Connect with us

Review

Jika Pilpres di 2026: Prabowo-Dedi Mulyadi, Duet Paling Tepat!

Jika Pilpres dipercepat pada 2026, duet Prabowo Subianto dan Dedi Mulyadi adalah pilihan ideal. Kombinasi ketegasan dan kerja nyata mereka menjawab harapan publik akan pemimpin yang tidak hanya berbicara tetapi juga bertindak.

N Ayu Ashari

Published

on

Monitorday.com – Riuh rendah harapan publik semakin nyaring terdengar. Andai Pilpres dipercepat pada 2026, nama Prabowo Subianto sebagai calon presiden dan Dedi Mulyadi sebagai calon wakil presiden menjadi pasangan yang dinanti-nanti. Bukan tanpa alasan, Prabowo adalah sosok pemimpin berkarisma, tegas, dan berpengalaman di pemerintahan.

Sementara itu, Dedi Mulyadi adalah pemimpin yang lahir dari rahim rakyat, terbukti dengan kerja nyata dan tidak sekadar omong besar. Publik menginginkan pemimpin yang tidak hanya pandai bersuara tetapi juga mampu bertindak langsung, dan duet ini menjawab harapan tersebut.

Prabowo Subianto, dengan segala pengalaman politik dan militer yang dimilikinya, telah membuktikan diri sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan kepentingan bangsa. Prabowo sebagai mantan Menteri Pertahanan dan Presiden ke 8 saat ini, terus menunjukkan kepiawaian dalam memperkuat pertahanan negara.

Kiprah Prabowo dalam berbagai lini strategis menunjukkan kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia di masa depan. Dengan wibawa yang kuat dan komitmen terhadap kedaulatan bangsa, Prabowo adalah figur yang tepat untuk memimpin negeri ini menuju era kejayaan.

Di sisi lain, Dedi Mulyadi adalah figur yang mewakili akar rumput. Tidak seperti politisi lain yang lebih banyak berpikir simbolis, Dedi adalah sosok yang benar-benar turun ke lapangan. Dari membantu rakyat kecil, membangun infrastruktur pedesaan, hingga menyelesaikan berbagai permasalahan sosial dengan pendekatan langsung—semua telah ia lakukan dengan nyata.

Karakter ‘talk to walk’-nya menjadikannya pemimpin yang dicintai dan dipercaya banyak orang. Kinerjanya sudah terbukti sejak menjabat sebagai Bupati Purwakarta, di mana kebijakan-kebijakan progresifnya mengubah wajah daerah menjadi lebih maju dan sejahtera.

Selain itu, posisi Dedi Mulyadi sebagai putra daerah Jawa Barat semakin memperkuat kombinasi ini. Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah pemilih terbesar di Indonesia, dan figur pemimpin yang dekat dengan rakyat seperti Dedi tentu memiliki daya tarik politik yang kuat.

Dalam berbagai kesempatan, Dedi menunjukkan bahwa ia tidak hanya sekadar hadir dalam perbincangan politik, tetapi juga benar-benar bekerja untuk rakyat. Ia mengerti betul permasalahan di tingkat bawah dan tahu bagaimana cara menyelesaikannya dengan solusi konkret. Ini bukan soal janji politik semata, tetapi tentang realisasi kebijakan yang berpihak pada rakyat.

Pasangan Prabowo-Dedi juga merupakan perpaduan antara ketegasan dan kepedulian sosial. Prabowo dengan visi besar dalam menjaga stabilitas nasional dan Dedi dengan kepiawaian dalam membangun kesejahteraan rakyat di tingkat akar rumput adalah kombinasi yang solid.

Mereka bisa saling melengkapi untuk menghadirkan pemerintahan yang lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan rakyat. Jika melihat dinamika politik saat ini, banyak pihak menilai bahwa duet ini akan menjadi jawaban atas kebuntuan kepemimpinan yang lebih mengutamakan pencitraan ketimbang aksi nyata.

Tak hanya itu, masyarakat kini semakin cerdas dalam memilih pemimpin. Mereka menginginkan sosok yang bukan sekadar populer di media, tetapi juga benar-benar bekerja untuk mereka. Di tengah tren politik yang cenderung retoris, Prabowo dan Dedi menawarkan sesuatu yang berbeda: kepemimpinan berbasis aksi nyata. Ini yang membuat publik semakin antusias dengan kemungkinan duet ini di Pilpres 2026.

Sinyal kuat dari masyarakat pun terus mengalir. Dukungan terhadap Prabowo terus menguat, sementara Dedi Mulyadi semakin mendapat tempat di hati rakyat sebagai calon pemimpin masa depan. Jika benar Pilpres dipercepat, maka duet Prabowo-Dedi bisa menjadi kekuatan yang sulit dikalahkan. Dengan rekam jejak yang telah terbukti, mereka membawa harapan baru bagi Indonesia yang lebih baik.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Review

Jejak Pagar Laut: Identitas di Persimpangan

Filsafat intelijen, linguistik forensik, dan sastra maritim membuka tabir kasus pagar laut, memperkuat identitas bangsa di tengah arus geopolitik dan kepentingan global.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Laut tak pernah benar-benar diam. Ia berbisik lewat riak gelombang, berkisah lewat jejak kapal, dan menyimpan rahasia dalam gulungan arusnya. Di suatu pagi yang seolah biasa, sebuah laporan bocor ke publik: pagar laut yang seharusnya menjadi penjaga, justru menjadi titik rawan. Kasus ini bukan sekadar perbincangan di meja akademik atau rapat strategis para pejabat. Ini adalah cerminan identitas bangsa yang sedang diuji.

