Connect with us

Regi Wahyu, Punggawa Teknologi TPN Ganjar Mahfud

Ganjar-Mahfud beruntung memiliki sosok Regi Wahyu. Pengusaha di bidang teknologi ini akan menjalani 100 hari ke depan pasca ditunjuk sebagai Kepala Kantor Staf TPN Ganjar-Mahfud pada 2 November 2023.

Deni Irawan

Published

on

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Review

Stop Bahas Identitas, Ayo Berdaya!

Hentikan narasi perpecahan soal identitas. Saatnya ormas Islam fokus pada pemberdayaan umat melalui aksi nyata, bukan debat tanpa arah.

Dila N Andara

Published

on

Monitorday.com – Sangat disayangkan, ketika dunia bergerak cepat dan umat Islam di berbagai belahan dunia berlomba mencetak prestasi ekonomi dan sosial, ada sebagian kecil oknum ormas di negeri ini yang justru masih sibuk mempertengkarkan hal-hal remeh. Mereka terus mengangkat isu identitas yang kian basi—bahas habib, debat jenggot, sindir sarung, mempertentangkan Arab dan non-Arab. Padahal, yang benar-benar dibutuhkan umat saat ini bukan narasi perpecahan, tapi narasi pemberdayaan.

Ironisnya, kita masih temui di group-group media sosial, masih ada saja video dan narasi ancaman yang memiliki tendensi membakar emosi daripada menyalakan semangat perubahan. Imbasnya, mereka lupa soal ekonomi yang saat ini masih jauh dari kata sejahtera. Lantas, sampai kapan umat dibawa berputar-putar dalam pusaran konflik identitas tanpa arah yang jelas?

Sudah waktunya energi umat diarahkan ke jalur yang produktif. Daripada terus-terusan debat soal siapa yang paling “Indonesia”, lebih baik duduk bareng membangun koperasi. Daripada sibuk menuding siapa yang paling “nusantara”, lebih baik merancang strategi pengembangan UMKM. Dunia butuh solusi, bukan orasi kosong. Umat butuh aksi nyata, bukan diksi pemecah belah.

Mari berkaca pada organisasi masyarakat yang telah berhasil mentransformasikan potensi umat menjadi kekuatan sosial-ekonomi yang nyata. Ada yang telah mendirikan ribuan sekolah dari Sabang sampai Merauke, membangun rumah sakit yang terstandar internasional, merintis perguruan tinggi dengan reputasi yang diperhitungkan, bahkan mendirikan cabang amal usaha di luar negeri. Mereka tidak sibuk berteriak di podium, tapi bekerja dalam senyap untuk kebermanfaatan umat.

Inilah saatnya meninggalkan retorika sempit dan menggantinya dengan kerja nyata. Umat tidak butuh lagi narasi “kami dan mereka”. Yang dibutuhkan adalah narasi kolaborasi, narasi tentang membangun, menguatkan, dan memberdayakan. Jangan sampai umat Islam terjebak menjadi penonton di negeri sendiri, sibuk bertengkar soal simbol sementara dunia sudah bicara soal teknologi, inovasi, dan kemandirian ekonomi.

Bayangkan jika seluruh ormas Islam bersatu dalam visi pemberdayaan umat. Setiap majelis taklim menjadi pusat literasi keuangan. Setiap pesantren mengajarkan kewirausahaan dan digital marketing. Setiap pengajian menjadi ruang belajar inovasi sosial. Bukankah lebih indah ketika masjid tidak hanya menjadi tempat sujud, tetapi juga tempat umat bangkit secara ekonomi?

Kita punya warisan keilmuan dan semangat kebersamaan yang luar biasa. Jangan dikerdilkan dengan wacana yang memecah belah. Bangun narasi baru: narasi pemberdayaan. Karena sejatinya, keberislaman seseorang tidak ditentukan oleh panjang jenggotnya atau gaya sorbannya, tapi oleh kontribusinya dalam memajukan umat.

Bukankah negara ini lama sekali merdeka itu karena suburnya perpecahan. Lihat betapa suksesnya devide et empera yang dilancarkan belanda melalui Christiaan Snouck Hurgronje , Orientalis Belanda.

Pernyataan tersebut menyoroti keberhasilan strategi divide et impera Belanda, khususnya melalui figur seperti Christiaan Snouck Hurgronje, dalam memecah belah umat Islam di Hindia Belanda. Snouck memanfaatkan studi orientalisnya untuk mengklasifikasikan umat berdasarkan etnis dan praktik keagamaan, memicu pertentangan internal antara kelompok Arab dan non-Arab. Hal ini memperlemah kekuatan kolektif umat Islam dalam melawan kolonialisme.

