Monitorday.com – Delapan dasawarsa sudah bangsa ini merdeka. Di tengah riuh perayaan kemerdekaan ke-80, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan publik agar tidak larut hanya pada gegap gempita. Kemerdekaan, katanya, adalah amanat sejarah yang menuntut kesadaran penuh untuk menjaga Indonesia bagi semua.
Pidato refleksi kebangsaan itu disampaikan Haedar dan ditayangkan melalui kanal YouTube Muhammadiyah Channel pada Sabtu (16/8/2025).
“Indonesia merdeka sungguh melalui proses perjuangan panjang sarat pengorbanan dari seluruh elite dan rakyat Nusantara tercinta,” ujar Haedar dalam pidatonya.
Jejak Panjang Perjuangan
Ia mengingatkan kembali pedihnya perjalanan menuju proklamasi. Dari masa penjajahan Portugis, Belanda, Inggris, hingga Jepang, rakyat Nusantara harus menanggung penderitaan panjang. Ribuan nyawa gugur, harta dan tenaga dikuras habis. “Bagaimana melanjutkan jejak emas para pahlawan bangsa yang berkorban tanpa berharap balas jasa demi Indonesia merdeka,” katanya.
Bagi Haedar, ingatan sejarah itu penting, agar elite bangsa tidak melupakan pahit getir perjuangan. Kemerdekaan, ujarnya, bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan amanat untuk menegakkan persatuan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat.
Apresiasi dan Harapan
Haedar memberi apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto yang dinilai berani mengambil langkah penataan pemerintahan. Ia menyebut agenda good governance, fokus pada pembangunan sumber daya manusia, serta keberpihakan pada rakyat kecil sebagai arah baru yang patut didukung.
“Political will Presiden itu diharapkan membawa angin segar untuk mewujudkan Indonesia bersatu, berdaulat, sejahtera, dan maju,” ujarnya.
Panorama Buram
Namun, di balik capaian, Haedar juga menyoroti wajah buram kemerdekaan. Ia menyebut korupsi, oligarki, penghamburan uang negara, hingga kesenjangan sosial masih menjadi realitas yang mengekang cita-cita bangsa.
“Derita Indonesia sering terjadi karena hasrat-hasrat berlebih orang-orang tak bertanggung jawab. Mereka sekadar ingin menikmati buah kemerdekaan tanpa rasa tanggung jawab,” ucapnya.
Mandat Konstitusi
Dalam refleksinya, Haedar menekankan pentingnya kembali pada mandat konstitusi: melindungi bangsa, mencerdaskan kehidupan, dan memajukan kesejahteraan umum. Ia menolak praktik kebijakan yang membebani rakyat. “Jangan bebani bangsa ini dengan pajak ala kapitalisme,” katanya.
Ia juga mengutip pesan Presiden Prabowo agar pengusaha besar tidak serakah. “Jangan sekali-kali mengisap darah rakyat, menjadi vampir ekonomi, dan serakah,” ucap Haedar mengutip Prabowo.
Indonesia untuk Semua
Menutup pidatonya, Haedar mengutip Bung Karno. “Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan… Tetapi kita mendirikan negara semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu.”
Haedar menegaskan kembali pesan itu di hadapan publik. “Indonesia adalah milik bersama dengan asas gotong royong berjiwa welas asih, tanpa diskriminasi dan tanpa hasrat berkuasa sendiri,” katanya.
Delapan puluh tahun setelah merdeka, Indonesia memang telah jauh melangkah. Namun, amanat sejarah yang diwariskan para pejuang masih terus menuntut pengabdian.