Sejak zaman dahulu, laut adalah nadi kehidupan dan penjaga peradaban. Dari jalur perdagangan kuno hingga eksplorasi modern, setiap wilayah perairan membawa makna tersendiri bagi yang memahami. Di sinilah filsafat intelijen berperan: membaca pola, menelaah ancaman, dan merangkai strategi untuk menjaga kedaulatan. Intelijen bukan sekadar soal penyadapan atau mata-mata, tetapi kemampuan membaca yang tak kasat mata—memahami motif di balik layar dan menghubungkan titik-titik yang tampak terpisah.

Jika kita kaitkan kasus pagar dalam perspektif linguistik forensik, setiap kata yang tertulis atau terucap menyimpan jejak. Kata-kata dalam laporan penyelidikan, komunikasi terselubung di jaringan gelap, atau bahkan diamnya pihak tertentu bisa menjadi petunjuk bagi yang peka. Sebuah pesan di radio frekuensi rendah, perbedaan istilah dalam dokumen resmi, atau perubahan kecil dalam logistik perkapalan bisa mengungkap dalang di balik layar.

Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana laut sendiri bercerita. Sastra maritim telah lama menjadi saksi bisu dari perebutan identitas, baik melalui syair, catatan perjalanan, maupun cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Dalam puisi-puisi lama, pagar laut bukan sekadar batas fisik, melainkan simbol dari perlindungan dan kebanggaan. Tetapi di era modern, batas itu semakin kabur—antara kedaulatan dan ekspansi, antara perlindungan dan eksploitasi.

Kasus pagar laut ini menguji banyak hal: kejelian intelijen dalam membaca ancaman, ketajaman linguistik forensik dalam menelusuri jejak komunikasi, dan kebijaksanaan sastra maritim dalam menjaga narasi identitas. Ada yang mencoba menulis ulang sejarah dengan kepentingannya sendiri, tetapi ada pula yang berusaha menjaga kebenaran tetap hidup dalam ingatan kolektif.

Lalu, di manakah posisi kita? Apakah hanya menjadi penonton dalam babak baru geopolitik ini, atau justru menjadi pemain yang mengukir arah? Laut terus berbicara, dan mereka yang mau mendengar akan menemukan jawabannya.

Tiba-tiba ada yang bilang ” habiskan saja kopi itu, waktu udah sore,” suara itu dari di ujung pantai kejawanan. Tampak ada sosok yang menyuarakan kata-kata yang anda baca ini.

Continue Reading

Review

Intelijen Ekonomi: Senjata Rahasia Menuju Kemenangan

Sejarah telah membuktikan, perang tidak hanya dimenangkan dengan senjata, tetapi dengan kecerdasan. Kehebatan intelijen menjadi faktor penentu kemenangan, sebagaimana yang terjadi dalam sejarah Islam ketika menaklukkan berbagai wilayah dan mempertahankannya selama ratusan tahun. Kini, peperangan telah berubah bentuk. Bukan lagi tentang pedang dan panah, tetapi tentang informasi dan strategi ekonomi. Indonesia berada di persimpangan krusial, di mana intelijen ekonomi harus menjadi senjata utama dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Perang ekonomi telah lama berlangsung, meski tak selalu tampak di permukaan. Dalam diam, negara-negara saling bersaing, menggunakan berbagai cara untuk mengamankan kepentingan nasional mereka. Perang ini tidak hanya tentang perdagangan atau investasi, tetapi juga tentang penguasaan informasi strategis yang dapat menentukan arah kebijakan ekonomi suatu negara. Inilah medan tempur baru yang harus dihadapi Indonesia.

Lihatlah bagaimana peradaban Islam di masa lalu mampu membangun kekuatan dan kejayaan yang bertahan berabad-abad. Salah satu rahasianya adalah intelijen yang kuat. Dalam strategi perang, Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya selalu mengandalkan informasi yang akurat sebelum mengambil keputusan. Keberhasilan penaklukan Makkah, Perang Khandaq, hingga ekspansi ke Persia dan Romawi, semuanya ditopang oleh kejelian dalam mengelola informasi.

Di era modern, pertempuran serupa terjadi dalam bentuk yang berbeda. Persaingan ekonomi global bukan lagi sekadar tentang siapa yang memiliki sumber daya alam paling banyak, tetapi tentang siapa yang lebih cerdas dalam mengelola dan mengamankan informasi strategis. Negara-negara maju telah lama menyadari hal ini dan mengembangkan sistem intelijen ekonomi yang canggih. Amerika Serikat memiliki CIA yang tak hanya mengurusi aspek pertahanan, tetapi juga kepentingan ekonomi. China dengan strategi “Belt and Road Initiative”-nya bergerak cepat mengamankan jalur perdagangan. Uni Eropa pun aktif mengatur strategi ekonomi berbasis data dan informasi rahasia yang dikumpulkan dari berbagai sumber.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sebagai negara dengan sumber daya melimpah, Indonesia menjadi incaran banyak kepentingan global. Sayangnya, lemahnya intelijen ekonomi membuat negara ini sering menjadi korban permainan politik dagang internasional. Harga komoditas yang naik turun secara drastis, kebocoran data strategis, hingga ketergantungan terhadap produk luar negeri adalah beberapa bukti bahwa kita belum cukup siap dalam menghadapi peperangan ekonomi ini.

Intelijen ekonomi harus menjadi ujung tombak kebijakan nasional. Pengumpulan, analisis, dan pemanfaatan informasi ekonomi harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh para pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat. Kita perlu membangun sistem yang mampu mendeteksi ancaman ekonomi sejak dini, menganalisis tren global, serta memproyeksikan langkah strategis agar Indonesia tidak terus-menerus menjadi pemain pinggiran dalam percaturan ekonomi dunia.