Perpecahan yang ditanamkan bukan hanya taktis, tapi juga ideologis, menjadikan umat sibuk dengan konflik identitas dan isu furu’iyah (cabang), sementara penjajah memperkuat cengkeramannya. Kritik atas kondisi ini bukan sekadar nostalgia sejarah, tapi refleksi atas pola perpecahan yang masih relevan. Ketika narasi persatuan digantikan oleh perdebatan identitas dan sektarianisme, maka semangat kemerdekaan pun terkikis. Bangsa yang besar seharusnya belajar dari sejarah, bukan mengulanginya dalam bentuk baru yang lebih halus.

Jika terus menerus membahas isu remeh temeh, lantas apa bedanya kita dengan Snouck Hurgronje? Apakah kita juga mau mewarisi kebiadaban Belanda. Sudahlah, hentikan narasi melalui video atau tulisan yang terlihat jauh dari kata “kemajuan”.

Sudah cukup waktu kita terbuang untuk debat kusir yang tidak menghasilkan apa-apa. Saatnya ormas-ormas Islam berlomba menghadirkan solusi, bukan kontroversi. Jadilah pelita di tengah kegelapan, bukan bara api yang menyulut perpecahan. Umat butuh pemimpin yang merangkul, bukan yang menghakimi. Butuh penggerak yang bekerja, bukan penceramah yang hanya bicara.

Kini, mari kita hentikan drama identitas dan fokus pada satu hal yang jauh lebih penting: memberdayakan umat. Karena pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan siapa yang paling vokal dalam berdebat, tapi siapa yang paling nyata dalam bergerak.

Continue Reading

Sportechment

Ruben Onsu Putuskan Mualaf, Raffi Ahmad: Semoga Istiqomah

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Raffi Ahmad mengungkapkan rasa syukur dan memberikan dukungan penuh kepada sahabatnya, Ruben Onsu, yang baru saja memeluk agama Islam dengan mengucap dua kalimat syahadat. Dalam unggahannya pada 4 April 2025, Raffi menyampaikan doa terbaik untuk Ruben.

“Alhamdulillah, semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah dan kekuatanNya untuk Ruben dalam menjalankan langkah barunya sebagai seorang muslim,” kata Raffi dalam postingan tersebut.

Raffi juga membagikan momen kebersamaan dirinya dan sang istri saat bertemu dengan Ruben Onsu di momen Lebaran. Dalam foto yang diunggah, Ruben yang berada diapit pasangan suami istri tersebut tampak tersenyum bahagia.

“Semoga keberkahan selalu menyertai perjalanan hidup yang baru dengan penuh kebaikan. Amin YRA,” ujar Raffi menambahkan doa untuk Ruben agar selalu istiqomah dalam menjalani jalan hidupnya yang baru sebagai seorang muslim.

Kabar mengenai keislaman Ruben Onsu mulai mencuat sejak awal tahun 2025, seiring kedekatannya dengan aktris dan politikus Desy Ratnasari. Pada momen Idul Fitri, tepatnya pada 31 Maret 2025, Ruben mengumumkan keputusannya untuk menjadi mualaf.

Ruben Onsu juga menyebutkan dalam unggahannya bahwa Habis Usman bin Yahya, seorang pemuka agama, adalah yang memualafkannya.

Dalam pernyataannya, Ruben meminta doa dari para pengikutnya agar ia dapat istiqomah dalam menjalankan imannya yang baru sebagai seorang muslim.

Continue Reading

Sportechment

Film Waktu Maghrib 2 Siap Tayang di Layar Lebar, Kapan?

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Setelah sukses dengan film pertamanya pada 2023 lalu, Waktu Maghrib, Rapi Films kini siap menghadirkan sekuel yang telah ditunggu-tunggu, Waktu Maghrib 2.

Film horor yang kembali disutradarai oleh Sidharta Tata ini akan tayang di bioskop mulai 28 Mei 2025.

Produser eksekutif Sunil G. Samtani menjelaskan, respons positif terhadap film pertama yang mengajarkan anak-anak untuk tidak bermain di waktu maghrib menjadi dorongan untuk melanjutkan cerita tersebut.

“Kami menerima banyak ulasan positif, terutama yang mengatakan bahwa film ini punya pesan penting untuk anak-anak. Itu menjadi alasan kami untuk melanjutkan cerita ini,” kata Sunil dalam keterangannya, Sabtu (5/4).

Tanggal tayang dan poster resmi Waktu Maghrib 2 telah diumumkan melalui akun media sosial @rapifilm.

Film ini kembali menggandeng beberapa produser ternama, di antaranya Gope T. Samtani, dan diproduksi oleh Rapi Films bekerja sama dengan Sky Media, Rhaya Flicks, Legacy Pictures, dan Kebon Studio. Skenario ditulis oleh Khalid Kashogi, Bayu Kurnia, dan Sidharta Tata.

