Ruang Sujud
Ali Khamenei dan Warisan Api yang Ia Tinggalkan
Published
37 minutes agoon
By
Umar Satiri
Monitorday.com – Ayatollah Sayyed Ali Hosseini Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, salah satu kota suci bagi kaum Muslim Syiah di Iran. Ia merupakan putra kedua dari Javad Khamenei, seorang ulama sederhana, dan Khadijeh Mirdamadi, yang berasal dari keluarga ulama Persia. Khamenei dibesarkan dalam keluarga religius yang sangat memegang tradisi Syiah, di mana gelar “Sayyed” menandakan keyakinan bahwa dirinya termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW, melalui jalur Imam Husain dan Imam Zainul Abidin, sebuah status yang membuatnya dihormati dalam komunitas Syiah Iran.
Dari usia muda, Khamenei dididik dalam seminari teologi — dimulai dengan pendidikan Qur’ani dan klasik setempat, lalu melanjutkan ke pusat-pusat pendidikan ulama di Mashhad dan kemudian Qom. Di Qom, ia belajar di bawah bimbingan ulama besar, termasuk Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang kemudian menjadi pemimpin Revolusi Islam Iran 1979. Pelajaran agama yang mendalam dan keterlibatannya dalam gerakan revolusioner membuatnya termotivasi untuk menentang rezim monarki Shah yang bersekutu dengan Barat.
Perjalanan Politik dan Warisan Religius
Karier politik Khamenei dimulai jauh sebelum ia mencapai puncak kekuasaan. Selama 1960-an, ia aktif menentang Shah Pahlavi dan terlibat dalam kegiatan revolusioner bersama Imam Khomeini, sehingga sempat mengalami penangkapan dan pengawasan ketat dari aparat keamanan rezim lama. Setelah kemenangan Revolusi Islam, ia memegang berbagai posisi penting di Republik Islam: dari anggota Dewan Revolusi, Wakil Menteri Pertahanan, hingga Presiden Republik Iran dari 1981 hingga 1989.
Ketika Ayatollah Khomeini wafat pada 1989, Khamenei dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran (Rahbar). Meski pada awalnya ia tidak memiliki pendidikan agama formal setinggi Khomeini, lembaga politik dan keagamaan memilihnya karena kedekatan ideologis dan loyalitasnya terhadap Revolusi. Sejak itu, jabatan Pemimpin Tertinggi memberinya wewenang luas atas lembaga negara: ia mengendalikan militer, kehakiman, media negara, Garda Revolusi Islam (IRGC), dan memiliki hak nominasi atas Dewan Pengawas yang mengatur proses elektoral.
Nama Sayyed yang melekat di depan namanya bukan sekadar gelar simbolik. Gelar ini menunjukkan klaim garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW melalui Imam Husain, cucu Nabi yang sangat dihormati dalam tradisi Syiah. Garis keturunan ini diturunkan melalui leluhur seperti Sayyed Hossein Tafreshi dan Sultan-ul-Ulama Ahmad, yang menurut tradisi Syiah merupakan bagian dari Ahlul Bait (keluarga Nabi). Kombinasi status keluarga dan posisi agama membuat Khamenei bukan hanya tokoh politik, tetapi juga simbol religius yang dihormati oleh banyak penganut Syiah di Iran.
Peran di Kancah Geopolitik dan Konflik Regional
Dalam urusan luar negeri, Khamenei memainkan peran sentral membentuk Iran sebagai kekuatan anti-Barat dan anti-Israel. Ia mendukung gerakan dan kelompok yang menjadi proxy Iran di kawasan, seperti Hezbollah di Lebanon dan milisi bersenjata di Irak dan Yaman. Pendekatan geopolitiknya sering kali memicu ketegangan dengan Amerika Serikat dan sekutunya, terutama Israel. Hubungan yang memburuk akhirnya meletus dalam konflik besar pada 28 Februari 2026, ketika serangan udara gabungan oleh Amerika Serikat dan Israel menargetkan fasilitas negara dan pusat komando di Iran, termasuk kompleks tempat Khamenei berada. Serangan ini menewaskan Khamenei dan beberapa anggota keluarganya — suatu peristiwa yang mengubah dinamika politik kawasan dalam sekejap.
Kematian Ayatollah Ali Khamenei menandai berakhirnya era dominasi politik dan religius yang berakar kuat di Republik Islam Iran. Figur ini tetap kontoversial: bagi para pendukungnya ia adalah simbol kedaulatan nasional dan identitas revolusioner; bagi para pengkritiknya, ia adalah pemimpin yang mempertahankan rezim otoriter dan kebijakan luar negeri agresif. Kepergiannya membuka babak baru dalam politik Iran dan menimbulkan ketidakpastian tentang siapa yang akan menggantikannya dan bagaimana arah kebijakan dalam negeri dan kebijakan luar negeri Republik Islam selanjutnya.
Mungkin Kamu Suka
-
Sejumlah Negara Kompak Desak Warganya Tinggalkan Iran, Timur Tengah Kian Memanas
-
Tensi Memanas, PM Polandia Desak Warganya Segera Tinggalkan Iran
-
Iran Siap Kompromi Nuklir dengan AS, Asal…
-
Erdogan Tawarkan Turki Jadi Mediator AS–Iran di Tengah Meningkatnya Ketegangan Kawasan
-
Iran Ogah Berunding dengan AS di Tengah Ancaman Militer
Ruang Sujud
Masjid di Jerman: Fakta yang Jarang Diketahui
Meski jumlahnya banyak, banyak hal unik dan tak terduga tentang masjid di Jerman yang serba berbeda dari negara mayoritas Muslim.