Perkuatan intelijen ekonomi juga berarti memperkuat kebijakan industri dalam negeri. Negara-negara yang berhasil memenangkan perang ekonomi adalah mereka yang mampu melindungi sektor strategis mereka. Jepang dengan industri teknologinya, Jerman dengan manufaktur berkualitas tinggi, dan Korea Selatan dengan inovasi digitalnya adalah contoh nyata bagaimana intelijen ekonomi dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan yang berpihak pada kepentingan nasional.

Indonesia harus mulai berani memainkan strategi yang lebih cerdas. Penguasaan data, pengamanan aset strategis, dan pengembangan inovasi berbasis intelijen ekonomi harus menjadi agenda utama. Jangan sampai kita hanya menjadi pasar bagi negara lain tanpa memiliki daya tawar yang kuat.

Sejarah telah mengajarkan bahwa kemenangan tidak hanya milik mereka yang memiliki sumber daya lebih banyak, tetapi bagi mereka yang lebih cerdas dalam memanfaatkannya. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan ekonomi yang diperhitungkan. Namun, hal itu hanya bisa dicapai jika kita mampu mengelola informasi dengan strategi yang tepat. Saatnya menjadikan intelijen ekonomi sebagai senjata rahasia menuju kemenangan.

Continue Reading

Review

Against Israel and the USA, Arab Leaders Are Nothing but Pathetic Toothless Tigers

Middle Eastern nations are growing weaker in the face of Israeli and American aggression. The cowardice of Arab leaders and their dependence on the West leave them with nothing but empty condemnations.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Explosions shake Gaza, sirens wail in the dark night. Blood flows through the streets, children’s screams echo in narrow alleys. Meanwhile, Middle Eastern leaders sit in plush chairs, hold emergency meetings, and emerge with worthless statements that amount to nothing more than empty words. America sends weapons, Europe sends funds, Israel pulls the trigger. And the Arab world? They watch.

The world witnesses genocide in Gaza, but not with the concern it should. Tel Aviv has no need to worry about reactions from neighboring countries. Egypt closes the Rafah border, Jordan is busy maintaining internal stability, Saudi Arabia makes mild comments while continuing its trade with America. The oil-rich Gulf nations strengthen their ties with Israel for economic interests. Meanwhile, in the negotiation rooms, the Arab League gathers, agreeing on the one thing they do best: condemnation.

Year after year, decade after decade, the story remains the same. Palestine fights alone against a massive force fully backed by the West. If Arab nations once tried to resist in the Arab-Israeli Wars, now they have surrendered without a fight. Egypt, once brave in the Yom Kippur War, now remains silent. Syria, which once sent tanks to the Golan Heights, is now preoccupied with civil war. Iraq, once possessing a powerful military, has been shattered by the American invasion.

There is no longer a solid resistance bloc. Iran, the only nation that speaks out, has instead become the target of sanctions and isolation. Hezbollah and Palestinian resistance groups fight alone, without real support from their fellow believers. The Arab world seems to have forgotten that Al-Quds is part of their history and identity.

America and Israel fully understand this weakness. With deep-rooted economic and political interests in the Arab region, they manipulate Middle Eastern leaders like chess pieces. The Gulf states’ dependence on American weapons and military protection prevents them from fighting back. Kings and emirs fear losing their power more than losing Palestine. And this is Israel’s greatest weapon: division among the Arab nations themselves.

The dream of Islamic unity once championed by revolutionary leaders is now a relic of the past. Arab nationalism, once a force against imperialism, has faded, replaced by self-interest and fear of Western intervention. The Middle East is no longer a center of resistance but a stage where major powers play as they please.

The Palestinian people wait. They wait for a miracle that may never come. They wait for solidarity that has long vanished. They wait for the Arab world to rise, though they themselves know that hope is slipping away. Meanwhile, bombs continue to fall, bullets continue to be fired, and the world chooses to look away.

Continue Reading

Review

Strategi Global, Dimana Posisi Indonesia?

Di tengah eskalasi geopolitik antara Amerika, Israel, Iran, dan BRICIS, Indonesia harus segera menentukan arah strategisnya agar tetap relevan dan diperhitungkan dalam perubahan tatanan dunia.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Ketika Amerika dan Israel semakin mematangkan rencana serangan terhadap Iran, dunia memasuki babak baru dalam geopolitik global. Negara-negara BRICIS—Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, dan yang baru bergabung, Arab Saudi—tidak tinggal diam.

Mereka merespons dengan langkah-langkah strategis yang bisa mengguncang keseimbangan kekuatan dunia. Namun, di tengah tarikan kepentingan global ini, satu pertanyaan besar mengemuka: di mana posisi Indonesia? Apakah masih diperhitungkan dalam peta politik dunia, atau justru hanya menjadi penonton dalam percaturan ini?

Dalam lanskap politik internasional yang semakin kompleks, perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di panggung diplomasi, ekonomi, dan aliansi strategis. BRICIS, sebagai blok ekonomi dan politik yang semakin solid, mulai menunjukkan peran aktifnya. Rusia dan Tiongkok, sebagai kekuatan utama dalam kelompok ini, berusaha mengamankan kepentingan mereka, baik di Timur Tengah maupun di kawasan lain yang menjadi medan pertempuran geopolitik. Langkah-langkah konkret telah diambil, dari pertemuan tingkat tinggi hingga kesepakatan ekonomi yang bisa melemahkan dominasi dolar sebagai mata uang global.