Dalam sekuel ini, pemain muda seperti Omar Daniel, Anantya Kirana, Sulthan Hamonangan, Ghazi Alhabsyi, Muzakki Ramdhan, Sadana Agung, Nopek Novian, Bagas Pratama Saputra, dan Fita Anggriani akan kembali hadir.

Waktu Maghrib 2 mengisahkan kejadian 20 tahun setelah teror yang dialami Adi dan kawan-kawannya di Jatijajar pada film pertama. Kali ini, Jin Ummu Sibyan kembali meneror anak-anak di desa Giritirto. Yogo, Dewo, Wulan, dan lima teman mereka terlibat dalam keributan pertandingan sepak bola.

Setelah kalah, mereka bergegas pulang ke desa pada waktu maghrib, tanpa sadar mengucapkan sumpah yang membangkitkan bencana serupa yang terjadi di Jatijajar. Di tengah hutan yang dingin, Ummu Sibyan merasuki salah satu dari mereka dan memburu nyawa anak-anak tanpa ampun.

Sunil G. Samtani juga menambahkan, “Karakter-karakter dalam sekuel ini akan lebih beragam dan pasti akan menawarkan pengalaman horor yang lebih mendalam, menghibur, dan menegangkan.”

Dengan alur yang semakin menegangkan dan suasana yang lebih gelap, Waktu Maghrib 2 menjanjikan pengalaman horor yang tak terlupakan bagi para penonton.

Continue Reading

News

Tingginya Arus Mudik Lebaran, WFA Diperpanjang hingga 8 April

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi, mengungkapkan bahwa pemerintah memutuskan untuk memperpanjang masa kerja dari mana saja (Work From Anywhere/WFA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga 8 April 2025.

Keputusan ini diambil untuk mengantisipasi tingginya arus balik mudik yang masih terlihat hingga H+2 Lebaran 2025, pada Selasa (2/4).

“Memang setelah H+2, tepatnya pada tanggal 3 April, kami melihat masih ada peningkatan arus mudik. Oleh karena itu, kami memperpanjang WFA,” kata Dudy saat meninjau Terminal Giwangan, Kota Yogyakarta, pada Sabtu (5/4).

Dudy menjelaskan bahwa berdasarkan analisis, diperkirakan tingkat perjalanan balik mudik akan tetap tinggi, sehingga perpanjangan WFA dianggap perlu untuk meratakan distribusi lalu lintas dan memastikan pelayanan publik tetap berjalan dengan lancar.

“Kami menilai bahwa perpanjangan WFA diperlukan agar arus balik tidak menumpuk dan dapat diurai dengan lebih baik. Harapannya, kepadatan lalu lintas dapat dikendalikan agar masyarakat dapat menikmati perjalanan pulang dengan nyaman,” tambah Dudy.

Sebelumnya, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) juga mengeluarkan keputusan untuk memperpanjang masa WFA bagi ASN hingga 8 April 2025, sesuai dengan Surat Edaran Menteri PANRB No. 3 Tahun 2025 yang ditandatangani pada Jumat (4/4).

Selain perpanjangan WFA, Kementerian Perhubungan juga berupaya mendukung kelancaran arus balik dengan menyediakan layanan mudik gratis menggunakan angkutan umum. Langkah ini diambil untuk mengurangi kepadatan kendaraan pribadi dan memastikan keselamatan pemudik, khususnya pengendara sepeda motor.

Dudy menambahkan, pemerintah akan terus memantau situasi pasca-lebaran, dengan puncak arus balik diperkirakan terjadi pada Sabtu (6/4). Evaluasi terhadap pelaksanaan mudik Lebaran tahun ini rencananya akan dilakukan setelah periode arus balik selesai.

Continue Reading

Ruang Sujud

Ghuluw dalam Ibadah: Ketika Semangat Beragama Menyimpang dari Tuntunan

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Dalam kehidupan beragama, semangat tinggi adalah anugerah yang perlu disyukuri. Banyak orang berlomba-lomba memperbanyak ibadah, mengikuti kajian, memperdalam ilmu agama, dan berusaha menjadi Muslim yang taat. Namun, tidak semua semangat beragama mengarah pada kebaikan. Ketika seseorang melampaui batas yang ditetapkan syariat, meski dengan niat baik, maka ia telah jatuh dalam jebakan ghuluw—sikap berlebihan atau ekstrem dalam agama. Ghuluw dalam ibadah seringkali tidak disadari, padahal dampaknya bisa sangat merusak, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat.

Makna Ghuluw dan Bahayanya

Ghuluw secara bahasa berarti melampaui batas. Dalam konteks agama, ia berarti berlebih-lebihan dalam menjalankan ajaran Islam, baik dalam keyakinan maupun praktik. Dalam hal ibadah, ghuluw bisa muncul ketika seseorang memaksakan diri menjalankan ritual di luar batas kemampuan atau menambahkan ritual-ritual baru yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Yang membuat ghuluw berbahaya adalah karena ia sering datang dari niat yang mulia, tetapi dilakukan tanpa ilmu dan tanpa meneladani Rasulullah SAW.

