Connect with us

Kembali Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Jabatan Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) periode 2023-2025 kembali diraih oleh Erick Thohir dalam Munas Ke-VI MES di Jakarta pada Minggu (1/10).

Deni Irawan

Published

on

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sportechment

KTT Kecerdasan Buatan: Presiden Rwanda Ajak Afrika Bersiap Bersaing di Era Teknologi

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Global tentang kecerdasan buatan (AI) resmi dibuka di ibu kota Rwanda, Kigali, pada 3 April 2025.

Acara yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dari benua Afrika, termasuk Presiden Togo Faure Essozimna Gnassingbé, Ketua Komisi Uni Afrika (AU) Mahmoud Ali Youssouf, dan Musalia Mudavadi, Sekretaris Kabinet Utama Kenya.

Dalam sambutannya, Presiden Rwanda Paul Kagame menekankan bahwa kecerdasan buatan kini menjadi pendorong utama inovasi di era modern. Namun, ia menyayangkan bahwa perkembangan teknologi ini justru terhambat oleh persaingan geopolitik yang semakin intens.

“Teknologi ini saat ini masih terkonsentrasi di beberapa negara saja, dan Afrika tidak boleh lagi tertinggal. Kita harus menyesuaikan diri, bekerja sama, bersaing, dan terintegrasi demi kepentingan terbaik kita,” ujar Kagame dengan tegas.

Kagame juga mengapresiasi peran Uni Afrika, Smart Africa, dan International Telecommunication Union (ITU) dalam membentuk Dewan AI Afrika.

Ia mengungkapkan bahwa Afrika sebenarnya sudah memiliki banyak ilmuwan data, insinyur, serta pakar keamanan siber yang berpotensi besar dalam memajukan teknologi AI di benua ini. Menurutnya, masyarakat Afrika akan menjadi ujung tombak pertumbuhan tenaga kerja global di masa depan.

Meski mengakui adanya ketidakpastian terkait AI, terutama soal privasi dan keamanan, Kagame menegaskan bahwa teknologi ini harus menjadi “kekuatan untuk kebaikan.” Ia menyatakan bahwa dunia memiliki tanggung jawab untuk menggunakannya secara bijak.

“Saya yakin kita bisa bekerja sama untuk mewujudkan hal ini,” tambahnya optimistis.

Presiden Kagame juga menegaskan bahwa kecerdasan buatan harus diarahkan untuk memberi manfaat bagi seluruh dunia melalui kolaborasi, tanpa mengorbankan nilai-nilai politik, diplomasi, atau kerja sama antarnegara.

Continue Reading

Ruang Sujud

Bahaya Ghuluw dalam Agama: Ketika Semangat Melewati Batas Syariat

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Ghuluw adalah sebuah konsep dalam Islam yang merujuk pada sikap berlebihan dalam beragama, yang bisa menyebabkan penyimpangan dari ajaran yang telah ditetapkan oleh syariat. Kata “ghuluw” dalam bahasa Arab berarti melampaui batas atau berlebih-lebihan, dan dalam konteks agama, ini berarti menganggap suatu ibadah atau perilaku lebih dari yang sebenarnya diinginkan oleh agama. Meskipun niat awalnya mungkin baik, yaitu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, namun ghuluw justru bisa membawa kepada kesesatan dan merusak esensi ajaran Islam yang moderat dan penuh keseimbangan.

1. Ciri-Ciri Ghuluw dalam Beragama

Salah satu bentuk ghuluw yang sering terjadi dalam masyarakat adalah dalam hal ibadah. Beberapa individu atau kelompok mungkin merasa bahwa dengan menambah jumlah ibadah secara berlebihan, mereka bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya, berpuasa lebih dari yang diwajibkan, melakukan salat sunnah tanpa henti, atau membaca Al-Qur’an secara ekstrem dengan tujuan menunjukkan kesalehan yang berlebihan. Padahal, dalam Islam, Allah menyukai umat-Nya yang melaksanakan ibadah dengan ikhlas dan sesuai dengan batasan yang telah ditentukan dalam syariat.

Penting untuk dicatat bahwa dalam Islam, agama tidak mengajarkan untuk berlebihan dalam beribadah. Nabi Muhammad SAW sendiri bersabda, “Janganlah kalian berlebihan dalam beragama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena berlebihan dalam agama mereka” (HR. Ahmad). Hadis ini mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam sikap ghuluw yang bisa berujung pada kesesatan.

