Connect with us

Ruang Sujud

Ternyata Rasulullah SAW Pernah Kelaparan

Published

on

“Hari ini, jika Anda memperhatikan situasi kami dahulu, Anda akan mengetahui bahwa beberapa dari kami berdiri di sini karena kelaparan. Saya juga termasuk di antaranya. Rasa lapar telah membuat saya menderita. Saya terpaksa berbaring di sini, kadang-kadang mencoba menenangkan perut yang kosong dengan menekannya ke tanah atau bahkan mengikat perut saya dengan batu,” ungkap Abu Hurairah.

Abu Hurairah duduk di tepi jalan, menunggu seseorang yang mungkin akan mengajaknya berbicara. Dia berharap orang itu akan membawanya ke rumahnya dan memberinya makanan, sebagaimana yang sering ia lakukan untuk menghormati tamunya.

Masa menunggu itu, Abu Bakar dan Umar bin Khattab melewati tanpa menghiraukannya. Harapan Abu Hurairah hampir pupus. Namun, kemudian datang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dengan cepat memahami keinginannya yang tersembunyi.

Rasulullah berkata, “Wahai Abu Hurairah, ayo ikut saya.”

Sesampainya di rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Hurairah diperintahkan untuk membagikan makanan kepada orang-orang di ahlus suffah (orang-orang yang menjadi tamu Allah). Dia berkeliling dengan mangkuk makanan, memberikannya kepada setiap orang di ahlus suffah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum dan berkata, “Sekarang hanya kita berdua yang belum makan.”

“Silakan makan,” perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Hurairah segera memulai makan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata, “Teruslah makan. Jangan berhenti.”

Hingga akhirnya, Abu Hurairah berkata, “Ya Rasulullah, sekarang perut saya sudah kenyang.”

Pada akhirnya, Abu Hurairah memakan sisa makanan di mangkuk tersebut. []

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Film Palestina Menang Penghargaan, Namun Terhambat Tembus Pasar Global

Karya sineas Palestina diakui festival dunia, tetapi distribusi internasional masih dibatasi faktor politik dan tekanan industri.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Film-film karya sineas Palestina terus meraih pengakuan di panggung internasional dengan memenangkan dan diputar di berbagai festival film bergengsi. Namun, capaian tersebut belum berbanding lurus dengan akses distribusi global yang luas, terutama di bioskop komersial dan platform streaming arus utama.

Sejumlah sutradara Palestina mengungkapkan bahwa meski film mereka diapresiasi di ajang seperti Cannes Film Festival dan Venice Film Festival, jalan menuju penonton global masih penuh hambatan. Mereka menyebut faktor ketakutan politik, tekanan industri, dan sensitivitas isu Palestina sebagai penyebab utama.

Menurut para pembuat film, banyak distributor dan platform besar memilih bersikap aman dengan tidak mengambil risiko menayangkan film bertema Palestina. Kekhawatiran akan reaksi politik, boikot, atau tekanan dari kelompok tertentu membuat karya-karya tersebut kerap berhenti di lingkaran festival saja.

Situasi ini dinilai ironis, mengingat film-film tersebut sering kali mengangkat isu kemanusiaan universal seperti kehilangan, identitas, dan kehidupan di bawah konflik. Para sineas menegaskan bahwa karya mereka bukan sekadar propaganda politik, melainkan ekspresi artistik dan kesaksian atas realitas hidup sehari-hari rakyat Palestina.

Para pengamat perfilman menilai kondisi ini mencerminkan adanya standar ganda dalam industri hiburan global, di mana kebebasan berekspresi tidak selalu berlaku setara. Mereka mendorong adanya ruang yang lebih adil bagi film-film dari wilayah konflik untuk menjangkau audiens internasional.

Meski menghadapi keterbatasan distribusi, para pembuat film Palestina menyatakan akan terus berkarya dan mencari jalur alternatif agar suara mereka tetap terdengar. Mereka berharap keberanian festival-festival internasional dapat diikuti oleh distributor global, sehingga sinema Palestina tidak hanya diakui, tetapi juga ditonton secara luas, menurut laporan Muslim Network TV.