Islam adalah agama pertengahan yang menolak segala bentuk ekstremisme, termasuk dalam ibadah. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa: 171: _

Continue Reading

Ruang Sujud

Ghuluw dalam Dakwah: Ketika Kebenaran Dibela dengan Cara yang Salah

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Dakwah adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Ia merupakan aktivitas mulia yang dijalankan oleh para nabi dan dilanjutkan oleh para ulama serta umat Islam. Tujuan dakwah adalah mengajak manusia kepada jalan Allah dengan hikmah, kasih sayang, dan keteladanan. Namun dalam praktiknya, tak jarang dakwah justru dilakukan dengan cara yang keras, memaksa, bahkan menyakiti. Inilah yang disebut dengan ghuluw dalam dakwah — ketika semangat menyebarkan kebenaran justru dibungkus dengan sikap ekstrem dan melampaui batas.

Dakwah Itu Mengajak, Bukan Memaksa

Islam datang bukan untuk menindas, tetapi untuk membebaskan. Dalam QS. Al-Baqarah: 256, Allah menegaskan: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama…” Ayat ini menjadi landasan bahwa dakwah tidak boleh dilakukan dengan tekanan atau kekerasan. Sebab, hidayah adalah hak prerogatif Allah. Tugas seorang da’i hanyalah menyampaikan, bukan memastikan orang lain menerima.

Sayangnya, sebagian orang terjebak dalam semangat membela agama dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Rasulullah. Mereka merasa harus ‘menang’ dalam debat, menghardik orang yang dianggap salah, atau bahkan mencaci maki mereka yang berbeda pemahaman. Ini adalah bentuk ghuluw dalam dakwah. Sebuah ironi, karena niatnya membela kebenaran, namun caranya justru menjauhkan orang dari kebenaran itu sendiri.

Rasulullah: Teladan dalam Dakwah yang Lembut

Ketika berdakwah, Rasulullah SAW dikenal sangat lembut dan sabar, bahkan terhadap orang-orang yang mencelanya. Dalam banyak riwayat, beliau tidak membalas makian dengan makian, atau kekerasan dengan kekerasan. Di Thaif, ketika dilempari batu oleh penduduk setempat, Rasulullah justru berdoa agar mereka diberi hidayah, bukan azab.

Dalam QS. An-Nahl: 125, Allah memerintahkan:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”
Ayat ini menjadi prinsip utama dalam dakwah: menggunakan hikmah (kebijaksanaan), mau’izhah hasanah (nasihat yang indah), dan mujadalah bil-lati hiya ahsan (berdebat dengan cara yang terbaik). Maka, jika dakwah dilakukan dengan hujatan, teriakan, dan ancaman, sesungguhnya ia telah keluar dari metode yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

Ghuluw: Ketika Dakwah Menjadi Alat Menyalahkan

Ciri khas ghuluw dalam dakwah adalah ketika seorang da’i merasa paling benar sendiri. Ia mudah mengkafirkan, memvonis sesat, atau bahkan menuduh munafik siapa pun yang tidak sepaham. Tidak ada ruang untuk perbedaan pendapat. Padahal, para ulama sejak dahulu sangat menghormati perbedaan dalam hal ijtihad dan pemahaman.

Sikap seperti ini hanya akan melahirkan perpecahan di tengah umat. Alih-alih membuat orang tertarik kepada Islam, ghuluw malah membuat citra Islam menjadi menakutkan. Sebagian orang bahkan akhirnya antipati terhadap agama karena trauma disalahkan atau diintimidasi atas nama dakwah.

Mengapa Ghuluw dalam Dakwah Terjadi?

Ada beberapa penyebab mengapa seseorang bisa terjebak dalam ghuluw saat berdakwah. Pertama, kurangnya pemahaman agama yang utuh. Banyak yang belajar agama secara instan, tanpa bimbingan guru, dan hanya dari potongan-potongan ceramah atau artikel. Kedua, semangat yang meluap-luap tapi tidak dibingkai oleh hikmah. Ketiga, adanya pengaruh lingkungan atau kelompok yang menanamkan ideologi fanatik.

Kadang, ghuluw muncul dari rasa frustrasi terhadap kondisi umat yang dianggap jauh dari Islam. Namun, solusi dari keterpurukan umat bukanlah kemarahan atau cacian, melainkan kerja dakwah yang sabar, sistematis, dan berkelanjutan.

Kelembutan adalah Senjata Dakwah yang Terkuat

Lihatlah bagaimana Nabi Musa AS diutus kepada Fir’aun, seorang tiran yang paling kejam dalam sejarah. Allah tetap memerintahkan Musa dan Harun untuk berkata dengan lembut: “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43–44)

Jika kepada Fir’aun saja harus dengan kelembutan, apalagi kepada sesama Muslim atau masyarakat biasa yang belum memahami Islam dengan benar. Kelembutan tidak berarti lemah, tetapi ia adalah strategi jitu agar hati manusia bisa tersentuh dan terbuka terhadap kebenaran.

Menjadi Da’i yang Bijak dan Rendah Hati

Seorang da’i harus membangun sikap tawadhu (rendah hati), karena sejatinya ia bukan pemilik kebenaran. Ia hanyalah perantara. Jika dakwah dilakukan dengan niat ikhlas dan metode yang lembut, insyaAllah akan lebih banyak hati yang tersentuh.

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata, “Pendapatku benar, namun bisa saja salah. Pendapat orang lain salah, namun bisa saja benar.” Ungkapan ini mencerminkan keluasan hati dan kerendahan diri dalam menyampaikan kebenaran. Dakwah bukan ajang pamer ilmu atau perang ego, tapi tugas suci menyelamatkan manusia.

Penutup

Ghuluw dalam dakwah adalah bentuk penyimpangan dari semangat beragama yang tidak dibingkai dengan hikmah dan akhlak. Meskipun niatnya baik, namun ketika metode yang dipakai adalah kekerasan, pemaksaan, dan penghakiman, maka dampaknya bisa sangat merusak. Islam adalah agama yang mengajarkan dakwah dengan kasih sayang, bukan kemarahan.

Marilah kita belajar dari Rasulullah SAW — seorang da’i yang paling sukses dalam sejarah manusia — yang membangun perubahan dengan kelembutan, kesabaran, dan keteladanan. Dakwah bukan tentang siapa yang paling lantang, tapi siapa yang paling sabar dan paling mampu menyentuh hati manusia.

Continue Reading

News

Donald Trump Bakal Kirim Ribuan Senapan Serbu ke Israel

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump akan mengirimkan lebih dari 20.000 senapan serbu ke Israel.

Pengiriman senjata ini sebelumnya sempat ditunda oleh pemerintahan Joe Biden karena kekhawatiran akan digunakan oleh pemukim Yahudi ekstremis.

Dokumen yang diperoleh Reuters menyebutkan bahwa Departemen Luar Negeri AS memberi notifikasi penjualan ke Kongres pada 6 Maret.

Nilai penjualan senjata tersebut mencapai 24 juta dolar AS dan akan digunakan oleh Kepolisian Nasional Israel.

Meski tergolong kecil dibandingkan bantuan militer lain, penjualan ini menarik perhatian karena sensitivitas penggunaannya.

Pemerintahan Biden sebelumnya menunda pengiriman karena khawatir senjata itu dipakai untuk menyerang warga Palestina di Tepi Barat.

Presiden Trump langsung mencabut sanksi terhadap pemukim Yahudi Israel pada hari pertama menjabat kembali.

Langkah Trump tersebut berlawanan dengan kebijakan pemerintah AS sebelumnya yang lebih hati-hati terhadap pemukim Yahudi.

Sejak pencabutan sanksi itu, pemerintahan Trump mulai menyetujui kembali berbagai penjualan senjata ke Israel.

Pengiriman senjata kali ini menjadi bagian dari kebijakan baru Trump yang pro-Israel secara terang-terangan.

Senjata yang dikirim adalah senapan serbu buatan Amerika Serikat yang diduga bisa memperburuk konflik di Tepi Barat.

Tepi Barat adalah wilayah pendudukan yang sering menjadi lokasi kekerasan antara pemukim Yahudi dan warga Palestina.

Kelompok hak asasi manusia telah lama memperingatkan soal dampak buruk pengiriman senjata ke wilayah konflik tersebut.

Penjualan senjata ini tetap dilakukan meski ada kekhawatiran soal pelanggaran hak asasi manusia.

Notifikasi kepada Kongres menyebut bahwa keputusan penjualan mempertimbangkan faktor politik, militer, ekonomi, dan hak asasi manusia.

Kebijakan baru ini memperkuat dukungan militer AS terhadap Israel meski menuai kritik dari berbagai pihak.

Continue Reading

Ruang Sujud

Membedakan Antara Keteguhan dan Ghuluw dalam Beragama

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Dalam kehidupan beragama, keteguhan adalah sikap yang mulia. Ia mencerminkan kesungguhan, kesabaran, dan komitmen seorang Muslim dalam menjalankan syariat Allah. Orang yang teguh dalam beragama tidak mudah tergoyahkan oleh godaan dunia, tekanan sosial, atau ujian kehidupan. Namun di sisi lain, ada sikap yang sekilas mirip dengan keteguhan, tapi sebenarnya adalah bentuk penyimpangan: ghuluw, atau sikap berlebihan dalam beragama. Memahami perbedaan antara keduanya sangat penting agar kita tidak terjebak dalam semangat keagamaan yang justru menjauh dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Keteguhan: Komitmen yang Proporsional

Keteguhan dalam beragama (tsabat) adalah cermin dari keimanan yang kuat. Ia lahir dari pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam dan diwujudkan dalam sikap konsisten menjalankan ibadah, menjauhi maksiat, serta tetap berada di jalan kebenaran meskipun dalam kondisi sulit. Seorang Muslim yang teguh tidak mudah menyerah atau tergoda untuk meninggalkan prinsip agamanya.

Keteguhan ini bersumber dari ilmu, disertai dengan kebijaksanaan dan sikap tawadhu. Ia tidak memaksakan kepada orang lain, tidak merasa paling benar, dan tidak mudah menghakimi. Contohnya adalah para sahabat Nabi yang tetap menjalankan shalat meski dalam medan perang, atau kisah Bilal bin Rabah yang tetap menyebut “Ahad, Ahad” meski disiksa. Keteguhan seperti ini adalah bentuk keimanan yang sejati.

Ghuluw: Semangat yang Melampaui Batas

Ghuluw berarti berlebih-lebihan atau melampaui batas dalam memahami dan mengamalkan agama. Dalam konteks ini, ghuluw bukan berarti lebih rajin atau lebih semangat semata, tapi sikap ekstrem yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Contohnya adalah ketika seseorang memaksakan diri untuk puasa setiap hari tanpa henti, shalat malam sepanjang malam hingga meninggalkan keluarga, atau mengharamkan hal-hal yang sebenarnya mubah hanya demi terlihat “lebih religius”.

Rasulullah SAW sendiri sangat memperingatkan bahaya ghuluw. Beliau bersabda: “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw dalam agama. Karena sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah karena ghuluw mereka dalam agama.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Ghuluw bisa membuat seseorang menjadi tidak proporsional. Ia menilai kesalehan hanya dari ibadah ritual yang banyak, namun melupakan keseimbangan dan tuntunan sunnah. Ia bisa menjadi keras kepada diri sendiri dan kepada orang lain, bahkan merasa paling benar hingga mudah menyalahkan pihak lain yang berbeda.

Titik Batas antara Keteguhan dan Ghuluw

Perbedaan utama antara keteguhan dan ghuluw terletak pada niat, pemahaman, dan cara penerapan. Keteguhan lahir dari pemahaman yang utuh dan cinta kepada Allah, sedangkan ghuluw sering kali lahir dari ketidaktahuan atau sikap emosional tanpa dasar ilmu. Keteguhan menciptakan ketenangan dan toleransi, sementara ghuluw melahirkan ketegangan dan pertentangan.

Keteguhan juga senantiasa mengikuti contoh Rasulullah SAW. Beliau tidak hanya menjadi panutan dalam ibadah, tetapi juga dalam cara bersikap kepada keluarga, masyarakat, dan orang-orang yang belum mengenal Islam. Dalam sebuah riwayat, ketika tiga sahabat datang dan menyatakan ingin lebih rajin ibadah melebihi Nabi—dengan puasa tanpa henti, shalat malam terus-menerus, dan tidak menikah—Rasulullah justru menegur mereka. Beliau bersabda: “Aku lebih bertakwa kepada Allah dari kalian, tapi aku shalat dan tidur, puasa dan berbuka, dan aku juga menikah. Barang siapa membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa mengikuti Nabi secara seimbang lebih utama daripada semangat yang berlebihan namun menyimpang.

Dampak Negatif Ghuluw dalam Beragama

Ghuluw bukan hanya membahayakan individu, tapi juga masyarakat. Seseorang yang terlalu ekstrem dalam menjalankan agama bisa mengalami kelelahan spiritual, merasa kecewa jika target ibadahnya tak tercapai, atau bahkan mengalami krisis iman. Ia juga cenderung memandang orang lain sebagai kurang baik, sehingga mudah menyalahkan, memutus silaturahmi, dan menciptakan perpecahan.

Di level sosial, ghuluw bisa melahirkan kelompok-kelompok eksklusif yang merasa paling benar dan memonopoli kebenaran agama. Hal ini pernah terjadi dalam sejarah Islam, ketika munculnya kelompok Khawarij yang sangat ekstrem dalam menilai sesama Muslim hingga mudah mengkafirkan. Padahal Islam sangat menjunjung prinsip kasih sayang, adil, dan toleransi dalam perbedaan.

Menjadi Muslim yang Teguh Tanpa Ghuluw

Menjadi Muslim yang teguh adalah harapan setiap orang beriman. Namun, keteguhan itu harus disertai dengan ilmu, pemahaman yang lurus, dan akhlak yang mulia. Kita perlu terus belajar agar semangat beragama tidak berubah menjadi sikap keras, eksklusif, atau fanatik buta.

Islam mengajarkan prinsip wasathiyah (moderat), yakni berada di tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan dan tidak meremehkan. Dalam QS. Al-Baqarah: 143, Allah menyebut umat Islam sebagai “ummatan wasathan” — umat yang seimbang. Inilah karakter yang harus kita jaga dalam menjalani agama ini.

Bersikap teguh bukan berarti kaku, dan menjadi lembut bukan berarti lemah. Seorang Muslim yang teguh tetap bisa bersikap santun, toleran, dan lapang dada. Ia menghargai perbedaan, tetapi tetap kokoh dalam prinsip. Ia tidak memaksakan, tapi menginspirasi. Ia tidak menghina, tapi mendoakan.

Penutup

Perjalanan spiritual seorang Muslim harus dilandasi dengan ilmu, keseimbangan, dan keteladanan dari Rasulullah SAW. Keteguhan dalam beragama adalah keutamaan, tapi ghuluw adalah penyimpangan. Memahami perbedaan antara keduanya adalah bagian dari hikmah dan kedewasaan dalam berislam.

Mari kita jaga semangat beragama kita agar tetap berada dalam koridor syariat. Jangan sampai niat baik berubah menjadi tindakan ekstrem yang tidak dicontohkan oleh Nabi. Semoga kita termasuk orang-orang yang teguh dalam iman, lurus dalam amalan, dan bijak dalam menjalani kehidupan beragama.

Continue Reading

Sportechment

Timnas Indonesia U-17 Permalukan Korea Selatan, Berkat Gol Penalti Evandra

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Timnas U-17 Indonesia berhasil meraih kemenangan penting dengan mengalahkan Timnas U-17 Korea Selatan 1-0 pada laga penyisihan Grup C Piala Asia U-17 2025 yang digelar di Prince Abdullah Al Faisal Stadium, Jumat (4/4).

Gol tunggal Indonesia dicetak oleh Evandra Florasta melalui eksekusi penalti pada menit ke-90+3.

Pada babak pertama, Indonesia hampir mencetak gol lebih awal lewat Mierza Firjatullah yang berhadapan langsung dengan kiper Korea, Park Dohun, pada menit ke-14. Namun, peluang tersebut berhasil digagalkan setelah bola berhasil direbut oleh Park Dohun.

Beberapa saat kemudian, Korea Selatan memiliki kesempatan emas melalui Kim Yegeon pada menit ke-17, namun tembakannya berhasil diamankan oleh kiper Dafa Al Gasemi.

Indonesia lebih banyak bermain bertahan di babak pertama dan mengandalkan serangan balik cepat. Sementara itu, Korea Selatan mencoba memanfaatkan tendangan dari luar kotak penalti, tetapi usaha mereka belum membuahkan hasil.

Pada menit ke-37, Indonesia mendapatkan peluang melalui penalti setelah handball oleh Soo Yoonwoo, bek Korea Selatan. Eksekusi pertama Evandra Florasta sempat gagal, namun ia berhasil memanfaatkan bola rebound dan menceploskannya ke gawang, membawa Indonesia unggul 1-0.

Memasuki babak kedua, Korea Selatan langsung memberikan tekanan. Ji Geon Young mencoba melepaskan tembakan pada menit ke-55, tetapi bola melebar dari gawang Indonesia.

Beberapa pergantian pemain terjadi akibat kram yang dialami oleh pemain kedua tim hingga menit ke-60. Pada menit ke-67, Jim Geongyoung memiliki peluang dari luar kotak penalti, namun tendangannya dapat ditepis oleh kiper Dafa.

Pada menit ke-70, Hang Woo-sik mendapatkan bola liar di depan gawang Indonesia, tetapi tendangannya masih melebar tipis. Korea Selatan terus berusaha menekan, namun percobaan-percobaan dari Byeongchan dan Park Seo-joon pada menit ke-81 dan 85 masing-masing masih melambung dan melebar dari sasaran.

Skor 1-0 untuk Indonesia bertahan hingga akhir pertandingan meskipun Korea Selatan terus menyerang. Kemenangan ini membawa Timnas U-17 Indonesia meraih tiga poin penuh di fase grup.

Susunan Pemain:

Timnas U-17 Korea Selatan (4-4-2):
Park Dohun; Lim Yechan (Jang Woo-Sik 60′), Koo Hyeonbin, So Yoonwoo, Kim Minchan; Oh Haram (Jang Woo-Sik 60′), Kim Jihyuk (Kim Ji-Seong 65′), Kim Yegeon (Park Seo-joon 84′), Park Byeongchan; Jim Geongyoung; Jung Heejung (Jeong Hyeon-Ung 65′).
Pelatih: Back Kitae.

Timnas U-17 Indonesia (5-3-2):
Dafa Al Gasemi; Evandra Florasta, Daniel Afrido (Dafa Zaidan 90+6′), Putu Panji, Mathew Baker, Fabio Azkairawan; Zahaby Gholy (Fandi Ahmad 45′, Putu Ekayana 90+6′), Muhamad Al Gazani, Nazriel Alfaro (Ilham Romadhona 77′); Fadly Alberto, Mierza Firjatullah (Rafi Rasyiq 58′).
Pelatih: Nova Arianto.

Continue Reading

Sportechment

Ragnar Oratmangoen Donasi Anak-anak Gaza di Momen Lebaran Tuai Pujian Netizen

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Pemain Timnas Indonesia, Ragnar Oratmangoen, baru-baru ini mendapatkan pujian luas dari netizen atas tindakan kemanusiaannya. Di media sosial, tersebar sepanduk yang menunjukkan dukungannya untuk anak-anak di Gaza melalui donasi yang ia berikan.

Oratmangoen, yang bermain untuk FCV Dender, bekerja sama dengan Al Akhirah. Nl, sebuah organisasi nirlaba yang aktif memberikan bantuan kemanusiaan di Palestina dan Uganda.

Meskipun tidak hadir langsung di Gaza, donasi yang diberikan oleh Ragnar membantu menyelenggarakan acara untuk anak-anak di sana pada hari kedua Idul Fitri.

“Meski dalam situasi yang sulit, kami berhasil memberikan kebahagiaan kepada anak-anak di Gaza. Kami menyediakan hadiah, permen, minuman, dan kegiatan untuk mereka, dengan harapan dapat sedikit meringankan penderitaan dan membuat mereka kembali merasakan kebahagiaan menjadi anak-anak,” tulis Al Akhirah. Nl dalam unggahan videonya.

Organisasi tersebut juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada Ragnar Oratmangoen atas kontribusi dan dukungannya. Mereka berharap dapat melanjutkan kolaborasi di masa mendatang.

Ragnar Oratmangoen dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan dan peduli terhadap sesama.

Di usia 15 tahun, ia memutuskan untuk menjadi mualaf dan sejak saat itu, ia tak pernah berhenti menunjukkan kepeduliannya terhadap saudara-saudara seimannya, termasuk Palestina. Ini bukan pertama kalinya ia memberikan dukungan konkret kepada Palestina dalam berbagai kesempatan.

Sikap kepedulian Ragnar menjadi contoh yang patut dicontoh, khususnya di momen Idul Fitri, untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



Review2 minutes ago

Stop Bahas Identitas, Ayo Berdaya!

Sportechment4 minutes ago

Ruben Onsu Putuskan Mualaf, Raffi Ahmad: Semoga Istiqomah

Sportechment39 minutes ago

Film Waktu Maghrib 2 Siap Tayang di Layar Lebar, Kapan?

News4 hours ago

Tingginya Arus Mudik Lebaran, WFA Diperpanjang hingga 8 April

Ruang Sujud4 hours ago

Ghuluw dalam Ibadah: Ketika Semangat Beragama Menyimpang dari Tuntunan

Ruang Sujud8 hours ago

Ghuluw dalam Dakwah: Ketika Kebenaran Dibela dengan Cara yang Salah

News10 hours ago

Donald Trump Bakal Kirim Ribuan Senapan Serbu ke Israel

Ruang Sujud12 hours ago

Membedakan Antara Keteguhan dan Ghuluw dalam Beragama

Sportechment20 hours ago

Timnas Indonesia U-17 Permalukan Korea Selatan, Berkat Gol Penalti Evandra

Sportechment20 hours ago

Ragnar Oratmangoen Donasi Anak-anak Gaza di Momen Lebaran Tuai Pujian Netizen

News21 hours ago

Hadapi Arus Balik Lebaran, Korlantas Polri Bakal Siapkan Strategi Ini

News22 hours ago

Balas Kebijakan Trump, China Kenakan Tarif Impor AS Sebesar…

Sportechment23 hours ago

Wendy dan Yeri Resmi Cabut dari SM Entertainment, Tetap Lanjutkan Karier di Red Velvet

News23 hours ago

Selamatkan Bahasa Daerah: Aksi Nyata Generasi Muda

News1 day ago

Daftar Paspor Terkuat di Dunia, Indonesia Tertinggal dengan Negara Tetangga

Sportechment1 day ago

Red Sparks vs Pink Spiders: Megawati Cs Siap Bangkit di Game Ketiga Final Liga Voli Korea

Sportechment1 day ago

Pelatih Korsel Waspadai Kekuatan Timnas Indonesia U-17 di Piala Asia U-17 2025

Review1 day ago

Warung Madura, Jawaban Lokal atas Hegemoni Global

Review1 day ago

Hati-hati Upload Photo dan Narasi via Medsos di Era Post Truth

Review1 day ago

Program Sekolah Penggerak Dibubarkan, Apa Selanjutnya?