan tata guna lahan dan tekanan lingkungan, risiko bencana menjadi lebih besar. Inilah yang coba kami kendalikan melalui operasi modifikasi cuaca,” pungkasnya.