Monitorday.com – Belum lama ini publik dikejutkan oleh pernyataan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang menyebut dirinya akan bergabung dengan Partai Gerindra. Ia bahkan mengklaim bahwa tawaran itu datang langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Sekilas, langkah ini tampak sebagai strategi politik. Namun jika dicermati lebih dalam, langkah ini justru menyisakan tanda tanya besar: apakah Gerindra kini akan menjadi pelabuhan baru bagi para figur dengan rekam jejak problematik?
Bukan rahasia lagi, nama Budi Arie masih terbayang di benak publik terkait kasus judi online (judol) yang sempat mengguncang Kementerian Kominfo — kini berganti nama menjadi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Dalam wawancara di kanal YouTube @leon.hartono pada 12 September 2025, Mahfud MD, mantan Menko Polhukam, bahkan menegaskan bahwa secara konstruksi hukum, Budi Arie seharusnya sudah lama menjadi tersangka. Pernyataan ini bukan tuduhan sembarangan. Mahfud merujuk pada dokumen pemeriksaan yang menunjukkan adanya kelalaian serius dalam proses pengangkatan pejabat yang bertugas memblokir situs-situs ilegal, di mana keputusan itu justru membuka ruang bagi praktik kotor di balik meja birokrasi digital.
Mahfud menjelaskan bahwa kasus judi online di Kominfo berawal dari proses pengangkatan pejabat yang bertugas menangani pemblokiran situs-situs ilegal tersebut. Menurutnya, Budi Arie menunjuk seseorang yang tidak memenuhi syarat kompetensi, tanpa melalui seleksi terbuka, dan bahkan tidak memeriksa latar belakang pendidikan calon pejabat tersebut.
“Budi Arie mengatakan tidak masalah ijazahnya tidak diperiksa, karena yang bersangkutan mengaku pandai mengoperasikan IT. Akhirnya orang itu diangkat secara paksa, tidak punya ijazah apa-apa tentang itu,” ujar Mahfud.
Pejabat tersebut, lanjut Mahfud, justru kemudian terlibat dalam pembobolan sistem dan membuka celah bagi kejahatan online. Hal inilah yang menurut Mahfud menjadi dasar bahwa Budi Arie dapat diduga sebagai aktor intelektual dalam kasus tersebut.
“Nah kalau gitu bisa diduga kalo gitu otaknya si Budi Arie, aktor intelektualnya Budi Arie, kenapa? Sudah tahu dia tidak punya kompetensi dipaksakan di situ sampai dirjennya mencari gaji dari sumber dana operasional jabatan dirjen untuk ini, karena oleh Budi Arie suruh beri gaji tinggi padahal standarnya ndak boleh begitu di dalam birokrasi,” ucapnya.
Selain itu, Mahfud juga menyebut adanya bukti tambahan berupa kesaksian dalam pemeriksaan pada Maret lalu. Dalam kesaksian tersebut, seorang saksi mengaku mengantar kopi, namun isi dari kopi itu disebut-sebut adalah uang. Bukti berupa rekaman CCTV pun disebut telah ada.
“Nah itukan mestinya jadi tersangka,” ucapnya.
Kasus ini semakin menegaskan bahwa politik sering kali menjadi tempat berlindung bagi figur-figur yang kehilangan kredibilitas moral. Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, Emanuel Ebenezer, juga berasal dari kalangan relawan, justru tersandung kasus korupsi. Ironisnya, setelah terbukti bersalah, ia meminta abolisi kepada Presiden Prabowo — seolah hukum bisa dinegosiasikan atas nama loyalitas politik.
Noel, panggilan akrab Emanuel Ebenezer yang juga mengklaim sudah bergabung dengan Partai Gerindra, tapi seperti itu kelakukannya.
Kini, muncul lagi nama Budi Arie dengan jejak yang belum bersih, datang membawa “bendera relawan” dan kemungkinan besar berharap dapat tempat nyaman di partai penguasa. Inilah saatnya Gerindra menunjukkan kedewasaan politiknya.
Partai yang kini berada di puncak kekuasaan tidak boleh menjadi tempat cuci dosa politik. Jika Gerindra benar ingin membangun pemerintahan yang berintegritas, maka seleksi moral dan etika kader harus menjadi pagar pertama.
Publik tentu masih berharap pada idealisme Prabowo: kemandirian, nasionalisme, dan keberanian melawan arus kepentingan sempit. Maka dari itu, menerima sosok yang sedang dalam sorotan kasus hukum, apalagi yang diduga terlibat dalam praktik melindungi kejahatan digital seperti judi online, hanya akan mencoreng komitmen itu.