2. Dampak Negatif Ghuluw dalam Kehidupan Sosial

Selain dalam ibadah, ghuluw juga bisa muncul dalam kehidupan sosial umat Islam. Misalnya, dalam memandang perbedaan pendapat dalam masalah agama. Sebagian orang bisa menjadi sangat keras kepala dan intoleran terhadap kelompok atau individu yang berbeda pandangan, bahkan menganggap mereka sesat atau kafir. Padahal, Islam mengajarkan toleransi dan menghargai perbedaan pendapat asalkan tetap dalam koridor yang benar.

Sikap ghuluw ini juga bisa berbahaya bagi persatuan umat Islam. Ketika seseorang merasa dirinya paling benar dan menganggap orang lain yang tidak sepaham dengannya sebagai sesat, ini bisa menyebabkan perpecahan dalam masyarakat. Islam justru mengajarkan umat-Nya untuk menjaga ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang didasarkan pada iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Ghuluw yang muncul dalam bentuk sikap intoleransi bisa merusak ukhuwah tersebut.

3. Ghuluw dan Peran Ulama dalam Menjaga Ajaran Islam

Ulama memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah terjadinya ghuluw di kalangan umat Islam. Mereka bertugas untuk menyampaikan ajaran Islam yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis, serta menjelaskan batasan-batasan ibadah yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ulama juga harus memberikan pemahaman yang baik tentang prinsip-prinsip agama yang moderat, yang menekankan keseimbangan antara kewajiban agama dan kehidupan sehari-hari.

Jika ulama tidak menjalankan tugasnya dengan baik, maka ajaran-ajaran yang menyimpang seperti ghuluw bisa berkembang dengan mudah. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk merujuk kepada ulama yang benar-benar berkompeten dalam ilmu agama dan yang dapat memberikan penjelasan yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Islam.

4. Ghuluw dalam Sejarah Umat Islam

Sejarah mencatat bahwa ghuluw pernah muncul dalam berbagai bentuk di kalangan umat Islam. Salah satunya adalah munculnya sekte-sekte ekstrem yang mengklaim diri mereka sebagai kelompok yang paling benar dan menafikan kelompok lain sebagai sesat. Misalnya, kelompok-kelompok yang berlebihan dalam memuji para wali atau bahkan menganggap mereka sebagai orang yang memiliki kekuatan ilahi. Hal ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan tauhid, yaitu bahwa hanya Allah yang memiliki kekuatan mutlak, dan para nabi serta wali hanyalah hamba-hamba-Nya yang dipilih untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia.

Ghuluw juga pernah muncul dalam sejarah Islam ketika umat Islam terlalu fanatik terhadap masalah-masalah furu’iyyah (perkara-perkara cabang) dan melupakan prinsip-prinsip dasar agama yang lebih penting, seperti akidah dan akhlak. Contohnya, terjadi perpecahan dalam umat Islam hanya karena perbedaan pandangan tentang hal-hal kecil, seperti cara berwudhu atau cara melaksanakan salat, sementara masalah-masalah besar seperti menjaga keimanan dan akhlak yang baik sering kali diabaikan.

5. Menghindari Ghuluw: Kembali pada Ajaran yang Moderat

Agar terhindar dari ghuluw, umat Islam perlu kembali kepada ajaran Islam yang moderat, yaitu Islam yang mengutamakan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Islam tidak mengajarkan berlebihan dalam segala hal, baik dalam ibadah, akidah, maupun dalam kehidupan sosial. Seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada seorang pun yang memberatkan agama ini kecuali pasti akan kalah” (HR. Bukhari).

Islam mengajarkan umat-Nya untuk mengikuti jalan tengah (wasatiyyah), tidak terlalu longgar namun juga tidak berlebihan. Dalam menjalankan ibadah, umat Islam diajarkan untuk menyeimbangkan antara kewajiban dan kesenangan duniawi, agar keduanya dapat berjalan beriringan tanpa ada yang terabaikan.

Penutupan

Ghuluw dalam agama bisa muncul dalam berbagai bentuk, baik dalam ibadah, kehidupan sosial, maupun pemahaman terhadap ajaran agama. Sikap berlebihan ini harus dihindari karena dapat menyebabkan kesesatan dan merusak keharmonisan dalam masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk senantiasa menjaga keseimbangan dalam beragama dan tidak terjebak dalam sikap berlebih-lebihan. Islam mengajarkan umat-Nya untuk beribadah dengan ikhlas dan sesuai dengan batasan yang telah ditetapkan oleh syariat, serta menjaga persatuan dan toleransi di antara sesama.

Continue Reading

Review

Stop Bahas Identitas, Ayo Berdaya!

Hentikan narasi perpecahan soal identitas. Saatnya ormas Islam fokus pada pemberdayaan umat melalui aksi nyata, bukan debat tanpa arah.

