Connect with us

News

UT Pokjar Penang Rayakan Festival Silang Budaya, Menampilkan Tradisi dan Seni Nusantara

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Universitas Terbuka (UT) Pokjar Penang baru saja menggelar Festival Silang Budaya Indonesia-Malaysia yang digelar di Komtar, gedung ikonik di pusat kota Georgetown, Penang, pada Minggu, 1 Desember 2024.

Festival yang memasuki tahun ketiganya ini, diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Universitas Terbuka Pokjar Penang, dan menjadi perayaan penuh makna yang menghubungkan dua bangsa melalui seni dan budaya.

Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, diikuti dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dan Malaysia serta Hymne Universitas Terbuka. Suasana khidmat menyelimuti gedung tertinggi di Penang ini, menciptakan atmosfer yang penuh haru dan kebersamaan.

Dalam sambutannya, Direktur UT Medan, Yasir Riady, menegaskan bahwa Festival Silang Budaya lebih dari sekadar sebuah perayaan seni. Ia menyebutnya sebagai sebuah bentuk diplomasi budaya yang sangat penting untuk menguatkan ikatan antarbangsa.

“Lewat kegiatan ini, kita bisa saling memahami dan menghargai keberagaman, memperkaya persahabatan antarbangsa melalui bahasa budaya yang tak mengenal batas,” ujar Yasir.

Dengan penuh bangga, Yasir memaparkan bahwa tarian, musik, dan pameran seni yang hadir dalam festival ini merupakan simbol kekayaan budaya Indonesia dan Malaysia yang menyatu dalam harmoni.

“Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, kedua negara ini memiliki ikatan budaya yang erat, sebuah jembatan yang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah keragaman dunia,” katanya.

Lebih lanjut, Yasir menambahkan bahwa UT Medan memiliki wilayah kerja yang luas, mencakup 33 kabupaten/kota di Sumatera Utara dan tiga wilayah di Malaysia, yaitu Kuala Lumpur, Penang, dan Malaka.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Konsulat Jenderal RI Penang yang telah mendukung berbagai kegiatan Universitas Terbuka di Penang. Saat ini, terdapat 615 mahasiswa Universitas Terbuka yang terdaftar di Penang, dengan total 4000 mahasiswa di seluruh Malaysia.

Ketua PPI UT Penang, Desy Nur Fadhila, menjelaskan bahwa tujuan dari Festival Silang Budaya ini adalah untuk melestarikan warisan budaya Indonesia, mempererat hubungan antar mahasiswa Universitas Terbuka, serta memperkenalkan Universitas Terbuka kepada pekerja migran Indonesia yang berada di Penang.

“Terima kasih kepada Universitas Terbuka yang telah menjadi wadah pendidikan bagi kami, juga kepada Konsulat Jenderal RI Penang dan para sponsor yang telah mendukung kelancaran festival ini,” ungkap Desy.

Konsulat Jenderal RI Penang, Bapak Waston Saragih, menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa Universitas Terbuka Penang yang, meski banyak yang bekerja di kilang, tetap semangat melanjutkan pendidikan dan sukses menyelenggarakan festival ini.

“Kami akan terus mendukung kegiatan semacam ini, dan berharap festival tahun depan dapat lebih menarik dan berkualitas. Jalin terus persatuan antar pelajar, bangsa, dan negara, serta jaga citra positif bangsa Indonesia,” pesannya.

Pusat Khidmat Kadun Komtar, YB Teh Lai Heng, juga memberikan sambutan hangat, mengucapkan terima kasih kepada PPI Universitas Terbuka Penang yang memilih Komtar sebagai lokasi Festival Silang Budaya tahun ini.

“Selamat datang di Komtar dan semoga festival ini sukses dan lancar,” tuturnya.

Festival ini bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah simbol persatuan, kekuatan budaya, dan semangat kebersamaan yang menembus batas-batas negara.

Sebuah momen yang menggugah hati, mengingatkan kita bahwa meskipun dunia semakin global, ikatan antarbangsa dan persaudaraan tetap menjadi pijakan yang tak ternilai.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Warga Palestina Tak Gentar, Salat Idulfitri Tetap Digelar

Warga Palestina tetap melaksanakan Salat Idulfitri meski di tengah serangan Israel. Tradisi ini menjadi simbol perlawanan dan harapan, meskipun mereka menghadapi kehilangan, kemiskinan, dan ancaman perang yang terus berlangsung.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Di tengah kepulan asap dan dentuman bom yang mengguncang langit Gaza, ribuan warga Palestina tetap melangkahkan kaki mereka menuju masjid-masjid yang masih berdiri. Tak peduli ancaman serangan udara yang masih mengintai, semangat merayakan Idulfitri tak goyah. Ini bukan hanya perayaan, ini adalah bentuk perlawanan terhadap upaya untuk melenyapkan kebahagiaan mereka.