Published
1 day agoon
28/02/2026
Monitorday.com–Jumlah masjid di Jerman diperkirakan mencapai ribuan, namun sebagian besar bangunan ibadah umat Islam ini tidak mudah dikenali dari luar. Banyak masjid tersembunyi di halaman belakang rumah atau kawasan komersial, sehingga tak tampak jelas di lanskap kota seperti gereja Kristen yang dominan. Istilah Hinterhofmoschee digunakan untuk menyebut fenomena ini, alias masjid halaman belakang yang nyaris tak terlihat di jalan utama.
Salah satu fakta sejarah menarik adalah bahwa masjid pertama yang dibangun di Jerman dan seluruh Eropa Tengah pada tahun 1915, di kamp tawanan di Brandenburg, pernah digunakan Kekaisaran Jerman untuk membangkitkan semangat tawanan Muslim melawan kekuatan musuhnya dalam Perang Dunia I.
Bangunan masjid tertua yang masih berdiri saat ini berada di wilayah Berlin-Wilmersdorf dan menarik karena arsitekturnya mirip dengan Taj Mahal dengan dua menara tinggi lebih dari 30 meter. Masjid ini dirancang oleh arsitek Jerman Karl August Herrmann untuk komunitas Muslim Ahmadiyah Lahore pada awal abad ke-20.
Uniknya, di Berlin juga berdiri Ibn Rushd-Goethe Mosque — sebuah masjid yang progresif dan inklusif di mana laki-laki dan perempuan beribadah bersama serta perempuan diperbolehkan berkhotbah. Masjid ini menyatakan keterbukaan pada berbagai aliran Islam sekaligus berkomitmen pada prinsip kesetaraan gender dan hak asasi manusia.
Selain itu, meskipun banyak masjid berdiri di Jerman, praktik azān atau panggilan salat dari menara hampir tidak terdengar di banyak tempat. Mayoritas masjid tidak memiliki menara dan masyarakat setempat sering menganggap azan sebagai suara yang kurang diterima, sehingga hanya sekitar 30 masjid secara teratur mengumandangkannya.
Fenomena-fenomena ini menunjukkan keragaman fungsi dan bentuk masjid di Jerman, dari sejarah yang tak terduga hingga adaptasi sosial dan arsitektural di negara dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda.
Ruang Sujud
5 Destinasi Ramadan di Eropa yang Wajib Dikunjungi
Lima kota Eropa ini menawarkan pengalaman Ramadan unik dari suasana religius sampai kuliner khas sambil jelajahi budaya setempat.
Published
1 day agoon
28/02/2026
Monitorday.com — Ramadan di Eropa kini menarik perhatian wisatawan Muslim untuk merasakan suasana ibadah dan budaya yang khas di beberapa kota besar benua tersebut.
London, Inggris menjadi salah satu destinasi utama karena komunitas Muslim yang besar dan beragam. Regent’s Park Mosque menjadi pusat kegiatan Ramadan, sedangkan kawasan Edgware Road dikenal sebagai “Little Middle East” yang ramai dengan pilihan restoran halal untuk berbuka puasa.
Paris, Prancis tidak hanya identik dengan wisata romantis, tapi juga kaya pengalaman Ramadan melalui aktivitas di Grand Mosque of Paris serta distrik La Goutte d’Or yang menawarkan restoran halal dan suasana buka puasa bersama khas Prancis.
Istanbul, Turki menawarkan pengalaman religius dan sejarah yang mendalam. Kota ini dipenuhi masjid bersejarah seperti Hagia Sophia dan Masjid Biru, sementara bazar makanan khas Ramadan seperti kebab dan baklava memeriahkan suasana malam.
Berlin, Jerman memiliki komunitas Muslim besar dan kegiatan buka puasa bersama misalnya di Sehitlik Mosque. Kawasan Kreuzberg dikenal sebagai pusat kuliner halal dan pasar malam Ramadan yang menarik banyak pengunjung.
Madrid, Spanyol meskipun bukan destinasi halal utama, menyimpan sejarah Islam dan aktivitas Ramadan melalui Islamic Cultural Center of Madrid serta berbagai pilihan kuliner halal khas Andalusia di kota itu.
Menurut liputan Euronews, sejumlah kota di Eropa juga mengadakan kegiatan sosial Ramadan seperti lampu Ramadan di Coventry Street di London dan festival makanan halal di Berlin, yang semakin memperkaya pengalaman wisatawan saat bulan suci ini.
Dari Barat ke Selatan Eropa, Ramadan kini bukan sekadar waktu beribadah tetapi juga peluang menikmati budaya, kuliner, dan solidaritas lintas komunitas di benua tersebut.
Ruang Sujud
Puasa di Kota Ini Bisa Hanya Satu Jam
Fenomena astronomis di atas Lingkar Arktik membuat durasi puasa di Murmansk, Rusia, bisa sangat singkat pada periode tertentu.
Published
1 day agoon
28/02/2026
Monitorday.com-Fenomena unik terjadi di Murmansk, salah satu kota di Rusia, yang disebut-sebut memiliki durasi puasa hanya sekitar satu jam pada periode tertentu. Kondisi ini berkaitan langsung dengan letak geografis Murmansk yang berada di atas Lingkar Arktik, sehingga mengalami perbedaan ekstrem antara panjang siang dan malam sepanjang tahun.
Menurut RRI.co.id yang dikutip sebagai sumber, Jumat (27/2/2026), posisi geografis Murmansk membuat waktu terbit dan terbenam matahari—yang menjadi penentu awal dan akhir puasa—bisa sangat singkat saat mendekati pergantian musim. Selisih antara fajar dan magrib dalam kondisi tertentu dapat berlangsung hanya sekitar satu jam.
Murmansk sendiri dikenal dengan fenomena alam midnight sun pada musim panas, ketika matahari tidak terbenam sama sekali. Sebaliknya, saat musim dingin, kota ini mengalami polar night, yaitu periode ketika matahari tidak terbit. Dua fenomena astronomis tersebut berdampak langsung pada penentuan waktu ibadah, termasuk puasa Ramadan bagi umat Muslim setempat.
Klaim durasi puasa hanya satu jam biasanya terjadi ketika Ramadan bertepatan dengan masa transisi musim. Namun, kondisi ini tidak berlangsung sepanjang bulan Ramadan. Dalam praktiknya, umat Muslim di wilayah kutub umumnya mengikuti ketentuan khusus, seperti menyesuaikan waktu puasa dengan negara terdekat yang memiliki siklus siang-malam normal atau merujuk pada jadwal puasa di Makkah.
Perbedaan durasi puasa antarnegara memang dipengaruhi oleh posisi geografis terhadap garis khatulistiwa dan kutub. Negara-negara yang berada dekat ekuator cenderung memiliki durasi siang dan malam yang stabil, sekitar 12 jam sepanjang tahun. Sebaliknya, semakin jauh suatu wilayah dari ekuator menuju kutub, perbedaan panjang siang dan malam menjadi semakin ekstrem, sehingga memengaruhi lamanya waktu berpuasa setiap Ramadan.
Ruang Sujud
Kisah Sahabat Nabi yang Pingsan saat Puasa Ramadhan
Published
2 days agoon
27/02/2026By
Umar Satiri
Monitorday.com – Terik matahari Madinah seperti tak memberi ampun. Siang itu, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW berjalan dengan tubuh limbung. Sejak kemarin ia belum makan, belum minum. Lapar menggigit, haus membakar tenggorokan. Hingga akhirnya tubuh itu tak lagi mampu bertahan—ia roboh dan pingsan.
Namanya Qais bin Shirmah Al-Anshari RA.
Peristiwa itu bukan sekadar kisah tentang seorang sahabat yang kelelahan saat puasa. Dari tubuh yang tumbang itulah, turun penjelasan Allah SWT yang kemudian kita kenal dalam Surah Al-Baqarah ayat 187—ayat yang hari ini menjadi pedoman jelas kapan umat Islam boleh makan dan minum saat Ramadan.
Di awal diwajibkannya puasa, aturan belum seterang sekarang. Belum ada batas tegas tentang waktu sahur dan berbuka. Sebagian sahabat bahkan mengira jika mereka tertidur sebelum berbuka, maka mereka tak lagi boleh makan sampai keesokan hari. Puasa menjadi sangat berat, bukan karena iman lemah, tetapi karena aturan belum lengkap.
Qais termasuk yang merasakan beratnya masa transisi itu. Seusai bekerja keras dan menahan lapar seharian, ia pulang saat waktu berbuka tiba. Dengan suara lelah ia bertanya kepada istrinya,
“Apa kita punya makanan?”
Jawaban yang datang pelan dan jujur:
“Maafkan aku, suamiku. Hari ini kita tidak punya makanan apa pun. Tunggulah sebentar, aku akan mencarikan makanan untukmu.”
Qais menunggu. Namun kelelahan membuatnya tertidur sebelum makanan itu tiba. Sang istri kembali dan melihat suaminya sudah terlelap. Ia tak tega membangunkannya. Dengan lirih ia berkata,
“Kasihan engkau, suamiku!”
Malam itu berlalu tanpa seteguk air pun menyentuh bibirnya. Esoknya, dalam kondisi sangat lemah, Qais jatuh pingsan.
Kabar itu sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu turunlah wahyu yang menjelaskan dengan tegas: umat Islam boleh makan dan minum pada malam hari hingga terbit fajar. Aturan puasa menjadi jelas. Beban yang membingungkan diangkat. Umat Islam pun merasa lega.
Kisah Qais bin Shirmah RA bukan hanya tentang lapar dan pingsan. Ia adalah pengingat bahwa dalam setiap perintah Allah selalu ada kasih sayang. Islam tidak hadir untuk menyiksa, melainkan membimbing. Bahkan dari sebuah tubuh yang roboh di siang Madinah, lahir kemudahan bagi seluruh umat hingga akhir zaman.
Ruang Sujud
Refleksi Pengalaman Ramadan Pertama Para Mualaf
Menahan diri dari makan dan minum selama jam siang hari untuk sebulan penuh bisa terasa menakutkan bagi mereka yang belum pernah melakukannya.
Published
3 days agoon
26/02/2026
Monitorday.com – Bulan Ramadan menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam, namun bagi mualaf, mengamatinya untuk pertama kali dapat membangkitkan beragam emosi. Banyak mualaf yang merasa gembira dan siap menghadapi bulan suci ini berkat informasi dan dukungan yang memadai, sementara yang lain mungkin merasa sendirian, tidak yakin, bahkan cemas atau bingung menghadapi tantangan puasa.
Prospek menahan diri dari makan dan minum selama jam siang hari untuk sebulan penuh bisa terasa menakutkan bagi mereka yang belum pernah melakukannya. Meskipun demikian, ada cara bagi Muslim baru untuk beradaptasi dengan tantangan, mengelola emosi, dan meraih berbagai berkah Ramadan, seperti yang diceritakan oleh beberapa mualaf.
Eva Sasa, seorang mualaf yang berasal dari Milan, Italia, membagikan pengalamannya. Ia memeluk Islam pada tahun 1999 dan mengenang Ramadan pertamanya sebagai momen yang sangat istimewa.
“Ramadan pertama saya sangat spesial,” kata Eva. “Pertama-tama itu terjadi selama waktu tersingkat dalam setahun sehingga ketika saya pulang dari kuliah saya akan berbuka puasa dengan keluarga suami saya dan kami akan menuju ke masjid untuk salat tarawih. Sebagai seseorang yang menghabiskan banyak jam hidupnya di bandara internasional, saya selalu merasa kagum akan keanekaragaman yang Tuhan ciptakan pada manusia. Berdoa dalam barisan orang-orang dari seluruh benua di dunia terasa seperti saya akhirnya menjadi bagian dari keluarga Tuhan, dan saya merasakan gelombang rasa syukur ini yang masih saya rasakan setiap hari ketika saya pergi bekerja di sekolah Islam, menghadiri salat Jumat, atau berpartisipasi dalam acara masjid atau komunitas lainnya.”
Dukungan keluarga dan komunitas juga menjadi faktor penting bagi Eva dalam melewati Ramadan pertamanya. Ia menggarisbawahi bagaimana lingkungan sekitarnya sangat membantu dalam proses adaptasinya.
“Orang tua saya masih sangat tidak yakin apa artinya bahwa saya telah memilih jalan ini,” jelas Eva, “tetapi mereka tidak secara terbuka mengungkapkan negativitas atau mencoba meyakinkan saya sebaliknya. Keluarga besar suami saya sangat mendukung. Kakak ipar saya meluangkan waktu untuk mengajari saya doa-doa, salat, dan melibatkan saya dalam persiapan hidangan buka puasa Suriah favorit. Ada juga sekelompok kecil tapi indah wanita mualaf yang menerima saya dan menjadi saudari bagi saya, hingga hari ini saling menjaga hati satu sama lain.”
Menanggapi pertanyaan mengenai saran bagi mualaf yang akan berpuasa pertama kali, Eva menekankan pentingnya menemukan kelompok sesama mualaf.
“Saya pikir penting untuk menemukan kelompok mualaf Anda. Mereka akan memahami pengalaman Anda lebih dari siapa pun. Anda akan terbiasa dengan puasa, dan ada sumber daya luar biasa untuk memilih sahur Anda dengan bijak. Berbeda dengan tahun-tahun mualaf pra-Google saya, kini ada sumber daya di ujung jari Anda.”
Namun, nasihat terpenting dari Eva adalah membangun hubungan yang erat dengan Al-Quran. Ia menyarankan untuk memanfaatkan berbagai sumber daya modern yang tersedia.
“Tapi nasihat terbesar saya,” kata Eva, “adalah menjalin hubungan dengan Al-Quran. Temukan Al-Quran yang menyertakan transliterasi Romawi dan terjemahan yang dapat Anda pahami (berdasarkan interpretasi ilmiah) dan temukan qari yang menggerakkan hati Anda. Atur kecepatan di YouTube menjadi 75 dan ikuti terjemahannya, berhenti sejenak untuk memeriksa transliterasi untuk memastikan Anda masih berada di tempat yang sama. Ini membangun hubungan dengan kata-kata yang Tuhan kirimkan melalui Jibril kepada Nabi Muhammad, saw.”
Ruang Sujud
Tak Hanya Fisik, Makanan Halal Juga Bermanfaat Secara Spiritual
Published
6 days agoon
23/02/2026By
Umar Satiri
Monitorday.com – Saat sujud, kita meletakkan dahi di atas bumi. Kita datang membawa doa, harap, dan segala letih kehidupan. Namun sering kali kita lupa: apa yang kita makan setiap hari ikut menentukan bening atau keruhnya doa yang terangkat ke langit.
Islam tidak pernah memisahkan antara yang masuk ke mulut dan yang keluar dari hati. Makanan halal bukan sekadar label hukum. Ia adalah aliran energi suci yang mengalir dalam darah, membentuk cara berpikir, memengaruhi kejernihan nurani, bahkan menentukan kualitas ibadah seseorang.
1. Menguatkan Ruh, Melapangkan Doa
Secara spiritual, makanan halal adalah fondasi ketaatan. Ia membersihkan hati, melembutkan jiwa, dan membuat langkah lebih ringan menuju sajadah. Rasulullah Saw pernah mengingatkan tentang seseorang yang berdoa panjang, namun makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya dari yang haram—bagaimana mungkin doanya dikabulkan?
Makanan yang halal menjadi sebab dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya. Ia menumbuhkan rasa khusyuk, menghadirkan ketenangan, dan membuat hati lebih peka terhadap kebenaran. Sebaliknya, makanan haram sering kali menjadi hijab—penghalang yang tak terlihat antara manusia dan Tuhannya. Hati mengeras, ibadah terasa hambar, dan doa seperti terhenti di langit pertama.
Di ruang sujud, yang kita butuhkan bukan hanya panjangnya doa, tetapi kejernihan jiwa yang memanjatkannya.
2. Menjaga Tubuh, Menyehatkan Kehidupan
Islam adalah agama yang memuliakan tubuh. Apa yang halal dalam syariat hampir selalu sejalan dengan prinsip kesehatan: bersih, tidak najis, tidak membahayakan, dan diperoleh dengan cara yang benar.
Makanan halal identik dengan proses yang higienis, bahan yang baik, serta terhindar dari zat berbahaya. Ketika seseorang menjaga kehalalan makanannya, sejatinya ia sedang menjaga kualitas hidupnya. Tubuh menjadi lebih terawat, metabolisme lebih stabil, dan risiko penyakit akibat konsumsi sembarangan bisa diminimalkan.
Halal bukan hanya tentang “boleh dimakan”, tetapi juga tentang “layak dan baik untuk tubuh”. Dalam Al-Qur’an, Allah tidak hanya memerintahkan yang halal, tetapi juga yang thayyib—yang baik, bersih, dan menyehatkan.
3. Menumbuhkan Generasi Berkah
Apa yang masuk ke dalam tubuh orang tua akan mengalir menjadi energi dalam pengasuhan. Makanan halal yang diberikan kepada anak bukan sekadar nutrisi fisik, tetapi juga nutrisi ruhani.
Anak-anak yang tumbuh dari rezeki halal lebih mudah menerima nasihat, lebih peka terhadap nilai kebaikan, dan lebih dekat dengan fitrah kesucian. Sebaliknya, jika yang diberikan berasal dari jalan yang haram—hasil korupsi, kecurangan, atau kezaliman—maka dampaknya bukan hanya pada fisik, tetapi juga pada pembentukan karakter.
Keluarga yang menjaga kehalalan makanan sejatinya sedang menanam benih keberkahan jangka panjang. Dari meja makan yang bersih, lahir generasi yang bersih pula.
4. Melindungi dari Fitnah dan Penyimpangan
Banyak keburukan besar berawal dari sumber yang kecil: makanan yang tak jelas asal-usulnya. Rezeki haram—entah karena mencuri, suap, manipulasi, atau transaksi batil—bisa menjadi racun yang perlahan menggerogoti akhlak.
Zat berbahaya yang dikonsumsi bisa merusak akal. Harta haram yang dimakan bisa merusak hati. Dari situlah lahir keberanian berbuat zalim, hilangnya empati, hingga mudahnya seseorang tergelincir dalam penyimpangan.
Menjaga makanan tetap halal adalah bentuk perlindungan diri dari fitnah yang halus tapi mematikan. Ia seperti pagar tak kasat mata yang menjaga seseorang tetap lurus.
5. Menguatkan Solidaritas dan Ekonomi Umat
Dimensi halal juga menyentuh ruang sosial. Ketika seorang Muslim memilih produk halal, ia tidak hanya sedang menjaga dirinya, tetapi juga mendukung ekosistem ekonomi yang taat syariat.
Produsen yang berkomitmen pada kehalalan perlu diapresiasi. Setiap keputusan belanja adalah sikap. Setiap pilihan konsumsi adalah pernyataan nilai. Dengan mengutamakan yang halal, kita memperkuat rantai ekonomi umat dan menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya keberkahan dalam transaksi.
Ruang Sujud
Mengulas Akar Syirik dari Zaman Nabi Nuh hingga Fenomena Spiritual Modern
Perjalanan sejarah syirik serta relevansinya dalam praktik spiritual kontemporer.
Published
7 days agoon
22/02/2026
Monitorday.com – Kita perlu mencoba menata kembali substansi pembahasan tersebut secara reflektif, dengan menyoroti konteks historis, definisi teologis, hingga relevansinya di era modern. Persoalan syirik bukan sekadar isu masa lalu, tetapi tantangan akidah yang terus hadir dalam wajah baru.
Sebelum masa Nuh, manusia berada dalam kondisi bertauhid. Syirik muncul bukan secara tiba-tiba, melainkan melalui proses bertahap. Ketika orang-orang saleh wafat, generasi setelahnya membuat patung sebagai simbol penghormatan dan pengingat kesalehan. Pada tahap ini belum ada penyembahan. Namun generasi berikutnya mulai menjadikan simbol tersebut sebagai perantara doa, hingga akhirnya berubah menjadi objek ibadah. Di sinilah letak akar penyimpangan: pergeseran niat dari penghormatan menjadi pengkultusan. Nabi Nuh kemudian berdakwah selama 950 tahun untuk mengembalikan umatnya kepada tauhid, tetapi hanya sedikit yang beriman sebelum datangnya banjir besar sebagai azab dan titik balik sejarah manusia.
Syirik besar dipahami sebagai tindakan menyekutukan Allah secara langsung, seperti menyembah berhala, meyakini benda memiliki kekuatan ilahiah, atau bergantung pada jimat dengan keyakinan mistis. Sementara itu, syirik kecil lebih bersifat internal, seperti riya—beribadah demi pujian manusia. Secara teologis, syirik kecil tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, tetapi dapat menghapus pahala dan membuka jalan menuju penyimpangan yang lebih besar. Distingsi ini penting agar umat tidak menyederhanakan persoalan akidah hanya pada aspek ritual lahiriah.
Bagian yang cukup relevan dengan konteks kekinian adalah pembahasan tentang ramalan, zodiak, dan praktik perdukunan. Praktik tersebut bertumpu pada informasi gaib yang diyakini berasal dari setan yang mencuri berita dari langit lalu mencampurnya dengan kebohongan. Konsekuensi teologisnya cukup berat: mendatangi dukun meski hanya bertanya disebut dapat menyebabkan salat tidak diterima selama 40 hari, sementara mempercayainya dianggap sebagai bentuk kekufuran terhadap ajaran Muhammad. Ulasan ini menunjukkan bahwa fenomena yang sering dianggap hiburan atau tradisi populer ternyata memiliki implikasi akidah yang serius.
Fenomena modern seperti pawang hujan dan klaim indigo juga dikritisi. Praktik pawang hujan dipandang sebagai bentuk campur tangan makhluk gaib dalam urusan yang sepenuhnya berada dalam kuasa Allah. Sementara klaim kemampuan indigo dinilai lebih dekat pada gangguan jin daripada kelebihan spiritual. Dalam perspektif yang dibahas, tantangan terbesar bukan pada eksistensi fenomena tersebut, melainkan pada cara masyarakat memaknainya—apakah tetap dalam koridor tauhid atau justru mengarah pada ketergantungan gaib yang menyimpang.
Menariknya, wacana ini tidak berhenti pada praktik ekstrem, tetapi juga menyinggung “syirik tipis” dalam kehidupan sehari-hari. Menganggap benda tertentu membawa keberuntungan secara supranatural, meminta pertolongan kepada orang saleh yang telah meninggal, atau mengkultuskan tokoh secara berlebihan menjadi contoh yang diulas. Di sisi lain, meminta doa kepada orang yang masih hidup tetap dibolehkan selama tidak melampaui batas syariat. Di sinilah letak urgensi literasi akidah: membedakan antara penghormatan yang wajar dan pengkultusan yang berlebihan.
Secara keseluruhan, ulasan ini menunjukkan bahwa pesan utama diskusi tersebut adalah menjaga kemurnian tauhid di tengah kompleksitas zaman. Syirik tidak selalu hadir dalam bentuk penyembahan berhala seperti pada masa Nabi Nuh, tetapi bisa menyusup dalam praktik modern yang tampak biasa. Siapa pun berpotensi terjebak jika tidak memiliki pemahaman akidah yang kuat. Karena itu, memperdalam ilmu, bersikap kritis terhadap fenomena spiritual populer, dan meneguhkan niat ibadah menjadi langkah preventif agar fondasi tauhid tetap kokoh dalam setiap fase kehidupan.
Sumber : YouTube Richard Lee
Monitorday.com – Ramadan disebut sebagai bulan al-Qur’an bukan sekadar tradisi lisan, melainkan penegasan langsung dari al-Qur’an. Allah berfirman:
“Syahru Ramadhānal ladzī unzila fīhil Qur’ān…”
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Bahkan ditegaskan lagi:
“Innā anzalnāhu fī lailatil qadr.” (QS. Al-Qadar: 1)
“Innā anzalnāhu fī lailatin mubārakah.” (QS. Ad-Dukhān: 3)
Para ulama menjelaskan, al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar—malam yang diberkahi. Maka Ramadan bukan hanya bulan puasa, tetapi bulan turunnya petunjuk hidup.
Ramadan dan Al-Qur’an Tak Terpisahkan
Dalam riwayat sahih disebutkan:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau… Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan, lalu mengajarkan Al-Qur’an…” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)
Setiap malam Ramadan, Rasulullah SAW mudarasah (saling menyimak dan mempelajari) al-Qur’an bersama Jibril. Bahkan di tahun wafatnya, beliau mengkhatamkan dua kali (HR. Bukhari no. 4998).
Ibnu Rajab Al-Hambali dalam Lathaif Al-Ma’arif menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan anjuran memperbanyak tilawah dan mempelajari al-Qur’an di bulan Ramadan.
Al-Qur’an pun lebih kuat menyentuh jiwa ketika dibaca malam hari:
“Sesungguhnya di waktu malam lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzammil: 6)
Karena itu, Ramadan adalah momentum pulang—pulang kepada wahyu.
Tahapan Interaksi dengan Al-Qur’an
Agar Ramadan benar-benar menjadi bulan al-Qur’an, interaksi kita tidak boleh berhenti pada bacaan. Setidaknya ada empat tahapan yang bisa ditempuh:
1️. Tilawah: Membaca dengan Tartil
Tahap paling dasar adalah membaca dengan tajwid dan makharijul huruf yang benar.
“Membaca satu huruf Al-Qur’an mendatangkan 10 kebaikan.”
Tilawah adalah fondasi. Di Ramadan, banyak orang menargetkan satu juz per hari. Ini baik. Tetapi jangan berhenti di sana.
2. Qira’ah: Membaca dan Memahami Makna
Tidak semua Muslim menguasai bahasa Arab. Maka membaca terjemahan adalah jembatan menuju pemahaman.
Qira’ah berarti membaca dengan kesadaran makna. Satu ayat yang dipahami seringkali lebih mengubah hidup dibanding satu halaman yang hanya dilafalkan.
3️. Tadarus: Menggali Tafsir dan Diskusi
Tadarus bukan sekadar membaca bersama, tetapi mendalami tafsir dan asbāb al-nuzūl agar tidak salah memahami ayat.
Contoh klasik adalah ayat:
“Al-fitnatu asyaddu minal qatl.”
Tanpa konteks, orang bisa salah kaprah memaknai “fitnah” secara sempit. Tadarus melindungi kita dari pemahaman yang tergesa.
4️. Tadabbur: Menghidupkan Al-Qur’an dalam Realitas
Inilah puncaknya. Tadabbur bukan lagi soal berapa juz yang selesai dibaca, tetapi sejauh mana Al-Qur’an mengubah diri kita. Pada tahap ini, setiap ayat terasa personal. Jika ia perintah, kita bertanya: sudahkah saya jalankan? Jika ia larangan, kita gelisah: sudahkah saya tinggalkan? Tadabbur adalah keberanian untuk bercermin—membiarkan ayat-ayat itu menegur, membimbing, sekaligus meluruskan langkah.
Di sinilah Al-Qur’an benar-benar hidup. Ia tidak berhenti sebagai bacaan yang merdu, tetapi menjelma menjadi kompas dalam keputusan, sikap, dan tindakan. Ia hadir dalam cara kita bekerja, memimpin, berbicara, dan memperlakukan sesama. Al-Qur’an tidak diturunkan sekadar untuk dilantunkan, melainkan untuk dihidupkan—dan tadabbur adalah saat wahyu itu benar-benar bekerja dalam kehidupan kita.
Transformasi
KH. Ahmad Dahlan memberi contoh konkret bagaimana berinteraksi dengan al-Qur’an secara utuh. Beliau tidak hanya membaca (tilawah), tetapi memahami (qira’ah), mendalami tafsir (tadarus), lalu mengamalkan (tadabbur).
Ketika membaca Surah al-Ma’un, beliau tidak berhenti pada hafalan. Beliau bertanya: bagaimana ayat ini diwujudkan? Maka lahirlah gerakan sosial yang menolong fakir miskin dan anak yatim—yang kemudian menjadi cikal bakal gerakan Muhammadiyah.
Inilah tafsir transformatif: Al-Qur’an turun dari langit, tetapi bekerja di bumi.
Momentum Naik Level
Ramadan seharusnya menjadi tangga peningkatan spiritual. Kita memulainya dari tilawah—membaca dengan tartil dan penuh hormat. Lalu naik ke qira’ah—membaca dengan memahami makna. Tidak berhenti di sana, kita melangkah ke tadarus—mendalami tafsir dan mendiskusikan pesan-pesannya. Hingga akhirnya sampai pada puncaknya: tadabbur, ketika al-Qur’an benar-benar menyentuh cara berpikir dan bertindak kita.
Karena itu, jangan sampai al-Qur’an hanya menjadi ritual seremonial—khatam karena target, atau dibaca karena kebiasaan tahunan. Interaksi sejati tidak bisa diwakilkan. Ia harus dilakukan sendiri, meski hanya satu ayat. Satu ayat yang direnungkan dengan sungguh-sungguh dan diamalkan, seringkali lebih bermakna daripada lembaran-lembaran yang berlalu tanpa bekas.
Pada akhirnya, Ramadan disebut Bulan Al-Qur’an bukan hanya karena wahyu pertama turun di dalamnya, tetapi karena di bulan inilah al-Qur’an seharusnya paling hidup dalam diri kita. Ramadan memang bulan puasa. Namun lebih dari itu, ia adalah bulan pulang—pulang kepada wahyu, pulang kepada petunjuk, pulang kepada cahaya yang menuntun hidup.
Ruang Sujud
Sinar Mas dan APP Group Wakafkan 2.000 Mushaf Al-Qur’an kepada ICMI
Published
7 days agoon
22/02/2026By
Umar Satiri
Monitorday.com – Sinar Mas dan APP Group kembali menunjukkan komitmennya di bulan Ramadan. Lewat Yayasan Muslim Sinar Mas (YMSM), mereka mewakafkan 2.000 mushaf Al-Qur’an kepada Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Penyerahan dilakukan secara simbolis di ICMI Center, Jakarta Selatan. Wakil Ketua Dewan Pembina YMSM Feri Wibisono menyerahkan langsung mushaf kepada Ketua Umum ICMI Arif Satria. Nantinya, al-Qur’an tersebut akan disalurkan ke berbagai masjid, musala, hingga lembaga pendidikan Islam di berbagai daerah.
Acara ini turut disaksikan jajaran pengurus YMSM dan pimpinan ICMI. Ketua YMSM yang juga Managing Director Sinar Mas, Saleh Husin, mengatakan wakaf ini bukan sekadar distribusi kitab suci, tetapi juga bagian dari upaya menumbuhkan nilai-nilai kebaikan.
“Wakaf kami niatkan agar kita berkesempatan meraih akhlak mulia melalui berpuasa serta memaknai dan mengamalkan nilai kebaikan juga toleransi yang diamanatkan dalam al-Qur’an,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).
Bagi Sinar Mas, kegiatan sosial keagamaan seperti ini adalah bentuk tanggung jawab moral yang dijalankan secara konsisten. Feri Wibisono menambahkan, mushaf yang diwakafkan dicetak menggunakan kertas hasil pengembangan dan produksi dari salah satu unit usaha Sinar Mas.
Direktur APP Group Agus Wahyudi menegaskan, kertas khusus Al-Qur’an yang digunakan dalam program wakaf ini diproduksi di fasilitas manufaktur dalam negeri milik APP Group.
“Selain sebagai bagian dari kontribusi kami pada aspek sosial keagamaan, wakaf ini juga menunjukkan kapabilitas industri nasional dalam menghadirkan kertas khusus Al-Qur’an yang diproduksi APP Group dengan standar kualitas tinggi untuk kebutuhan kitab suci dan buku-buku keagamaan,” ujarnya.
Program wakaf Al-Qur’an ini bukan hal baru. Sejak 2008, lebih dari 1,4 juta mushaf telah didonasikan melalui dukungan APP Group bersama pilar bisnis Sinar Mas lainnya. Penyalurannya menjangkau lembaga keagamaan, sekolah, komunitas, hingga kesatuan TNI-Polri, termasuk di wilayah terluar Indonesia.
Tak hanya mushaf, APP Group juga rutin mendukung distribusi buku panduan membaca al-Qur’an seperti Juz Amma. Upaya ini ditujukan agar generasi muda bisa belajar dan mencintai al-Qur’an sejak usia dini.
Monitorday.com – Ketika nama Rusia disebut, imajinasi publik global hampir selalu tertuju pada kekuatan militer, geopolitik, dan musim dingin yang ekstrem. Rusia dipandang sebagai simbol kekuatan keras (hard power), negara superpower dengan sejarah panjang konflik, ekspansi, dan pengaruh global. Namun, di balik citra itu, terdapat sisi lain yang jarang mendapat sorotan: Rusia juga merupakan rumah spiritual bagi lebih dari 30 juta Muslim.
Fakta ini bukan sekadar statistik demografis, melainkan cermin dari realitas sosial yang kompleks dan sering kali luput dari narasi arus utama. Islam bukan entitas asing di Rusia. Ia telah hadir selama berabad-abad, jauh sebelum Rusia modern terbentuk. Di republik seperti Tatarstan, Chechnya, dan Dagestan, Islam bukan minoritas simbolik, melainkan bagian inti dari identitas budaya dan kehidupan masyarakat.
Ramadan di Rusia menghadirkan ujian fisik yang jauh lebih berat dibandingkan di banyak negara Muslim lainnya. Letak geografisnya di lintang tinggi membuat durasi siang hari bisa mencapai lebih dari 18 jam. Ini berarti umat Muslim harus menahan lapar, haus, dan segala pembatal puasa hampir sepanjang hari.
Namun justru di sinilah letak makna terdalamnya.
Puasa di Rusia bukan sekadar ritual, tetapi manifestasi keteguhan iman di tengah kondisi alam yang ekstrem. Ketika seseorang tetap berpuasa meski matahari hampir tak pernah “menghilang”, ibadah itu berubah menjadi simbol ketahanan spiritual. Ia menjadi bukti bahwa iman tidak tunduk pada kenyamanan geografis.
Momentum berbuka puasa pun berubah menjadi perayaan kolektif yang sarat makna. Di kota-kota seperti Moskow dan Saint Petersburg, ribuan Muslim berkumpul, berbagi makanan, doa, dan kebersamaan. Dalam suhu dingin sekalipun, kehangatan solidaritas tetap terasa.
Masjid Soekarno: Jejak Indonesia dalam Lanskap Spiritual Rusia
Salah satu simbol menarik dari kehidupan Islam di Rusia adalah Masjid Soekarno di Saint Petersburg. Masjid ini bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi simbol hubungan historis dan emosional antara Rusia dan dunia Muslim, termasuk Indonesia.
Keberadaan masjid ini mengandung makna yang lebih dalam dari sekadar arsitektur. Ia adalah pengingat bahwa Islam di Rusia bukan hanya bertahan, tetapi hidup, berkembang, dan menjadi bagian dari lanskap nasional.
Ramadan di masjid ini bukan hanya ritual keagamaan, melainkan pernyataan eksistensi—bahwa identitas Muslim tetap berdiri kokoh bahkan di negara yang sering dipersepsikan sebagai pusat kekuatan sekuler.
Rusia dan Pelajaran tentang Identitas yang Kompleks
Sering kali dunia melihat negara melalui satu lensa tunggal: militer, ekonomi, atau politik. Rusia adalah contoh nyata betapa pendekatan itu bisa menyesatkan. Negara ini bukan hanya kekuatan militer, tetapi juga ruang bagi kehidupan spiritual yang dinamis.
Keberadaan jutaan Muslim di Rusia menunjukkan bahwa identitas sebuah negara tidak pernah tunggal. Ia selalu berlapis, kompleks, dan penuh paradoks.
Ramadan di Rusia mengajarkan satu hal penting: iman tidak bergantung pada geografi. Ia tidak melemah oleh dingin, tidak goyah oleh panjangnya siang, dan tidak hilang oleh dominasi narasi politik global.
Justru di negeri yang dikenal membekukan, Ramadan menunjukkan sesuatu yang hangat—bahwa spiritualitas, solidaritas, dan keyakinan mampu tumbuh bahkan di tempat yang paling tak terduga.
Pada akhirnya, Rusia bukan hanya tentang kekuatan militer. Ia juga tentang kekuatan iman.
Monitor Saham BUMN
BRI Insrurance Pertegas Komitmen Pendidikan Lewat Program TJSL
Ali Khamenei dan Warisan Api yang Ia Tinggalkan
Wacana Merger Paramount–Warner Bros Ditolak Pemilik Bioskop, Kenapa?
Buntut Serangan AS-Israel ke Iran, Jadwal Penerbangan Tim MotoGP Terganggu
Prabowo Siap ke Teheran Mediasi AS-Iran
Di Balik Tewasnya Khamenei Tokoh Kunci Kekuatan Regional Timur Tengah
Prabowo Urus Saja MBG, Tidak Usah Genit Mau ke Taheran: Mau Jadi Jubir BOP?
Biadab! Israel dan Amerika yang memulai Serang Iran, Kini Framing Taheran Serang Negara Arab
Israel Umumkan Status Darurat Energi Usai Dihujani Rudal Iran
Iran Balas Roket Pangkalan Amerika di Qatar dan Haiva Israel, Presiden Rusia Ingatkan Trump Cs
BRI Siap Danai Program Gentengisasi, Dorong UMKM dan Rumah Rakyat Layak Huni
Mario Aji Tembus Q2 Moto2 Thailand 2026, Samai Prestasi Veda Ega di Moto3
Bezzecchi Pole Position, Marquez Tempel Ketat di Kualifikasi MotoGP Thailand 2026
Pemerintah Naikkan Insentif dan Tunjangan Guru, Seskab Teddy: Baru di Era Prabowo
Masjid di Jerman: Fakta yang Jarang Diketahui
5 Destinasi Ramadan di Eropa yang Wajib Dikunjungi
Sejumlah Negara Kompak Desak Warganya Tinggalkan Iran, Timur Tengah Kian Memanas
Puasa di Kota Ini Bisa Hanya Satu Jam
Deep Purple dan Slank Bakal Gelar Konser Spektakuler di Jakarta, Berapa Harga Tiketnya?
