Monitorday.com- Langkah mengejutkan datang dari Bank Indonesia (BI). Di tengah gempuran isu ekonomi global dan gejolak pasar keuangan, BI justru memperkenalkan sebuah konsep baru yang terdengar tak lazim di telinga publik: Enam Rukun. Sekilas, istilah ini mengingatkan pada rukun iman dalam ajaran agama.
Namun tenang dulu! versi BI ini bukan berbicara soal akidah, melainkan “iman ekonomi” yang mereka yakini bisa menjadi penopang stabilitas moneter bangsa. Menariknya, setiap “rukun” punya makna simbolis yang dikaitkan dengan tugas BI menjaga nilai rupiah, mengendalikan inflasi, hingga mengawasi sistem pembayaran.
Belum banyak detail yang diungkap, namun publik sudah ramai berspekulasi, apakah ini hanya strategi komunikasi kreatif, atau ada kebijakan besar yang akan mengguncang arah ekonomi nasional? Satu hal yang pasti, BI ingin mengajak masyarakat “berpegang teguh” pada enam pedoman yang diyakini sebagai kunci kekuatan ekonomi Indonesia ke depan.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan usulan BI dalam upaya pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Ia memetakan ada enam strategi Bank Sentral yang diramu menjadi ‘enam rukun’ pengembangan ekonomi syariah.
“Kami mengusung enam rukun peningkatan pengembangan ekonomi keuangan syariah,” kata Perry dalam acara Sarasehan Nasional Ekonomi Syariah Refleksi Kemerdekaan RI Tahun 2025 yang digelar BI dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Kompleks BI, Jakarta Pusat, Rabu (13/8/2025).
Perry menerangkan, enam rukun tersebut berpijak pada tiga pilar yakni mata rantai ekonomi halal Indonesia, penguatan ‘ngaji fikih ngaji sugih’, dan dakwah literasi ekonomi keuangan syariah.
Ia memaparkan, untuk pilar pengembangan mata rantai ekonomi halal, BI mengusulkan tiga program, yang kemudian ia sebut sebagai ‘tiga pilar’ meningkatkan halal economy value chain.
“Satu, kami sebut ‘Gerbang Santri, yaitu Gerakan Pengembangan Pesantren dan Rantai Nilai Halal. Mari kita terus tingkatkan gerakan pengembangan pesantren dan rantai nilai halal di Indonesia dengan memberdayakan pesantren sebagai pusat ekonomi umat melalui peningkatan produktivitas digitalisasi bisnis dan tata keuangan pesantren yang lebih baik” ujar Perry.
Dua, yakni ‘Jawara Ekspor’ atau Jaringan Wirausaha Syariah Mendorong Ekspor. Perry menyebut langkah itu dilakukan dengan mendorong pusat-pusat bisnis pesantren membentuk jaringan atau network yang luas.
“Perlu ada satu agregator sehingga produk halal Indonesia bisa go global melalui integrasi sistem informasi ekspor, penguatan akses pasar, dan kerja sama internasional, didukung penguatan produk sesuai permintaan ekspor,” terangnya.
Tiga, adalah ‘Gema Halal’ atau Gerakan Berjamaah Akselerasi Halal. Gerakan itu lebih diarahkan untuk memperluas pasar produk halal dengan jalan meningkatkan produksi bahan baku halal, mempercepat sertifikasi halal dari sisi hulu, dan memperkuat peran halal center di berbagai daerah, di samping memperkuat perlindungan konsumen.
“Itu kami usulkan tiga rukun untuk mata rantai ekonomi halal di Indonesia, sehingga ‘penumpang’-nya semakin banyak,” tuturnya. Diksi ‘penumpang’ yang dimaksud Perry adalah pengibaratan dalam upaya penguatan ekosistem ekonomi syariah, yang mana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinarasikan sebagai penyedia bus dan BI sendiri berperan mengisi bus dengan penumpang.
Perry melanjutkan, pada pilar penguatan ‘ngaji fikih ngaji sugih’, BI mengusulkan ada inisiatif yang disebut dengan ‘Sapa Syariah’. Inisiatif tersebut ialah tentang memperkuat sinergi perdagangan dan pembiayaan syariah.
“Di BI, dalam ‘Sapa Syariah’ kami akan masuk di PUVA (pasar uang syariah dan valuta asing) syariah karena perbankan kan di OJK, di pasar uangnya tentu saja kami akan lebih banyak,” ujar Perry.
Ia menyebut, nantinya dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang diketuai oleh Menteri Keuangan RI Sri Mulyani, diusulkan ada forum koordinasi untuk pengembangan keuangan yang fokus pada syariah.
“KSSK kan ada Forum Koordinasi Pembiayaan Pembangunan melalui Pasar Keuangan yang dulu FKPPPK, itu mungkin kita bisa transfer ada yang konvensional, ada juga yang syariah. Gerakan ‘Sapa Syariah’ itu kalau di konvensional ada namanya LIKE IT (literasi keuangan Indonesia terdepan), kalau di syariah kita sebut ‘Sapa Syariah’, tentang bagaimana akses keuangan bisa lebih kuat,” jelasnya.
Perry melanjutkan, pada pilar dakwah literasi ekonomi keuangan syariah, ia menekankan akan terus menyediakan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar). Ia mengajak berbagai pihak, mulai dari MUI, Kementerian Keuangan, Bappenas, hingga Kementerian/Lembaga perbankan untuk bersama-sama dalam menyukseskan perhelatan Fesyar yang telah digelar rutin oleh BI selama ini. Fesyar diketahui diadakan di tiga titik yang merambah semua wilayah Indonesia, yakni di Sumatera, Jawa, dan wilayah timur.
“Yang perlu kita tingkatkan, akan mendorong dua inisiatif nasional yang saling melengkapi, yaitu yang pertama adalah ‘Kanal Ziswaf’ kolaborasi nasional pengembangan zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Ini adalah yang kami usulkan agar menjadi kita sinergi antar lembaga untuk betul-betul selain pembiayaan dan komersial dari perbankan keuangan, ada juga pembiayaan sosial dari ziswaf. Kita sudah mulai kembangkan digitalisasi, sehingga menjadi Kanal Ziswaf,” terangnya.
Adapun rukun yang terakhir masih di bidang literasi, yakni ‘Lentera Emas’ yang merupakan akronim dari literasi dan inklusi ekonomi syariah menuju Indonesia Emas. Pada poin ini, Perry kembali menekankan tentang menjadikan Fesyar dan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) bakal terus digelar. Dengan adanya perhelatan-perhelatan yang dilakukan secara rutin disertai kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak, upaya itu dinilai bisa mendongkrak tingkat literasi dan inklusi ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, yang hingga saat ini terbilang masih cukup minim.
“Jadi, kami menyampaikan enam program unggulan. Pertama adalah Gerbang Santri, kedua: Jawara Ekspor, ketiga: Gema Halal, setelah itu Sapa Syariah, kemudian Kanal Ziswaf, dan terakhir Lentera Emas. Semoga bisa meningkatkan dan memperkuat Indonesia sebagai arus baru ekonomi keuangan syariah menuju global, menuju Indonesia maju, dan semoga menjadi keberkahan,” tutupnya.