Monitorday.com – Belakangan, publik diramaikan dengan aksi seorang pejabat publik yang membagikan paket perawatan wajah (skincare) kepada para siswa ketika meninjau program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Aksi itu terjadi pada Selasa, 18 Februari 2025. Sang pejabat beralasan, pemberian skincare bertujuan meningkatkan kesadaran kebersihan diri, mencegah jerawat, dan memupuk rasa percaya diri. Tak hanya itu, ia juga sering membagikan cukur gratis, sepatu lokal gratis, bahkan hadiah lain saat kunjungan sekolah.
Sekilas, aksi ini memang terlihat simpatik, menyentuh, bahkan “kekinian”. Namun, jika dianalisis lebih dalam, benarkah ini langkah yang tepat? Dalam situasi pendidikan Indonesia yang masih bergulat dengan rendahnya kualitas literasi, numerasi, serta minimnya akses kesehatan mental di sekolah, apakah skincare benar-benar yang paling mendesak?
Pertama, salah prioritas.
Menurut Prof. Anita Lie, pakar pendidikan dari Universitas Widya Mandala, “Sekolah mestinya jadi ruang untuk membangun intelektualitas dan karakter siswa, bukan sekadar memenuhi kebutuhan permukaan seperti penampilan. Pendidikan hari ini memerlukan perhatian serius pada aspek literasi, kreativitas, dan kesehatan mental siswa.”
Memberikan skincare kepada anak sekolah seolah mempertegas bahwa penampilan luar lebih penting daripada isi kepala. Padahal, laporan UNESCO 2023 menyebutkan bahwa 70% siswa di Indonesia masih berada di bawah standar minimum literasi membaca. Jika tren ini tidak segera diatasi, kita hanya akan melahirkan generasi yang cantik di luar tetapi miskin gagasan.
Kedua, soal kesehatan mental dan kesejahteraan yang lebih fundamental.
Kesehatan diri memang penting, tetapi tidak melulu tentang kulit yang mulus. Dalam sebuah riset yang dimuat oleh American Psychological Association, remaja Indonesia menempati peringkat tinggi dalam masalah stres dan kecemasan akibat tekanan akademis dan sosial. Psikolog Roslina Verauli mengingatkan, “Remaja lebih membutuhkan pendampingan psikososial, edukasi tentang kecerdasan emosional, dan kemampuan mengelola stres ketimbang kosmetik. Itu yang akan membentuk karakter tangguh.”
Jadi, bukannya tidak perlu peduli pada kebersihan atau penampilan, tetapi mestinya ada program yang lebih menyentuh inti masalah: bagaimana anak-anak merasa aman, sehat secara mental, dan mampu mengelola diri.
Ketiga, soal integritas dan transparansi.
Pembagian hadiah atau produk lokal kepada siswa juga menuai tanda tanya soal sumber dana dan motifnya. Benarkah ini murni demi kesejahteraan siswa, atau justru ada muatan politik populis? Ekonom Faisal Basri pernah mengatakan, “Program yang tidak terukur dampaknya, tidak transparan dan lebih banyak simbolik cenderung boros, tidak efektif, bahkan bisa jadi ladang pencitraan.”
Skincare yang dibagikan memang tampak sederhana, tetapi jika sumber dananya tidak jelas dan tanpa evaluasi, tentu manfaat nyata hanyalah ilusi, boleh jadi itu itu hanya jadi ajang “show” belaka.
Selain itu, perlu diingat bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang, bukan panggung bagi kebijakan yang hanya menyentuh kulit luar tanpa menyentuh esensi pembentukan sumber daya manusia. Brain care jauh lebih krusial: menyediakan buku bacaan yang baik, bimbingan karier, ruang konseling di sekolah, program literasi digital, hingga pelatihan keterampilan abad ke-21.
Aksi bagi-bagi skincare mungkin menumbuhkan senyum di wajah siswa untuk sementara waktu, tetapi apakah mereka lebih siap menghadapi tantangan global setelah itu? Apakah dengan kulit mulus mereka otomatis lebih kritis, kreatif, dan berdaya? Jawabannya tidak. Yang mereka butuhkan adalah kebijakan yang memperkuat “isi kepala” sekaligus menjaga kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh.
Memang, niat baik sang pejabat perlu diapresiasi. Namun, niat baik saja tidak cukup jika tidak disertai visi yang tepat dan strategi yang benar. Sudah saatnya pejabat publik lebih peka terhadap kebutuhan mendasar anak bangsa. Membekali mereka dengan brain care: ilmu, karakter, keterampilan, dan ketangguhan mental.
Kita tidak menolak skincare; kita hanya ingin lebih banyak brain care. Kita tidak butuh generasi yang sekadar glowing di luar, tapi kosong di dalam. Kita ingin mereka bercahaya karena cerdas, sehat jiwanya, dan tangguh menghadapi masa depan.
Jadi, wahai para pemimpin, mari kita letakkan prioritas pada tempatnya. Sebab masa depan bangsa ini ditentukan oleh apa yang ada di kepala generasi muda kita, bukan hanya yang terlihat di wajah mereka.