Monitorday.com – Program Revitalisasi Satuan Pendidikan tidak hanya membawa perubahan pada kondisi fisik bangunan sekolah, tetapi juga memberi dampak nyata terhadap pembentukan karakter siswa. Hal itu terlihat dari penerapan revitalisasi di SMAN 1 Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan, yang memanfaatkan penataan fasilitas sebagai media edukasi karakter, kepedulian, dan budaya hidup sehat.
Di sekolah tersebut, pembaruan fasilitas dilakukan dengan konsep yang tidak biasa. Toilet dan ruang Unit Kesehatan Siswa (UKS) ditempatkan di area depan kelas, dekat lapangan sekolah. Penempatan ini sengaja dirancang agar fasilitas tidak lagi tersembunyi, melainkan berada di ruang terbuka yang dapat diawasi bersama.
Kepala SMAN 1 Indralaya, Pudyo Laksono, mengatakan desain tersebut bertujuan menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa terhadap fasilitas sekolah.
“Kami ingin siswa merasa memiliki. Fasilitas yang mudah dilihat dan diakses akan menumbuhkan kepedulian dan rasa tanggung jawab bersama,” ujar Pudyo, Kamis (22/1/2026).
Selain toilet dan UKS, revitalisasi di SMAN 1 Indralaya juga mencakup pembangunan laboratorium IPA sesuai standar, rehabilitasi musala, serta perbaikan sejumlah ruang penunjang. Pudyo menilai, lingkungan sekolah yang tertata rapi dan transparan turut mengajarkan nilai kejujuran, empati, dan kebanggaan kolektif kepada para siswa.
Perubahan itu dirasakan langsung oleh peserta didik. Rizqa Kamila, siswi kelas XII, mengaku semakin percaya diri dengan wajah baru sekolahnya. Ia menyebut laboratorium IPA yang lebih modern membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan.
“Sekarang jadi lebih semangat belajar, apalagi saat pelajaran Fisika. Laboratoriumnya baru, alat-alatnya lengkap,” kata Rizqa.
Hal serupa disampaikan Rifki Abian, siswa kelas X. Menurutnya, suasana sekolah yang lebih bersih dan rapi membuat siswa lebih betah, terutama dengan keberadaan UKS yang nyaman dan fasilitas kesehatan yang memadai.
Praktik revitalisasi di SMAN 1 Indralaya ini turut menarik perhatian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti. Saat meresmikan 47 satuan pendidikan di Sumatra Selatan yang dipusatkan di sekolah tersebut, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa revitalisasi sekolah harus menyentuh aspek fisik sekaligus psikologis siswa.
“Sekolah bukan hanya soal gedung dan peralatan. Kita ingin menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, sehingga anak-anak bisa belajar dengan tenang dan menjadikan sekolah sebagai rumah kedua,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menjelaskan, Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dirancang bukan sekadar memperbaiki bangunan yang rusak, melainkan membangun ekosistem belajar yang mendukung pembentukan karakter siswa. Percepatan revitalisasi ini juga sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Dalam aturan tersebut, budaya sekolah dimaknai sebagai tata nilai, kebiasaan, dan perilaku yang menjamin keselamatan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosial, hingga keadaban digital di lingkungan pendidikan.
Manfaat revitalisasi juga dirasakan sekolah lain di Sumatra Selatan. Di SMPN 1 Lubuk Liat, ruang kelas yang sebelumnya mengalami kerusakan kini telah diperbaiki. Kepala sekolah Marion menyebut kondisi belajar menjadi jauh lebih aman dan nyaman.
“Kami tidak khawatir lagi atap runtuh atau lantai yang retak. Anak-anak bisa belajar dengan tenang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SDN 6 Pemulutan Barat, Desi Huswinda, mengatakan revitalisasi membantu sekolahnya membangun ruang UKS, ruang administrasi, serta lima unit toilet, termasuk toilet ramah disabilitas, dan memperbaiki perpustakaan.
Desi berharap perbaikan ruang kelas dapat segera menyusul. Ia menekankan pentingnya pemutakhiran Data Pokok Pendidikan (Dapodik) agar kondisi sekolah tergambar secara akurat dan bantuan pemerintah dapat tepat sasaran.