Monitorday.com – Langkah Uni Emirat Arab (UEA) yang mengizinkan berdirinya perusahaan pertahanan Israel di jantung Abu Dhabi bukan sekadar urusan bisnis, tetapi potret paling gamblang dari kemerosotan harga diri dunia Arab modern.
Ketika Controp Precision Technologies Ltd, perusahaan teknologi pertahanan asal Israel, mengumumkan pembentukan anak perusahaannya, Controp Emirates Ltd, pada 26 Oktober lalu, dunia seolah menyaksikan bab baru dari ironi: negara Arab yang dulu lantang membela Palestina kini justru membuka karpet merah bagi industri militer Zionis.
Beroperasi di Zona Perdagangan Bebas Abu Dhabi (ADGM), anak perusahaan ini tetap sepenuhnya dimiliki oleh induknya di Israel. Artinya, bukan kerja sama yang setara, melainkan bentuk penetrasi ekonomi dan militer Israel langsung ke jantung Teluk. Lebih menyakitkan lagi, langkah ini disetujui dengan restu resmi Kementerian Pertahanan Israel, sebuah tanda bahwa hubungan ini bukan netral, melainkan bagian dari strategi geopolitik yang terencana untuk memperluas pengaruh dan kontrol Israel di kawasan Arab.
Setelah Perjanjian Abraham tahun 2020, yang disebut-sebut sebagai “terobosan diplomatik”, kini jelas siapa yang sebenarnya diuntungkan. UEA dan sebagian negara Teluk tampak terjebak dalam ilusi modernitas dan kemakmuran, sementara harga diri politik dan solidaritas Arab mereka tergerus oleh transaksi ekonomi dan kepentingan pertahanan.
Dulu, solidaritas terhadap Palestina menjadi simbol moralitas dunia Arab. Kini, simbol itu berubah menjadi sekadar retorika kosong yang dipelihara di panggung-panggung diplomatik, sementara di belakang layar, mereka justru memberi panggung bagi perusahaan-perusahaan yang menyuplai teknologi pengawasan dan militer yang mungkin digunakan untuk menindas rakyat Palestina sendiri.
Mungkin benar, kemajuan teknologi dan investasi adalah cita-cita masa depan. Namun ketika pembangunan dilakukan dengan menggadaikan martabat dan sejarah perjuangan bangsa-bangsa Arab sendiri, itu bukan kemajuan, itu penyerahan diri.
Komisaris Keamanan Pertahanan meninjau rencana tersebut dan memperkenalkan “mekanisme pengawasan ketat” untuk mencegah transfer informasi militer sensitif ke pihak asing.
Cabang Abu Dhabi akan mengelola penjualan, pemeliharaan, dukungan teknis, dan manufaktur lokal sistem elektro-optik Controp yang digunakan untuk pengawasan, penargetan, dan pengintaian.
Investasi awal, yang diperkirakan mencapai USD30 juta, akan dibiayai melalui ekuitas dan pinjaman pemilik Controp.
Perusahaan menyatakan, “Controp Emirates akan memungkinkan peningkatan layanan, waktu pengiriman yang lebih singkat, dan kepercayaan yang lebih kuat dengan pelanggan lokal.”
Seorang warga negara Israel akan menjabat sebagai kepala eksekutif, dan kendali operasional penuh akan tetap berada di tangan Israel.
Pihak berwenang menekankan bahwa anak perusahaan akan mematuhi semua ketentuan Undang-Undang Pengendalian Ekspor Pertahanan, dengan setiap transfer pengetahuan atau royalti yang memerlukan persetujuan eksplisit dari Kementerian Pertahanan Israel.
Sumber pemerintah Zionis yang dikutip oleh Maariv mengatakan inisiatif ini merupakan “langkah lain dalam memperkuat kerja sama ekonomi dan teknologi” antara Tel Aviv dan Abu Dhabi, sekaligus memastikan kepentingan keamanan Israel tetap terlindungi.
Controp, pemasok terkemuka sistem elektro-optik dan inframerah, menyediakan peralatan untuk pengumpulan intelijen, pengawasan perbatasan, dan perang drone.
Produk-produknya digunakan oleh tentara Israel, badan-badan perbatasan Amerika Serikat, dan beberapa militer asing.
Cabang Emirat yang baru ini memperdalam jejak militer Tel Aviv di Teluk dan mengintegrasikan pasar pertahanan UEA yang terus berkembang ke dalam rantai pasokan senjata Israel.
Ekspor pertahanan Tel Aviv ke negara-negara Arab telah melonjak ke level rekor dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut laporan Eurasian Times, Selasa (28/10/2025), sebanyak 12 persen dari penjualan senjata global Israel pada tahun 2024 diarahkan ke negara-negara Arab yang menormalisasi hubungan di bawah Perjanjian Abraham, naik dari hanya tiga persen pada tahun sebelumnya.
Pembelian gabungan oleh UEA, Bahrain, Maroko, dan Sudan berjumlah sekitar USD1,8 miliar, menjadikan negara-negara Arab pasar terbesar ketiga untuk senjata Israel setelah Eropa dan kawasan Asia-Pasifik yang lebih luas.
UEA dan negara-negara Teluk yang mengikuti jejaknya seolah lupa bahwa kekuatan sejati bukan diukur dari menara pencakar langit atau saldo sovereign fund, melainkan dari keberanian mempertahankan prinsip. Kini, dengan berdirinya Controp Emirates Ltd di Abu Dhabi, dunia bisa menyimpulkan satu hal sederhana namun getir: sebagian bangsa Arab bukan lagi sekadar diam terhadap penindasan, tapi telah ikut menandatangani kontrak bisnis dengan penindasnya sendiri.