Amerika Serikat, yang sejak lama menjadi kekuatan utama dunia, kini menghadapi tantangan yang semakin besar. Aliansi yang dibangun dengan Israel dalam menghadapi Iran bukan sekadar isu regional, tetapi juga bagian dari strategi mempertahankan dominasi global. Iran, sebagai negara yang memiliki pengaruh kuat di Timur Tengah, menjadi ancaman bagi kepentingan Barat, terutama dalam hal kontrol energi dan pengaruh politik di kawasan. Sementara itu, negara-negara BRICIS semakin solid dalam membangun kekuatan alternatif, berusaha menciptakan tatanan dunia baru yang tidak lagi sepenuhnya didikte oleh Barat.

Di tengah dinamika ini, posisi Indonesia menjadi pertanyaan besar. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20, Indonesia memiliki potensi untuk memainkan peran strategis. Namun, apakah potensi itu benar-benar dimanfaatkan? Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia cenderung mengambil posisi netral dalam berbagai isu global, menjaga hubungan baik dengan semua pihak tanpa terlalu condong ke salah satu blok.

Namun, dalam dunia yang semakin multipolar, sikap netral tidak selalu menjadi keuntungan. Ada saatnya Indonesia harus menunjukkan keberpihakan berdasarkan kepentingan nasionalnya. Jika negara-negara BRICIS mulai menguat sebagai poros baru, apakah Indonesia akan tetap bertahan dalam posisi ambigu, atau justru memanfaatkan momentum ini untuk mendapatkan keuntungan strategis?

Selain faktor politik, ekonomi menjadi faktor krusial dalam menentukan langkah Indonesia. Dengan ketergantungan yang cukup tinggi pada investasi asing, Indonesia harus berhati-hati dalam memainkan kartunya. Hubungan dagang dengan Tiongkok semakin kuat, tetapi di sisi lain, keterkaitan dengan Barat masih menjadi penopang utama ekonomi nasional. Jika konflik global semakin memanas dan Indonesia tidak segera menentukan arah kebijakan yang jelas, maka ada risiko terseret dalam pusaran kekuatan besar tanpa kesiapan yang memadai.

Saat ini, dunia tidak lagi hanya bicara tentang kekuatan militer, tetapi juga tentang ketahanan ekonomi, teknologi, dan diplomasi. Indonesia harus lebih agresif dalam menentukan posisinya, tidak hanya sebagai negara yang menunggu dan bereaksi terhadap situasi global, tetapi sebagai pemain yang bisa menciptakan peluang baru dalam perubahan tatanan dunia.

Dengan semakin panasnya konflik yang melibatkan Amerika, Israel, Iran, dan reaksi dari BRICIS, Indonesia harus segera menyusun strategi yang tidak hanya menjaga kepentingan nasional, tetapi juga memperkuat posisi di mata dunia. Jika tidak, maka Indonesia bisa kehilangan momentum dan hanya menjadi penonton dalam pergeseran kekuatan global yang sedang berlangsung.

Continue Reading

Review

Lebaran Usai, Janda Muda Meroket

Setelah Lebaran 2025, Indonesia mengalami lonjakan jumlah janda muda akibat peningkatan perceraian, terutama di Jawa Barat, dengan perselisihan dan masalah ekonomi sebagai penyebab utama.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com –Setelah gema takbir mereda dan opor ayam tinggal kenangan di meja makan, Indonesia dihadapkan pada fenomena yang tak kalah menggelegar: lonjakan jumlah janda muda pasca mudik Lebaran 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun 2024 tercatat 394.608 kasus perceraian, dengan Jawa Barat menyumbang angka tertinggi, yakni 88.842 kasus.

Bayangkan, setelah perjalanan mudik yang penuh perjuangan—berdesakan di kereta, terjebak macet berjam-jam, hingga drama rebutan kursi di bus—pasangan suami istri akhirnya tiba di kampung halaman. Namun, alih-alih mempererat tali kasih, momen ini justru menjadi ajang pembuktian bahwa mertua memang selalu benar dan menantu harus selalu siap mental.

Tak heran, perselisihan dan pertengkaran menduduki peringkat teratas sebagai penyebab perceraian, dengan 251.125 kasus. Masalah ekonomi menyusul di belakangnya dengan 100.198 kasus. Mungkin, setelah Lebaran, dompet yang menipis akibat tradisi bagi-bagi THR membuat pasangan suami istri sadar bahwa cinta saja tak cukup untuk membayar cicilan motor dan kuota internet.​

Di Jakarta, kota yang tak pernah tidur, angka perceraian juga menunjukkan tren yang menarik. Sepanjang 2021 hingga 2023, lebih dari 45 ribu pasangan memutuskan untuk berpisah. Tiga faktor utama yang mendominasi adalah perselisihan yang tak kunjung usai, masalah ekonomi yang mencekik, dan keputusan salah satu pihak untuk meninggalkan pasangan. Mungkin, hiruk-pikuk ibu kota membuat pasangan lebih memilih berpisah daripada terus-menerus terjebak dalam kemacetan rumah tangga

Namun, tak semua provinsi mengalami nasib serupa. Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatatkan jumlah perceraian paling sedikit pada 2023, hanya 621 kasus. Apakah ini berarti cinta di NTT lebih kuat? Atau mungkin, akses menuju pengadilan yang jauh membuat pasangan berpikir dua kali sebelum mengajukan gugatan cerai?​

Fenomena ini tentu mengundang berbagai spekulasi. Apakah tradisi mudik yang seharusnya mempererat silaturahmi justru menjadi pemicu retaknya rumah tangga? Ataukah, momen kumpul keluarga besar membuka mata pasangan akan realita bahwa mereka lebih bahagia saat berjauhan?

Yang jelas, lonjakan jumlah janda muda pasca Lebaran ini menjadi cerminan kompleksitas dinamika rumah tangga di Indonesia. Mungkin, di masa depan, kita perlu mempertimbangkan untuk menambahkan sesi konseling pernikahan dalam rangkaian tradisi mudik, agar perjalanan pulang kampung tak berakhir dengan perjalanan ke pengadilan agama.

