Connect with us

Review

Darurat Narkoba di Tubuh Polri

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Integritas adalah fondasi utama institusi penegak hukum. Dalam konteks pemberantasan narkoba, tidak boleh ada ruang kompromi bagi aparat yang justru terlibat dalam kejahatan yang seharusnya mereka berantas. Oleh karena itu, Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) harus benar-benar selektif, tegas, dan tanpa toleransi terhadap anggotanya yang pernah tersandung narkoba, baik sebagai pengguna maupun bagian dari jaringan peredaran. Mereka tidak layak menduduki jabatan apapun, karena kepercayaan publik adalah modal utama penegakan hukum.

Narkoba adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang menghancurkan masa depan bangsa. Ketika aparat kepolisian justru terlibat, maka dampaknya berlipat ganda. Aparat bukan hanya menjadi pelaku, tetapi juga berpotensi melindungi jaringan kejahatan, merusak sistem penegakan hukum, dan mengkhianati sumpah jabatan. Oleh karena itu, standar integritas bagi anggota kepolisian harus jauh lebih tinggi dibandingkan profesi lainnya.

Kasus yang melibatkan Teddy Minahasa menjadi contoh paling mencolok. Seorang perwira tinggi dengan jabatan strategis terbukti terlibat dalam peredaran narkoba dan divonis hukuman yang entah mati atau kurungan? Peristiwa ini menjadi pukulan telak bagi citra kepolisian dan menunjukkan bahwa penyimpangan dapat terjadi bahkan di level tertinggi. Kasus ini harus menjadi titik balik bagi reformasi internal kepolisian.

Di tingkat wilayah, kasus di Bima, Nusa Tenggara Barat, juga memperlihatkan pola yang mengkhawatirkan. Didik Putra Kuncoro, mantan Kapolres Bima Kota, diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan bandar narkoba. Pengusutan yang dilakukan oleh Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim Polri) bersama Polda Nusa Tenggara Barat mengungkap bahwa perkara yang awalnya terkait dugaan kepemilikan narkotika berkembang menjadi dugaan yang lebih serius, yakni penerimaan aliran dana hasil kejahatan narkotika.

Didik bahkan kembali ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan menerima aliran dana sebesar Rp2,8 miliar yang berasal dari peredaran gelap narkotika. Dana tersebut diduga berasal dari AKP Malaungi, yang saat itu menjabat sebagai Kasat Resnarkoba Polres Bima Kota. Dugaan ini menunjukkan adanya penyalahgunaan jabatan dan kewenangan secara sistematis. Jika aparat yang seharusnya memberantas narkoba justru menerima keuntungan dari peredaran narkoba, maka ini adalah bentuk pengkhianatan institusional yang sangat serius.

Kasus lain yang juga menjadi sorotan adalah keterlibatan Catur Prasetyo, yang pernah menjabat Wakapolres Bima dan dipersiapkan sebagai calon Pelaksana Harian Kapolres Bima. Fakta bahwa calon pimpinan wilayah tersandung kasus narkoba menunjukkan bahwa proses seleksi dan pengawasan internal masih memiliki kelemahan serius. Jabatan Kapolres adalah posisi strategis yang menentukan arah penegakan hukum di daerah. Oleh karena itu, integritas harus menjadi syarat mutlak.

Kasus Yuni Purwanti Kusuma Dewi, mantan Kapolsek Astana Anyar, juga memperkuat fakta bahwa persoalan narkoba di tubuh kepolisian bukan kasus tunggal. Ia diberhentikan dan diproses hukum setelah terbukti menggunakan narkoba. Ini menunjukkan bahwa masalah narkoba di institusi kepolisian bersifat sistemik dan memerlukan solusi struktural.

Sudah saatnya POLRI menerapkan kebijakan tanpa toleransi (zero tolerance policy). Anggota yang pernah terlibat narkoba tidak boleh dipromosikan, tidak boleh menduduki jabatan strategis, dan harus diberhentikan secara tidak hormat. Jabatan seperti Kapolsek, Kapolres, hingga Kapolda harus diisi oleh personel yang bersih dan memiliki integritas yang tidak diragukan.

Reformasi internal harus mencakup tes narkoba berkala, audit integritas, pengawasan gaya hidup, dan penegakan hukum yang tegas tanpa pandang bulu. Ketegasan bukan hanya penting untuk menghukum pelaku, tetapi juga untuk memulihkan kepercayaan publik.

