Monitorday.com – Tidak ada bangsa atau rezim dalam sejarah modern yang begitu telanjang memperlihatkan kebiadaban sekaligus kemunafikan seperti yang dilakukan oleh zionisme Israel. Sejarah mencatat bahwa sejak awal pembentukannya, proyek kolonial ini berdiri di atas tanah curian, penderitaan rakyat Palestina, dan kini semakin meluas hingga ke Lebanon dan Suriah dengan dalih “membela diri”.
Serangan terbaru Israel ke timur Lebanon, Selasa (15/7), yang menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai delapan lainnya, menunjukkan lagi bahwa bagi zionisme, hidup manusia non-Yahudi tidak lebih dari statistik. Bom mereka kembali menghantam kamp pengungsian dan kawasan Wadi Fara, di Lembah Bekaa. Seperti biasa, Israel beralasan menargetkan kamp pelatihan milisi Hizbullah dan gudang senjata. Namun yang menjadi korban selalu rakyat sipil: anak-anak, orang tua, dan perempuan yang tak bersalah.
Yang lebih menyakitkan, kebiadaban ini terus mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat dan Inggris. Kedua negara itu tidak hanya menutup mata terhadap pelanggaran demi pelanggaran gencatan senjata, tetapi juga secara aktif menyuplai senjata, logistik, dan perlindungan diplomatik di PBB kepada Tel Aviv. Kekerasan yang terjadi ini bukan sekadar konflik dua pihak, melainkan kolonialisme dan agresi yang dibiayai Barat, dibalut propaganda “hak mempertahankan diri”.
Israel sudah berulang kali melanggar gencatan senjata di Gaza, di perbatasan Lebanon, dan bahkan di wilayah Suriah. PBB mencatat ratusan pelanggaran sepanjang dekade terakhir, tetapi tidak ada sanksi tegas karena selalu diveto oleh AS di Dewan Keamanan. Dunia hanya bisa menyaksikan bagaimana rakyat Palestina dan kini rakyat Lebanon dikoyak oleh rudal dan pesawat tempur yang didanai pajak rakyat Amerika dan Inggris.
Kemunafikan Barat dalam konflik ini begitu kentara. Ketika ada satu serangan dari pihak perlawanan seperti Hizbullah atau Hamas, dunia Barat bereaksi keras, menyebutnya terorisme, dan menuntut hukuman. Namun ketika Israel menjatuhkan bom seberat satu ton ke kamp pengungsian yang penuh warga sipil, hanya keluar pernyataan “menyesalkan” atau “meminta kedua pihak menahan diri”. Pernyataan ini sama saja dengan mengizinkan Israel untuk terus melakukan kejahatan perang.
Kita tidak perlu buta untuk melihat siapa yang sebenarnya melanggar gencatan senjata dan hukum internasional. Serangan ke Lebanon ini adalah satu episode panjang dari sejarah agresi yang sistematis. Bahkan lembaga-lembaga hak asasi seperti Amnesty International dan Human Rights Watch sudah lama menyebut Israel melakukan apartheid, perampasan tanah, pemusnahan rumah-rumah warga, dan pembantaian terhadap rakyat sipil di Palestina dan sekitarnya.
Sikap dunia internasional yang permisif hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat di kawasan. Dunia Arab yang terpecah, Eropa yang munafik, serta PBB yang tidak berdaya menjadikan Israel seolah kebal hukum. Padahal, jika komunitas internasional serius, embargo senjata, sanksi ekonomi, dan isolasi diplomatik bisa menjadi langkah awal untuk menghentikan agresi ini.
Kita perlu mengingat bahwa yang diperjuangkan oleh rakyat Palestina dan Lebanon bukan hanya tanah atau wilayah, tetapi hak untuk hidup sebagai manusia yang bebas dari penjajahan dan pembantaian. Sementara itu, Israel dengan sokongan Barat terus menjadikan hukum internasional sekadar formalitas, dan menggunakan superioritas militernya untuk memaksa dunia menerima narasi mereka.
Lebanon bukan medan perang yang sah bagi Israel, tetapi rakyat sipil Lebanon kini menjadi korban karena Barat memberi lisensi untuk membunuh siapa saja selama di bawah panji “perang melawan terorisme”. Sebagai umat manusia, sudah saatnya kita berhenti termakan propaganda dan berani menyebut kejahatan ini sebagai apa adanya: kolonialisme, apartheid, dan genosida.
Perlawanan terhadap zionisme dan para pendukungnya bukan hanya soal keberpihakan politik, melainkan soal kemanusiaan. Yang terjadi di Wadi Fara pada 15 Juli hanyalah bukti terbaru bahwa dunia telah gagal melindungi hak asasi manusia paling dasar, karena masih membiarkan zionisme beroperasi tanpa pertanggungjawaban. Dan selama itu terjadi, dunia tidak akan pernah benar-benar damai.