Continue Reading

Review

Ketika Hukum Diperjualbelikan, Tunggulah Kehancuran

Kasus suap hakim dalam vonis bebas Ronald Tannur mengungkap bobroknya sistem peradilan, mencerminkan krisis moral dan integritas yang mendalam.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Bayangkan sebuah negeri di mana palu hakim tidak lagi menggema sebagai simbol keadilan, melainkan sebagai alat transaksi. Indonesia, dengan segala kebanggaannya sebagai negara hukum, kini dihadapkan pada kenyataan pahit: hukum dapat diperjualbelikan. Kasus suap yang melibatkan tiga hakim Pengadilan Negeri Surabaya dalam vonis bebas Gregorius Ronald Tannur adalah bukti nyata betapa bobroknya sistem peradilan kita.​

Gregorius Ronald Tannur, terdakwa dalam kasus kematian kekasihnya, Dini Sera Afrianti, seharusnya menghadapi konsekuensi hukum yang setimpal. Namun, kenyataan berkata lain. Ibu Ronald, Meirizka Widjaja, dengan segala daya upaya, berusaha membebaskan anaknya dari jerat hukum. Ia menggandeng pengacara Lisa Rahmat, yang kemudian menjalin komunikasi dengan mantan pejabat Mahkamah Agung, Zarof Ricar, untuk mencari hakim yang ‘bersedia’ memberikan vonis bebas. Hasilnya? Suap sebesar Rp 1 miliar dan SGD 308 ribu atau setara Rp 3,6 miliar mengalir ke kantong tiga hakim: Erintuah Damanik, Heru Hanindyo, dan Mangapul. ​

Erintuah Damanik, yang menjabat sebagai ketua majelis hakim dalam kasus ini, mengaku sempat ingin mengakhiri hidupnya sebelum akhirnya mengakui perbuatannya. Ia merasa dihantui oleh dosa dan takut kutukan menimpa keluarganya. Dalam sebuah kontemplasi mendalam, Erintuah membaca Alkitab dan menemukan bahwa kejujuran adalah jalan terbaik. Ia pun memutuskan untuk mengakui segalanya demi menghentikan ‘kutukan’ ini agar tidak berlanjut ke anak-cucunya.​

Namun, pengakuan ini tidak serta-merta membersihkan noda hitam yang telah tercoreng di wajah peradilan Indonesia. Sebaliknya, hal ini justru menyingkap tabir betapa dalamnya krisis moral yang melanda institusi penegak hukum kita. Jika hakim, yang seharusnya menjadi benteng terakhir keadilan, dapat tergoda oleh uang dan kekuasaan, lalu kepada siapa lagi rakyat harus mencari keadilan?​

Lebih ironis lagi, kasus ini bukanlah yang pertama dan mungkin bukan yang terakhir. Berbagai kasus serupa telah mencuat ke permukaan, namun tampaknya belum ada perubahan signifikan dalam sistem peradilan kita. Korupsi telah mengakar begitu dalam, sehingga sulit untuk membedakan antara penegak hukum dan pelanggar hukum.​

Pemerintah memang telah mengambil beberapa langkah untuk memperbaiki keadaan. Misalnya, Presiden Prabowo Subianto berencana memberikan amnesti kepada puluhan ribu narapidana, termasuk aktivis Papua, sebagai upaya mengatasi overkapasitas penjara dan memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang dianggap layak. Namun, apakah langkah-langkah ini cukup untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap sistem peradilan?​

Masyarakat Indonesia berhak mendapatkan sistem hukum yang adil dan bersih dari korupsi. Diperlukan reformasi menyeluruh yang tidak hanya menyentuh aspek struktural, tetapi juga kultural. Pendidikan moral dan etika harus ditanamkan sejak dini, terutama bagi mereka yang bercita-cita menjadi penegak hukum. Selain itu, pengawasan ketat dan sanksi tegas harus diterapkan bagi siapa saja yang terbukti menyalahgunakan wewenangnya.​

Kasus suap dalam vonis bebas Ronald Tannur adalah alarm keras bagi kita semua. Ini adalah panggilan untuk segera bertindak, untuk tidak lagi menutup mata terhadap kebobrokan yang terjadi di depan kita. Kita tidak boleh membiarkan hukum diperjualbelikan, karena ketika itu terjadi, maka keadilan hanyalah ilusi belaka.​

Saatnya kita bangkit dan menuntut perubahan. Keadilan bukanlah barang dagangan yang bisa dibeli oleh mereka yang memiliki kekayaan atau kekuasaan. Keadilan adalah hak setiap warga negara, dan kita semua bertanggung jawab untuk menjaganya tetap murni dan tidak ternoda.

Continue Reading

Review

Israel! The Real Betrayer Till the end of the World

Israel berkali-kali mengingkari janji gencatan senjata, menggunakan strategi manipulasi untuk menipu masyarakat internasional. Dengan framing yang terencana, Israel terus melanjutkan agresi meski mengklaim ingin berdamai.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Setiap kali kata “gencatan senjata” mencuat dalam diskusi konflik Palestina-Israel, harapan akan perdamaian kembali mengemuka. Namun, harapan itu selalu kandas di tangan Israel, yang berulang kali mengingkari janji dan merancang framing untuk membenarkan agresinya. Seolah menjadi pola yang terus berulang, Israel menerima proposal gencatan senjata hanya untuk kemudian melanggarnya dengan dalih baru.

Sejarah panjang konflik di Gaza mencatat betapa seringnya Israel menandatangani perjanjian gencatan senjata, hanya untuk kemudian membatalkannya. Sejak awal agresi besar-besaran pada Oktober 2023, proposal gencatan senjata kerap disepakati melalui perantara internasional, seperti Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat. Namun, dalam setiap kesepakatan, Israel selalu menemukan celah untuk melanjutkan serangan brutalnya.