Jika POLRI ingin tetap menjadi benteng terakhir dalam perang melawan narkoba, maka institusi ini harus terlebih dahulu membersihkan dirinya sendiri. Tidak ada kompromi bagi aparat yang mengkhianati hukum. Integritas bukan hanya syarat jabatan, tetapi kehormatan yang harus dijaga dengan segala konsekuensinya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Menteri, Citra Positif, dan Pertarungan Sunyi di Ruang Digital

Analisis mendalam mengenai bagaimana citra menteri dibentuk di tengah arus percakapan digital yang netral. Temukan peran media sosial dan algoritma dalam membentuk persepsi publik.

Umar Satiri

Published

on

DI TENGAH derasnya arus percakapan publik tentang para pejabat negara, ada satu hal yang sekilas tampak menenangkan: hampir seluruh sentimen yang beredar berada di wilayah netral. Tidak ada gelombang pujian yang membuncah, tidak pula penolakan yang menggema. Seolah-olah publik memilih diam—mengamati, menimbang, tetapi belum benar-benar memutuskan.

Namun di era digital, ketenangan semacam itu sering kali menyimpan dinamika yang lebih dalam. Ia bukan tanda absennya opini, melainkan ruang sunyi di mana persepsi sedang diam-diam dibentuk.

Data monitoring yang dihimpun melalui platform Sosmon.id memperlihatkan skala percakapan yang tidak kecil. Sepanjang 1 Januari hingga 10 April 2026, tercatat 7.042 pemberitaan media online dan 6.992 unggahan media sosial yang membicarakan para menteri dan pejabat publik. Hampir seluruhnya berada dalam spektrum netral, mencapai 99,1 persen dari total percakapan.

Ketenangan bukan tanda ketiadaan opini, melainkan ruang sunyi di mana persepsi sedang diam-diam dibentuk.

Angka ini, pada pandangan pertama, tampak seperti stabilitas. Namun jika ditelusuri lebih jauh, ia justru menunjukkan sesuatu yang lebih subtil: reputasi yang belum sepenuhnya terkunci, citra yang masih dalam proses pembentukan, dan publik yang masih menunggu bingkai yang paling meyakinkan.

Network Society

Dalam konteks ini, cara publik melihat para pejabat tidak bisa dilepaskan dari cara realitas itu sendiri dibentuk. Erving Goffman mengingatkan bahwa publik tidak pernah melihat realitas secara utuh. Mereka menangkap potongan-potongan kecil—pernyataan, gestur, kebijakan—yang kemudian dirangkai menjadi makna. Di ruang digital, potongan itu semakin pendek, semakin cepat, dan semakin mudah bergeser.

Ruang digital pun tidak lagi sekadar medium, melainkan lingkungan. Manuel Castells menyebutnya sebagai network society, sebuah tatanan di mana makna dibentuk oleh arus komunikasi yang terus bergerak. Sementara José van Dijck menunjukkan bahwa platform digital bukan ruang netral, melainkan ruang yang dikurasi oleh algoritma—memilih apa yang terlihat, dan apa yang tenggelam.

Di titik inilah, citra para menteri hari ini dibentuk: di antara jaringan yang terus bergerak dan algoritma yang memilih.

Sosmon.id, melalui pendekatan berbasis kecerdasan artifisial dan pemrosesan bahasa alami, menangkap dinamika itu secara konkret. Percakapan publik tidak lagi didominasi media arus utama, melainkan oleh media sosial, dengan TikTok sebagai kontributor terbesar, disusul Instagram dan Facebook. 

Dalam ruang seperti ini, citra tidak dibangun melalui narasi panjang, tetapi melalui fragmen-fragmen singkat yang terus diulang.

Three Musketeers

Dari seluruh percakapan itu, tiga figur muncul paling menonjol dalam visibilitas publik: Purbaya Yudhi Sadewa, Prasetyo Hadi, dan Teddy. Mereka tidak hanya hadir sebagai pejabat, tetapi sebagai representasi dari tiga cara berbeda dalam dibaca oleh publik.

Purbaya tampil dalam bingkai teknokratik. Ia hadir melalui angka, kebijakan fiskal, dan stabilitas ekonomi. Publik melihatnya sebagai figur yang bekerja dalam sistem—tenang, rasional, dan terukur. Dalam banyak percakapan, ia menjadi simbol dari kepemimpinan berbasis kompetensi.

Prasetyo Hadi, di sisi lain, tampil sebagai komunikator kebijakan. Ia tidak hanya bekerja, tetapi menjelaskan. Ia mengisi ruang publik dengan narasi reformasi, menerjemahkan kebijakan menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami. Dalam bingkai ini, citra dibangun bukan hanya dari kerja, tetapi dari kemampuan mengartikulasikan kerja tersebut.

Sementara itu, Teddy muncul dalam bingkai yang lebih operasional dan personal. Ia terlihat bergerak di lapangan, hadir dalam aktivitas nyata, dan dekat dengan dinamika sehari-hari. Publik membaca dirinya sebagai figur yang bekerja secara konkret—tidak selalu dalam bahasa kebijakan, tetapi dalam tindakan yang terlihat.

Ketiga figur ini memperlihatkan bahwa citra positif tidak pernah tunggal. Ia bisa lahir dari rasionalitas, dari komunikasi, maupun dari kehadiran langsung di lapangan. Sejauh ini, tiga sosok ini yang memang lebih berjibaku membantu Presiden, mereka tak ubahnya seperti Three Musketeers.

Namun yang menarik, tidak satu pun dari mereka benar-benar mendominasi secara absolut. Narasi positif yang melekat selalu berjalan berdampingan dengan narasi lain yang lebih kritis.

Isu-isu seperti dugaan korupsi di lingkungan kementerian, pengelolaan kebijakan, hingga pernyataan yang dianggap sensitif tetap muncul dalam percakapan. Jumlahnya kecil, tetapi daya guncangnya besar. Dalam ruang digital, satu isu tidak perlu banyak untuk menjadi signifikan—ia hanya perlu tepat waktu dan tepat format.

David dan Goliath

Di sinilah perspektif Malcolm Gladwell dalam David and Goliath menjadi relevan. Gladwell menunjukkan bahwa yang kecil sering kali menang bukan karena kuat, tetapi karena mampu mengubah cara permainan dijalankan.

Dalam konteks digital, kita melihat fenomena serupa—misalnya dalam apa yang dikenal sebagai fenomena “Aldi’s Berger”. Sebuah entitas yang awalnya kecil, tidak dominan, bahkan nyaris tak diperhitungkan, tiba-tiba muncul dan menguasai perhatian publik. Bukan karena kekuatan struktural, tetapi karena resonansi—kesederhanaan, keaslian, dan kedekatan dengan pengalaman publik.

Fenomena seperti ini memberi pelajaran penting: di era algoritma, kerja yang terlihat “apa adanya”, tidak dibuat-buat, dan terasa autentik justru bisa menjadi pemicu citra yang kuat. Bukan karena ia dirancang untuk viral, tetapi karena ia mudah dipahami dan mudah dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

Di titik ini, citra positif tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh strategi komunikasi formal. Ia bisa muncul dari sesuatu yang lebih sederhana—kehadiran yang konsisten, kerja yang nyata, dan narasi yang terasa jujur.

Jika dilihat secara keseluruhan, citra para menteri hari ini tidak bergerak dalam lonjakan ekstrem. Ia tidak melonjak tajam ke arah positif, tetapi juga tidak runtuh secara drastis. Ia bergerak perlahan, mengikuti isu yang muncul dan menghilang.

Namun justru di situlah letak kompleksitasnya. Citra tersebut bukan stabil, melainkan cair. Ia terus berubah, mengikuti konteks, platform, dan cara publik membingkai setiap informasi yang mereka terima.

Pada akhirnya, citra positif di era digital bukanlah sesuatu yang bisa dipertahankan hanya dengan kinerja atau komunikasi formal. Ia adalah hasil dari interaksi yang terus berlangsung antara tindakan nyata, representasi digital, dan interpretasi publik.

Dalam ruang yang dipenuhi algoritma, reputasi tidak lagi sepenuhnya dimiliki oleh mereka yang memegang jabatan. Ia dibentuk oleh jutaan pengguna yang memilih apa yang mereka lihat, apa yang mereka bagikan, dan apa yang mereka percaya.

Dan dalam lanskap seperti ini, citra positif bukanlah sesuatu yang permanen. Ia adalah sesuatu yang terus dinegosiasikan—setiap hari, di setiap layar, dalam setiap percakapan yang tampak kecil, tetapi sebenarnya menentukan.

Continue Reading

Review

Tsunami Perceraian di Jabar Sentuh Angka Ratusan Ribu Kasus

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Kementerian Agama (Kemenag) RI terus memperkuat program bimbingan dan pembinaan keluarga sebagai upaya merespons tingginya angka perceraian di Jawa Barat. 

Lonjakan kasus yang nyaris menembus angka 100 ribu ini menjadi alarm serius bagi ketahanan keluarga Muslim di wilayah dengan populasi terbesar di Indonesia tersebut.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat, Dudu Rahman, mengungkapkan, angka perceraian di wilayahnya masih tergolong tinggi, mencapai lebih dari 98.903 kasus.

Data tersebut tidak hanya mencerminkan dinamika sosial-ekonomi, tetapi juga mengindikasikan tantangan besar dalam membangun keluarga harmonis di tengah tekanan zaman.

“Angka perceraian di Jawa Barat juga tergolong tinggi, mencapai lebih dari 98.903 kasus. Berbagai faktor menjadi penyebab, mulai dari persoalan ekonomi hingga konflik rumah tangga, dengan sekitar 40 persen gugatan diajukan oleh pihak istri,” ujarnya dalam siaraan pers Kemenag.

KUA Jadi Ujung Tombak

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius dan mendorong perlunya penguatan program pembinaan keluarga berbasis Kantor Urusan Agama (KUA). 

Selama ini, KUA dikenal luas sebagai lembaga pencatatan pernikahan. Namun, perannya kini diperluas menjadi pusat pembinaan keluarga yang berkelanjutan.

Ia menyebut, KUA memiliki peran strategis sebagai ujung tombak layanan keagamaan di tingkat kecamatan, tidak hanya dalam pencatatan pernikahan, tetapi juga dalam pembinaan keluarga.

“Kita harus memperkuat pembinaan agar keluarga yang terbentuk benar-benar menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah,” lanjutnya.

Transformasi Layanan Keluarga

Senada dengan itu, Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kementerian Agama, Ahmad Zayadi, mengungkapkan, penguatan peran KUA menjadi kunci dalam menjawab berbagai persoalan keluarga di masyarakat.

“Melalui KUA, berbagai layanan keagamaan maupun layanan keluarga dapat diakses masyarakat secara langsung. KUA juga menjadi simpul penting dalam penyampaian kebijakan pemerintah dengan pendekatan keagamaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, KUA saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat pencatatan pernikahan, tetapi telah bertransformasi menjadi pusat layanan keagamaan dan keluarga yang lebih komprehensif.

Program yang terus didorong antara lain bimbingan perkawinan pranikah, pembinaan keluarga sakinah, serta layanan konsultasi dan mediasi keluarga di KUA.

Edukasi dan Mediasi Diperkuat

Selain itu, peran penyuluh agama dan penghulu juga dioptimalkan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama terkait ketahanan keluarga dan penyelesaian konflik rumah tangga. Pendekatan ini dinilai penting untuk mencegah konflik berkembang menjadi perceraian.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi preventif Kementerian Agama dalam memperkuat fondasi keluarga sejak awal, sekaligus memberikan solusi bagi pasangan yang tengah menghadapi persoalan rumah tangga.

Melalui berbagai upaya tersebut, Kementerian Agama berharap kualitas kehidupan keluarga di masyarakat dapat meningkat, sekaligus menekan angka perceraian secara bertahap. 

Upaya tersebut juga menjadi bagian dari misi besar membangun ketahanan sosial berbasis nilai-nilai keagamaan di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.

Continue Reading

Review

Harga Avtur Naik, Ongkos Haji Justru Turun: Kok Bisa?

Natsir Amir

Published

on

Langkah tegas Prabowo Subianto dalam merespons kenaikan harga avtur patut diapresiasi sebagai bentuk nyata kepemimpinan yang berpihak pada rakyat. Di tengah dinamika global yang mendorong lonjakan biaya operasional penerbangan, keputusan Presiden untuk tidak membebankan kenaikan tersebut kepada jemaah haji menunjukkan keberanian sekaligus empati yang jarang terlihat dalam kebijakan publik.

Kenaikan harga avtur sejatinya menjadi ancaman serius bagi penyelenggaraan ibadah haji, mengingat komponen ini merupakan salah satu faktor dominan dalam struktur biaya penerbangan. Kekhawatiran akan membengkaknya ongkos haji sempat mencuat dan berpotensi menimbulkan kegelisahan di kalangan masyarakat. Namun, melalui arahan langsung Presiden dalam rapat terbatas, kekhawatiran tersebut berhasil diredam dengan kebijakan yang berpihak secara jelas: jemaah tidak boleh menjadi pihak yang menanggung beban.

Pernyataan Presiden yang menegaskan bahwa biaya haji tahun 2026 justru diturunkan sekitar Rp2 juta, meskipun harga avtur mengalami kenaikan, merupakan sinyal kuat bahwa negara hadir untuk melindungi kepentingan umat. Ini bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan keputusan strategis yang mencerminkan sensitivitas sosial dan komitmen terhadap keadilan ekonomi. Dalam konteks ini, keberanian menurunkan biaya di tengah tekanan global menjadi bukti bahwa pemerintah tidak sekadar mengikuti arus, tetapi mampu mengendalikan arah.

Respons positif dari jajaran pelaksana, termasuk pernyataan Irfan yang mengaku “lega” dan “terharu” atas perhatian Presiden, mempertegas bahwa kebijakan ini bukan hanya berdampak secara teknis, tetapi juga secara emosional. Ada rasa kepercayaan yang tumbuh, bahwa kepemimpinan nasional benar-benar memahami kebutuhan rakyatnya, khususnya para calon jemaah haji yang telah menunggu lama untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Lebih dari itu, langkah lanjutan pemerintah melalui Kementerian terkait yang akan menghitung ulang usulan kenaikan biaya dari maskapai, serta menjajaki berbagai sumber pendanaan seperti APBN dan dukungan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), menunjukkan keseriusan dalam menjaga keberlanjutan kebijakan ini. Pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif ini menandakan bahwa keputusan Presiden bukanlah langkah populis sesaat, melainkan bagian dari strategi kebijakan yang matang dan terukur.

Di sisi lain, kesiapan teknis penyelenggaraan haji 2026 juga menunjukkan progres yang menggembirakan. Terbitnya visa jemaah secara penuh serta kesiapan distribusi Kartu Nusuk menjadi indikator bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspek biaya, tetapi juga pada kualitas layanan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa jemaah dapat menjalankan ibadah dengan nyaman, aman, dan khusyuk.

Imbauan kepada jemaah untuk tetap tenang dan fokus pada persiapan fisik serta mental semakin menegaskan bahwa pemerintah ingin menciptakan suasana kondusif menjelang keberangkatan. Dengan jadwal masuk asrama haji pada 21 April dan pemberangkatan mulai 22 April 2026, seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, mencerminkan tata kelola yang rapi dan terkoordinasi.

Kita perlu apresiasi kepada Presiden Prabowo atas kebijakan ini, mengingat situasi global yang penuh ketidakpastian, langkah Presiden justru menghadirkan optimisme bahwa negara mampu hadir sebagai pelindung, sekaligus penjamin keadilan bagi seluruh warganya.

Continue Reading

News

Persetujuan Gencatan Senjata Antara Iran dan Israel (Amerika) Yang Rapuh

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Dalam beberapa hari terakhir ini ketegangan benar-benar meninggi di berbebagai belahan dunia. Perang Amerika-Israeli terhadap Iran telah memaksa dunia mengambil sikap karena dampak ekonomi yang cukup parah. Di Amerika sendiri harga minyak naik 100%, yang secara langsung berdampak kepada harga berbagai kebutuhan dasar masyarakat. Sangat wajar jika masyarakat Amerika pada akhir pekan lalu secara serempak di berbagai kota-kota besar melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut agar Presiden Trump dimakzulkan. Konon ini adalah demo terbesar dalam sejarah negara adi daya ini.

Demo anti Trump ini bukan baru. Dan sebenarnya bukan juga sekedar karena keterlibatan Amerika dalam perang Israel menyerang Iran. Sejak awal terpilihnya, Trump telah melakukan banyak hal yang dianggap tidak sejalan dengan Konstitusi dan nilai-nilai Amerika (American values (kebebasan dan keadilan untuk semua). Berbagai kebijakan rasis yang dinilai anti minoritas (non white) sangat terbuka. Hal itu secara gamblang dapat dilihat pada kebijakan imigrasi yang tidak manusiawi. Namun kemuakan masyarakat memuncak ketika kasus kriminal pelecehan kepada wanita-wanita di bawah umur yang dikenal dengan “the Epstein Files” itu terbuka ke publik.

Sayangnya tuntutan masyarakat ini tidak bisa ditindak lajuti secara politik karena saat ini badan legislatif (Senate dan Kongress) maupun yudikatif (Mahkamah Agung) masih didominasi oleh Republikan yang umumnya loyalis Trump. Mereka yang membelok dari Trump akan diintimidasi dan cenderung dikriminalkan dengan bersenjatakan Kejaksaan Agung (Department of Justice). Pada akhirnya memang Presiden Trump ingin menempatkan diri sebagai “raja”, bertindak sesuai kehendaknya tanpa mempedulikan hukum. Wajar saja jika tema demo akhir-akhir ini adalah menolak kerajaan (No King).

