Monitorday.com – Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump kembali melakukan pembicaraan lewat sambungan telepon pada Kamis malam (19/9/2025), membahas berbagai isu krusial dalam hubungan bilateral kedua negara, termasuk masa depan TikTok, perdagangan, serta perdamaian global.
Dalam pernyataan resmi yang diterima dari Kementerian Luar Negeri Tiongkok di Beijing, disebutkan bahwa percakapan ini berlangsung secara “terbuka dan mendalam”, menandai kelanjutan komunikasi strategis tingkat tinggi setelah terakhir berbicara pada 5 Juni 2025.
“Kedua Presiden bertukar pandangan secara terbuka dan mendalam mengenai kondisi terkini hubungan China-AS dan isu-isu lain yang menjadi kepentingan bersama,” demikian pernyataan Kemenlu Tiongkok.
Salah satu fokus utama percakapan adalah mengenai TikTok, menyusul keputusan Mahkamah Agung AS yang mengizinkan pelarangan aplikasi tersebut bila induknya, ByteDance, tidak melakukan divestasi saham.
Tiongkok menegaskan bahwa pihaknya menghormati keputusan bisnis TikTok, namun mengingatkan bahwa solusi terkait aplikasi tersebut harus sesuai dengan aturan pasar, hukum nasional, dan menjamin kepentingan kedua negara.
“AS diminta untuk menyediakan lingkungan yang terbuka, adil, dan non-diskriminatif bagi investor asal China,” kata pihak Tiongkok.
Presiden Trump menyatakan bahwa pihaknya mendukung tim negosiasi yang sedang berupaya mencapai kesepakatan terkait TikTok dan memberikan perpanjangan waktu pelaksanaan divestasi, yang semula berakhir 17 September 2025.
Selain TikTok, Trump dan Xi juga membahas isu perdagangan, krisis fentanil, serta konflik Rusia-Ukraina. Trump menyebut panggilan telepon tersebut sebagai momen penting dalam membangun kembali kerja sama strategis kedua negara.
“Kami mencapai kemajuan dalam banyak isu penting, termasuk perdagangan, fentanil, perlunya mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina, serta persetujuan Kesepakatan TikTok,” tulis Trump dalam unggahannya di platform @TruthSocial.
Xi Jinping pun menyerukan kerja sama lebih erat dalam mendukung perdamaian dunia dan menyerukan agar AS menahan diri dari kebijakan perdagangan sepihak, demi menjaga stabilitas hasil-hasil dari beberapa putaran konsultasi bilateral.
Dalam peringatan 80 tahun kemenangan Tiongkok dalam Perang Melawan Jepang dan Perang Dunia II, Xi mengingatkan kembali kerja sama historis antara AS dan Tiongkok.
“Rakyat China tidak akan melupakan dukungan berharga dari AS dan negara-negara sekutu anti-fasis lainnya terhadap Perang Perlawanan China,” ucap Xi.
Sebagai simbol hubungan historis itu, keluarga para pilot “Flying Tigers” dari AS turut diundang menghadiri parade militer di Tiananmen.
Trump menyambut baik undangan tersebut dan menyebut parade Tiongkok sebagai “fenomenal dan indah”. Ia juga menyatakan keinginan untuk menjalin hubungan jangka panjang yang solid antara dua negara ekonomi terbesar dunia.
“AS ingin menjalin hubungan jangka panjang yang besar dan hebat dengan China,” ujar Trump.
Keduanya sepakat untuk bertemu langsung dalam KTT APEC di Korea Selatan, dan merencanakan kunjungan timbal balik ke masing-masing negara pada tahun 2026.
Xi menegaskan bahwa hubungan China-AS adalah yang paling penting secara global dan memiliki dampak besar bagi stabilitas dunia.
“China dan AS sepenuhnya mampu saling membantu untuk mencapai kesuksesan dan kemakmuran bersama. Tapi, itu hanya bisa dicapai lewat kerja keras, saling menghormati, koeksistensi damai, dan kerja sama yang saling menguntungkan,” tegas Xi.
Meski hubungan China-AS belakangan diliputi ketegangan akibat isu teknologi, perdagangan, dan geopolitik, percakapan telepon antara Xi Jinping dan Donald Trump menunjukkan adanya peluang perbaikan hubungan bilateral menuju arah yang lebih stabil dan konstruktif.
Pertemuan tatap muka dalam forum APEC dan rencana kunjungan kenegaraan 2026 menjadi sinyal bahwa kedua negara siap membuka kembali babak baru kerja sama, meski tantangan besar masih menghadang.