Monitorday.com – Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menyiapkan siswa berprestasi di bidang sains melalui program pendalaman Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sejak jenjang SMA. Pembelajaran dilakukan berbasis praktik langsung di laboratorium fisika untuk memperkuat pemahaman konsep dan keterampilan ilmiah siswa.
Guru IPA SRT 9 Banjarbaru, Steffy (26), mengatakan pendalaman materi diberikan secara bertahap dengan menitikberatkan pada penguasaan konsep dasar dan penerapan metode ilmiah. Proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di laboratorium yang telah dilengkapi peralatan ukur presisi.
“Di laboratorium, siswa dilatih mengukur diameter, panjang, dan massa berbagai benda menggunakan jangka sorong, mikrometer sekrup, serta neraca. Dari situ mereka belajar menghitung dan menganalisis data agar terbiasa menerapkan metode ilmiah,” ujar Steffy saat ditemui di sela kegiatan pembelajaran, Minggu.
Program pendalaman IPA tersebut diikuti tiga siswa kelas X SMA, yakni Daffa (14), Sentia (15), dan Nindiana (15). Ketiganya dipilih berdasarkan minat dan potensi di bidang sains untuk mendapatkan pembinaan lebih intensif.
Menurut Steffy, para siswa tersebut dipersiapkan tidak hanya untuk seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur prestasi, baik di dalam maupun luar negeri, tetapi juga sebagai bekal menuju ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN). “Pendalaman ini rutin kami lakukan, tidak hanya pembelajaran formal di kelas,” katanya.
Salah satu siswa, Daffa, mengaku semakin tertarik mendalami fisika sejak bersekolah di Sekolah Rakyat karena metode pembelajaran yang aplikatif dan didukung fasilitas laboratorium yang lengkap. Siswa asal Banjarmasin itu berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi rendah atau desil 1 berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Dulu nilai matematika saya belum begitu baik, tapi saya suka. Orang tua selalu mengingatkan untuk terus belajar agar bisa bermanfaat dan punya masa depan lebih baik,” ujar Daffa.
Laboratorium fisika SRT 9 Banjarbaru menjadi salah satu fasilitas yang akan ditinjau langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (12/1), dalam rangka peresmian 166 Sekolah Rakyat rintisan yang dipusatkan di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Kementerian Sosial, Banjarbaru.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf sebelumnya menegaskan pentingnya pembelajaran berbasis praktik agar siswa memahami manfaat materi pelajaran dalam kehidupan nyata. Ia menyebutkan, hasil pemetaan potensi siswa berbasis teknologi menunjukkan dari sekitar 16 ribu siswa Sekolah Rakyat, sebanyak 37,4 persen atau 1.828 siswa memiliki potensi di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM).
Dari jumlah tersebut, lanjut Saifullah, sekitar 1.204 siswa menunjukkan bakat di bidang teknik, seperti mekanik atau teknisi otomotif, insinyur sipil, operator industri, hingga arsitek. Hasil pemetaan ini menjadi pegangan penting bagi kepala sekolah, guru, dan wali asrama dalam menyusun strategi pembelajaran jangka panjang.
“Guru perlu menjelaskan tujuan dan kegunaan setiap materi agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi mampu mengaitkannya dengan penerapan sehari-hari dan diarahkan menuju prestasi,” kata Saifullah.
Sekolah Rakyat merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk menyediakan akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan pada desil 1–4 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional. Program ini dirancang sebagai model pengentasan kemiskinan terpadu dengan mengintegrasikan berbagai program pemerintah.
Berdasarkan data Kementerian Sosial, sebanyak 166 titik Sekolah Rakyat rintisan telah dibangun sepanjang 2025 dengan kapasitas sekitar 16 ribu siswa. Program ini didukung 2.400 guru dan lebih dari 4.000 tenaga kependidikan di jenjang SD, SMP, dan SMA atau sederajat.