Dari anak-anak hingga lansia, semua hadir dengan pakaian terbaik yang mereka miliki, menyisakan senyum di tengah kehancuran. Di antara reruntuhan, mereka tetap menggelar tikar, menundukkan kepala dalam sujud, dan menggemakan takbir kemenangan. Ini bukan tentang kemewahan, tapi tentang mempertahankan identitas dan kebersamaan yang terus mereka jaga meski dunia terasa kian menyempit.

Mansour Shouman, seorang jurnalis Palestina, menuturkan bagaimana warga tetap berusaha menjalankan tradisi meski dalam keterbatasan. “Sejak pagi, setiap orang mencari tempat yang aman untuk beribadah. Mereka ingin memastikan bahwa meskipun Gaza dihancurkan, struktur sosial dan kekeluargaan tetap utuh,” ujarnya. Di Gaza, salat Idulfitri bukan hanya ibadah, tetapi juga pernyataan bahwa mereka masih ada, masih berjuang, dan masih bertahan.

Namun, kenyataan pahit tak bisa dihindari. Krisis ekonomi yang melumpuhkan akibat blokade berkepanjangan membuat banyak keluarga tak mampu merayakan Idulfitri seperti sebelumnya. Jika di tahun-tahun sebelumnya anak-anak mendapatkan pakaian baru dan manisan khas Idulfitri, kini mereka hanya bisa berharap ada makanan yang cukup di meja. Generasi yang tumbuh di bawah bayang-bayang peperangan ini mungkin tak tahu rasanya perayaan yang damai.

Pada hari yang seharusnya penuh sukacita, kesedihan justru menyelimuti Gaza. Serangan udara Israel pada Minggu dini hari menghantam sebuah rumah dan tenda pengungsi di Khan Yunis. Delapan nyawa melayang, termasuk lima anak-anak yang seharusnya bisa merasakan kebahagiaan Idulfitri. Dentuman bom menggantikan suara tawa, dan air mata menggantikan pelukan hangat keluarga.

Meskipun demikian, ada secercah harapan di tengah kelamnya konflik ini. Hamas dan Israel telah menerima usulan gencatan senjata dari mediator. Jika disepakati, mungkin ini akan menjadi jeda yang memberi kesempatan bagi warga Palestina untuk sedikit bernapas, untuk menyembuhkan luka, dan untuk kembali membangun dari puing-puing yang tersisa. Namun, gencatan senjata hanyalah permulaan. Perdamaian yang sesungguhnya masih jauh dari jangkauan, dan rakyat Palestina masih harus terus berjuang untuk hak mereka.

Hari ini, di tanah yang terus diguncang ketidakpastian, warga Palestina tetap merayakan Idulfitri dengan kepala tegak. Mereka tak gentar, tak menyerah, dan terus berdoa agar suatu hari nanti, mereka bisa merayakan hari kemenangan ini tanpa harus takut akan bom yang jatuh dari langit.

Continue Reading

News

Terlambat Lapor SPT Imbas Libur Lebaran, Pemerintah Hapus Sanksi Administratif

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak (Kepdirjen Pajak) Nomor 79/PJ/2025 yang memberikan kelonggaran bagi Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP) dengan menghapus sanksi administratif atas keterlambatan pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 29 dan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan untuk tahun pajak 2024.

Kebijakan ini diambil karena batas akhir pelaporan yang jatuh pada 31 Maret 2025 bersamaan dengan libur nasional dan cuti bersama dalam rangka Hari Suci Nyepi dan Idulfitri 1446 Hijriah.

Dalam kebijakan terbaru ini, WP OP yang terlambat membayar PPh Pasal 29 atau melaporkan SPT Tahunan tetap tidak akan dikenakan sanksi administratif, asalkan pelaporan dilakukan paling lambat pada 11 April 2025.

Biasanya, keterlambatan dalam pelaporan dan pembayaran pajak akan dikenakan Surat Tagihan Pajak (STP), namun dalam hal ini, DJP tidak akan menerbitkan STP bagi WP OP yang terdampak libur panjang.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP, Dwi Astuti, menyatakan bahwa kebijakan ini dibuat untuk memastikan keadilan dan kepastian hukum bagi wajib pajak.

“Kami memahami bahwa libur panjang bisa menyebabkan keterlambatan dalam pemenuhan kewajiban pajak. Oleh karena itu, kami memberikan kelonggaran ini sebagai bentuk kepedulian kepada wajib pajak,” ujarnya.

Libur nasional dan cuti bersama yang berlangsung pada akhir Maret hingga awal April 2025 menyebabkan jumlah hari kerja efektif menjadi terbatas, yang dapat menyulitkan wajib pajak dalam menyelesaikan kewajiban pajaknya tepat waktu.

Dengan adanya kebijakan ini, wajib pajak memiliki kesempatan tambahan untuk memenuhi kewajiban mereka tanpa khawatir akan terkena sanksi.

Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat mengakses dan mengunduh dokumen resmi Kepdirjen Pajak Nomor 79/PJ/2025 melalui situs web resmi DJP di pajak.go.id.

Pemerintah juga mengimbau agar wajib pajak memanfaatkan waktu tambahan ini sebaik-baiknya untuk tetap patuh pada kewajiban perpajakannya.

Continue Reading

News

Lebaran vs Idul Fitri: Apa Perbedaannya?

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Menjelang Hari Raya, perbedaan antara “Lebaran” dan “Idul Fitri” sering menjadi topik perbincangan hangat di kalangan umat Muslim di Indonesia. Kedua istilah ini sering dianggap memiliki arti yang sama, namun apakah benar demikian?

Idul Fitri atau Lebaran adalah hari raya yang dirayakan oleh umat Islam pada tanggal 1 Syawal setelah menunaikan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Idul Fitri menjadi momen penting untuk merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Lebaran merujuk pada hari raya umat Muslim yang jatuh pada 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa. Istilah “Lebaran” memiliki asal-usul yang menarik.

Beberapa ahli bahasa, termasuk M. A. Salmun, seorang ahli bahasa sastra Sunda dan Indonesia, mengungkapkan bahwa kata “Lebaran” berasal dari tradisi Hindu yang memiliki arti “selesai” atau “usai.” Dalam tradisi Jawa, istilah ini juga digunakan dengan pengertian yang sama, yakni “wis bar” yang berarti “sudah selesai.”

Sementara itu, menurut Ustadz Ammi Nur Baits dalam laman Konsultasi Syariah, istilah Idul Fitri berasal dari dua kata dalam Bahasa Arab, yaitu “Id” yang berarti “kembali” dan “Al-Fitri” yang berarti “fitrah” atau “kembali ke keadaan semula.”

Konsep ini merujuk pada kebangkitan spiritual yang dirayakan setiap tahun, sebagai tanda kemenangan umat Islam setelah menunaikan puasa dan kembali kepada fitrah mereka.

Meskipun sering digunakan secara bergantian, “Lebaran” dan “Idul Fitri” memiliki nuansa makna yang berbeda.

Idul Fitri lebih mengarah pada arti spiritual dan keagamaan, sementara Lebaran lebih berfokus pada tradisi masyarakat yang merayakan momen setelah Ramadhan. Keduanya, bagaimanapun, tetap menjadi hari penuh sukacita bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Continue Reading

News

Abuya Muhtadi dan Lebaran Versi Sendiri

Ulama Banten, Abuya Muhtadi, menetapkan Idul Fitri 1446 H jatuh pada 1 April 2025. Keputusannya yang unik memicu reaksi beragam, tetapi tetap dihormati dalam suasana penuh kebijaksanaan.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Bayangkan sedang duduk santai di serambi pesantren, menikmati kopi pahit dan gorengan hangat, tiba-tiba Abuya Muhtadi berseloroh, “Lebaran versi kita beda dikit, tapi tetap sah.” Begitulah cara sang ulama Banten ini menyampaikan sesuatu yang serius dengan gaya khasnya: ringan, penuh humor, tapi tetap sarat makna.

Siapa yang tak kenal Abuya Muhtadi? Bagi sebagian orang, dialah sosok ulama kharismatik dengan segudang ilmu dan pemikiran yang tajam . Bagi sebagian lainnya, dialah adalah pencerah jiwa dengan selera humor tinggi, kadang lebih segar dari es kelapa di tengah terik Banten.

Kali ini, Abuya kembali bikin heboh dengan penetapan Idul Fitri 1446 H yang jatuh pada 1 April 2025! Apakah ini kebetulan? Atau justru hikmah terselubung yang hanya dia yang tahu?

Ketika pemerintah menetapkan 1 Syawal jatuh pada 31 Maret 2025, Abuya justru punya hitungan sendiri yang lebih ‘spesial’. “Bukan soal beda, tapi soal metode. Kalau orang lain pakai 3 derajat, kita pakai 9 derajat. Kalau bisa tinggi, kenapa harus pendek?” katanya sambil tertawa. Logika sederhana ini tampaknya sulit dibantah, setidaknya jika kita ikut dalam frekuensi humornya.

Metode penghitungan hilal Abuya mungkin bukan yang paling populer, tapi jelas bukan sekadar hitungan asal-asalan. Dengan kriteria minimal 9 derajat, Abuya memastikan hilal benar-benar terlihat tanpa perlu berdebat panjang. “Kalau kurang dari 9 derajat, itu masih anak-anak. Biar hilal juga tumbuh dewasa dulu baru dianggap,” celetuknya. Gaya khasnya dalam menyampaikan ilmu agama ini membuat suasana menjadi cair dan tidak kaku.