Kasus terbaru adalah bagaimana Hamas telah menerima proposal gencatan senjata terbaru yang diajukan mediator, sementara Israel menolak dan malah mengajukan proposal balasan. Sikap ini bukan sekadar negosiasi biasa, tetapi strategi yang digunakan untuk mengulur waktu dan mengalihkan perhatian dari kebrutalan yang terjadi di Gaza. Israel selalu berhasil membingkai dirinya sebagai pihak yang mencari solusi, padahal faktanya, serangan terus berlanjut tanpa henti.

Sejarah mencatat pola yang sama terjadi di berbagai kesempatan. Setiap kali gencatan senjata mulai berlaku, Israel selalu punya alasan untuk melanggar perjanjian yang telah disepakati. Entah dengan dalih serangan roket dari kelompok militan atau “ancaman baru” yang diklaim tanpa bukti konkret. Pada akhirnya, Israel memanfaatkan gencatan senjata hanya sebagai taktik untuk meredakan tekanan internasional, sebelum kembali melanjutkan agresi dengan intensitas lebih besar.

Selain itu, framing media yang digunakan Israel juga menjadi senjata ampuh untuk membentuk opini global. Israel kerap menggunakan bahasa yang menggiring opini, seperti “operasi kontra-terorisme” atau “hak untuk membela diri,” meskipun serangannya telah menewaskan puluhan ribu warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan. Dengan dukungan sekutu kuatnya, terutama Amerika Serikat, Israel berhasil mengontrol narasi dan membungkam kritik internasional terhadap pelanggaran hukum perang yang dilakukannya.

Perang propaganda ini bukan sekadar permainan kata, tetapi strategi nyata yang memungkinkan Israel terus melakukan pembantaian tanpa konsekuensi berarti. Setiap laporan korban jiwa atau kehancuran di Gaza dibantah dengan klaim sepihak dari militer Israel, sementara penderitaan warga Palestina semakin memburuk.

Dengan catatan panjang pelanggaran gencatan senjata, sulit untuk percaya bahwa Israel benar-benar menginginkan perdamaian. Setiap langkah negosiasi hanya dimanfaatkan sebagai alat diplomasi kosong untuk memperpanjang kekuasaan dan mendominasi jalur politik di Timur Tengah. Selama dunia masih membiarkan Israel mengendalikan narasi dan menghindari tanggung jawab atas kejahatan perang yang dilakukannya, konflik ini akan terus berulang tanpa akhir yang jelas.

Jika dunia benar-benar peduli terhadap perdamaian di Palestina, sudah saatnya ilusi gencatan senjata ini dibongkar. Israel harus bertanggung jawab atas pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan, bukan terus diberi ruang untuk menipu masyarakat internasional dengan janji-janji kosong.

Continue Reading

Review

Revolusi Energi! Bioavtur Minyak Jelantah Siap Mengudara

Pertamina mulai uji coba produksi bioavtur berbahan minyak jelantah di Kilang Cilacap dengan target 9.000 barel per hari, membuka era baru energi hijau bagi industri penerbangan Indonesia.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com –Energi hijau kini bukan lagi sekadar wacana. Pertamina, melalui subholding Refining and Petrochemical, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), siap menggebrak industri penerbangan dengan produksi bioavtur berbasis minyak jelantah. Uji coba skala besar ini akan dimulai pada kuartal II-2025 di Kilang Cilacap, Jawa Tengah, dengan target produksi awal mencapai 9.000 barel per hari. Langkah ini menandai era baru bagi penerbangan Indonesia yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, menegaskan bahwa produksi bioavtur ini adalah solusi tepat bagi maskapai penerbangan yang harus memenuhi standar energi bersih global. Dengan metode coprocessing, minyak jelantah akan dicampur sebanyak tiga persen dalam setiap produksi harian avtur. Artinya, untuk 9.000 barel avtur, dibutuhkan sekitar 270 barel minyak jelantah. Angka ini menunjukkan bahwa limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini bisa menjadi sumber energi bernilai tinggi.

Pertamina tidak sendiri dalam proyek ambisius ini. KPI telah menyiapkan kerja sama strategis dengan berbagai kolektor minyak jelantah guna memastikan ketersediaan bahan baku yang stabil. Sinergi juga dijalin dengan Pertamina Patra Niaga sebagai penyedia pasokan minyak jelantah yang akan diolah menjadi bioavtur. Dengan jaringan distribusi yang luas dan pasokan yang terjamin, proyek ini siap berjalan tanpa hambatan berarti.

Langkah Pertamina ini bukan hanya tentang inovasi energi, tetapi juga menjawab tantangan regulasi global. Negara-negara seperti Singapura dan Malaysia sudah lebih dulu mewajibkan maskapai menggunakan bahan bakar berkelanjutan dalam operasional mereka. Dengan kehadiran bioavtur berbasis minyak jelantah ini, maskapai yang transit di Indonesia akan lebih mudah memenuhi regulasi negara tujuan mereka. Hal ini juga membuka peluang besar bagi Indonesia sebagai hub energi bersih di Asia Tenggara.

Namun, produksi bioavtur ini tidak bisa langsung diterapkan tanpa pengujian ketat. Pertamina akan menjalankan serangkaian uji coba, termasuk uji statis dan uji terbang, guna memastikan kualitas dan performa bahan bakar ini sesuai standar penerbangan internasional. Setiap langkah dipastikan memenuhi regulasi ketat agar bioavtur ini bisa diandalkan dalam operasional penerbangan.