Continue Reading

News

Jam Kiamat Makin Dekat, Dunia Tinggal 85 Detik Menuju Tengah Malam

Para ilmuwan memperingatkan umat manusia kini berada di titik paling berbahaya sepanjang sejarah Jam Kiamat.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Para ilmuwan internasional kembali menggeser posisi Jam Kiamat (Doomsday Clock) semakin mendekati tengah malam. Kini, jarum jam tersebut berada di posisi 85 detik menuju tengah malam, jarak terdekat sejak Jam Kiamat pertama kali diperkenalkan hampir 80 tahun lalu.

Pengumuman ini disampaikan oleh Bulletin of the Atomic Scientists, lembaga yang secara rutin menilai tingkat ancaman global terhadap kelangsungan hidup umat manusia. Penyesuaian waktu ini mencerminkan meningkatnya risiko kehancuran akibat berbagai faktor global yang saling berkaitan.

Menurut para ilmuwan, ancaman utama datang dari eskalasi senjata nuklir, krisis perubahan iklim yang semakin tak terkendali, serta perkembangan kecerdasan buatan yang melaju lebih cepat dibandingkan kemampuan regulasi dan etika global. Selain itu, penyebaran disinformasi juga dinilai memperparah ketidakstabilan politik dan konflik internasional.

Mereka menilai dunia saat ini berada dalam kondisi rapuh, di mana kesalahan perhitungan politik atau teknologi dapat berujung pada konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan. Ketegangan geopolitik antarnegara pemilik senjata nuklir disebut menjadi salah satu faktor paling mengkhawatirkan.

Para ahli menyerukan langkah kolektif global yang lebih serius, termasuk penguatan diplomasi, pengendalian senjata, komitmen nyata terhadap penanganan krisis iklim, serta tata kelola kecerdasan buatan yang bertanggung jawab. Tanpa upaya bersama, peringatan Jam Kiamat ini dikhawatirkan bukan lagi sekadar simbol, melainkan gambaran nyata masa depan umat manusia, menurut laporan Muslim Network TV.

Continue Reading

News

Fikih Umrah Berkemajuan, Menjaga Kesahihan Ibadah di Tengah Praktik Massal

Fikih umrah berkemajuan menegaskan keseimbangan antara ketepatan syariat dan kemaslahatan jemaah di tengah meningkatnya praktik umrah massal.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Umrah merupakan ibadah yang memiliki kedudukan penting dalam Islam, meskipun tidak termasuk rukun Islam seperti haji. Dalam praktiknya, umrah menjadi ibadah yang semakin diminati umat Islam Indonesia, bahkan sering dilakukan lebih dari sekali. Fenomena ini menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait pemahaman fikih umrah agar ibadah tidak hanya sah secara ritual, tetapi juga selaras dengan tujuan syariat.

Secara fikih, umrah memiliki ketentuan yang relatif lebih ringkas dibandingkan haji, namun tetap mensyaratkan pemahaman yang tepat. Fikih umrah membahas syarat, rukun, wajib, serta larangan selama ihram. Rukun umrah meliputi ihram, tawaf, sa’i, dan tahallul. Keempat rukun ini bersifat mutlak dan tidak dapat ditinggalkan. Dalam pandangan Manhaj Tarjih Muhammadiyah, ketepatan dalam melaksanakan rukun menjadi fondasi utama kesahihan ibadah.

Dari aspek what (apa), fikih umrah berfungsi sebagai panduan normatif agar setiap rangkaian ibadah dilakukan sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. Ihram bukan sekadar mengenakan pakaian tertentu, tetapi juga memasuki keadaan spiritual yang menuntut pengendalian diri. Tawaf, sa’i, dan tahallul memiliki makna simbolik yang menegaskan ketaatan dan ketundukan manusia kepada Allah SWT.

