Monitorday.com – Dalam perjalanan hidup, manusia sering diuji bukan hanya dengan kesusahan, tetapi juga dengan kenikmatan. Salah satu ujian paling berat justru tersembunyi di dalam nikmat, yaitu saat hati mulai merasa lebih unggul dari orang lain. Di sinilah penyakit takabbur tumbuh — sebuah sifat sombong yang bisa membutakan mata hati dari kebenaran.
Takabbur berasal dari bahasa Arab yang berarti membesarkan diri atau merasa lebih hebat. Dalam Islam, takabbur termasuk penyakit hati yang sangat dibenci Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan betapa beratnya akibat dari sifat takabbur.
Sifat ini biasanya muncul ketika seseorang merasa memiliki kelebihan — entah itu harta, ilmu, jabatan, keturunan, atau kekuatan. Padahal, semua kelebihan itu sejatinya adalah titipan dari Allah, bukan semata hasil usaha pribadi. Sayangnya, ketika takabbur sudah menguasai hati, seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk melihat kebenaran dan menilai diri sendiri dengan jujur.
Sejarah manusia menyimpan banyak kisah tentang orang-orang yang terjerumus dalam takabbur. Iblis adalah contoh utama. Ia membangkang perintah Allah untuk bersujud kepada Adam karena merasa dirinya lebih mulia, terbuat dari api sementara Adam dari tanah. Kesombongan ini akhirnya menjatuhkannya dari kemuliaan menjadi makhluk terlaknat.
Dalam kehidupan sehari-hari, takabbur bisa muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang merasa lebih baik karena status sosial, lebih pintar karena pendidikan, atau lebih suci karena ibadah. Yang lebih berbahaya, orang yang takabbur seringkali sulit dinasihati. Ia menganggap dirinya selalu benar dan merendahkan orang lain, tanpa sadar menjauhkan dirinya dari petunjuk Allah.
Takabbur bukan hanya merusak hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga hubungan dengan sesama. Sifat ini bisa membuat seseorang dijauhi orang lain, kehilangan teman sejati, bahkan menyebabkan konflik. Bagaimana bisa tercipta keharmonisan jika seseorang merasa lebih tinggi daripada yang lain?
Allah SWT memperingatkan dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36). Ini adalah pengingat bahwa sifat ini tidak hanya tercela, tetapi juga menjadi penyebab turunnya murka Allah.
Lawan dari takabbur adalah tawadhu’ — rendah hati. Orang yang tawadhu’ menyadari bahwa semua kelebihan yang ia miliki hanyalah amanah yang sewaktu-waktu bisa dicabut. Ia tidak melihat dirinya lebih baik dari orang lain, bahkan tetap menghormati yang tampaknya lebih rendah darinya. Rasulullah SAW, manusia paling mulia, justru dikenal karena kerendahan hatinya.
Untuk menghindari takabbur, langkah pertama adalah menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Tidak ada yang pantas kita banggakan secara berlebihan. Kemampuan, rezeki, bahkan kesempatan berbuat baik adalah anugerah, bukan hakikat dari diri kita sendiri.
Kedua, penting untuk terus mengevaluasi diri. Jangan hanya melihat kelebihan, tapi juga sadar akan kekurangan. Melatih diri untuk selalu bersyukur dan melihat kehebatan orang lain juga bisa membantu meruntuhkan kesombongan dalam hati.
Ketiga, memperbanyak membaca kisah-kisah tentang kehancuran akibat kesombongan bisa menjadi pelajaran berharga. Misalnya, kisah Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan dan akhirnya tenggelam di Laut Merah. Atau Qarun yang membanggakan hartanya hingga ditelan bumi. Semua itu menjadi bukti nyata bahwa takabbur hanya akan membawa kepada kehancuran.
Terakhir, jangan lupa berdoa agar Allah menjaga hati kita dari penyakit ini. Rasulullah SAW sendiri berdoa, “Ya Allah, jauhkanlah aku dari akhlak-akhlak yang buruk.” (HR. Tirmidzi). Berdoa dengan tulus dan terus-menerus menunjukkan kesadaran kita bahwa kita butuh pertolongan Allah untuk menjaga kebersihan hati.
Di zaman sekarang, di mana pencapaian dan popularitas sering dijadikan ukuran keberhasilan, tantangan untuk menghindari takabbur menjadi semakin berat. Media sosial, misalnya, bisa menjadi ladang subur untuk memupuk kesombongan jika tidak diiringi dengan kesadaran diri. Memamerkan keberhasilan, menonjolkan kelebihan, tanpa sadar bisa mengundang rasa takabbur dalam hati.
Namun, orang yang menyadari bahwa kemuliaan sejati adalah di sisi Allah, bukan di mata manusia, akan lebih mudah menjaga dirinya. Ia tidak akan tergoda untuk mencari pengakuan dunia, karena yang ia cari adalah ridha Allah. Seperti yang Allah firmankan, “Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Takabbur memang penyakit hati yang tersembunyi, tapi dampaknya nyata dan berat. Membiarkannya tumbuh berarti membiarkan diri buta terhadap kebenaran. Oleh karena itu, penting bagi setiap kita untuk terus membersihkan hati, merendahkan diri, dan menyadari betapa kecilnya kita di hadapan Allah Yang Maha Besar.
Semoga Allah melindungi kita semua dari sifat takabbur dan menghiasi hati kita dengan kerendahan hati yang mulia. Aamiin.