Dila N Andara

Published

on

Monitorday.com – Sangat disayangkan, ketika dunia bergerak cepat dan umat Islam di berbagai belahan dunia berlomba mencetak prestasi ekonomi dan sosial, ada sebagian kecil oknum ormas di negeri ini yang justru masih sibuk mempertengkarkan hal-hal remeh. Mereka terus mengangkat isu identitas yang kian basi—bahas habib, debat jenggot, sindir sarung, mempertentangkan Arab dan non-Arab. Padahal, yang benar-benar dibutuhkan umat saat ini bukan narasi perpecahan, tapi narasi pemberdayaan.

Ironisnya, kita masih temui di group-group media sosial, masih ada saja video dan narasi ancaman yang memiliki tendensi membakar emosi daripada menyalakan semangat perubahan. Imbasnya, mereka lupa soal ekonomi yang saat ini masih jauh dari kata sejahtera. Lantas, sampai kapan umat dibawa berputar-putar dalam pusaran konflik identitas tanpa arah yang jelas?

Sudah waktunya energi umat diarahkan ke jalur yang produktif. Daripada terus-terusan debat soal siapa yang paling “Indonesia”, lebih baik duduk bareng membangun koperasi. Daripada sibuk menuding siapa yang paling “nusantara”, lebih baik merancang strategi pengembangan UMKM. Dunia butuh solusi, bukan orasi kosong. Umat butuh aksi nyata, bukan diksi pemecah belah.

Mari berkaca pada organisasi masyarakat yang telah berhasil mentransformasikan potensi umat menjadi kekuatan sosial-ekonomi yang nyata. Ada yang telah mendirikan ribuan sekolah dari Sabang sampai Merauke, membangun rumah sakit yang terstandar internasional, merintis perguruan tinggi dengan reputasi yang diperhitungkan, bahkan mendirikan cabang amal usaha di luar negeri. Mereka tidak sibuk berteriak di podium, tapi bekerja dalam senyap untuk kebermanfaatan umat.

Inilah saatnya meninggalkan retorika sempit dan menggantinya dengan kerja nyata. Umat tidak butuh lagi narasi “kami dan mereka”. Yang dibutuhkan adalah narasi kolaborasi, narasi tentang membangun, menguatkan, dan memberdayakan. Jangan sampai umat Islam terjebak menjadi penonton di negeri sendiri, sibuk bertengkar soal simbol sementara dunia sudah bicara soal teknologi, inovasi, dan kemandirian ekonomi.

Bayangkan jika seluruh ormas Islam bersatu dalam visi pemberdayaan umat. Setiap majelis taklim menjadi pusat literasi keuangan. Setiap pesantren mengajarkan kewirausahaan dan digital marketing. Setiap pengajian menjadi ruang belajar inovasi sosial. Bukankah lebih indah ketika masjid tidak hanya menjadi tempat sujud, tetapi juga tempat umat bangkit secara ekonomi?

Kita punya warisan keilmuan dan semangat kebersamaan yang luar biasa. Jangan dikerdilkan dengan wacana yang memecah belah. Bangun narasi baru: narasi pemberdayaan. Karena sejatinya, keberislaman seseorang tidak ditentukan oleh panjang jenggotnya atau gaya sorbannya, tapi oleh kontribusinya dalam memajukan umat.

Bukankah negara ini lama sekali merdeka itu karena suburnya perpecahan. Lihat betapa suksesnya devide et empera yang dilancarkan belanda melalui Christiaan Snouck Hurgronje , Orientalis Belanda.

Pernyataan tersebut menyoroti keberhasilan strategi divide et impera Belanda, khususnya melalui figur seperti Christiaan Snouck Hurgronje, dalam memecah belah umat Islam di Hindia Belanda. Snouck memanfaatkan studi orientalisnya untuk mengklasifikasikan umat berdasarkan etnis dan praktik keagamaan, memicu pertentangan internal antara kelompok Arab dan non-Arab. Hal ini memperlemah kekuatan kolektif umat Islam dalam melawan kolonialisme.

Perpecahan yang ditanamkan bukan hanya taktis, tapi juga ideologis, menjadikan umat sibuk dengan konflik identitas dan isu furu’iyah (cabang), sementara penjajah memperkuat cengkeramannya. Kritik atas kondisi ini bukan sekadar nostalgia sejarah, tapi refleksi atas pola perpecahan yang masih relevan. Ketika narasi persatuan digantikan oleh perdebatan identitas dan sektarianisme, maka semangat kemerdekaan pun terkikis. Bangsa yang besar seharusnya belajar dari sejarah, bukan mengulanginya dalam bentuk baru yang lebih halus.