Dilihat dari who (siapa), umrah dapat dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mampu secara fisik dan finansial. Tidak adanya batasan waktu tertentu seperti haji menjadikan umrah lebih fleksibel. Namun fleksibilitas ini sering kali disalahpahami sebagai kelonggaran tanpa batas. Menurut Muhammadiyah.or.id, pembimbing ibadah memiliki peran penting dalam meluruskan pemahaman jemaah agar tidak terjebak pada praktik yang kurang tepat, seperti mengabaikan larangan ihram atau memaksakan ibadah di luar kemampuan fisik.

Aspek where (di mana) dalam fikih umrah menegaskan bahwa seluruh rangkaian ibadah hanya sah dilakukan di Masjidil Haram dan tempat-tempat terkait, dengan memulai ihram dari miqat yang telah ditentukan. Kesalahan dalam menentukan miqat atau ketidaktahuan tentang ketentuannya dapat berimplikasi pada kewajiban dam. Oleh karena itu, pemahaman fikih umrah yang aplikatif menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi jemaah pemula.

Sementara itu, umrah dapat dilakukan hampir sepanjang tahun, kecuali pada waktu-waktu tertentu yang diperselisihkan ulama. Dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah, umrah dipandang sah dilakukan kapan saja, termasuk pada bulan-bulan haji, selama memenuhi ketentuan syariat. Pandangan ini menunjukkan fleksibilitas fikih yang tetap berlandaskan dalil yang kuat.

Fikih umrah perlu ditegaskan kembali muncul dari realitas umrah massal yang kerap berorientasi pada kuantitas. Tidak sedikit jemaah yang menunaikan umrah berulang kali, tetapi kurang memperhatikan nilai-nilai etik dan sosial yang terkandung di dalamnya. Menurut Republika, tantangan utama umrah saat ini bukan pada akses, melainkan pada kualitas pemahaman ibadah.

Dalam konteks how (bagaimana), fikih umrah berkemajuan menekankan prinsip kemudahan dan penghilangan kesulitan tanpa mengabaikan kesahihan. Penggunaan alat bantu, pengaturan waktu tawaf untuk menghindari kepadatan, hingga pelaksanaan sa’i dengan kursi roda dipandang sah selama memenuhi syarat fikih. Prinsip رفع الحرج menjadi landasan utama dalam menghadapi kondisi jemaah yang beragam.

Lebih jauh, fikih umrah juga menuntut refleksi pasca-ibadah. Umrah tidak berhenti pada selesainya tahallul, tetapi harus berdampak pada akhlak dan kehidupan sosial jemaah. Ibadah ini seharusnya melahirkan sikap tawaduk, kepedulian sosial, dan kesadaran spiritual yang lebih kuat. Dalam pandangan Tarjih Muhammadiyah, nilai inilah yang menjadi esensi umrah yang diterima Allah SWT.

Dengan pendekatan fikih yang berkemajuan, umrah tidak sekadar menjadi ritual berulang, tetapi sarana pembinaan spiritual yang berkelanjutan. Fikih umrah hadir sebagai penuntun agar ibadah ini tetap bermakna, sah secara syariat, dan relevan dengan tantangan zaman.

Continue Reading

News

CAIR Kecam Penetapan Kelompok Muslim sebagai Teroris oleh Pemerintahan Trump

Koalisi organisasi sipil menilai kebijakan tersebut melanggar konstitusi dan mengancam kebebasan sipil umat Muslim di Amerika Serikat.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Koalisi pakar hukum dan organisasi masyarakat sipil mengecam keputusan pemerintahan Donald Trump yang menetapkan sejumlah kelompok Muslim yang dikaitkan dengan Muslim Brotherhood sebagai organisasi teroris. Kebijakan ini dinilai berpotensi melanggar konstitusi Amerika Serikat dan merusak prinsip kebebasan sipil.

Menurut Council on American-Islamic Relations (CAIR), penetapan tersebut dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas dan mengabaikan fakta bahwa Muslim Brotherhood bukanlah satu organisasi tunggal, melainkan jaringan longgar dengan konteks dan aktivitas yang berbeda di setiap negara.

