Monitorday.com – Dakwah adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Ia merupakan aktivitas mulia yang dijalankan oleh para nabi dan dilanjutkan oleh para ulama serta umat Islam. Tujuan dakwah adalah mengajak manusia kepada jalan Allah dengan hikmah, kasih sayang, dan keteladanan. Namun dalam praktiknya, tak jarang dakwah justru dilakukan dengan cara yang keras, memaksa, bahkan menyakiti. Inilah yang disebut dengan ghuluw dalam dakwah — ketika semangat menyebarkan kebenaran justru dibungkus dengan sikap ekstrem dan melampaui batas.
Dakwah Itu Mengajak, Bukan Memaksa
Islam datang bukan untuk menindas, tetapi untuk membebaskan. Dalam QS. Al-Baqarah: 256, Allah menegaskan: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama…” Ayat ini menjadi landasan bahwa dakwah tidak boleh dilakukan dengan tekanan atau kekerasan. Sebab, hidayah adalah hak prerogatif Allah. Tugas seorang da’i hanyalah menyampaikan, bukan memastikan orang lain menerima.
Sayangnya, sebagian orang terjebak dalam semangat membela agama dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Rasulullah. Mereka merasa harus ‘menang’ dalam debat, menghardik orang yang dianggap salah, atau bahkan mencaci maki mereka yang berbeda pemahaman. Ini adalah bentuk ghuluw dalam dakwah. Sebuah ironi, karena niatnya membela kebenaran, namun caranya justru menjauhkan orang dari kebenaran itu sendiri.
Rasulullah: Teladan dalam Dakwah yang Lembut
Ketika berdakwah, Rasulullah SAW dikenal sangat lembut dan sabar, bahkan terhadap orang-orang yang mencelanya. Dalam banyak riwayat, beliau tidak membalas makian dengan makian, atau kekerasan dengan kekerasan. Di Thaif, ketika dilempari batu oleh penduduk setempat, Rasulullah justru berdoa agar mereka diberi hidayah, bukan azab.
Dalam QS. An-Nahl: 125, Allah memerintahkan:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”
Ayat ini menjadi prinsip utama dalam dakwah: menggunakan hikmah (kebijaksanaan), mau’izhah hasanah (nasihat yang indah), dan mujadalah bil-lati hiya ahsan (berdebat dengan cara yang terbaik). Maka, jika dakwah dilakukan dengan hujatan, teriakan, dan ancaman, sesungguhnya ia telah keluar dari metode yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.
Ghuluw: Ketika Dakwah Menjadi Alat Menyalahkan
Ciri khas ghuluw dalam dakwah adalah ketika seorang da’i merasa paling benar sendiri. Ia mudah mengkafirkan, memvonis sesat, atau bahkan menuduh munafik siapa pun yang tidak sepaham. Tidak ada ruang untuk perbedaan pendapat. Padahal, para ulama sejak dahulu sangat menghormati perbedaan dalam hal ijtihad dan pemahaman.
Sikap seperti ini hanya akan melahirkan perpecahan di tengah umat. Alih-alih membuat orang tertarik kepada Islam, ghuluw malah membuat citra Islam menjadi menakutkan. Sebagian orang bahkan akhirnya antipati terhadap agama karena trauma disalahkan atau diintimidasi atas nama dakwah.
Mengapa Ghuluw dalam Dakwah Terjadi?
Ada beberapa penyebab mengapa seseorang bisa terjebak dalam ghuluw saat berdakwah. Pertama, kurangnya pemahaman agama yang utuh. Banyak yang belajar agama secara instan, tanpa bimbingan guru, dan hanya dari potongan-potongan ceramah atau artikel. Kedua, semangat yang meluap-luap tapi tidak dibingkai oleh hikmah. Ketiga, adanya pengaruh lingkungan atau kelompok yang menanamkan ideologi fanatik.
Kadang, ghuluw muncul dari rasa frustrasi terhadap kondisi umat yang dianggap jauh dari Islam. Namun, solusi dari keterpurukan umat bukanlah kemarahan atau cacian, melainkan kerja dakwah yang sabar, sistematis, dan berkelanjutan.
Kelembutan adalah Senjata Dakwah yang Terkuat
Lihatlah bagaimana Nabi Musa AS diutus kepada Fir’aun, seorang tiran yang paling kejam dalam sejarah. Allah tetap memerintahkan Musa dan Harun untuk berkata dengan lembut: “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43–44)
Jika kepada Fir’aun saja harus dengan kelembutan, apalagi kepada sesama Muslim atau masyarakat biasa yang belum memahami Islam dengan benar. Kelembutan tidak berarti lemah, tetapi ia adalah strategi jitu agar hati manusia bisa tersentuh dan terbuka terhadap kebenaran.
Menjadi Da’i yang Bijak dan Rendah Hati
Seorang da’i harus membangun sikap tawadhu (rendah hati), karena sejatinya ia bukan pemilik kebenaran. Ia hanyalah perantara. Jika dakwah dilakukan dengan niat ikhlas dan metode yang lembut, insyaAllah akan lebih banyak hati yang tersentuh.
Imam Asy-Syafi’i pernah berkata, “Pendapatku benar, namun bisa saja salah. Pendapat orang lain salah, namun bisa saja benar.” Ungkapan ini mencerminkan keluasan hati dan kerendahan diri dalam menyampaikan kebenaran. Dakwah bukan ajang pamer ilmu atau perang ego, tapi tugas suci menyelamatkan manusia.
Penutup
Ghuluw dalam dakwah adalah bentuk penyimpangan dari semangat beragama yang tidak dibingkai dengan hikmah dan akhlak. Meskipun niatnya baik, namun ketika metode yang dipakai adalah kekerasan, pemaksaan, dan penghakiman, maka dampaknya bisa sangat merusak. Islam adalah agama yang mengajarkan dakwah dengan kasih sayang, bukan kemarahan.
Marilah kita belajar dari Rasulullah SAW — seorang da’i yang paling sukses dalam sejarah manusia — yang membangun perubahan dengan kelembutan, kesabaran, dan keteladanan. Dakwah bukan tentang siapa yang paling lantang, tapi siapa yang paling sabar dan paling mampu menyentuh hati manusia.