Revolusi energi ini membuka banyak peluang baru, termasuk dalam aspek ekonomi dan lingkungan. Pemanfaatan minyak jelantah yang selama ini menjadi limbah berbahaya bisa diubah menjadi produk bernilai tinggi. Ini bukan hanya mengurangi dampak pencemaran lingkungan, tetapi juga menciptakan ekosistem bisnis baru, mulai dari pengumpulan hingga distribusi bahan baku bioavtur. Selain itu, dengan semakin banyaknya negara yang menerapkan kebijakan energi bersih, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pemain utama dalam industri bioavtur global.

Ke depan, Pertamina berencana untuk terus meningkatkan skala produksi bioavtur dan mencari alternatif bahan baku lain yang berkelanjutan. Dengan inovasi ini, Indonesia tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga bisa menjadi eksportir bioavtur ke pasar internasional.

Revolusi energi hijau telah dimulai. Langkah berani ini menunjukkan bahwa transisi ke energi berkelanjutan bukan lagi impian, melainkan kenyataan yang siap mengudara. Maskapai, regulator, dan masyarakat kini memiliki alasan lebih kuat untuk mendukung pergeseran menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan.

Continue Reading

Review

Shahid Khan: Dari Cuci Piring ke Miliarder

Shahid Khan, pengusaha muslim Amerika, memulai kariernya sebagai pencuci piring sebelum sukses di industri otomotif dan olahraga. Kini, ia memiliki kekayaan 12,2 miliar dolar AS.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Tidak ada kesuksesan yang datang dalam semalam. Perjalanan Shahid Khan dari seorang pencuci piring hingga menjadi miliarder adalah bukti bahwa mimpi bisa diwujudkan dengan kerja keras, ketekunan, dan strategi yang tepat. Pengusaha muslim asal Amerika Serikat ini adalah inspirasi bagi banyak orang yang ingin menaklukkan dunia bisnis.

Lahir di Lahore, Pakistan, pada 18 Juli 1950, Khan memiliki impian menjadi arsitek. Demi mengejar mimpinya, ia memberanikan diri merantau ke Amerika Serikat pada usia 16 tahun. Namun, kenyataan tak selalu sejalan dengan harapan. Setibanya di Negeri Paman Sam, Khan harus bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran dengan bayaran hanya 1,20 dolar AS per jam. Namun, dengan semangat yang tak tergoyahkan, ia berhasil menyelesaikan studi di University of Illinois at Urbana-Champaign (UIUC) dan meraih gelar sarjana teknik industri pada tahun 1971.

Sejak duduk di bangku kuliah, Khan sudah mulai merintis karier di dunia industri. Ia bergabung dengan Flex-N-Gate, sebuah perusahaan suku cadang otomotif, dan terus menunjukkan kemampuannya hingga akhirnya dipercaya menjadi Direktur Teknis. Pada tahun 1980, ia mengambil langkah besar dengan membeli perusahaan tersebut. Dalam waktu kurang dari satu dekade, ia berhasil mengubah Flex-N-Gate menjadi satu-satunya pemasok suku cadang Toyota di Amerika Serikat, menjadikannya salah satu pengusaha paling sukses di industri otomotif.

Keberhasilan di sektor otomotif tidak membuatnya cepat puas. Khan memahami bahwa diversifikasi bisnis adalah kunci untuk mempertahankan kesuksesan. Maka, pada 2011, ia mengakuisisi Jacksonville Jaguars, sebuah tim American Football yang berlaga di National Football League (NFL). Dua tahun kemudian, ia melanjutkan ekspansinya di dunia olahraga dengan membeli klub sepak bola Fulham di Inggris. Investasinya di dunia olahraga semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pebisnis paling berpengaruh di dunia.

Di luar bisnis, Khan dikenal sebagai sosok yang setia pada keluarga. Ia menikah dengan Ann Khan, kekasihnya sejak kuliah, pada tahun 1977. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak, Tony dan Shanna. Saat ini, keluarga Khan menetap di Naples, Florida, menikmati hasil kerja keras yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Menurut Forbes, kekayaan bersih Shahid Khan kini mencapai 12,2 miliar dolar AS atau sekitar 195 triliun rupiah, menjadikannya salah satu orang terkaya di dunia dengan peringkat ke-162. Kesuksesan ini tidak diraihnya secara instan, tetapi melalui proses panjang yang penuh dengan tantangan. Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa kerja keras, visi yang jelas, dan keberanian mengambil risiko adalah faktor utama dalam meraih kesuksesan.

Kisah Shahid Khan membuktikan bahwa siapa pun, tanpa memandang latar belakang, dapat mencapai puncak kesuksesan jika memiliki tekad yang kuat. Dari mencuci piring hingga menjadi pemilik perusahaan otomotif raksasa dan klub olahraga elite, ia adalah contoh nyata bahwa batasan hanya ada di dalam pikiran kita. Inspirasi dari Shahid Khan bukan hanya tentang kesuksesan finansial, tetapi juga tentang semangat pantang menyerah dalam mengejar impian.

Continue Reading

Review

Bantu Mudik di Indonesia? Putin Kabarnya Bakal Kirim Kapal Selam Supersonik

Putin ingin mengirim kapal selam supersonik untuk membantu pemudik motor di Indonesia yang selalu terjebak macet. Ide nyeleneh ini menggambarkan realitas transportasi kita yang absurd.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Mudik di Indonesia itu bukan sekadar tradisi, tapi uji nyali tingkat dunia. Ketahanan fisik, mental, serta kreativitas dalam menyusun barang di atas motor adalah skill yang tak bisa dipelajari di bangku sekolah. Dari tahun ke tahun, jalan tol yang katanya solusi justru ikut merayakan macet bersama jutaan pemudik. Dan kini, di tengah kebuntuan transportasi, muncullah sosok penyelamat tak terduga: Vladimir Putin. Loh kosa bisa?