Tak hanya dalam hal penetapan Lebaran, Abuya juga dikenal dengan gaya dakwah yang jenaka tapi penuh makna. Dalam suatu pengajian, ada yang bertanya, “Abuya, kalau kita ragu ikut Lebaran versi siapa, bagaimana?” Dengan santai, beliau menjawab, “Ikut yang bikin kamu bahagia, tapi jangan sampai kebanyakan Lebaran, nanti bajunya nggak cukup.” Candaannya memang sederhana, tapi pesannya mendalam: perbedaan jangan sampai membuat umat tercerai-berai.

Pendekatan toleran yang diusung Abuya juga patut diacungi jempol. ia tidak pernah memaksakan pengikutnya untuk mengikuti hitungannya. “Mau ikut pemerintah? Silakan. Mau ikut saya? Juga boleh. Mau ikut yang lain? Ya terserah, yang penting jangan Lebaran setiap bulan.” Guyonan semacam ini selalu membuat suasana lebih ringan, bahkan ketika membahas hal yang bisa memicu perdebatan panjang.

Tentu saja, tidak semua orang menerima keputusan Abuya dengan tangan terbuka. Ada yang mengkritik, ada yang bingung, ada juga yang diam-diam tertawa karena merasa ini adalah bagian dari kebijaksanaan unik seorang ulama. “Lebaran kok kayak diskon, ada versi beda-beda,” kelakar seorang santri sambil tertawa.

Meski begitu, pengikut setia Abuya tetap teguh dengan keyakinannya. “Kami percaya perhitungan Abuya. Beliau bukan hanya ulama, tapi juga manusia yang penuh hikmah. Kadang, sesuatu yang terdengar lucu justru lebih mudah diterima dan dipahami,” ujar seorang jemaahnya.

Pada akhirnya, perbedaan dalam penentuan 1 Syawal ini bukanlah sesuatu yang harus diributkan. Seperti kata Abuya, “Yang penting puasanya khusyuk, makannya nikmat, dan Lebarannya bahagia. Mau 31 Maret atau 1 April, yang penting jangan 1 Desember.” Satu pesan yang mungkin ingin ia sampaikan: perbedaan itu wajar, tapi menjaga kebersamaan jauh lebih penting.

Continue Reading

News

Muhammadiyah: Raksasa Ekonomi di Dunia Keagamaan

Muhammadiyah menempati posisi keempat dalam daftar organisasi keagamaan terkaya dunia dengan aset Rp454,24 triliun. Keberhasilannya didukung oleh sistem pengelolaan modern dan investasi di berbagai sektor.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Saat membayangkan organisasi keagamaan, kebanyakan orang cenderung fokus pada aspek spiritual dan sosial. Namun, siapa sangka bahwa Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar di Indonesia, kini mencatatkan namanya dalam daftar organisasi keagamaan terkaya di dunia? Berdasarkan data dari Seasia Stats, Muhammadiyah memiliki aset luar biasa, mencapai Rp454,24 triliun. Angka ini menempatkan Muhammadiyah di posisi keempat secara global, membuktikan bahwa organisasi Islam ini tidak hanya berkembang dalam aspek keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi yang luar biasa.

Posisi pertama dalam daftar organisasi keagamaan terkaya masih dipegang oleh The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints (LDS Church) yang berbasis di Amerika Serikat dengan total aset mencapai Rp4.305 triliun. Di sisi lain, Vatikan yang menjadi pusat Gereja Katolik tidak memiliki angka kekayaan yang pasti dalam laporan Seasia Stats. Namun, catatan menunjukkan bahwa Gereja Katolik di Jerman memiliki aset antara Rp767 triliun hingga Rp4.315 triliun, sementara di Australia dan Prancis masing-masing mencapai Rp377,72 triliun dan Rp373,66 triliun.

Fenomena ini menggugah banyak pertanyaan: bagaimana Muhammadiyah bisa mencapai pencapaian ini? Rahasianya terletak pada sistem pengelolaan keuangan yang transparan dan modern. Sumber dana utama Muhammadiyah berasal dari wakaf, donasi, serta investasi di sektor pendidikan dan kesehatan. Dengan jaringan universitas, rumah sakit, dan lembaga sosial yang tersebar di seluruh Indonesia, Muhammadiyah telah membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keagamaan, Muhammadiyah juga memainkan peran besar dalam perekonomian masyarakat, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan taraf hidup banyak orang.

Capaian ini juga membuktikan bahwa organisasi Islam mampu berdiri secara mandiri dan berkembang dengan sistem yang efisien. Meski masih jauh dari LDS Church atau kekayaan Gereja Katolik di berbagai negara, posisi Muhammadiyah dalam daftar ini menunjukkan bahwa organisasi Islam di Indonesia memiliki pengaruh yang signifikan dalam skala global. Keberhasilannya juga menjadi bukti bahwa pengelolaan aset berbasis nilai-nilai Islam dapat menjadi model bagi organisasi lain.

Namun, perhitungan kekayaan organisasi keagamaan bukanlah hal yang mudah. Estimasi aset bisa berbeda tergantung pada metode yang digunakan. Beberapa faktor seperti nilai properti, investasi, dan arus kas operasional dapat memengaruhi hasil akhir dari analisis kekayaan. Oleh karena itu, membandingkan Muhammadiyah dengan Vatikan atau organisasi keagamaan lain membutuhkan data yang lebih mendalam.

Terlepas dari itu, masuknya Muhammadiyah dalam daftar ini menegaskan bahwa organisasi keagamaan bukan hanya memiliki peran spiritual, tetapi juga berkontribusi dalam aspek sosial dan ekonomi. Dengan aset yang terus berkembang, Muhammadiyah memiliki potensi besar untuk terus memperluas dampaknya, baik di Indonesia maupun di kancah global. Ke depannya, tantangan terbesar bagi Muhammadiyah adalah bagaimana menjaga keberlanjutan pertumbuhan ini sambil tetap berpegang pada nilai-nilai Islam dan amanah umat.

Continue Reading

News

Erick Thohir: Sepakbola Memupuk Bhineka Tunggal Ika

Sepakbola menjadi alat pemersatu bagi Indonesia, mencerminkan semangat Bhineka Tunggal Ika. Erick Thohir menargetkan Indonesia masuk 50 besar FIFA 2045 dan berjuang lolos ke Piala Dunia 2026.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com –Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa sepakbola bisa membangun kembali semangat semboyan negara Indonesia, ‘Bhineka Tunggal Ika’. Sepakbola bukan sekadar olahraga, melainkan alat pemersatu yang mampu menyatukan berbagai latar belakang, budaya, dan identitas dalam satu visi: mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia.

Saat ini, Timnas Indonesia dihuni oleh 19 pemain keturunan, sebagian besar berasal dari Belanda. Keberagaman dalam skuad Garuda mencerminkan semangat Bhineka Tunggal Ika yang tersemat dalam lambang Garuda Pancasila. Erick Thohir percaya bahwa kekuatan sepakbola mampu merajut kembali keberagaman menjadi satu kesatuan yang kokoh.

Perjuangan Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi momentum untuk membuktikan hal tersebut. Para pemain terbaik dikumpulkan demi satu tujuan: membawa Indonesia ke panggung sepakbola tertinggi. Dalam wawancara dengan media Belanda, NOS, Erick mengungkap misi besar PSSI bersama Indonesia.

“Sepakbola bisa membantu membangun kembali motto nasional kami, ‘Bhineka Tunggal Ika’, yang berarti persatuan dalam keberagaman,” kata Erick dalam wawancara dengan Voetbal Primeur.

Ambisi besar juga disampaikan Erick Thohir. Dia ingin Indonesia masuk dalam 50 besar peringkat FIFA pada tahun 2045. Target ini bukan perkara mudah. Dengan lebih dari 17 ribu pulau dan 280 juta penduduk, Indonesia memiliki tantangan yang kompleks. Namun, hal itu bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Saat ini, Indonesia masih menjaga asa untuk lolos ke Piala Dunia 2026. Skuad Garuda menempati posisi keempat Klasemen Kualifikasi Piala Dunia 2026 babak ketiga Grup C dengan sembilan poin. Mereka bersaing ketat dengan Australia (13 poin), Arab Saudi (10 poin), Bahrain (6 poin), dan China (6 poin). Jepang sudah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 dengan raihan 20 poin.

Perjalanan panjang Timnas Indonesia di kancah internasional memang penuh tantangan. Namun, dengan semangat persatuan dan dukungan penuh dari masyarakat, sepakbola Indonesia memiliki peluang besar untuk bangkit. Bhineka Tunggal Ika bukan hanya semboyan, melainkan filosofi yang hidup di lapangan hijau. Dengan kerja keras, disiplin, dan strategi yang tepat, mimpi Indonesia berlaga di Piala Dunia bukan lagi sekadar angan-angan.

Continue Reading

News

Atlet Muay Thai Muslim Ini Sumbangkan Bonus Pertandingan Untuk Kaum Dhuafa

Yusuf Hasyim

Published

on

Monitorday.com – Rodtang Jitmuangnon menyumbangkan sebagian bonus pertandingannya untuk masyarakat Muslim yang kurang mampu dan dhuafa.

Bonus senilai 50.000 dolar AS ia terima setelah berhasil mengalahkan Takeru Segawa dalam waktu 80 detik.

Rodtang, petarung asal Thailand, memenangkan laga utama ONE 172 di Saitama Super Arena, Jepang, pada 23 Maret 2025.

Takeru Segawa dikenal sebagai salah satu kickboxer terbaik, dengan gelar di berbagai kelas dalam ajang K-1.

Rodtang sendiri merupakan juara kelas terbang kickboxing dan dijuluki “The Iron Man” karena ketangguhannya di ring.

Kemenangan cepatnya atas Takeru membuat namanya semakin populer di kalangan pecinta olahraga bela diri.

Rodtang lahir dengan nama Tinnakorn Srisawat di Pattalung, Thailand, pada 23 Juli 1997.

Ia berusia 27 tahun dan saat ini berstatus sebagai atlet Muay Thai dengan kewarganegaraan Thailand.

Rodtang masuk Islam pada Februari 2023 setelah menikah dengan atlet Muay Thai Muslimah, Aida Looksaikongdin.

Sebelumnya, sempat beredar rumor bahwa ia ditahbiskan sebagai biksu Buddha sebelum akhirnya menjadi mualaf.

Rodtang menegaskan bahwa dirinya kini adalah seorang Muslim penuh dan mengikuti agama istrinya.

Keputusan Rodtang untuk berbagi rezeki mendapat apresiasi dari banyak penggemar dan komunitas Muslim.

Ia berharap sumbangannya bisa membantu mereka yang membutuhkan serta memberikan manfaat bagi umat Islam.

Aksi sosial Rodtang menambah daftar panjang atlet Muslim yang aktif dalam kegiatan kemanusiaan.

Melalui donasi ini, Rodtang menunjukkan bahwa kemenangan di ring juga bisa menjadi berkah bagi sesama.

Rodtang terus menginspirasi dengan prestasi dan kepeduliannya terhadap sesama, baik di dalam maupun di luar arena.

Continue Reading

News

Kelola THR dengan Cerdas untuk Siswa SMP

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Saat amplop berisi Tunjangan Hari Raya (THR) berpindah ke tangan, euforia langsung terasa. Bagi siswa SMP kelas 8, ini adalah momen langka—kesempatan memiliki uang sendiri tanpa harus meminta orang tua.

Namun, bagaimana jika THR ini bukan sekadar untuk jajan atau beli barang yang sedang tren? Bagaimana kalau uang ini bisa dikelola dengan lebih cerdas dan bermanfaat?

Banyak siswa yang langsung tergoda untuk menghabiskan THR dalam hitungan hari, bahkan jam! Makanan lezat, gadget baru, atau mainan impian tiba-tiba masuk dalam daftar belanja. Padahal, dengan sedikit perencanaan, THR bisa dimanfaatkan lebih optimal tanpa menghilangkan kesenangan. Bayangkan jika sebagian dari THR bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih berguna, misalnya menabung untuk membeli barang impian tanpa harus meminta tambahan uang dari orang tua.

Salah satu trik sederhana dalam mengelola THR adalah dengan membaginya ke dalam beberapa kategori: kebutuhan, keinginan, tabungan, dan donasi. Misalnya, 40% untuk ditabung, 30% untuk membeli barang yang diinginkan, 20% untuk keperluan mendadak atau kebutuhan kecil, dan 10% untuk berbagi kepada orang lain. Dengan cara ini, uang THR tidak langsung habis begitu saja, dan ada kepuasan lebih dalam menggunakannya.

Menabung dari THR mungkin terdengar membosankan, tetapi coba pikirkan manfaatnya. Saat teman-teman kehabisan uang dan kembali meminta jajan pada orang tua, kamu justru masih memiliki simpanan. Jika dilakukan secara rutin setiap tahun, kebiasaan ini bisa menjadi bekal berharga di masa depan. Bisa jadi, saat naik ke kelas 3 SMP, kamu sudah bisa membeli sesuatu yang lebih besar dengan uang tabungan sendiri, seperti sepeda atau bahkan perangkat komputer untuk belajar.

Selain menabung, investasi kecil juga bisa dilakukan. Misalnya, jika tertarik dengan dunia bisnis, sebagian THR bisa digunakan untuk mencoba usaha kecil-kecilan seperti menjual stiker, aksesoris, atau makanan ringan. Dengan modal dari THR, kamu bisa belajar cara menghasilkan uang sendiri. Ini bukan hanya mengajarkan kemandirian, tetapi juga memberi pengalaman berharga dalam mengelola keuangan.

Menggunakan THR dengan bijak juga bisa melatih pengendalian diri. Kadang, ada dorongan besar untuk langsung membeli sesuatu yang sedang tren, tapi coba tanya pada diri sendiri: apakah ini benar-benar dibutuhkan? Jika bisa menunda keinginan sesaat dan berpikir lebih jauh, kamu akan lebih puas dengan keputusan yang diambil. Latihan sederhana ini bisa membuat kamu lebih bijak dalam mengelola keuangan di masa depan.

Jadi, daripada membiarkan THR langsung lenyap untuk kesenangan sesaat, yuk coba kelola dengan cerdas! Dengan sedikit strategi dan pengendalian diri, uang THR bisa menjadi langkah awal untuk kebiasaan finansial yang lebih sehat dan bermanfaat dalam jangka panjang.