CAIR menegaskan bahwa kebijakan ini berisiko memperluas praktik profiling terhadap warga Muslim di Amerika Serikat. Mereka menilai pelabelan teroris berbasis afiliasi ideologis dapat membuka jalan bagi pengawasan berlebihan, pembatasan kebebasan berekspresi, serta kriminalisasi aktivitas keagamaan yang sah.

Para pakar hukum yang tergabung dalam koalisi tersebut juga mengingatkan bahwa pendekatan keamanan semacam ini dapat menciptakan preseden berbahaya. Negara, menurut mereka, seharusnya menindak individu atau kelompok berdasarkan tindakan kriminal yang terbukti, bukan pada asumsi ideologis yang bersifat umum.

Kritik ini disampaikan menyusul meningkatnya kekhawatiran komunitas Muslim Amerika terhadap arah kebijakan keamanan nasional yang dinilai semakin politis. CAIR dan organisasi sipil lainnya menyerukan peninjauan ulang kebijakan tersebut agar tetap sejalan dengan prinsip hak asasi manusia dan supremasi hukum, menurut laporan Muslim Network TV.

Continue Reading

Ruang Sujud

Diplomasi Damai Rasulullah SAW, Teladan Hubungan Lintas Iman

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Diplomasi Rasulullah SAW dengan para penguasa non-Muslim menjadi salah satu pilar penting dalam sejarah peradaban Islam. Di tengah realitas politik yang keras dan sarat konflik, Rasulullah justru menampilkan pendekatan diplomasi yang berlandaskan perdamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Pendekatan ini tidak hanya membangun stabilitas sosial dan politik, tetapi juga memperlihatkan wajah Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam.

Prinsip dasar diplomasi Rasulullah SAW sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya: 107). Ayat ini menjadi landasan moral bahwa interaksi dengan siapa pun, termasuk non-Muslim, harus mengedepankan kasih sayang dan kemaslahatan bersama.

Salah satu instrumen diplomasi yang digunakan Rasulullah adalah surat-menyurat kepada para penguasa besar dunia. Nabi Muhammad SAW mengirim surat kepada Raja Najasyi dari Habasyah, Kaisar Heraklius dari Romawi Timur, serta Muqauqis penguasa Mesir. Isi surat tersebut disampaikan dengan bahasa yang santun, penuh penghormatan, dan tanpa paksaan. Hal ini selaras dengan prinsip dakwah dalam Al-Qur’an: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik” (QS. An-Nahl: 125).

Selain diplomasi verbal, Rasulullah SAW juga menegaskan komitmen perdamaian melalui perjanjian tertulis. Piagam Madinah menjadi bukti konkret bagaimana Islam mengatur kehidupan masyarakat multikultural. Dokumen tersebut menjamin hak dan kewajiban yang setara bagi seluruh penduduk Madinah, termasuk komunitas Yahudi. Prinsip keadilan ini sejalan dengan perintah Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah” (QS. An-Nisa: 135).

Perjanjian Hudaibiyah juga mencerminkan kecerdasan diplomasi Rasulullah. Meski dianggap merugikan secara simbolik, gencatan senjata dengan kaum Quraisy justru membuka jalan bagi penyebaran Islam secara luas dan damai. Rasulullah menempatkan stabilitas dan perdamaian di atas ambisi konflik. Dalam hadis riwayat Bukhari, perjanjian ini kemudian terbukti menjadi pintu masuk kemenangan dakwah Islam.

Dalam ranah sosial dan ekonomi, Rasulullah SAW tetap menjalin hubungan muamalah dengan non-Muslim. Beliau melakukan transaksi jual beli dan bahkan menggadaikan baju perangnya kepada seorang Yahudi. Praktik ini menunjukkan kejujuran dan keadilan dalam interaksi ekonomi lintas iman. Rasulullah bersabda: “Barang siapa menzalimi seorang non-Muslim yang terikat perjanjian, maka aku menjadi lawannya pada hari kiamat” (HR. Abu Dawud).

Sikap penghormatan terhadap keadilan universal juga tampak ketika Rasulullah mengutus para sahabat untuk meminta suaka politik kepada Raja Najasyi di Habasyah. Meski berbeda keyakinan, Najasyi dikenal sebagai penguasa yang adil. Langkah ini menegaskan bahwa Islam mengakui dan menghormati keadilan di luar komunitas Muslim.

Secara keseluruhan, diplomasi Rasulullah SAW menunjukkan bahwa perbedaan akidah bukanlah penghalang interaksi sosial dan politik. Dengan menjunjung tinggi perdamaian, keadilan, dan komitmen kemanusiaan, Rasulullah mewariskan teladan diplomasi yang relevan sepanjang zaman, terutama dalam membangun harmoni di tengah masyarakat global yang majemuk.

Continue Reading

Ruang Sujud

3 Pelaut Muslim Dikenang Sepanjang Masa

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Ruang Sujud kali ini akan membahas 3 pelaut Muslim tangguh yang kiprahnya tercatat dalam sejarah maritim dunia dan dikenang sepanjang masa. Ketiga tokoh ini dikenal tidak hanya karena kemampuan mengarungi samudra luas, tetapi juga karena kontribusi mereka dalam pengembangan ilmu navigasi, diplomasi lintas budaya, serta penyebaran nilai-nilai perdamaian melalui jalur laut.

Dalam sejarah peradaban Islam, pelayaran bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan dan interaksi antarbangsa. Para pelaut Muslim pada masa lalu menguasai astronomi, geografi, dan teknologi navigasi yang memungkinkan mereka menjelajah wilayah yang sangat luas dengan tingkat ketepatan tinggi. Penggunaan astrolab, kompas, serta pemahaman mendalam tentang angin dan arus laut menjadi fondasi utama pelayaran jarak jauh.

Tokoh pertama yang dikenang adalah Ahmad bin Majid, seorang pelaut dan navigator asal Jazirah Arab yang hidup pada abad ke-15. Ia dikenal sebagai ahli navigasi Samudra Hindia dan jalur pelayaran di sekitar Teluk Persia serta pesisir Afrika Timur. Ahmad bin Majid menulis berbagai karya penting tentang ilmu pelayaran, termasuk ensiklopedia navigasi yang berisi panduan arah angin, arus laut, posisi bintang, dan rute-rute strategis perdagangan. Karyanya menjadi rujukan utama bagi pelaut di masanya dan menunjukkan tingginya tradisi keilmuan maritim dalam dunia Islam.

Pelaut Muslim kedua adalah Cheng Ho atau Zheng He, seorang laksamana dan penjelajah laut asal Cina yang lahir dari keluarga Muslim. Pada awal abad ke-15, Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi maritim besar yang menjangkau Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga pesisir Afrika Timur. Armada yang dipimpinnya dikenal sebagai salah satu armada laut terbesar dan paling maju pada zamannya. Selain menjalankan misi pelayaran, Cheng Ho juga berperan sebagai diplomat yang membangun hubungan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan yang disinggahinya.

Tokoh ketiga merepresentasikan tradisi luas pelaut Muslim yang berperan penting dalam menghubungkan jalur perdagangan dunia. Para navigator, kartografer, dan pedagang laut Muslim turut memperkuat jaringan maritim global dengan pendekatan damai. Mereka membawa komoditas, ilmu pengetahuan, serta nilai toleransi yang memperkaya peradaban di berbagai wilayah yang mereka singgahi.

Kiprah tiga pelaut Muslim tangguh ini menjadi bukti bahwa sejarah maritim dunia tidak lepas dari kontribusi besar peradaban Islam. Hingga kini, warisan mereka terus dikenang sebagai simbol keunggulan ilmu navigasi, keberanian menjelajah, dan semangat pelayaran yang mengedepankan perdamaian serta kerja sama antarbangsa.

Continue Reading

Ruang Sujud

Imam Al-Ghazali Mundur Sebagai Rektor Universitas, ketika Banyak Ulama Sibuk Menjilat Penguasa

Faisal Maarif

Published

on

RuangSujud – masa mudanya, Al-Ghazali adalah merupakan Akademisi Mashur. Di mana saat usia 33 tahun, ia menjabat sebagai pemimpin Madrasah Nidhomiyyah di Baghdad, universitas paling prestisius di dunia Islam saat itu.

Posisinya setara dengan Rektor Universitas Negeri dan Penasihat Presiden saat ini. la dekat dengan Sultan, gajinya besar, dan fatwanya ditunggu-tunggu oleh negara.

Namun, di puncak kejayaan itu, Al-Ghazali melihat sesuatu yang busuk.

la menyadari bahwa kampus yang dipimpinnya bukan lagi tempat mencari kebenaran, melainkan Alat Politik Negara.

Kurikulum didesain untuk mencetak hakim dan birokrat yang loyal pada penguasa Bani Seljuk.

Ulama berlomba-lomba menjilat istana demi jabatan. Ilmu agama dijadikan komoditas untuk meraih status sosial.

Tapi Al-Ghazali tidak menunjuk hidung orang lain. Justru Ia menunjuk dirinya sendiri.

Dalam otobiografinya, ia menulis pengakuan yang jujur: “Aku memeriksa niatku dalam mengajar. Ternyata itu tidak murni karena Allah, melainkan demi mencari popularitas.

la sadar, bahwa dirinya adalah bagian dari masalah. Karena la adalah “petinggi” dari sistem yang memproduksi kemunafikan.

Krisis batin itu begitu hebat. Hatinya menolak untuk terus berpura-pura menjadi pejabat saleh di tengah sistem yang korup.

Al-Ghazali pun kemudian mengambil keputusan yang mengguncang Baghdad. la mengundurkan diri. la tinggalkan jabatan, dan semua fasilitas mewah yang selama ini ia dapat.

la kemudian memilih menjadi pengembara miskin, menyapu lantai masjid di Damaskus, demi menyelamatkan integritas jiwanya.

Dalam pengasingannya, ia menulis karya momumental, Ihya Ulumuddin, untuk mengingatkan bahwa ilmu agama yang diterapkan dalam kehidupan kita, harus disertai dengan ruh spiritualitas.

Continue Reading

Ruang Sujud

Kisah Isra Mi’raj, Mukjizat Besar Nabi Muhammad dan Awal Perintah Shalat Lima Waktu

Tubagus F Madroi

Published

on

Umat Islam senantiasa memperingati peristiwa Isra Mi’raj setiap tanggal 27 Rajab. Tahun ini, peringatan tersebut jatuh pada Jumat, 16 Januari 2026.

Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan perjalanan agung Nabi Muhammad SAW yang sarat dengan hikmah, pelajaran iman, dan bukti kebesaran Allah SWT.

Inilah salah satu mukjizat terbesar Rasulullah SAW, yang terjadi hanya dalam satu malam, melampaui batas logika manusia.

Pada malam 27 Rajab, sekitar satu tahun sebelum hijrah ke Madinah, Allah SWT memperjalankan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis, Palestina.

Inilah yang disebut Isra. Perjalanan ini kemudian dilanjutkan dengan Mi’raj, yakni naiknya Rasulullah SAW menembus tujuh lapis langit hingga ke tempat tertinggi, Sidratul Muntaha, untuk menghadap Allah Ta’ala.

Peristiwa ini menegaskan bahwa bagi Allah, tidak ada yang mustahil apabila Dia berkehendak.

Sebelum perjalanan dimulai, Malaikat Jibril membersihkan hati Rasulullah SAW dengan air Zamzam, sebagai persiapan ruhani untuk menghadap Sang Pencipta.

Rasulullah kemudian diperjalankan dengan Buraq, hewan tunggangan yang sangat cepat, didampingi Malaikat Jibril. Dalam perjalanan menuju Masjidil Aqsa, beliau singgah di beberapa tempat suci dan menunaikan salat dua rakaat di setiap persinggahan.

Sesampainya di Masjidil Aqsa, Rasulullah SAW menjadi imam bagi para nabi. Dari sana, beliau naik ke langit, bertemu para nabi di setiap lapis langit, hingga akhirnya tiba di Sidratul Muntaha.

Di tempat inilah Rasulullah SAW menerima perintah salat, yang awalnya lima puluh waktu, lalu diringankan menjadi lima waktu sehari semalam sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada umatnya.

Sepulang dari perjalanan agung itu, Rasulullah SAW menghadapi cemoohan dan penolakan kaum musyrik Makkah. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan penuh keyakinan membenarkan kisah tersebut.

Dari sinilah umat Islam belajar tentang iman, ketaatan, dan keagungan perintah salat sebagai hadiah terindah dari peristiwa Isra Mi’raj.

Continue Reading

Ruang Sujud

Miskonsepsi Umum Tentang Agama Islam

Persepsi negatif terhadap Islam masih banyak beredar di masyarakat, baik di tingkat lokal maupun global

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com- Agama Islam seringkali disalah pahami dan direpresentasikan secara keliru di berbagai media dan wacana publik. Padahal, jika dipelajari lebih dalam, ajaran Islam sebenarnya mengandung nilai-nilai luhur yang selaras dengan prinsip kemanusiaan universal. Sayangnya, persepsi negatif terhadap Islam masih banyak beredar di masyarakat, baik di tingkat lokal maupun global. Berikut beberapa miskonsepsi umum tentang agama Islam yang perlu diluruskan.

Pertama, anggapan bahwa Islam mempromosikan kekerasan dan ekstremisme. Pandangan ini sangat keliru dan tidak berdasar. Pada kenyataannya, Islam adalah agama yang mengutamakan perdamaian dan sangat mengecam segala bentuk kekerasan yang tidak dapat dibenarkan. Alquran dengan tegas menegaskan tentang kesucian nyawa manusia dan menyerukan hidup berdampingan secara damai (Surah Al-Maidah ayat 32). Ajaran Islam sama sekali tidak mendukung tindakan terorisme atau radikalisme yang mengatasnamakan agama. Sayangnya, tindakan kejahatan yang dilakukan oleh segelintir orang yang mengaku Muslim seringkali dijadikan alasan untuk menggeneralisasi seluruh umat Islam.

Kedua, anggapan bahwa Islam menindas perempuan. Pandangan ini juga merupakan miskonsepsi yang keliru. Sejarah mencatat bahwa Islam justru memberikan hak-hak dan kedudukan yang mulia bagi perempuan, yang pada masa itu dianggap revolusioner. Perempuan dalam Islam memiliki hak untuk memiliki harta, menuntut ilmu, dan berpartisipasi dalam ranah publik. Alquran menegaskan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di hadapan Allah (Surah An-Nisa ayat 1). Sayangnya, praktik-praktik budaya patriarki di beberapa komunitas Muslim seringkali disalahartikan sebagai ajaran Islam yang sebenarnya.

Ketiga, anggapan bahwa Islam tidak toleran terhadap agama lain. Pandangan ini juga tidak berdasar. Islam justru mengajarkan rasa hormat dan toleransi terhadap agama-agama lain. Alquran mengakui keabsahan agama-agama Abrahamik lainnya dan menyerukan dialog serta koeksistensi yang damai (Surah Al-Baqarah ayat 256). Sejarah juga mencatat bagaimana umat Islam di berbagai era mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan pemeluk agama lain.

Keempat, anggapan bahwa Muslim menyembah Tuhan yang berbeda. Anggapan ini juga keliru. Umat Muslim menyembah Tuhan Yang Maha Esa, yang sama dengan Tuhan yang disembah oleh umat Yahudi dan Kristen, yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai Allah.

Kelima, anggapan bahwa Islam disebarkan dengan kekerasan. Meskipun ada beberapa peristiwa penaklukan militer dalam sejarah Islam, namun cara utama penyebaran agama ini adalah melalui misi penyebaran damai dan daya tarik ajaran-ajarannya yang luhur (Hadits Riwayat Bukhari no. 1397). Sejarah mencatat bagaimana Islam tersebar luas ke berbagai penjuru dunia melalui jalur perdagangan, perkawinan, dan akulturasi budaya, bukan melalui penaklukan paksa.