Konon, Presiden Rusia ini tak tahan melihat pemotor Indonesia berjuang melawan macet. Empat penumpang di atas satu motor plus tumpukan barang yang lebih tinggi dari menara Eiffel miniatur memang sesuatu yang tak ada duanya. Jika negara lain mengirim kapal induk untuk membantu, Putin malah ingin mengirim kapal selam supersonik! Logikanya sederhana, jika darat macet dan udara penuh pesawat delay, maka laut dan bawahnya adalah harapan terakhir.

Tentu, ide Putin ini bisa jadi solusi anti-mainstream bagi pemudik. Bayangkan, para pemotor dengan muatan maksimal bisa menyelam melewati kemacetan dengan kecepatan supersonik. Bukan hanya lebih cepat, pemudik juga tak perlu lagi berjibaku dengan teriknya matahari atau hujan deras. Bisa langsung nyelam, muncul di kampung halaman, dan disambut keluarga dengan tumpukan ketupat yang masih hangat.

Namun, sebelum kapal selam supersonik beroperasi, ada hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, bagaimana teknis memasukkan motor ke dalam kapal selam? Haruskah ada palka khusus untuk pemotor dengan bambu penyangga barang bawaan? Kedua, apakah pemudik harus punya sertifikat menyelam sebelum naik? Jangan sampai di tengah perjalanan, ada yang panik lalu membuka jendela kapal selam!

Di sisi lain, jika rencana ini berhasil, Putin akan semakin dicintai pemudik Indonesia. Bisa jadi, di musim mudik berikutnya, poster Putin akan lebih banyak menghiasi truk-truk di Indonesia, dengan nada satrikal ” Gimana Jika tukaran Presiden”.

Bahkan, bukan tak mungkin, para pemudik akan mengganti klakson motor mereka dengan suara khas Putin “Uraaaaa, Uraaaaaaa,”.

Namun, tak semua pihak setuju dengan ide cemerlang ini. Pejabat Indonesia bisa merasa tersaingi, karena selama ini hanya mereka yang bisa melawan macet dengan mudah—entah dengan pengawalan, valet rider, atau kalau kepepet, pura-pura jadi ambulans. Jika kapal selam Putin benar-benar beroperasi, bisa jadi para pejabat harus mencari cara baru agar tetap eksklusif. Misalnya, pindah ke kendaraan luar angkasa agar bisa langsung teleportasi ke rumah masing-masing.

Di balik humor ini, ada realitas yang perlu digarisbawahi: sistem transportasi kita memang tak pernah benar-benar tuntas mengatasi mudik. Setiap tahun, pemudik masih harus menghadapi kemacetan yang sama, jalan tol yang justru jadi lautan kendaraan, serta aturan lalu lintas yang sekadar wacana. Putin mungkin hanya bercanda (atau tidak?), tapi idenya menggambarkan betapa lucu sekaligus mirisnya kondisi mudik kita.

Maka, jika kapal selam Putin akhirnya batal beroperasi, pemudik Indonesia harus tetap kreatif. Siapkan fisik, mental, dan jangan lupa bawa camilan super banyak. Karena di negeri ini, mudik bukan sekadar perjalanan pulang—ini adalah petualangan epik yang bisa mengalahkan cerita superhero manapun!

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



Review20 minutes ago

Jejak Pagar Laut: Identitas di Persimpangan

Review33 minutes ago

Intelijen Ekonomi: Senjata Rahasia Menuju Kemenangan

Sportechment3 hours ago

Sam Mendes Garap Empat Film Biopik The Beatles, Kapan Rilisnya?

Sportechment3 hours ago

April 2025 Penuh Warna! Deretan Konser Musik Internasional Siap Guncang Indonesia

Ruang Sujud3 hours ago

Tadabbur Al-Qur’an: Kunci Kedamaian Hati dan Pikiran

Sportechment3 hours ago

Sebelum Dimakamkan Ray Sahetapy Bakal Disalatkan di Masjid Istiqlal

News4 hours ago

Indonesia Akhiri Misi Kemanusiaan Korban Gempa Myanmar

News4 hours ago

Silaturahmi ke Gus Mus, Mendikdasmen Dapat Wejangan Ini

News5 hours ago

Selamatkan Lansia Saat Kebakaran Hutan Korsel, Sugiyanto Terima Penghargaan Ini

Ruang Sujud7 hours ago

Jika Hendak Ceraikan Istri Sebab tak Lagi Cinta, Ingat Pesan Sahabat Nabi ini

Ruang Sujud8 hours ago

Menemukan Makna Hidup Melalui Tadabbur Al-Qur’an

News9 hours ago

Elon Musk Bakal Tinggalkan Jabatan di Pemerintahan Trump

Ruang Sujud10 hours ago

Tadabbur Al-Qur’an dan Transformasi Spiritual dalam Kehidupan

Sportechment11 hours ago

Final Liga Voli Korea: Perjuangan Gigih Megawati Cs Buat Kagum Bintang Pink Spider

Review13 hours ago

Against Israel and the USA, Arab Leaders Are Nothing but Pathetic Toothless Tigers

News14 hours ago

Idul Fitri 1446 H, Mendikdasmen: Menjaga Hati, Mengendalikan Diri

News14 hours ago

Sekolah Rakyat dan Revolusi Pendidikan Baru

News21 hours ago

Wanita Ini Jadi Korban Kekerasan Seksual Tentara Israel

Sportechment21 hours ago

Timnas U-17 Siap Tempur di Ajang Piala Asia 2025, Erick Thohir Kirim Pesan Ini

Ruang Sujud23 hours ago

Jejak Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia