Review
Abdul Haris, Menjawab Tantangan Perguruan Tinggi Wujudkan Indonesia Emas 2045
SOROT matanya tajam, pandangannya jauh ke depan. Ia seperti meresapi sekaligus membayangkan tugas baru yang kini ada di pundaknya.
Saat Mendikbudristek, Nadim Makarim menyinggung soal tugasnya untuk mengakselerasi mutu pendidikan tinggi di negeri ini, ia terlihat mengangguk sembari berkata, siap!
Pun demikian ketika ia diminta untuk mendorong keberlanjutan Program Kampus Merdeka dan ketercapaian 8 Indikator Kinerja Utama, agar perguruan tinggi kita masuk dalam World Top University, ia juga kembali mengangguk tanda, siap.
“Saya harap Bapak Dirjen dapat memimpin penyelenggaraaan program prioritas ini dengan sebaik mungkin,” ujar Mas Nadiem.
Ya, namanya Abdul Haris, ia merupakan Guru Besar Geofisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Ia menggantikan Nizam yang sebelumnya menjabat sebagai Pelaksana Tugas [Plt.] Dirjen Diktiristek sebelumnya. Dilantik pada Jum’at [15/3/2024] di Auditorium Gedung A, Kompleks Kemendikbudristek, Senayan, Jakarta.
Ia lahir di Pemalang 54 tahun silam [21 September 1970], di tengah kehidupan dengan kultur agraris yang begitu kuat. Bersama lima saudaranya ia dibentuk menjadi pribadi yang disiplin dan bekerja keras.
Sang ayah mengajarkan arti penting mengejar cita-cita, meski setinggi langit sekalipun. Itulah mengapa setelah menyelesaikan sekolah SMA-nya, Abdul Haris merantau ke Jakarta di tahun 1988. Melanjutkan studi strata satunya di jurusan Fisika FMIPA Universitas Indonesia.
Hidupnya penuh kesederhanaan, namun disertai dengan keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalur penting untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan. Itulah mengapa, Abdul Haris tidak memilih bekerja setelah kuliah S1 nya kelar. Melainkan ia lanjutkan hingga strata dua.
“Merantaulah, niscaya akan kau dapatkan pengganti bagi orang yang kau tinggalkan. Berusahalah, karena nikmatnya hidup itu ada dalam usaha.” Petua bijak Imam Syafii ini nampaknya dijalankan Abdul Haris dengan baik. Selepas menyelesaikan sekolah masternya di FMIPA UI, ia lantas memutuskan untuk hijrah ke Kota Kiel, Jerman.
Dinamika dan pengalaman panjang yang ia dapat semasa kuliah di UI ternyata menjadi modal yang penting saat ia melanjutkan studi di Kota Kiel, Jerman. Abdul Haris pun memperoleh gelar doktor rerum naturalium dengan predikat cum laude di Program Studi geofisika University of Kiel, Jerman.
Sebagai bentuk syukur dan terimakasih terhadap jasa almamater, Abdul Haris lantas memutuskan untuk mengabdi sebagai dosen di FMIPA UI. Semua ilmu dan pengalaman yang diperoleh di Jerman ia praktikkan dengan baik. Lamat-lamat, karirnya pun meningkat bukan sekadar dosen, melainkan juga sebagai Dekan FMIPA selama dua periode [2014-2018 dan 2018-2022].
Sebelum akhirnya menjadi Direktur Jenderal Diktiristek, Abdul Haris sempat ditunjuk sebagai Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi hingga tahun 2020. Lalu lanjut menjadi Wakil rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan di tahun selanjutnya.
Terpilihnya Abdul Haris sebagai Dirjen Dikti, Riset, dan Teknologi tentu bukan tanpa sebab. Sosoknya selama ini dikenal telah membawa banyak perubahan di dunia pendidikan tinggi. saat menjadi Dekan FMIPA UI misalnya, Haris berhasil menambah fasilitas kesejahteraan. Sebanyak dua gedung laboratorium riset multidisiplin Pertamina-FMIPA UI juga berhasil didirikan dan hibah sebesar 7 miliar dari Sinar mas Group berhasil didapatkan untuk utilisasi gedung. Ada pula kerjasama dengan beberapa perusahaan, sepeti Schlumberger. Di bidang riset, haris membuat FMIPA sebagai penghasil publikasi terbesar kedua di UI sehingga berdampak pada peningkatan guru besar hingga 117 persen.

Hal lain yang sukses dilakukan Haris adalah pengelolaan SDM agar memiliki jiwa corps satuan yang kuat dengan mengembangkan ekosistem ilmiah untuk memantik para dosen agar berkarya, kreatif dan inovatif berbasis pembangunan berkelanjutan. Menurut Haris, inovasi adalah converting knowledge into money. Artinya, kata dia, riset-riset yang kita lakukan harus memberikan hasil produk pengetahuan dan memberikan dampak yang bisa berupa penemuan keilmuan maupun solusi bagi permasalahan masyarakat dan bangsa.
Pada kesempatan pisah sambut Dirjen Diktiristek di Gedung D Kompleks Kemendikbudristek, Abdul Haris menyampaikan bahwa dirinya siap melanjutkan beragam capaian yang sudah ditorehkan Dirjen Diktiristek sebelumnya. Dia juga akan melakukan akselerasi untuk menjawab tantangan pendidikan tinggi guna mewujudkan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Disinilah signifikansi dari apa yang disampaikan Abdul Haris soal valuasi knowledge. Karena Indonesia Emas 2045 merupakan visi besar, untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju dan berdaya saing tinggi pada tahun 2045. Untuk sampai ke visi ini, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi muda yang berkualitas dan berdaya saing.
Sementara saat ini, selain soal kesenjangan kualitas dan akses pendidikan, problemnya adalah kurangnya relevansi penelitian dan inovasi dengan kondisi real masyarakat. Dimana penelitian yang dilakukan perguruan tinggi kurang menghasilkan inovasi yang dapat diaplikasikan di tengah masyarakat.
Sederhananya, insan pendidikan tinggi kita selama ini lebih banyak duduk di menara gading. Mereka belum bisa seperti menara air, yang dapat mengalirkan air kemana pun.
News
Menempa Besi di Ruang Sunyi: Cetak Biru Pola Asuh yang Membentuk Maudy Ayunda
CERITA KECIL Maudy Ayunda bukanlah panggung sandiwara digital dimana jutaan jempol netizen bersekongkol mendikte takdirnya lewat kolom komentar. Tapi sebuah narasi tentang keberanian memilih, ketangguhan menghadapi kebaruan, kapasitas adaptasi tanpa kompromi.
Di balik binar lampu sorot panggung hiburan dan deretan jubah akademis universitas kelas dunia, ia adalah seonggok produk dari penempaan karakter besi nan konsisten. Keberhasilannya hari ini tidak turun begitu saja dari langit. Ia dirajut dari ruang-ruang sunyi masa kecil, dimana fondasi mentalitas anti-rapuh diletakan oleh tangan dingin orangtuanya sejak dini.
Lahir di Jakarta, sebuah kota megapolitan yang bising dan bergegas, Maudy kecil tumbuh dalam sebuah ekosistem keluarga yang tak kenal kata manja. Meski dikelilingi kecukupan materi, rumahnya bukanlah zona nyaman yang menidurkan daya juang.
Rumah adalah sebuah laboratorium mental. Sejak tangan-tangan mungilnya baru bisa menggenggam erat, sang ibu telah memberlakukan hukum kemandirian yang ketat. Tidak ada sistem rumah tangga yang boleh melayaninya untuk urusan pribadi.
Kita anak-anak seusianya bermanja-manja menunggu segala keperluan disiapkan, Maudy harus menyampul buku sekolahnya sendiri, menyemir sepatunya sendiri, dan mengambil segelas air minum dengan kakinya sendiri. Keistimewaan finansial tidak pernah diizinkan menjadi candu yang melemahkan otot-otot karakternya.
Namun, ujian adaptasi yang sesungguhnya datang menghantam ketika ia baru menginjak usia sekolah dasar. Di kelas dua, sebuah keputusan besar diambil oleh orang tuanya: memindahkannya dari kenyamanan sistem sekolah nasional ke sebuah sekolah internasional yang menggunakan kurikulum asing.
Hari pertama di sekolah baru itu berubah menjadi sebuah labirin yang menakutkan bagi seorang anak kecil. Ia terlempar ke dalam ruang kelas yang asing, di mana setiap bibir melafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris yang tak satu pun ia pahami.
Kesepian segera menyergap. Di sudut-sudut halaman bermain, ia menjadi penonton bisu yang terasing, terjebak dalam kebingungan bahasa yang mengisolasi batinnya. Saat itu, ada gemuruh hebat di kepalanya—sebuah perpaduan antara rasa rendah diri, ketakutan gagal, dan luka pada harga dirinya. Ia sempat ingin menyerah, menangis, dan kembali ke pelukan lingkungan lama yang ramah. Kulitnya belum cukup tebal untuk menghadapi dinginnya penolakan lingkungan baru.
Namun, di sinilah titik krusial di mana cetak biru ketahanan mentalnya diuji. Alih-alih meratap, Maudy kecil memilih untuk memeluk rasa tidak nyaman itu. Ia memaksa telinganya mendengar lebih tajam, matanya membaca lebih lama, dan lidahnya mengeja kosakata baru setiap malam. Kesepian di sekolah ia sulap menjadi bahan bakar untuk membangun sebuah benteng pertahanan baru dalam dirinya: penguasaan bahasa.
Kemampuan adaptasi yang berdarah-darah itu akhirnya menemui jangkar emosionalnya di dalam rumah. Melalui metode pengasuhan yang melampaui zamannya, sang ibu tidak pernah membiarkan Maudy menjadi robot penghafal nilai.
Setiap malam, meja makan di rumah mereka berubah menjadi ruang sidang kecil yang demokratis. Setiap kali Maudy meminta sesuatu atau dihadapkan pada sebuah pilihan hidup, sebuah pertanyaan retoris selalu menantangnya: “Mengapa kamu memilih itu? Apa alasan logismu?”Pertanyaan-pertanyaan itu menguliti setiap argumennya, memaksanya berpikir kritis, dan membentuk nalar problem-solving sejak dini. Ia dididik untuk tidak sekadar patuh pada otoritas, melainkan bertanggung jawab atas setiap inci keputusan yang ia ambil.
Titik balik pencapaiannya pun meledak ke permukaan ketika kedewasaan mulai menyapa. Dunia kemudian mengenal Maudy Ayunda bukan hanya sebagai wajah cantik di layar perak yang mahir berakting dan bernyanyi, melainkan sebagai anomali di industri hiburan tanah air.
Ketika ia diterima di Universitas Oxford untuk jurusan Philosophy, Politics, and Economics (PPE)—sebuah jurusan bergengsi yang terkenal angker—publik terperangah. Namun bagi Maudy, Oxford hanyalah laboratorium mental berikutnya. Kemampuan adaptasi tingkat tinggi yang ia pelajari saat menangis di kelas dua SD kembali ia gunakan untuk menaklukkan dinginnya tekanan akademis di Inggris. Tak cukup sampai di sana, ia melanjutkan pembuktiannya dengan meraih gelar ganda master dari Universitas Stanford.
Kini, gemuruh ketakutan di masa kecilnya telah menjelma menjadi suara perubahan yang didengar oleh jutaan orang. Di usianya saat ini, Maudy Ayunda telah bergeser dari seorang penjelajah ilmu menjadi seorang pembangun fondasi. Profesi terkininya sebagai aktris, pembicara isu pendidikan, serta investor bagi berbagai startup lokal mencerminkan kontribusi nyatanya bagi lingkungan sekitar. Ia menginvestasikan modal dan energinya untuk mendukung ekosistem kewirausahaan muda dan membuka jalan bagi akses pendidikan yang lebih kritis di Indonesia.
Ia membagikan filosofi hidupnya yang kokoh: bahwa pendidikan sejati bukanlah tentang seberapa banyak lembar ijazah yang kita kumpulkan, melainkan seberapa lentur kita mampu menekuk ego untuk belajar kembali saat dunia berubah.
Maudy Ayunda adalah bukti hidup bahwa anak yang adaptif tidak dilahirkan dari kemewahan fasilitas, melainkan ditempa dari disiplin kata, kemandirian rumah, dan keberanian menghadapi ketidakpastian sejak cerita kecilnya dimulai.
News
Toto Sugiri: Pekerja yang Tak Adaptif terhadap AI Berisiko Tergantikan
Adopsi AI bukan sekadar ancaman bagi pekerjaan, melainkan peluang meningkatkan produktivitas yang menuntut kesiapan pekerja dan dunia pendidikan.
Monitorday.com– Direktur Utama PT DCI Indonesia Tbk, Toto Sugiri, mengingatkan pekerja untuk mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pekerjaan sehari-hari. Ia menilai pekerja yang tidak mampu memanfaatkan AI berisiko tergantikan oleh mereka yang lebih adaptif terhadap teknologi. Pesan tersebut menegaskan bahwa kemampuan menggunakan AI semakin relevan dalam menghadapi perubahan dunia kerja.
Toto menyampaikan pandangannya dalam sebuah acara di The Kasablanka Hall, Jakarta, pada 13 Oktober 2026. Ia menekankan perlunya mempersiapkan generasi berikutnya agar mampu menggunakan AI, sembari memberikan ruang transisi bagi tenaga kerja yang saat ini sedang beradaptasi. Perubahan teknologi, menurut perspektif tersebut, tidak cukup dihadapi dengan kekhawatiran, tetapi membutuhkan peningkatan keterampilan secara berkelanjutan.
AI tidak harus dipandang sebagai teknologi yang semata-mata menghilangkan pekerjaan manusia. Dalam banyak konteks, teknologi ini dapat membantu mempercepat pekerjaan, mengolah informasi, dan meningkatkan ketepatan proses. Perubahan dari pembukuan manual menuju perangkat lunak menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi mengubah cara kerja tanpa selalu menghilangkan kebutuhan terhadap kemampuan manusia.
Toto juga menyoroti pentingnya akses terhadap pengetahuan. Ia membandingkan masa ketika mahasiswa harus mengandalkan buku teks dan fotokopi dengan era internet yang memungkinkan akses informasi lebih cepat. AI berpotensi melanjutkan perubahan tersebut dengan membantu manusia memahami informasi, menyusun analisis, dan mengeksplorasi berbagai alternatif penyelesaian masalah.
Namun, manfaat AI tidak muncul secara otomatis. Pengguna tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk memeriksa kebenaran informasi, memahami konteks, serta menentukan apakah hasil yang diberikan AI layak digunakan. Tanpa keterampilan tersebut, AI justru berisiko mempercepat penyebaran kesalahan dan menghasilkan keputusan yang kurang tepat.
Dalam sektor industri, peningkatan produktivitas juga bergantung pada pemilihan alat yang sesuai. Toto mencontohkan pekerjaan pemasangan kabel di proyek pusat data yang masih melibatkan sekitar 15 pekerja secara manual. Penggunaan alat penarik kabel bermotor dinilai dapat membantu pekerjaan menjadi lebih presisi dan efisien. Contoh ini menunjukkan bahwa transformasi teknologi tidak hanya berkaitan dengan AI generatif, tetapi juga pemanfaatan otomasi untuk memperbaiki proses kerja.
Bagi dunia pendidikan Indonesia, pandangan Toto membawa pesan penting. Pembelajaran AI perlu melampaui pengenalan aplikasi dan keterampilan menulis perintah atau prompt. Murid perlu dibekali kemampuan memecahkan masalah, literasi digital, pemahaman data, etika, dan kesadaran terhadap keterbatasan teknologi. Dengan demikian, mereka tidak sekadar menjadi pengguna AI, tetapi mampu menilai dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.
Tantangan berikutnya adalah memastikan proses adaptasi berlangsung secara adil. Perusahaan perlu menyediakan pelatihan, pendampingan, dan akses terhadap perangkat yang memadai. Pemerintah dan lembaga pendidikan juga perlu memperluas kesempatan belajar agar kesenjangan keterampilan digital tidak semakin besar. Pekerja yang belum terbiasa menggunakan AI seharusnya mendapatkan kesempatan meningkatkan kompetensi, bukan langsung dianggap tidak relevan.
Pada akhirnya, pesan Toto Sugiri menegaskan bahwa masa depan pekerjaan akan semakin dipengaruhi oleh kemampuan manusia berkolaborasi dengan teknologi. AI memang dapat mengotomatisasi sebagian tugas, tetapi dampaknya terhadap pekerjaan akan berbeda menurut jenis profesi, keterampilan, dan kesiapan organisasi. Karena itu, strategi terbaik bukan sekadar menggunakan AI sebanyak mungkin, melainkan mengetahui kapan teknologi membantu, kapan manusia harus mengambil alih, dan bagaimana memastikan produktivitas berjalan seiring dengan tanggung jawab.
Review
OpenAI dan Anthropic Berdebat soal Transparansi Keamanan AI
Evaluasi keamanan AI membutuhkan keterbukaan, tetapi perlindungan rahasia teknologi menimbulkan dilema tentang batas transparansi dan independensi audit.
Monitorday.com– Perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan transparansi keamanan dengan perlindungan rahasia teknologi. Reuters melaporkan pada 13 Oktober 2026 bahwa OpenAI dan Anthropic tengah membahas batas keterbukaan hasil evaluasi keamanan model AI yang dilakukan oleh pihak independen. Perdebatan ini menyoroti persoalan mendasar dalam industri AI: bagaimana memastikan teknologi yang semakin canggih dapat diawasi secara kredibel tanpa membuka informasi yang berpotensi disalahgunakan.
Pengujian independen berperan penting untuk mengidentifikasi kelemahan model AI sebelum atau selama teknologi tersebut digunakan secara luas. Evaluasi dapat mencakup potensi penyalahgunaan, kerentanan keamanan, kemampuan menghasilkan konten berbahaya, hingga risiko ketika model digunakan untuk menjalankan tugas kompleks. Temuan semacam ini diperlukan agar pengembang, regulator, dan masyarakat memiliki gambaran lebih jelas tentang risiko yang menyertai penggunaan AI.
Namun, keterbukaan hasil evaluasi tidak selalu sederhana. Laporan pengujian dapat mengungkap celah keamanan, teknik eksploitasi, atau kemampuan tertentu yang belum sepenuhnya dipahami. Jika informasi tersebut dipublikasikan tanpa pembatasan, pihak yang berniat jahat berpotensi memanfaatkannya. Di sisi lain, pembatasan yang terlalu luas dapat membuat publik kesulitan menilai apakah suatu model benar-benar aman.
Persoalan lain muncul ketika perusahaan pengembang diberi kesempatan memberikan masukan editorial atau meminta penyuntingan bagian tertentu sebelum laporan dipublikasikan. Perusahaan tentu memiliki kepentingan yang sah untuk melindungi rahasia dagang dan mencegah penyebaran informasi yang membahayakan keamanan. Akan tetapi, jika kewenangan penyuntingan terlalu besar, muncul risiko bahwa temuan yang tidak menguntungkan bagi perusahaan ikut dihilangkan atau diperlunak.
Di sinilah independensi evaluator menjadi sangat penting. Pihak penguji perlu memiliki kebebasan untuk menentukan metodologi, menjalankan pengujian, dan menyampaikan kesimpulan berdasarkan bukti. Perusahaan dapat memberikan tanggapan terhadap kesalahan faktual atau mengidentifikasi informasi sensitif, tetapi keputusan akhir mengenai substansi laporan semestinya tidak bergantung sepenuhnya pada pihak yang produknya sedang dinilai. Pemisahan peran ini membantu menjaga kepercayaan terhadap hasil evaluasi.
Tantangan tersebut juga berkaitan dengan perkembangan tata kelola AI secara global. Semakin luas penggunaan AI dalam layanan keuangan, pemerintahan, kesehatan, dan pendidikan, semakin besar kebutuhan terhadap mekanisme pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Organisasi pengguna tidak cukup hanya mengandalkan klaim pemasaran atau reputasi pengembang. Mereka memerlukan informasi tentang keterbatasan model, risiko penggunaan, perlindungan data, serta langkah mitigasi yang tersedia.
Bagi Indonesia, persoalan ini relevan ketika lembaga pemerintah, perbankan, dan institusi pendidikan mulai memanfaatkan AI untuk mendukung pekerjaan, analisis, pelayanan, dan pembelajaran. Pengadaan sistem AI perlu disertai penilaian risiko yang sesuai dengan konteks penggunaan. Dalam pendidikan, misalnya, perhatian tidak hanya tertuju pada akurasi jawaban, tetapi juga privasi murid, keamanan data, bias algoritma, dan kemungkinan keluaran AI menyesatkan pengguna.
Karena itu, pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah keterbukaan berlapis. Ringkasan hasil evaluasi, tingkat risiko, metodologi umum, dan langkah mitigasi dapat disampaikan kepada publik. Sementara itu, rincian teknis yang memungkinkan eksploitasi celah keamanan dapat dibatasi atau diberikan kepada regulator dan pihak yang berwenang. Pembatasan semacam ini perlu memiliki kriteria yang jelas agar tidak berubah menjadi alasan untuk menutup-nutupi kelemahan produk.
Pada akhirnya, perdebatan OpenAI dan Anthropic memperlihatkan bahwa keamanan AI tidak cukup ditentukan oleh kemampuan teknologinya. Tata kelola, independensi pengujian, dan akuntabilitas pengembang juga menjadi bagian penting dari keamanan itu sendiri. Transparansi bukan berarti seluruh informasi teknis harus dibuka tanpa batas, tetapi pembatasan informasi juga tidak boleh menghilangkan hak publik untuk mengetahui risiko yang relevan. Kepercayaan terhadap AI akan tumbuh ketika evaluasi dapat dilakukan secara independen, hasilnya dapat diperiksa, dan setiap pembatasan publikasi memiliki alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
News
Mengintip Pola Asuh Masa Kecil Peraih Nobel Matematika, Jacob Tsimerman
CERITA KECIL Jacob Tsimerman bukanlah sebuah roman picisan tentang keberuntungan atau keajaiban yang jatuh dari langit, melainkan sebuah manifertasi dari dedikasi mutlak dan ketangguhan menghadapi kegagalan.
Sebelum namanya diukir dengan tinta emas di atas plakat Fields Medal 2026 (Hadiah Nobel Matematika), ia hanyalah seorang bocah laki-laki biasa yang kerap terasing di hadapan deretan angka.
Kelahirannya di sebuah sudut sunyi tidak serta merta melahirkannya sebagai seorang anak ajaib yang memegang tongkat sihir kejeniusan. Sebaliknya, masa lalunya adalah sebuah laboratorium mental yang bising, penuh dengan coretan kegagalan, kebingungan, dan keputusan-keputusan besar yang mempertaruhkan kenyamanan sebuah keluarga demi sebuah obsesi yang saat itu belum memiliki nama.
Lahir dari keluarga imigran dengan latar belakang akademis yang sederhana, garis hidup Jacob berubah haluan secara ekstrem ketika ia baru menginjak usia 8 tahun. Ayahnya, seorang ilmuwan komputer yang pendiam, dan ibunya, seorang guru matematika sekolah menengah, melihat percikan yang tak biasa pada diri sang putra.
Sang ayah merasa jika potensi Jacob tidak akan tergali jika tetap berapa di tanah kelahirannya di Kazan, Rusia. Karena itu mereka pun mulai berkelana. Dari Rusia, ke Israel, lalu ke Toronto, Kanada. Jacob harus mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas.
Namun di Toronto, Kanada, tanah baru tempat mereka menancapkan akar kehidupan, Jacob tidak langsung menemukan karpet merah. Ia adalah anak imigran yang harus beradaptasi dengan dinginnya angin Amerika Utara, bahasa yang asing di lidah, dan lingkungan yang menuntutnya untuk memiliki kulit tebal agar tidak tergilas kerasnya persaingan.
Rumah mereka tidak dipenuhi kemewahan materi, melainkan tumpukan buku-buku teks tua pemberian sang ibu, yang menjadi satu-satunya jendela Jacob untuk melarikan diri dari kesepian masa kecilnya.
Titik nadir hidup Jacob kecil terjadi pada sebuah malam yang dingin saat ia menginjak usia dua belas tahun, sebuah fase ketika harga diri seorang anak laki-laki berada di titik paling rapuh. Ia baru saja pulang dari sebuah kompetisi matematika regional pertamanya di Kanada dengan kepala tertunduk. Ia gagal total.
Lembar soal geometri sore itu berubah menjadi monster yang mencabik-cabik kepercayaan dirinya. Bagi anak-anak lain, kekalahan memalukan seperti itu akan menjadi alasan yang cukup untuk mengunci buku dan melupakan matematika selamanya. Namun, di dalam kepala Jacob, yang bergemuruh bukanlah ratapan pasrah, melainkan sebuah pemberontakan batin. Jiwanya yang anti-rapuh menolak untuk takluk pada rasa malu.
Malam itu, ketika seluruh kota telah terlelap dan lampu-lampu rumah mulai dipadamkan, kamar Jacob menjelma menjadi medan pertempuran yang sunyi. Selama enam jam nonstop, tanpa jeda dan tanpa keluhan, bocah dua belas tahun itu memaku tubuhnya di atas kursi.
Dengan jemari yang gemetar memegang pensil, ia memeras otaknya hanya untuk menyelesaikan satu soal geometri tunggal yang telah menumbangkannya di ruang lomba. Keringat dingin menetes di atas kertas yang robek oleh hapusan yang berulang-ulang. Di sanalah, dalam kesendirian yang mencekam itu, Jacob menemukan karakter besinya.
Ketika jam dinding berdentang subuh dan solusi rumit itu akhirnya terpecahkan, ia tidak hanya menemukan jawaban matematika; ia menemukan takdirnya. Ia jatuh cinta pada rasa sakit proses memecahkan teka-teki.
Di balik keteguhan yang nyaris keras kepala itu, Jacob tidak berjalan sendirian. Ia beruntung memiliki jangkar emosional yang luar biasa kuat dalam diri kedua orang tuanya. Sang ibu dengan jeli mendidik Jacob menggunakan metode teka-teki logika kontekstual sejak usia tiga tahun, membangun fondasi berpikir tanpa pernah sekalipun memberikan tekanan untuk menjadi yang nomor satu.
Sementara sang ayah menjadi pelindung yang paling setia. Cerita yang kerap ditulis tentang masa kecil Jacob selalu menyertakan bayang-bayang sang ayah yang berdiri di luar ruang ujian yang dingin selama berjam-jam, membawa roti lapis daging sapi sederhana demi menjaga energi sang anak tetap menyala. Kehadiran orang tuanya yang suportif, yang memberikan autonomi penuh tanpa tuntutan ambisius, menjadi bahan bakar utama yang membuat mentalitas Jacob tetap sehat di tengah lingkungan kompetisi yang bertekanan tinggi.
Pengorbanan dan latihan spartan selama lima jam sehari pasca-tragedi kelas tujuh itu akhirnya mulai menampakkan hasil yang spektakuler. Di usia lima belas tahun, Jacob berhasil menyabet medali emas di International Mathematical Olympiad (IMO) 2003 di Tokyo, disusul dengan raihan nilai sempurna (Perfect Score) pada tahun berikutnya di Athena.
Gerbang pendidikan tinggi terbuka lebar saat ia baru berusia enam belas tahun, melompati batas usia normal demi menuntaskan gelar sarjananya di University of Toronto hanya dalam waktu dua tahun. Dunia mulai menyadari bahwa bocah yang dulu terduduk lesu di depan lembar soal geometri telah menjelma menjadi raksasa baru di panggung sains internasional.
Kini, setelah berhasil membawa pulang Fields Medal 2026 ke institusi Kanada untuk pertama kalinya dalam sejarah,Jacob Tsimerman tidak silau oleh lampu sorot panggung penghargaan. Kontribusi nyatanya kini didekasikan sepenuhnya untuk melatih dan menginspirasi generasi muda di universitas, meruntuhkan dogma bahwa matematika adalah momok yang menakutkan.
Filosofi hidupnya tetap sama sejak ia berusia dua belas tahun: bahwa kejeniusan sejati tidak diukur dari seberapa cepat seseorang menemukan jawaban, melainkan dari seberapa lama ia mampu bertahan dalam kegelapan ketidaktahuan sebelum akhirnya menemukan cahaya kebenaran. Jacob adalah bukti hidup bahwa sebuah kegagalan di masa kecil, jika disambut dengan ketekunan yang membaja, mampu melahirkan seorang legenda dunia.
Review
Strategi Mobil Listrik Jepang Menjaga Industri
Transisi menuju mobil listrik bukan sekadar pergantian mesin, melainkan perubahan besar dalam rantai pasok, lapangan kerja, kebijakan energi, dan persaingan industri global.
Monitorday.com– Peralihan industri otomotif dunia menuju kendaraan listrik menghadirkan tantangan yang berbeda bagi setiap negara. Di tengah pertumbuhan pasar mobil listrik berbasis baterai, Jepang memilih mempertahankan beragam jalur teknologi, termasuk hybrid, baterai, dan hidrogen. Pendekatan ini mencerminkan pertimbangan mengenai kesiapan pasar, kekuatan manufaktur, infrastruktur energi, dan keberlanjutan jaringan pemasok. Namun, strategi tersebut juga memunculkan pertanyaan penting: sampai sejauh mana kehati-hatian dapat melindungi industri, dan kapan kehati-hatian justru berisiko membuatnya tertinggal?
Industri otomotif Jepang dibangun melalui ekosistem manufaktur yang terintegrasi. Di Prefektur Aichi, pusat industri otomotif yang menjadi basis penting Toyota, perusahaan besar didukung jaringan pemasok komponen yang luas, termasuk usaha kecil dan menengah dengan keahlian khusus. Banyak perusahaan menguasai proses produksi presisi untuk mesin pembakaran internal, transmisi, sistem bahan bakar, dan komponen mekanis lainnya. Ketika kendaraan listrik berbasis baterai semakin berkembang, sebagian komponen tersebut berpotensi kehilangan pasar. Persoalannya bukan hanya mengganti mesin, melainkan mengubah fondasi produksi yang menopang perusahaan, tenaga kerja, dan ekonomi daerah.
Kendaraan listrik berbasis baterai memiliki struktur penggerak yang lebih sederhana dibandingkan mobil konvensional, tetapi membutuhkan kompetensi berbeda, terutama dalam teknologi baterai, elektronika daya, perangkat lunak, motor listrik, dan sistem manajemen energi. Perubahan ini menciptakan peluang bagi perusahaan baru, sekaligus menekan pemasok yang terlambat beradaptasi. Karena itu, transisi industri membutuhkan program peningkatan keterampilan, investasi pada teknologi baru, dan dukungan agar pemasok lama dapat memasuki rantai nilai yang sedang tumbuh. Tanpa strategi tersebut, transformasi yang berhasil dari sisi produk belum tentu menghasilkan manfaat ekonomi yang merata.
Laporan International Labour Organization (ILO) yang diterbitkan pada 18 Juni 2026 memperkuat gambaran tersebut. Kajian tentang usaha kecil dan menengah pemasok komponen otomotif Jepang menyoroti kebutuhan untuk membantu perusahaan dan pekerja menghadapi perubahan teknologi secara adil. Transformasi tidak cukup dilakukan melalui pembelian mesin baru atau pembangunan pabrik baterai. Perusahaan juga membutuhkan akses pembiayaan, pelatihan keterampilan, pendampingan bisnis, dan kepastian mengenai arah pasar. Tanpa dukungan tersebut, usaha kecil berisiko kehilangan daya saing sebelum sempat membangun kemampuan baru.
International Labour Organization
+1
Di sisi lain, perkembangan pasar global menunjukkan bahwa perubahan menuju kendaraan listrik terus berlangsung. Menurut International Energy Agency (IEA) dalam laporan Global EV Outlook 2026, penjualan mobil listrik dunia melampaui 20 juta unit pada 2025, atau sekitar seperempat dari seluruh penjualan mobil baru. China menjadi pasar terbesar, dengan kendaraan listrik mencakup hampir 55 persen penjualan mobil baru. Eropa juga mencatat pertumbuhan kuat, sedangkan pasar Amerika Serikat relatif stagnan. Angka tersebut memperlihatkan bahwa persaingan tidak lagi sekadar mengenai siapa yang mampu memproduksi kendaraan, tetapi juga siapa yang dapat menawarkan teknologi kompetitif dengan harga terjangkau dan skala produksi besar.
IEA
+1
Toyota mengembangkan pendekatan yang disebut multi-pathway, yakni mengembangkan beberapa jalur teknologi secara bersamaan. Pilihannya mencakup mesin pembakaran internal yang lebih efisien, hybrid, plug-in hybrid, mobil listrik berbasis baterai, dan kendaraan sel bahan bakar hidrogen. Menurut penjelasan Toyota, pendekatan ini mempertimbangkan perbedaan kebutuhan konsumen, ketersediaan energi, dan kesiapan infrastruktur di setiap wilayah. Strategi tersebut memberi ruang bagi industri untuk mengurangi emisi secara bertahap, tetapi efektivitasnya tetap perlu dinilai berdasarkan hasil pengurangan emisi, efisiensi energi, dan perkembangan pasar.
Toyota Newsroom
+1
Meski demikian, mempertahankan banyak pilihan teknologi bukan berarti semua teknologi memiliki prospek yang sama. Mobil hybrid dapat mengurangi konsumsi bahan bakar dibandingkan kendaraan konvensional dalam kondisi penggunaan tertentu, tetapi tetap menghasilkan emisi dari pembakaran bensin. Kendaraan listrik berbasis baterai tidak menghasilkan emisi gas buang ketika digunakan, meskipun dampak lingkungannya juga ditentukan oleh produksi baterai dan sumber listrik. Sementara itu, hidrogen berpotensi digunakan untuk kebutuhan tertentu, tetapi daya saingnya bergantung pada biaya produksi, efisiensi konversi energi, dan ketersediaan infrastruktur. Dengan demikian, strategi teknologi yang beragam harus tetap memiliki sasaran dekarbonisasi yang terukur, bukan sekadar mempertahankan produk yang sudah dikuasai industri.
Bagi Indonesia, pengalaman Jepang menawarkan pelajaran penting dalam merancang industrialisasi kendaraan listrik. Potensi sumber daya nikel dapat menjadi modal untuk membangun industri baterai, tetapi penguasaan sumber daya alam tidak otomatis menghasilkan keunggulan teknologi. Indonesia perlu memperkuat riset, manufaktur komponen, pendidikan vokasi, pengembangan perangkat lunak kendaraan, dan kemampuan pemasok lokal. Pada saat yang sama, kebijakan investasi perlu mendorong transfer pengetahuan dan penciptaan pekerjaan berketerampilan tinggi agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah atau perakitan kendaraan.
Pemerintah dan pelaku industri Indonesia juga perlu menyiapkan pekerja menghadapi perubahan struktur pekerjaan. Keahlian mekanik konvensional tetap memiliki nilai, tetapi perlu dilengkapi kompetensi dalam sistem kelistrikan, elektronika, diagnostik digital, keselamatan baterai, dan perangkat lunak. Pendidikan vokasi dapat menjadi jembatan antara kebutuhan industri lama dan pertumbuhan industri baru. Pendekatan ini penting agar transisi energi tidak hanya menghasilkan kendaraan yang lebih bersih, tetapi juga memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja nasional.
Pada akhirnya, pelajaran dari Jepang bukanlah bahwa industri harus memperlambat elektrifikasi atau mempertahankan mesin bensin selama mungkin. Intinya adalah bahwa perubahan teknologi harus disertai perubahan ekosistem industri. Kehati-hatian dibutuhkan untuk melindungi pekerja dan pemasok, sedangkan keberanian berinvestasi diperlukan agar industri tidak kehilangan daya saing. Bagi Indonesia, tantangan sesungguhnya adalah menyatukan kedua kepentingan tersebut: mempercepat adopsi teknologi rendah emisi sekaligus membangun kemampuan manufaktur, sumber daya manusia, dan inovasi yang membuat Indonesia menjadi bagian penting dari rantai nilai kendaraan listrik dunia.
Review
Kemendikdasmen Perkuat Kompetensi Guru PAUD dalam Digitalisasi Pembelajaran
Program digitalisasi pembelajaran PAUD bertumpu pada tiga pilar, yakni penyediaan Papan Interaktif Digital (PID), pengembangan bahan ajar digital interaktif, dan peningkatan kapasitas pendidik melalui bimbingan teknis.
Monitorday.com-Kemendikdasmen memperkuat kapasitas pendidik anak usia dini melalui Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran PAUD Angkatan I yang berlangsung pada 7–9 Oktober 2026 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini melibatkan perwakilan 181 satuan PAUD dari 39 kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Bali.
Menurut siaran pers Kemendikdasmen pada 9 Oktober 2026, program digitalisasi pembelajaran PAUD bertumpu pada tiga pilar, yakni penyediaan Papan Interaktif Digital (PID), pengembangan bahan ajar digital interaktif, dan peningkatan kapasitas pendidik melalui bimbingan teknis.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menekankan pentingnya pendidikan anak usia dini sebagai fondasi pembentukan karakter, kebiasaan, dan kemampuan belajar. Teknologi perlu digunakan untuk mendukung proses tersebut, bukan menggantikan interaksi antara guru dan anak.
Direktur PAUD Kemendikdasmen Kurniawan menjelaskan bahwa pelatihan dirancang agar pendidik mampu memadukan teknologi, pedagogi, dan tujuan pembelajaran. Dengan demikian, penggunaan perangkat digital tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan layar, tetapi berkembang menjadi praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.
Untuk 2026, Direktorat PAUD menargetkan penyaluran lanjutan PID kepada 75.974 satuan PAUD yang telah melalui proses verifikasi dan validasi. Para peserta pelatihan juga diharapkan menjadi penggerak yang mendampingi rekan sejawat di daerah masing-masing.
Review
Persaingan Model Terbuka, Agen AI, dan Keamanan Siber Menguat
Persaingan teknologi tidak lagi hanya berpusat pada kemampuan chatbot menjawab pertanyaan, tetapi juga pada kemampuan AI menjalankan pekerjaan, mengoperasikan perangkat lunak, dan membantu penelitian ilmiah. Di saat yang sama, isu keamanan, kendali manusia, dan besarnya investasi menjadi perhatian industri global.
Monitorday.com-Sejumlah perkembangan yang menonjol pekan ini meliputi peluncuran model AI terbuka Beam oleh Reflection AI, penguatan persaingan model AI perusahaan teknologi besar, pemanfaatan AI untuk riset biologi, serta meningkatnya perhatian terhadap risiko agen AI yang dapat bertindak secara mandiri.
Salah satu perkembangan penting datang dari Reflection AI yang meluncurkan Beam, model AI dengan bobot terbuka (open-weight). Model ini dirancang untuk membantu tugas pemrograman dan pekerjaan berbasis agen AI, sekaligus memperkuat persaingan Amerika Serikat dengan perusahaan AI Tiongkok.
Menurut Financial Times pada 5 Oktober 2026, Reflection AI mengklaim Beam memiliki kinerja kompetitif dibandingkan GLM-5.2 dari perusahaan Tiongkok Z.ai, khususnya untuk pemrograman dan tugas agen otonom. Namun, rincian teknis dan pengujian independen masih diperlukan untuk menilai klaim keunggulan tersebut secara menyeluruh.
Model open-weight memungkinkan pengembang mengunduh bobot model dan menyesuaikan atau menjalankannya pada infrastruktur sendiri sesuai ketentuan lisensinya. Pendekatan ini menarik bagi perusahaan yang ingin mengendalikan data, biaya komputasi, dan integrasi sistem tanpa sepenuhnya bergantung pada layanan AI tertutup.
Pada 11 Oktober, Financial Times juga melaporkan bahwa Nvidia sedang menjajaki kemungkinan mengakuisisi Reflection AI atau memperdalam investasinya. Pembicaraan itu masih berada pada tahap awal dan belum berarti transaksi telah disepakati. Jika terealisasi, langkah tersebut dapat memperkuat posisi Nvidia dalam ekosistem model AI terbuka.
Tren berikutnya adalah perkembangan agen AI yang bukan hanya menghasilkan teks, tetapi juga dapat menjalankan rangkaian tugas melalui aplikasi dan perangkat lunak. Sistem seperti ini berpotensi membantu pemrograman, analisis data, administrasi, penelitian, dan layanan pelanggan.
Reuters pada 7 Oktober 2026 menyoroti munculnya kembali minat terhadap agen AI personal yang dapat membaca pesan dan menjalankan tugas atas nama pengguna. OpenAI, Meta, dan sejumlah perusahaan rintisan mengembangkan pendekatan yang memungkinkan agen bekerja lintas aplikasi. Namun, akses ke data pribadi dan pembatasan dari platform lain menjadi persoalan penting.
Bagi dunia usaha, agen AI menawarkan peluang meningkatkan produktivitas dengan mengurangi pekerjaan berulang. Akan tetapi, semakin besar kewenangan yang diberikan kepada agen, semakin besar pula kebutuhan untuk membatasi akses, mencatat aktivitas, meminta persetujuan manusia untuk tindakan penting, dan mencegah kebocoran data.
Perubahan ini juga membawa implikasi bagi pendidikan. Peserta didik dan guru perlu belajar bukan hanya menggunakan chatbot, melainkan juga memeriksa hasil kerja AI, menyusun instruksi, memahami sumber data, dan mempertanggungjawabkan keputusan yang dibuat dengan bantuan teknologi.
AI juga semakin banyak dikembangkan untuk membantu memahami proses biologis dan mempercepat penelitian medis. Reuters pada 7 Oktober melaporkan upaya Biohub membangun kumpulan data biologi berskala besar untuk mendukung model yang dapat memprediksi perilaku sel.
Inisiatif tersebut melibatkan dukungan dari sejumlah pihak, termasuk pemerintah Amerika Serikat, Google, dan Meta, dengan investasi yang dilaporkan mencapai US$1,8 miliar. Tujuannya adalah mempercepat penelitian yang biasanya memerlukan waktu bertahun-tahun, termasuk dalam pengembangan obat dan pemahaman penyakit.
Meski demikian, kemampuan AI menemukan pola dalam data tidak otomatis berarti teknologi tersebut dapat menyembuhkan kanker atau penyakit lainnya. Hasil prediksi tetap perlu diuji melalui eksperimen laboratorium, penelitian praklinis, dan uji klinis yang memenuhi standar ilmiah.
Tantangan mendasarnya adalah ketersediaan data biologis berkualitas tinggi. Berbeda dengan bahasa yang memiliki sangat banyak data digital, data tentang interaksi sel dan proses biologis jauh lebih kompleks serta mahal untuk dikumpulkan. Karena itu, kemajuan AI di bidang kesehatan akan bergantung pada kolaborasi antara ilmu komputer, biologi, kedokteran, dan etika penelitian.
Kemajuan kemampuan AI juga meningkatkan kekhawatiran tentang keamanan. Associated Press pada 11 Oktober menerbitkan rangkuman perkembangan keamanan AI setelah sejumlah insiden yang melibatkan perilaku sistem AI saat diuji dalam lingkungan digital, termasuk akses tidak sah dan tindakan yang melampaui batas yang diharapkan.
Laporan tersebut menyoroti pentingnya pengujian sistem sebelum penerapan, pembatasan hak akses, dan pengawasan terhadap agen AI yang dapat menggunakan internet atau berinteraksi dengan sistem eksternal. Insiden dalam lingkungan pengujian tidak selalu berarti AI dapat melakukan tindakan yang sama secara bebas di dunia nyata, tetapi tetap menjadi peringatan bagi pengembang dan pengguna.
Pada 9 Oktober, OpenAI juga mengumumkan pemecatan tiga penelitinya setelah penyelidikan internal terkait pelanggaran kebijakan informasi sensitif. Para peneliti tersebut menyampaikan keberatan atas keputusan itu, sementara perusahaan membantah bahwa pemecatan berkaitan dengan penyampaian kekhawatiran keselamatan. Perselisihan tersebut menambah perhatian terhadap tata kelola internal dan budaya keselamatan dalam industri AI.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa keamanan AI tidak cukup ditangani melalui penyempurnaan model. Organisasi juga memerlukan tata kelola data, prosedur audit, pengujian independen, serta mekanisme intervensi manusia ketika sistem melakukan tindakan berisiko.
Bagi Indonesia, perkembangan AI pekan ini memberikan tiga pelajaran penting. Pertama, penggunaan model terbuka dapat menjadi pilihan untuk mengembangkan aplikasi lokal dengan kontrol yang lebih besar atas data dan infrastruktur. Kedua, agen AI membuka peluang otomatisasi di sektor pendidikan, pemerintahan, keuangan, dan industri. Ketiga, penerapan AI harus disertai peningkatan kompetensi manusia serta perlindungan data.
Dalam pendidikan, prioritas tidak seharusnya hanya mengejar penggunaan aplikasi AI terbaru. Sekolah dan perguruan tinggi perlu memperkuat literasi AI, berpikir kritis, kemampuan verifikasi informasi, pemecahan masalah, serta etika penggunaan teknologi. Guru dan peserta didik harus memahami kapan AI membantu proses belajar dan kapan hasilnya perlu ditolak atau diperbaiki.
Di sektor industri, perusahaan perlu memulai dari persoalan bisnis yang jelas, kemudian memilih model AI berdasarkan kualitas hasil, biaya, keamanan, dan kemampuan integrasi. Mengadopsi teknologi yang paling canggih belum tentu memberikan manfaat terbesar apabila tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Kesimpulan: Pekan ini memperlihatkan bahwa perkembangan AI semakin ditentukan oleh tiga faktor: kemampuan model, kapasitas menjalankan tugas secara mandiri, dan kepercayaan terhadap sistem. Persaingan teknologi akan terus berlangsung, tetapi manfaat ekonomi dan sosialnya bergantung pada kemampuan manusia mengarahkan AI secara aman, produktif, dan bertanggung jawab.
Review
Ramai di MK, Akhirnya Ijazah Wapres RI Dipajang di Kampus Ternama Dunia
Monitorday.com – Kabar tentang salinan ijazah seorang Wakil Presiden Republik Indonesia yang dipajang di kampus ternama di Belanda mengundang rasa penasaran. Siapa pemiliknya? Mengapa kampus tersebut mengenang perjalanan pendidikannya? Sosok itu adalah Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Republik Indonesia.
Sejumlah pemberitaan menyebut salinan ijazah Hatta beserta ringkasan biografinya terpajang di Hatta Building, Kampus Woudestein, Erasmus University Rotterdam (EUR). Kisah ini mengingatkan kita pada perjalanan seorang mahasiswa Indonesia yang kelak menjadi salah satu tokoh utama kemerdekaan bangsanya.
Saya memiliki pengalaman menarik yang berkaitan dengan kampus tersebut. Dalam perjalanan pulang dari Denpasar, Bali, melalui Bandara Soekarno-Hatta, saya berjumpa dengan seorang wisatawan asal Belanda. Percakapan kami berawal dari hal-hal sederhana, kemudian berlanjut ke sejarah dan pendidikan.
Ketika membahas Erasmus University Rotterdam, ia berbicara dengan penuh penghargaan. Menurutnya, kampus tersebut memiliki reputasi akademik yang kuat. Mendengar penuturannya, saya terdiam sejenak. Saya membayangkan Bung Hatta muda, jauh dari tanah kelahirannya, menjalani pendidikan sambil memikirkan nasib bangsanya.
Percakapan singkat itu membuat kisah Hatta terasa lebih dekat. Nama yang selama ini saya kenal melalui buku sejarah ternyata juga mendapat penghormatan di lingkungan kampus tempat ia dahulu belajar.
Menurut keterangan resmi Erasmus School of Economics, Hatta menempuh pendidikan pada 1921 hingga 1932 di institusi pendahulunya. Selama berada di Belanda, ia juga menghadapi pemenjaraan karena sikap kritisnya terhadap tindakan pemerintah Belanda di Indonesia. Setelah kembali ke tanah air, ia menjadi salah satu tokoh penting perjuangan kemerdekaan.
Perjalanan tersebut memberi makna tersendiri pada penghormatan yang diterimanya. Hatta pernah menentang pemerintahan kolonial Belanda. Bertahun-tahun kemudian, sebuah universitas di negara itu mengabadikan namanya.
Hatta Building, yang dibuka pada 2013, menjadi bentuk penghormatan kepada Hatta sebagai alumnus, pejuang kemerdekaan, dan wakil presiden pertama Indonesia. Pada 2014, perwakilan universitas menyerahkan foto gedung tersebut kepada keluarga Hatta di Jakarta. Kwik Kian Gie, yang juga merupakan alumnus, turut hadir dalam pertemuan itu.
Gedung tersebut berada di Kampus Woudestein dan berfungsi sebagai tempat tinggal mahasiswa. Dengan demikian, nama Hatta hadir dalam keseharian generasi yang sedang menempuh pendidikan di Rotterdam.
Bagi saya, kisah ini menunjukkan hubungan yang kuat antara pendidikan, keberanian berpikir, dan pengabdian. Hatta membawa pengetahuan yang diperolehnya ke dalam perjuangan bangsanya. Kampusnya kemudian mengenang perjalanan dan kontribusi tersebut melalui penghormatan yang nyata.
Salinan ijazah mencatat pendidikan yang pernah ditempuhnya. Hatta Building mengabadikan nama dan perjalanan hidupnya. Keduanya mengajak kita mengenal Bung Hatta lebih jauh: seorang pelajar yang tekun, pemikir yang kritis, dan pemimpin yang mengabdikan ilmunya untuk Indonesia.
News
Menempa Karakter Besi Emil Audero Mulyadi: Kisah Bocah Lombok yang Menghapus Dahaga 35 Tahun Ibu Pertiwi
CERITA KECIL Emil Audero Mulyadi bukanlah selembar kanvas sutra yang halus, namun sebongkah batu karang yang terus dihantam ombak. Sebuah riwayat tentang otot yang ditempa, peluh yang mengkristal, dan keteguhan batin yang menolak tunduk pada keadaan.
Sebelum lampu-lampu stadion megah Eropa menyorot siluet tubuhnya yang kokoh di bawah misatar gawang, takdir menguji bocah berdarah campuran Indonesia – Italia ini dalam sebuah awal yang sunyi. Di bawah langitPraya, Lombok Tengah, jejak-jejak pertamanya tidak diukir di atas rumput sintetis empuk, tapi di atas tanah kering berdebu.
Emil terlahir dari rahim perpaduan budaya, ayahnya asli Lombok [Edy Mulyadi]. Sementara sang ibu [Antonella Audero] adalah seorang warga Italia. Sembilan bulan pertama hidupnya ia habiskan di Pulau Lombok, sebelum Antonella membawanya bermigrasi ke Cumiana, kota kecil di Piedmont, Italia [1998].
Namun, Lomboj tidak pernah bernar-benar lepas dari nadinya. Setiap kali liburan tiba, ia kembali ke tanah kelahirannya. Di sanalah, sebuah laboratorium mental yang mentah mulai terbentuk.
Saat anak-anak sebayanya di Eropa menikmati fasilitas akdemi yang mapan, Emil kecil berlari mengejar bola plastik di lapangan nan gersang. Tiang gawangnya hanyalah dua batang bambu yang ditancapkan seadanya ke dalam tanah.
Di bawah bimbingan Syukur, seorang mantan kiper lokal legendaris NTB yang melatihnya dengan disiplin spartan, mentalitas anti-rapuh Emil mulai ditempa.
Migrasi permanennya ke Italia mengubah ruang bermain masa kecil menjadi medan pertempuran harga diri yang sesungguhnya.
Ketika ia memutuskan untuk menekuni sepak bola secara profesional dan masuk ke akademi muda Juventus pada usia sebelas tahun, dunia tidak langsung ramah kepadanya. Di dalam ruang ganti yang dipenuhi talenta-talenta lokal Eropa, ia adalah anomali—seorang anak imigran dengan nama belakang yang asing di telinga mereka.
Kesepian menjadi teman setianya dalam perjalanan kereta malam yang panjang menuju tempat latihan. Fisik dan mentalnya diperas hingga batas nadir. Hujan salju yang membekukan Cumiana, benturan-benturan keras di atas lapangan yang mengeraskan ototnya, hingga cemoohan halus yang meragukan kemampuannya sempat menjadi badai yang bergemuruh di kepala.
Ada malam-malam panjang di mana ia mempertanyakan pilihannya, menatap langit-langit kamar dengan kecemasan yang mengeklicik tentang masa depan yang serba tidak pasti. Namun, anak Lombok ini menolak untuk hancur. Ia memilih membangun kulit tebal terhadap segala keraguan.
Titik balik dalam hidupnya hadir ketika bakat mentahnya bertransformasi menjadi karakter besi yang diakui oleh para pemandu bakat kelas dunia. Penjaga gawang legendaris seperti Gianluigi Buffon melihat sesuatu yang berbeda dalam sorot mata Emil—sebuah ketenangan yang menakutkan bagi seorang penyerang lawan. Kehadiran keluarga, terutama sang ayah yang menjadi jangkar emosional, terus mengingatkannya pada tanah kering di Praya. Kekuatan memori masa kecil itulah yang membuatnya tetap membumi saat ia berhasil menembus skuad utama Juventus, lalu berkelana membela Sampdoria, Inter Milan, hingga kini mengawal kesucian gawang Rayo Vallecano.
Berdiri tegak di bawah mistar gawang kompetisi elite Eropa, ia bukan lagi bocah yang mengejar bola plastik, melainkan seorang predator ruang udara kotak penalti yang ditakuti. Kini, di puncak kariernya sebagai penjaga gawang papan atas yang juga menjadi pilar krusial di level internasional, Emil tidak pernah melupakan akar yang menumbuhkannya.
Ketangguhannya teruji dalam laga final Asean Cup 2026 melawan Thailand di bawah gemuruh atmosfer Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dalam partai final bertensi tinggi tersebut, Emil dan para punggawa Timnas dipaksa bermain 2-2 hingga babak perpanjangan waktu usai.
Saat laga harus ditentukan lewat drama adu penalti yang kejam, tekanan puluhan ribu pasang mata runtuh di pundaknya. Namun, emosi masa kecil di Praya dan ketenangan kompetisi Eropa menyatu dalam dirinya. Dengan refleks sedingin es, Emil sukses menepis tendangan penentu dari Nattapong Sayriya, mengunci kemenangan adu penalti 4-2, dan mengantarkan Indonesia merengkuh trofi juara untuk pertama kalinya sekaligus menghapus dahaga gelar senior selama 35 tahun. Malam itu, ia bukan hanya mengamankan gawang, melainkan menobatkan diri sebagai pahlawan bersejarah yang abadi bagi ibu pertiwi.
News
Nobel 2026: Ketika Cahaya Membuka Rahasia Otak
Optogenetika mengubah cahaya menjadi alat untuk membaca dan mengendalikan aktivitas sel saraf dengan presisi yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Monitorday.com– Nobel Prize in Physiology or Medicine 2026 diberikan kepada Karl Deisseroth, Peter Hegemann, dan Georg Nagel atas penemuan terkait kanal ion yang dikendalikan cahaya dan pengembangan optogenetika. Penghargaan tersebut diumumkan pada 5 Oktober 2026 oleh Nobel Assembly di Karolinska Institutet.
Yang membuat penemuan ini menarik bukan sekadar keberhasilan menemukan sebuah protein, tetapi perubahan besar dalam cara manusia mempelajari otak. Hegemann dan Nagel menemukan protein peka cahaya bernama channelrhodopsin pada alga bersel satu. Protein tersebut memungkinkan alga merespons cahaya melalui perubahan aliran ion di dalam sel.
Penemuan itu kemudian mendapatkan dimensi baru melalui penelitian Deisseroth. Ia memasukkan gen yang menghasilkan channelrhodopsin ke dalam sel saraf. Dengan penyinaran cahaya biru, aktivitas neuron dapat dipicu secara terkendali. Pada 2005, pendekatan tersebut berhasil ditunjukkan pada sel saraf, kemudian dikembangkan hingga dapat digunakan pada otak tikus hidup.
Di sinilah optogenetika menjadi sebuah revolusi ilmiah. Sebelumnya, ilmuwan dapat mengamati hubungan antara bagian tertentu dari otak dengan perilaku, tetapi sulit memastikan hubungan sebab-akibatnya. Optogenetika memberikan kemampuan untuk mengaktifkan atau menonaktifkan kelompok neuron tertentu menggunakan cahaya sehingga peneliti dapat menguji secara lebih langsung bagaimana sirkuit saraf menghasilkan ingatan, perasaan, dan perilaku.
Menurut Nobel Committee, teknologi ini telah memberikan cara baru untuk memetakan sirkuit otak yang berkaitan dengan berbagai kondisi neurologis dan psikiatris. Penelitian tersebut juga membuka kemungkinan terapi baru, termasuk upaya mengembalikan penglihatan pada sebagian pasien dengan gangguan penglihatan tertentu.
Yang lebih penting, Nobel ini memperlihatkan bagaimana sebuah penelitian dasar yang pada awalnya tampak jauh dari aplikasi medis dapat berubah menjadi teknologi transformatif. Pertanyaan Hegemann tentang bagaimana organisme bersel satu merespons cahaya akhirnya bertemu dengan rekayasa genetika dan ilmu saraf Deisseroth. Dari sana lahir sebuah metode yang kini digunakan secara luas dalam penelitian otak.
Ada pelajaran penting bagi dunia pendidikan dan riset Indonesia. Sains fundamental sering kali tidak langsung menghasilkan produk atau keuntungan ekonomi. Namun, justru dari rasa ingin tahu terhadap persoalan paling dasar dapat lahir teknologi yang mengubah sebuah disiplin ilmu. Nobel ini menunjukkan bahwa investasi pada biologi, fisika, genetika, teknologi, dan ilmu komputasi tidak seharusnya dipisahkan secara kaku.
Dalam konteks perkembangan kecerdasan buatan, penemuan optogenetika juga memiliki makna yang lebih luas. AI dapat membantu membaca dan menganalisis data otak dalam skala yang semakin besar, sementara optogenetika memberikan cara eksperimental untuk memahami hubungan antara aktivitas neuron dan perilaku. Pertemuan keduanya berpotensi mempercepat neurosains, tetapi sekaligus menuntut perhatian serius terhadap etika, privasi pikiran, dan batas intervensi terhadap otak manusia.
Nobel 2026 karena itu bukan hanya penghargaan terhadap tiga ilmuwan. Ia merupakan pengingat bahwa salah satu frontier terbesar ilmu pengetahuan masih berada di dalam diri manusia sendiri. Otak tetap menjadi salah satu misteri terbesar, dan kali ini manusia mendapatkan cara baru untuk menyalakan, mematikan, sekaligus memetakan percakapan listrik di dalamnya.