Jika terus menerus membahas isu remeh temeh, lantas apa bedanya kita dengan Snouck Hurgronje? Apakah kita juga mau mewarisi kebiadaban Belanda. Sudahlah, hentikan narasi melalui video atau tulisan yang terlihat jauh dari kata “kemajuan”.

Sudah cukup waktu kita terbuang untuk debat kusir yang tidak menghasilkan apa-apa. Saatnya ormas-ormas Islam berlomba menghadirkan solusi, bukan kontroversi. Jadilah pelita di tengah kegelapan, bukan bara api yang menyulut perpecahan. Umat butuh pemimpin yang merangkul, bukan yang menghakimi. Butuh penggerak yang bekerja, bukan penceramah yang hanya bicara.

Kini, mari kita hentikan drama identitas dan fokus pada satu hal yang jauh lebih penting: memberdayakan umat. Karena pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan siapa yang paling vokal dalam berdebat, tapi siapa yang paling nyata dalam bergerak.

Continue Reading

Sportechment

Ruben Onsu Putuskan Mualaf, Raffi Ahmad: Semoga Istiqomah

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Raffi Ahmad mengungkapkan rasa syukur dan memberikan dukungan penuh kepada sahabatnya, Ruben Onsu, yang baru saja memeluk agama Islam dengan mengucap dua kalimat syahadat. Dalam unggahannya pada 4 April 2025, Raffi menyampaikan doa terbaik untuk Ruben.

“Alhamdulillah, semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah dan kekuatanNya untuk Ruben dalam menjalankan langkah barunya sebagai seorang muslim,” kata Raffi dalam postingan tersebut.

Raffi juga membagikan momen kebersamaan dirinya dan sang istri saat bertemu dengan Ruben Onsu di momen Lebaran. Dalam foto yang diunggah, Ruben yang berada diapit pasangan suami istri tersebut tampak tersenyum bahagia.

“Semoga keberkahan selalu menyertai perjalanan hidup yang baru dengan penuh kebaikan. Amin YRA,” ujar Raffi menambahkan doa untuk Ruben agar selalu istiqomah dalam menjalani jalan hidupnya yang baru sebagai seorang muslim.

Kabar mengenai keislaman Ruben Onsu mulai mencuat sejak awal tahun 2025, seiring kedekatannya dengan aktris dan politikus Desy Ratnasari. Pada momen Idul Fitri, tepatnya pada 31 Maret 2025, Ruben mengumumkan keputusannya untuk menjadi mualaf.

Ruben Onsu juga menyebutkan dalam unggahannya bahwa Habis Usman bin Yahya, seorang pemuka agama, adalah yang memualafkannya.

Dalam pernyataannya, Ruben meminta doa dari para pengikutnya agar ia dapat istiqomah dalam menjalankan imannya yang baru sebagai seorang muslim.

Continue Reading

Sportechment

Film Waktu Maghrib 2 Siap Tayang di Layar Lebar, Kapan?

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Setelah sukses dengan film pertamanya pada 2023 lalu, Waktu Maghrib, Rapi Films kini siap menghadirkan sekuel yang telah ditunggu-tunggu, Waktu Maghrib 2.

Film horor yang kembali disutradarai oleh Sidharta Tata ini akan tayang di bioskop mulai 28 Mei 2025.

Produser eksekutif Sunil G. Samtani menjelaskan, respons positif terhadap film pertama yang mengajarkan anak-anak untuk tidak bermain di waktu maghrib menjadi dorongan untuk melanjutkan cerita tersebut.

“Kami menerima banyak ulasan positif, terutama yang mengatakan bahwa film ini punya pesan penting untuk anak-anak. Itu menjadi alasan kami untuk melanjutkan cerita ini,” kata Sunil dalam keterangannya, Sabtu (5/4).

Tanggal tayang dan poster resmi Waktu Maghrib 2 telah diumumkan melalui akun media sosial @rapifilm.

Film ini kembali menggandeng beberapa produser ternama, di antaranya Gope T. Samtani, dan diproduksi oleh Rapi Films bekerja sama dengan Sky Media, Rhaya Flicks, Legacy Pictures, dan Kebon Studio. Skenario ditulis oleh Khalid Kashogi, Bayu Kurnia, dan Sidharta Tata.

Dalam sekuel ini, pemain muda seperti Omar Daniel, Anantya Kirana, Sulthan Hamonangan, Ghazi Alhabsyi, Muzakki Ramdhan, Sadana Agung, Nopek Novian, Bagas Pratama Saputra, dan Fita Anggriani akan kembali hadir.