Continue Reading

News

Zohran Mamdani, Wali Kota Muslim Pertama NYC, Cabut Definisi Antisemitisme IHRA

Definisi antisemitisme IHRA sering digunakan untuk membungkam kritik terhadap kebijakan Israel

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com- Zohran Mamdani, yang baru saja dilantik sebagai wali kota Muslim pertama New York City, mengeluarkan kebijakan kontroversial pada hari pertama menjabat dengan mencabut definisi antisemitisme IHRA yang sebelumnya diterapkan. Keputusan ini memicu perdebatan sengit mengenai kebebasan berbicara dan hubungan antara komunitas, khususnya terkait dengan cara mendefinisikan kebencian terhadap kelompok etnis tertentu.

Mamdani, yang dikenal sebagai tokoh progresif, menjelaskan bahwa definisi antisemitisme IHRA sering digunakan untuk membungkam kritik terhadap kebijakan Israel, yang menurutnya bertentangan dengan prinsip kebebasan berpendapat yang dijunjung tinggi oleh negara demokrasi seperti Amerika Serikat. Keputusan ini memicu reaksi dari berbagai kalangan, termasuk anggota dewan yang beraliran konservatif dan organisasi-organisasi Yahudi yang merasa kebijakan ini bisa membuka celah untuk diskriminasi.

Kebijakan ini menggarisbawahi peran vital New York sebagai pusat pluralisme dan kebebasan berekspresi, serta menunjukkan tantangan yang dihadapi pemimpin-pemimpin baru dalam menavigasi isu-isu sensitif yang berkaitan dengan identitas budaya dan politik di kota dengan populasi yang sangat beragam.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



News8 minutes ago

INACRAFT 2026: Merayakan Peran Womenpreneurs di Balik Kriya Nusantara

News5 hours ago

Film Palestina Menang Penghargaan, Namun Terhambat Tembus Pasar Global

LakeyBanget11 hours ago

Layvin Kurzawa Ungkap Alasan Hijrah ke Persib Bandung

LakeyBanget11 hours ago

Pin “ICE OUT” Warnai Grammy Awards 2026

LakeyBanget12 hours ago

Timnas Indonesia U-17 vs Tiongkok, Catat Harga Tiket dan Jam Tayangnya

News12 hours ago

Wamen Fajar Beberkan Kunci Jadi Generasi Muda Unggul di Era AI

Review1 day ago

Di Tengah Badai Masalah, Presiden Justru Bahas Isu “Gentengisasi”

News1 day ago

Programmer Tewas Usai Lembur, Masih Dikirimi Tugas Saat Sekarat

News1 day ago

Jam Kiamat Makin Dekat, Dunia Tinggal 85 Detik Menuju Tengah Malam

News1 day ago

Fikih Umrah Berkemajuan, Menjaga Kesahihan Ibadah di Tengah Praktik Massal

News1 day ago

Inovasi Teknologi Menuju Indonesia Emas 2045

News1 day ago

28 SMA di DIY Rampungkan Revitalisasi, Wamen Atip Dorong Sekolah Lebih Hidup dan Berkualitas

LakeyBanget1 day ago

Dion Markx Siap Bersaing di Lini Belakang Persib Bandung

LakeyBanget1 day ago

Presiden Inter Kutuk Insiden Flare dan Puji Profesionalisme Emil Audero

News1 day ago

Komdigi Mulai Normalisasi Akses Grok AI Secara Bersyarat

News1 day ago

Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI, Siapa Jeffrey Hendrik?

News2 days ago

Perbatasan Rafah Gaza Dibuka Kembali Usai 2 Tahun Ditutup Israel

News2 days ago

Hadapi Ancaman Digital, Pemerintah Siapkan Talenta Muda Kuasai Keamanan Siber dan AI

LakeyBanget2 days ago

Dominasi Thailand Masters 2026, Indonesia Borong Empat Gelar Juara

News2 days ago

Bank Mandiri Distribusikan Bantuan untuk Korban Longsor Bandung Barat

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.