Continue Reading

News

Nastar: Sang Primadona Lebaran yang Tak Tergoyahkan

Survei Populix menobatkan nastar sebagai kue kering Lebaran favorit milenial dan gen Z. Selain lebih menyukai produksi UMKM, mereka juga memperhatikan rasa dan harga dalam membeli kue kering.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Geliat Lebaran tak hanya terasa di jalanan yang mulai dipadati pemudik, tetapi juga di meja-meja ruang tamu yang siap menyambut tamu dengan suguhan terbaik. Di antara beragam kue kering yang menggoda selera, nastar kembali membuktikan dominasinya. Menurut survei terbaru dari Populix, delapan dari sepuluh milenial dan gen Z menyatakan bahwa nastar adalah kue kering wajib di Hari Raya Idulfitri.

Fenomena ini menegaskan bahwa si mungil nan legit dengan isian selai nanas ini tetap menjadi raja di antara para kudapan Lebaran.

Data yang dirilis menunjukkan bahwa 82 persen responden memilih nastar sebagai favorit utama, jauh melampaui putri salju (44 persen), kastengel (35 persen), dan sagu keju (27 persen). Dengan angka yang hampir dua kali lipat dari pesaing terdekatnya, nastar sukses mempertahankan tahtanya. Tak heran jika saat silaturahmi Lebaran nanti, nastar bakal jadi incaran pertama di meja hidangan.

Bukan hanya soal selera, tetapi juga soal tradisi. Nastar bukan sekadar kue, tetapi bagian dari kenangan masa kecil, simbol kebersamaan, dan suguhan yang tak tergantikan saat merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Aroma butter yang berpadu dengan manisnya selai nanas homemade membawa nostalgia bagi banyak orang. Maka, meski tren kue viral kerap muncul tiap tahun, nastar tetap tak tergeser.

Selain favorit dalam hal rasa, survei ini juga mengungkap preferensi masyarakat terhadap asal kue kering yang mereka beli. Sebagian besar responden lebih memilih kue kering buatan rumahan (UMKM) dibandingkan produk pabrikan atau toko kue besar. Faktor kepercayaan terhadap bahan yang digunakan, cita rasa yang lebih otentik, serta dukungan terhadap bisnis kecil menjadi alasan utama di balik tren ini.

Namun, meskipun lebih menyukai produksi UMKM, cara berbelanja para milenial dan gen Z masih didominasi oleh metode konvensional. Mayoritas mereka memilih membeli langsung dari toko atau memesan dari keluarga dan teman. Hanya sedikit yang memanfaatkan platform e-commerce atau media sosial, dan lebih sedikit lagi yang memilih layanan pesan antar online. Ini menjadi sinyal bagi para produsen kue kering untuk tetap menjaga kualitas rasa serta memperluas akses produk mereka di berbagai kanal penjualan.

Ketika berbicara soal harga, mayoritas responden menyebutkan kisaran Rp50 ribu hingga Rp75 ribu per toples sebagai harga ideal. Meski begitu, cukup banyak yang rela merogoh kocek hingga Rp100 ribu demi mendapatkan kue kering berkualitas. Dengan permintaan yang tinggi, mereka bahkan merencanakan untuk membeli lebih dari tiga hingga lima toples kue kering tahun ini. Bisa dibayangkan betapa semaraknya meja ruang tamu saat Lebaran nanti!

Tren ini menjadi catatan penting bagi pelaku bisnis kuliner, terutama produsen kue kering. Dengan tingginya permintaan nastar dan kecenderungan pembeli yang lebih memperhatikan rasa serta harga, strategi pemasaran dan produksi harus benar-benar diperhitungkan. Tak cukup hanya mengandalkan kemasan menarik atau tren viral semata, tetapi memastikan kualitas rasa yang konsisten agar pelanggan tetap setia.

Lebaran memang selalu membawa cerita, dan nastar adalah bagian dari cerita itu. Tahun demi tahun, kue berbentuk bulat mungil ini selalu hadir dengan kehangatan dan cita rasa yang tak pernah mengecewakan. Jadi, sudah siap menyambut tamu dengan toples nastar penuh di ruang tamu Anda?

Continue Reading

News

Akselerasi Pertanian Modern, Kementan Bentuk Lembaga Baru

Kementerian Pertanian membentuk Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian untuk mempercepat modernisasi pertanian guna mencapai swasembada pangan. Lembaga ini fokus pada inovasi teknologi dan efisiensi produksi.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Pemerintah terus melaju kencang dalam mengejar target swasembada pangan. Dengan tekad kuat dan strategi matang, transformasi pertanian tradisional ke modern menjadi prioritas utama.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pertanian modern adalah kunci utama untuk menggandakan produktivitas dan menekan biaya produksi.

“Dengan pertanian modern, produktivitas bisa dua kali lipat dan biaya produksi dapat ditekan,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, Kementerian Pertanian resmi membentuk Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian. Lembaga ini dirancang untuk merekayasa, merakit, menguji, menyebarluaskan, serta menerapkan pertanian modern secara lebih luas. Ini adalah jawaban atas kebutuhan mendesak akan teknologi dan inovasi yang dapat mempercepat laju modernisasi di sektor pertanian Indonesia.

Fadjry Djufry, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, menegaskan bahwa lembaga baru ini merupakan transformasi dari Badan Standardisasi Instrumen Pertanian dengan tugas dan fungsi baru. Ini bukan hanya perubahan nama, tetapi juga perubahan paradigma dan strategi dalam mengembangkan teknologi pertanian. “Standar bidang pertanian yang telah dibangun oleh BSIP akan diperkuat dengan adanya perekayasaan dan perakitan teknologi bermutu tinggi untuk disebarluaskan pada pengguna,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Lembaga ini membawa amunisi yang cukup untuk berlari kencang. Modal awal berupa pengalaman panjang dalam riset pertanian, sumber daya manusia unggul, serta laboratorium modern yang telah tersertifikasi menjadi fondasi kuat. Sebelumnya, melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, berbagai inovasi telah lahir, dari varietas unggul hingga alat mesin pertanian. Kini, dengan tambahan fungsi perakitan dan modernisasi, percepatan hilirisasi dan pencapaian swasembada pangan semakin nyata.

Dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 2 Tahun 2025, struktur Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian telah ditetapkan. Lembaga ini terdiri atas Sekretariat Badan, Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Pangan, Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura, Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Perkebunan, serta Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pembagian ini memastikan spesialisasi dan fokus yang lebih tajam dalam setiap sektor.

Dengan percepatan modernisasi ini, Indonesia semakin dekat dengan mimpi swasembada pangan. Setiap inovasi yang dihasilkan akan menjadi bagian dari solusi besar untuk meningkatkan ketahanan pangan dan daya saing global. Petani kini bisa mengakses teknologi yang lebih canggih, dengan proses yang lebih efisien, dan hasil yang lebih optimal.

Tak ada waktu untuk berdiam diri. Laju pertanian modern harus semakin dipercepat, dan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian hadir sebagai motor penggeraknya. Dengan kombinasi riset, teknologi, dan strategi yang tepat, swasembada pangan bukan lagi sekadar mimpi, melainkan sebuah kenyataan yang semakin dekat di depan mata.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



Review2 minutes ago

Ketika Hukum Diperjualbelikan, Tunggulah Kehancuran

News14 minutes ago

Warga Palestina Tak Gentar, Salat Idulfitri Tetap Digelar

Sportechment3 hours ago

Megawati Siap Beri Kado Lebaran di Final Liga Voli Korea

Pangan4 hours ago

Rekor Penyerapan Gabah: Bulog Pecahkan Batas!

Sportechment4 hours ago

Raffi Ahmad Itikaf di Masjid Bareng Keluarga Jelang Lebaran

Pangan5 hours ago

Penyerapan Gabah Bulog Capai 725 Ribu Ton, Tertinggi dalam 10 Tahun Terakhir

News5 hours ago

Terlambat Lapor SPT Imbas Libur Lebaran, Pemerintah Hapus Sanksi Administratif

Sportechment6 hours ago

Gandeng Putrinya, Hetty Koes Endang Rilis Lagu “THR”

Sportechment6 hours ago

Cristiano Ronaldo Ucapkan Selamat Idul Fitri untuk Umat Muslim di Dunia

Sportechment6 hours ago

Evangelista Bagikan Momen Rayakan Idul Fitri di Tanah Suci

News7 hours ago

Lebaran vs Idul Fitri: Apa Perbedaannya?

Migas8 hours ago

Pertamina Pastikan Operasional 24 Jam Selama Idulfitri

News8 hours ago

Abuya Muhtadi dan Lebaran Versi Sendiri

Sportechment9 hours ago

Timnas Indonesia Hadapi Tantangan Berat di Piala Asia U-17 2025, Ini Jadwal Pertandingannya

Ruang Sujud9 hours ago

Fathul Makkah: Kemenangan Besar Umat Islam Tanpa Pertumpahan Darah

Sportechment10 hours ago

Alex Pastoor Ucapkan Selamat Lebaran, Suporter Timnas Auto Respons Positif

Review11 hours ago

Israel! The Real Betrayer Till the end of the World

News11 hours ago

Muhammadiyah: Raksasa Ekonomi di Dunia Keagamaan

News11 hours ago

Erick Thohir: Sepakbola Memupuk Bhineka Tunggal Ika

Review11 hours ago

Revolusi Energi! Bioavtur Minyak Jelantah Siap Mengudara