Waktu Maghrib 2 mengisahkan kejadian 20 tahun setelah teror yang dialami Adi dan kawan-kawannya di Jatijajar pada film pertama. Kali ini, Jin Ummu Sibyan kembali meneror anak-anak di desa Giritirto. Yogo, Dewo, Wulan, dan lima teman mereka terlibat dalam keributan pertandingan sepak bola.

Setelah kalah, mereka bergegas pulang ke desa pada waktu maghrib, tanpa sadar mengucapkan sumpah yang membangkitkan bencana serupa yang terjadi di Jatijajar. Di tengah hutan yang dingin, Ummu Sibyan merasuki salah satu dari mereka dan memburu nyawa anak-anak tanpa ampun.

Sunil G. Samtani juga menambahkan, “Karakter-karakter dalam sekuel ini akan lebih beragam dan pasti akan menawarkan pengalaman horor yang lebih mendalam, menghibur, dan menegangkan.”

Dengan alur yang semakin menegangkan dan suasana yang lebih gelap, Waktu Maghrib 2 menjanjikan pengalaman horor yang tak terlupakan bagi para penonton.

Continue Reading

News

Tingginya Arus Mudik Lebaran, WFA Diperpanjang hingga 8 April

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi, mengungkapkan bahwa pemerintah memutuskan untuk memperpanjang masa kerja dari mana saja (Work From Anywhere/WFA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga 8 April 2025.

Keputusan ini diambil untuk mengantisipasi tingginya arus balik mudik yang masih terlihat hingga H+2 Lebaran 2025, pada Selasa (2/4).

“Memang setelah H+2, tepatnya pada tanggal 3 April, kami melihat masih ada peningkatan arus mudik. Oleh karena itu, kami memperpanjang WFA,” kata Dudy saat meninjau Terminal Giwangan, Kota Yogyakarta, pada Sabtu (5/4).

Dudy menjelaskan bahwa berdasarkan analisis, diperkirakan tingkat perjalanan balik mudik akan tetap tinggi, sehingga perpanjangan WFA dianggap perlu untuk meratakan distribusi lalu lintas dan memastikan pelayanan publik tetap berjalan dengan lancar.

“Kami menilai bahwa perpanjangan WFA diperlukan agar arus balik tidak menumpuk dan dapat diurai dengan lebih baik. Harapannya, kepadatan lalu lintas dapat dikendalikan agar masyarakat dapat menikmati perjalanan pulang dengan nyaman,” tambah Dudy.

Sebelumnya, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) juga mengeluarkan keputusan untuk memperpanjang masa WFA bagi ASN hingga 8 April 2025, sesuai dengan Surat Edaran Menteri PANRB No. 3 Tahun 2025 yang ditandatangani pada Jumat (4/4).

Selain perpanjangan WFA, Kementerian Perhubungan juga berupaya mendukung kelancaran arus balik dengan menyediakan layanan mudik gratis menggunakan angkutan umum. Langkah ini diambil untuk mengurangi kepadatan kendaraan pribadi dan memastikan keselamatan pemudik, khususnya pengendara sepeda motor.

Dudy menambahkan, pemerintah akan terus memantau situasi pasca-lebaran, dengan puncak arus balik diperkirakan terjadi pada Sabtu (6/4). Evaluasi terhadap pelaksanaan mudik Lebaran tahun ini rencananya akan dilakukan setelah periode arus balik selesai.

Continue Reading

Ruang Sujud

Ghuluw dalam Ibadah: Ketika Semangat Beragama Menyimpang dari Tuntunan

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Dalam kehidupan beragama, semangat tinggi adalah anugerah yang perlu disyukuri. Banyak orang berlomba-lomba memperbanyak ibadah, mengikuti kajian, memperdalam ilmu agama, dan berusaha menjadi Muslim yang taat. Namun, tidak semua semangat beragama mengarah pada kebaikan. Ketika seseorang melampaui batas yang ditetapkan syariat, meski dengan niat baik, maka ia telah jatuh dalam jebakan ghuluw—sikap berlebihan atau ekstrem dalam agama. Ghuluw dalam ibadah seringkali tidak disadari, padahal dampaknya bisa sangat merusak, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat.

Makna Ghuluw dan Bahayanya

Ghuluw secara bahasa berarti melampaui batas. Dalam konteks agama, ia berarti berlebih-lebihan dalam menjalankan ajaran Islam, baik dalam keyakinan maupun praktik. Dalam hal ibadah, ghuluw bisa muncul ketika seseorang memaksakan diri menjalankan ritual di luar batas kemampuan atau menambahkan ritual-ritual baru yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Yang membuat ghuluw berbahaya adalah karena ia sering datang dari niat yang mulia, tetapi dilakukan tanpa ilmu dan tanpa meneladani Rasulullah SAW.

Islam adalah agama pertengahan yang menolak segala bentuk ekstremisme, termasuk dalam ibadah. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa: 171: _

Continue Reading

News

Innalillahi! Tentara Israel Eksekusi Petugas Medis Palestina

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Dokter forensik Palestina mengungkap bahwa 15 paramedis dan petugas penyelamat dieksekusi oleh pasukan Israel.

Hasil autopsi menunjukkan bahwa semua korban tewas akibat tembakan jarak dekat yang mengarah ke bagian tubuh vital.

Korban-korban tersebut berasal dari Bulan Sabit Merah Palestina, Pertahanan Sipil, dan staf PBB yang tengah menjalankan misi kemanusiaan.

Mereka dibunuh saat sedang mengevakuasi korban sipil di Rafah pada pagi hari 23 Maret.

Setelah dieksekusi, tentara Israel mengubur jenazah mereka secara massal menggunakan buldoser.

Saksi mata melaporkan adanya tanda-tanda penyiksaan dan pengikatan pada tubuh beberapa korban.

Seorang korban ditemukan dengan tangan terikat, sementara lainnya diduga dipenggal sebelum tewas.

Sebagian besar korban menderita luka tembak ganda dan satu jenazah ditemukan dalam kondisi rusak parah seperti dilukai hewan.

Israel berdalih bahwa ambulans yang mendekati lokasi mereka terlihat mencurigakan karena tidak menyalakan lampu darurat.

Namun klaim Israel ini dibantah oleh organisasi kemanusiaan dan saksi mata yang menyatakan misi itu murni kemanusiaan.

Tidak ada bukti bahwa para petugas medis tersebut menimbulkan ancaman terhadap militer Israel.

Insiden keji ini memicu kemarahan masyarakat internasional dan desakan agar Israel diadili di Pengadilan Kriminal Internasional.

Kelompok HAM internasional menyebut tindakan itu sebagai kejahatan perang dan menuntut investigasi menyeluruh.

Sejak gencatan senjata dilanggar, serangan brutal Israel terhadap Gaza semakin meningkat.

Staf medis, warga sipil, dan tim penyelamat menjadi sasaran utama dalam konflik yang belum juga mereda.

Lebih dari 1.000 tenaga medis telah tewas sejak dimulainya genosida pada 7 Oktober 2023.

Continue Reading

Ruang Sujud

Ghuluw dalam Dakwah: Ketika Kebenaran Dibela dengan Cara yang Salah

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Dakwah adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Ia merupakan aktivitas mulia yang dijalankan oleh para nabi dan dilanjutkan oleh para ulama serta umat Islam. Tujuan dakwah adalah mengajak manusia kepada jalan Allah dengan hikmah, kasih sayang, dan keteladanan. Namun dalam praktiknya, tak jarang dakwah justru dilakukan dengan cara yang keras, memaksa, bahkan menyakiti. Inilah yang disebut dengan ghuluw dalam dakwah — ketika semangat menyebarkan kebenaran justru dibungkus dengan sikap ekstrem dan melampaui batas.

Dakwah Itu Mengajak, Bukan Memaksa

Islam datang bukan untuk menindas, tetapi untuk membebaskan. Dalam QS. Al-Baqarah: 256, Allah menegaskan: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama…” Ayat ini menjadi landasan bahwa dakwah tidak boleh dilakukan dengan tekanan atau kekerasan. Sebab, hidayah adalah hak prerogatif Allah. Tugas seorang da’i hanyalah menyampaikan, bukan memastikan orang lain menerima.

Sayangnya, sebagian orang terjebak dalam semangat membela agama dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Rasulullah. Mereka merasa harus ‘menang’ dalam debat, menghardik orang yang dianggap salah, atau bahkan mencaci maki mereka yang berbeda pemahaman. Ini adalah bentuk ghuluw dalam dakwah. Sebuah ironi, karena niatnya membela kebenaran, namun caranya justru menjauhkan orang dari kebenaran itu sendiri.

Rasulullah: Teladan dalam Dakwah yang Lembut

Ketika berdakwah, Rasulullah SAW dikenal sangat lembut dan sabar, bahkan terhadap orang-orang yang mencelanya. Dalam banyak riwayat, beliau tidak membalas makian dengan makian, atau kekerasan dengan kekerasan. Di Thaif, ketika dilempari batu oleh penduduk setempat, Rasulullah justru berdoa agar mereka diberi hidayah, bukan azab.

Dalam QS. An-Nahl: 125, Allah memerintahkan:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”
Ayat ini menjadi prinsip utama dalam dakwah: menggunakan hikmah (kebijaksanaan), mau’izhah hasanah (nasihat yang indah), dan mujadalah bil-lati hiya ahsan (berdebat dengan cara yang terbaik). Maka, jika dakwah dilakukan dengan hujatan, teriakan, dan ancaman, sesungguhnya ia telah keluar dari metode yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

Ghuluw: Ketika Dakwah Menjadi Alat Menyalahkan

Ciri khas ghuluw dalam dakwah adalah ketika seorang da’i merasa paling benar sendiri. Ia mudah mengkafirkan, memvonis sesat, atau bahkan menuduh munafik siapa pun yang tidak sepaham. Tidak ada ruang untuk perbedaan pendapat. Padahal, para ulama sejak dahulu sangat menghormati perbedaan dalam hal ijtihad dan pemahaman.

Sikap seperti ini hanya akan melahirkan perpecahan di tengah umat. Alih-alih membuat orang tertarik kepada Islam, ghuluw malah membuat citra Islam menjadi menakutkan. Sebagian orang bahkan akhirnya antipati terhadap agama karena trauma disalahkan atau diintimidasi atas nama dakwah.

Mengapa Ghuluw dalam Dakwah Terjadi?

Ada beberapa penyebab mengapa seseorang bisa terjebak dalam ghuluw saat berdakwah. Pertama, kurangnya pemahaman agama yang utuh. Banyak yang belajar agama secara instan, tanpa bimbingan guru, dan hanya dari potongan-potongan ceramah atau artikel. Kedua, semangat yang meluap-luap tapi tidak dibingkai oleh hikmah. Ketiga, adanya pengaruh lingkungan atau kelompok yang menanamkan ideologi fanatik.

Kadang, ghuluw muncul dari rasa frustrasi terhadap kondisi umat yang dianggap jauh dari Islam. Namun, solusi dari keterpurukan umat bukanlah kemarahan atau cacian, melainkan kerja dakwah yang sabar, sistematis, dan berkelanjutan.

Kelembutan adalah Senjata Dakwah yang Terkuat

Lihatlah bagaimana Nabi Musa AS diutus kepada Fir’aun, seorang tiran yang paling kejam dalam sejarah. Allah tetap memerintahkan Musa dan Harun untuk berkata dengan lembut: “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43–44)

Jika kepada Fir’aun saja harus dengan kelembutan, apalagi kepada sesama Muslim atau masyarakat biasa yang belum memahami Islam dengan benar. Kelembutan tidak berarti lemah, tetapi ia adalah strategi jitu agar hati manusia bisa tersentuh dan terbuka terhadap kebenaran.

Menjadi Da’i yang Bijak dan Rendah Hati

Seorang da’i harus membangun sikap tawadhu (rendah hati), karena sejatinya ia bukan pemilik kebenaran. Ia hanyalah perantara. Jika dakwah dilakukan dengan niat ikhlas dan metode yang lembut, insyaAllah akan lebih banyak hati yang tersentuh.

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata, “Pendapatku benar, namun bisa saja salah. Pendapat orang lain salah, namun bisa saja benar.” Ungkapan ini mencerminkan keluasan hati dan kerendahan diri dalam menyampaikan kebenaran. Dakwah bukan ajang pamer ilmu atau perang ego, tapi tugas suci menyelamatkan manusia.

Penutup

Ghuluw dalam dakwah adalah bentuk penyimpangan dari semangat beragama yang tidak dibingkai dengan hikmah dan akhlak. Meskipun niatnya baik, namun ketika metode yang dipakai adalah kekerasan, pemaksaan, dan penghakiman, maka dampaknya bisa sangat merusak. Islam adalah agama yang mengajarkan dakwah dengan kasih sayang, bukan kemarahan.

Marilah kita belajar dari Rasulullah SAW — seorang da’i yang paling sukses dalam sejarah manusia — yang membangun perubahan dengan kelembutan, kesabaran, dan keteladanan. Dakwah bukan tentang siapa yang paling lantang, tapi siapa yang paling sabar dan paling mampu menyentuh hati manusia.

Continue Reading

News

Donald Trump Bakal Kirim Ribuan Senapan Serbu ke Israel

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump akan mengirimkan lebih dari 20.000 senapan serbu ke Israel.

Pengiriman senjata ini sebelumnya sempat ditunda oleh pemerintahan Joe Biden karena kekhawatiran akan digunakan oleh pemukim Yahudi ekstremis.

Dokumen yang diperoleh Reuters menyebutkan bahwa Departemen Luar Negeri AS memberi notifikasi penjualan ke Kongres pada 6 Maret.

Nilai penjualan senjata tersebut mencapai 24 juta dolar AS dan akan digunakan oleh Kepolisian Nasional Israel.

Meski tergolong kecil dibandingkan bantuan militer lain, penjualan ini menarik perhatian karena sensitivitas penggunaannya.

Pemerintahan Biden sebelumnya menunda pengiriman karena khawatir senjata itu dipakai untuk menyerang warga Palestina di Tepi Barat.

Presiden Trump langsung mencabut sanksi terhadap pemukim Yahudi Israel pada hari pertama menjabat kembali.

Langkah Trump tersebut berlawanan dengan kebijakan pemerintah AS sebelumnya yang lebih hati-hati terhadap pemukim Yahudi.

Sejak pencabutan sanksi itu, pemerintahan Trump mulai menyetujui kembali berbagai penjualan senjata ke Israel.

Pengiriman senjata kali ini menjadi bagian dari kebijakan baru Trump yang pro-Israel secara terang-terangan.

Senjata yang dikirim adalah senapan serbu buatan Amerika Serikat yang diduga bisa memperburuk konflik di Tepi Barat.

Tepi Barat adalah wilayah pendudukan yang sering menjadi lokasi kekerasan antara pemukim Yahudi dan warga Palestina.

Kelompok hak asasi manusia telah lama memperingatkan soal dampak buruk pengiriman senjata ke wilayah konflik tersebut.

Penjualan senjata ini tetap dilakukan meski ada kekhawatiran soal pelanggaran hak asasi manusia.

Notifikasi kepada Kongres menyebut bahwa keputusan penjualan mempertimbangkan faktor politik, militer, ekonomi, dan hak asasi manusia.

Kebijakan baru ini memperkuat dukungan militer AS terhadap Israel meski menuai kritik dari berbagai pihak.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



Sportechment26 seconds ago

KTT Kecerdasan Buatan: Presiden Rwanda Ajak Afrika Bersiap Bersaing di Era Teknologi

Ruang Sujud28 minutes ago

Bahaya Ghuluw dalam Agama: Ketika Semangat Melewati Batas Syariat

Review31 minutes ago

Stop Bahas Identitas, Ayo Berdaya!

Sportechment32 minutes ago

Ruben Onsu Putuskan Mualaf, Raffi Ahmad: Semoga Istiqomah

Sportechment1 hour ago

Film Waktu Maghrib 2 Siap Tayang di Layar Lebar, Kapan?

News4 hours ago

Tingginya Arus Mudik Lebaran, WFA Diperpanjang hingga 8 April

Ruang Sujud4 hours ago

Ghuluw dalam Ibadah: Ketika Semangat Beragama Menyimpang dari Tuntunan

News6 hours ago

Innalillahi! Tentara Israel Eksekusi Petugas Medis Palestina

Ruang Sujud9 hours ago

Ghuluw dalam Dakwah: Ketika Kebenaran Dibela dengan Cara yang Salah

News11 hours ago

Donald Trump Bakal Kirim Ribuan Senapan Serbu ke Israel

Ruang Sujud13 hours ago

Membedakan Antara Keteguhan dan Ghuluw dalam Beragama

Sportechment20 hours ago

Timnas Indonesia U-17 Permalukan Korea Selatan, Berkat Gol Penalti Evandra

Sportechment21 hours ago

Ragnar Oratmangoen Donasi Anak-anak Gaza di Momen Lebaran Tuai Pujian Netizen

News22 hours ago

Hadapi Arus Balik Lebaran, Korlantas Polri Bakal Siapkan Strategi Ini

News22 hours ago

Balas Kebijakan Trump, China Kenakan Tarif Impor AS Sebesar…

Sportechment23 hours ago

Wendy dan Yeri Resmi Cabut dari SM Entertainment, Tetap Lanjutkan Karier di Red Velvet

News24 hours ago

Selamatkan Bahasa Daerah: Aksi Nyata Generasi Muda

News1 day ago

Daftar Paspor Terkuat di Dunia, Indonesia Tertinggal dengan Negara Tetangga

Sportechment1 day ago

Red Sparks vs Pink Spiders: Megawati Cs Siap Bangkit di Game Ketiga Final Liga Voli Korea

Sportechment1 day ago

Pelatih Korsel Waspadai Kekuatan Timnas Indonesia U-17 di Piala Asia U-17 2025