Saya tidak bermaksud membahas berbagai kebijakan, apalagi karakter pribadi Trump yang ditenggarai oleh sebagian sedang mengidap “psychological disorder”. Hal sama yang sedang menimpa pemimpin dunia di beberapa negara: yang mengalami ketidak stabilan mental (mental instability). Sehingga berbagai kebijakan yang diambilnya lebih mementingkan kepentingan pribadi (senang dipuji) dan keluarga (membangun bisnis empire). Hal yang terlihat pada apa yang disebut Board of Peace. Sesungguhnya bertujuan terutama agar Trump terpilih sebagai penerima Nobel Perdamaian. Ambisi lama dicurigai sebagai keinginan balas dendam dengan Obama yang menerima Nobel Perdamaian sejak awal kepresidennya.

Perang Isral-Amerika ke Iran

Kalimat di atas mengandung dua hal penting. Pertama, perang yang terjadi di Timur Tengah saat ini adalah perang Israel terhadap Iran. Saya katakan demikian, karena sesungguhnya dorongan utama di balik serangan itu adalah ambisi negara Zionis untuk melakukan ekspansi apa yang disebut “The Great Israeli” (Israeli Raya). Amerika, sebagaimana di beberapa negara sebelumnya hanya dipakai untuk memenuhi hasrat dan ambisi Israel itu. Amerika tidak mendapatkan kecuali kerugian baik secara ekonomi maupun citra di mata dunia.

Kedua, perang ini secara mendasar bukan perang yang diinginkan oleh Iran. Hanya saja selama ini dilabelkan dengan kata-kata: “Iran war” (perang Iran). Padahal yang benar ada perang atau serangan Israel (Israel aggression and war) terhadap Iran yang didukung sepenuhnya oleh Amerika Serikat. Iran adalah pihak yang diserang (attacked) dan dipaksa melakukan pembelaan diri (self defense). Meminjam ayat Al-Quran: “telah diizinkan mereka yang diperangi (untuk berperang) karena sesungguhnya mereka telah dizholimi” (QS Al-Hajj: 39).

Perang Israel yang memaksa Amerika menjalaninya telah membawa konsekwensi yang sangat buruk bagi Amerika, dan dunia global secara keseluruan. Tidak saja masyarakat sipil yang terus berjatuhan, dari Gaza, Ramallah dan kini bumi Persia, tapi terjadi goncangan perekonomian dunia akibat menaiknya harga bahan bakar. Di Amerika sendiri harga minyak yang biasanya rata-rata kurang dari $3 per galon, kini naik menjadi $5 bahkan lebih. Hal ini menyebabkan harga kebutuhan pokok masyarakat seperti beras, minyak goreng, gula, dan seterusnya juga melonjak tinggi.

Sekali lagi, serangan Israel ke Iran dengan dukungan penuh Amerika ini tidak memberikan keuntungan apapun bagi Amerika dan dunia. Israel lah yang mencoba mengail keuntungan di balik perang ini. Tentu harapannya serangan Amerika ke Iran ini berhasil melumpuhkan pertahanan Iran. Kenyataannya Iran lebih kuat dari apa yang mereka perkirakan. Dalam dua minggu peperangan Iran mampu menunjukkan kekuatan, tidak saja pada bidang pertahanan, tapi juga pada strategi politik ekonomi termasuk memblok selat Hormuz yang vital bagi perekonomian dunia.

Puncaknya dua hari kemarin Donald mencoba memaksa Iran menyerah dan membuka Selat Hormuz dengan ancaman, sekaligus pelecehan agama dengan mengucapkan: “Akan menghancurkan peradaban Iran dan mengembalikan mereka ke zaman batu”. Dia juga menambahkan: “segala puji untuk Tuhan (alhamdulillah)”. Ungkapan yang dinilai oleh sebagian sebagai pelecehan yang disengaja oleh Donald Trump.

Ancaman Trump itu ternyata tidak sama sekali mampu menggertak Iran. Negara yang yang telah lama disanksi oleh Amerika dan sekutunya itu tidak gentar. Bahkan dengan tegas membalas ancaman itu dengan kesiapan menghadapi agresi Amerika dan Israeli. Sebaliknya justeru memaksa Amerika untuk menerima 10 poin bagi terjadinya gencatan senjata sementara (dua minggu).

Kesepuluh poin yang ditawarkan Iran adalah sebagai berikut:

1). Non-Agresi: AS berkomitmen untuk tidak menyerang Iran.
2). Kontrol Seliran Hormuz: Iran akan memiliki kontrol atas Seliran Hormuz, dengan manajemen yang dikoordinasikan.
3). Penerimaan Pengayaan: AS menerima hak Iran untuk memperkaya uranium.
4). Pencabutan Sanksi: AS akan mencabut semua sanksi primer dan sekunder terhadap Iran.
5). Penghentian Resolusi PBB/IAEA: Semua resolusi Dewan Keamanan PBB dan Dewan Gubernur IAEA akan dihentikan.
6). Kompensasi: Iran akan menerima kompensasi untuk biaya rekonstruksi.
7). Penarikan Pasukan AS: Pasukan tempur AS akan ditarik dari wilayah tersebut.
8). Penghentian Perang: Gencatan senjata segera di semua front, termasuk Lebanon dan Yaman.
9). Tilak Ada Senjata Nuklir: Iran berkomitmen untuk tidak mencari senjata nuklir.
10). Kebebasan Navigasi: Menetapkan protokol untuk perjalanan aman melalui Seliran Hormuz.

Poin-poin yang ditawarkan Iran di atas sangat jelas memperlihatkan soliditas Iran dalam Pertahanan, baik secara militer maupun diplomasi. Iran beda dari negara lain yang dengan sangat mudah didikte dan akhirnya tersungkur bersujud mengikuti kemauan Amerika yang merugikan negaranya. Posisi tegas Iran seharusnya menjadi contoh bagi negara lain untuk tidak mudah kehilangan harga diri, ketakutan dengan ancaman Trump.

Gencatan Senjata Yang Rapuh

Walaupun 10 poin itu diterima oleh Trump dengan istilah “workable” (bisa dilaksanakan) saya melihat persetujuan gencatan senjata selama dua pekan itu sangat rapuh dan rentang dikhianati. Ada banyak alasan yang bisa disampaikan mendukung hipotesis itu. Tapi yang terpenting adalah keterlibatan langsung Israel dalam perang ini. Bahkan sebenarnya otak dari perang ini adalah Israel. Sepanjang sejarah yang kita ingat, Israel adalah bangsa yang tidak pernah menepati janji. Mungkin kata yang lebih tegas adalah Israel itu adalah bangsa pengkhianat. Dan karenanya sangat berat untuk diyakini jika persetujuan tersebut memang murni ingin mengakhiri perang.

Kita jangan lupa serangan Israel ke Iran bukan karena tuduhan yang dipaksakan selama ini kalau Iran mengembangkan senjata nuklir. Apalagi karena ingin membawa kebebasan dan demokrasi untuk bangsa Iran. Semua itu hanya penghias bibir sebagai “cover” niat jahat mereka untuk melumpuhkan semua negara yang dianggap penghalang bagi terwujudnya “The Great Israel” (Israeli Raya). Sangat tidak logis Israel akan menerima Perjanjian yang jelas menguntungkan Iran. Kecurigaan saya Israel (dan Amerika) menerima Kesepuluh poin itu karena mereka memang sangat terdesak. Serangan Iran ke Israel cukup serius fatal. Apalagi dengan Iran menutup Selat Hormuz menyadarkan Israel dan Amerika bisa menjadi pintu kejatuhan Trump. Resistensi masyarakat Amerika (dan Israel) kepada Trump dan Natanyahu semakin tidak terkendalikan.

Karenanya gencatan senjata dua minggu ini akan dicermati secara seksama oleh Iran dan dengan penuh kehati-hatian. Karena boleh jadi ketika Selat Hormuz dibuka, pedagangan normal, harga minyak mulai menurun, tiba-tiba saja Israel kembali menyerang Iran. Tentu harapannya ketika itu negara-negara yang berusaha dijadikan “korban” (Saudi, Emirates, Qatar) ikut membantu. Akankah itu terjadi? Israel adalah bangsa pengkhianat yang telah kehilangan rasa (sense). Itu terlihat jelas dengan prilakunya terhadap Gaza yang masih terus dibom bahkan di tenda-tenda pengungsian warga yang tiada berdaya.

Intinya gencatan senjata saat ini perlu disikapi dengan seksama: secercah harapan dalam kecemasan!

New York City, 8 April 2026

*Poetra Kajang Al-Nuyorki

Continue Reading

Review

Perebutan Dominasi Energi Global Memanas, Dunia Beralih ke Era Baru

Persaingan negara besar kini bergeser dari minyak ke energi terbarukan, namun geopolitik fosil masih kuat membayangi.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Istilah “global energy dominance” kini semakin relevan di tengah dinamika geopolitik dan transisi energi dunia. Konsep ini merujuk pada upaya negara-negara besar untuk menguasai sumber dan pasar energi global demi memperkuat pengaruh ekonomi dan politik mereka. Menurut berbagai laporan internasional, persaingan ini kini memasuki fase baru dengan fokus yang semakin besar pada energi terbarukan.

Dominasi energi tidak lagi hanya soal minyak dan gas, tetapi juga penguasaan teknologi masa depan seperti tenaga surya dan angin. Yang paling menonjol adalah Tiongkok, yang saat ini memimpin pembangunan infrastruktur energi hijau global. Bahkan, kapasitas tenaga surya yang dipasang negara tersebut disebut dua kali lipat dibandingkan gabungan beberapa pasar besar lainnya.

Sementara itu, persaingan ini berlangsung secara global dalam dekade transisi energi saat ini, dengan India muncul sebagai pemain baru melalui inisiatif ambisius “One Sun, One World, One Grid” yang menargetkan distribusi energi surya lintas lebih dari 100 negara. Lonjakan kapasitas manufaktur modul surya dunia juga menunjukkan percepatan transisi energi sejak 2022 hingga 2023.

Namun demikian, dominasi energi masih sangat dipengaruhi bahan bakar fosil. Sekitar 80% kebutuhan energi global masih bergantung pada minyak, gas, dan batu bara. Negara seperti Amerika Serikat menjalankan strategi “energy dominance” untuk memperkuat posisi geopolitiknya, sementara blok BRICS+—yang kini mencakup Arab Saudi dan Uni Emirat Arab—menguasai porsi besar produksi minyak dan cadangan gas dunia.

Di sisi lain, negara-negara seperti Rusia dan Arab Saudi tetap menjadi “energy superpower” karena cadangan energi fosilnya yang melimpah. Sementara itu, Tiongkok juga menjadi konsumen energi terbesar dunia, menambah kompleksitas persaingan global.

Tantangan baru muncul dari meningkatnya kebutuhan energi untuk teknologi digital, terutama kecerdasan buatan (AI). Lonjakan permintaan listrik untuk pusat data menciptakan arena baru dalam perebutan energi. Oleh karena itu, banyak negara kini mengejar kedaulatan energi untuk menghindari ketergantungan pada pihak lain, sekaligus menjaga stabilitas nasional di tengah perubahan lanskap energi global yang semakin kompetitif.

Continue Reading

News

Harga BBM Ditahan, Tiket Pesawat Dikendalikan hingga Akhir 2026

Pemerintah memastikan bahwa harga BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar tidak akan mengalami kenaikan hingga Desember 2026.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Pemerintah Indonesia melalui konferensi pers resmi mengumumkan kebijakan strategis terbaru terkait harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan sektor transportasi udara. Kebijakan ini diambil sebagai respons atas dinamika harga energi global dan bertujuan menjaga stabilitas ekonomi nasional serta daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global.

Dalam kebijakan tersebut, pemerintah memastikan bahwa harga BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar tidak akan mengalami kenaikan hingga Desember 2026. Menurut sumber yang dikutip dari konferensi pers pemerintah, keputusan ini didasarkan pada simulasi harga minyak dunia yang diperkirakan mencapai 100 dolar AS per barel, dengan anggaran subsidi yang dinilai masih mencukupi untuk menahan gejolak harga di tingkat konsumen.

Selain itu, pemerintah juga menetapkan pembatasan pembelian BBM bersubsidi bagi kendaraan pribadi, yakni maksimal 50 liter per hari. Kebijakan ini diterapkan untuk memastikan distribusi subsidi lebih tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak berhak. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari reformasi subsidi energi yang lebih efisien dan berkeadilan.

Di sektor transportasi udara, pemerintah merespons kenaikan harga avtur global dengan serangkaian kebijakan mitigasi. Salah satunya adalah penyesuaian fuel surcharge menjadi 38 persen, meningkat dari sebelumnya 10 persen untuk pesawat jet dan 25 persen untuk pesawat baling-baling. Meski demikian, pemerintah memberikan insentif berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 11 persen untuk tiket pesawat kelas ekonomi domestik.

Lebih lanjut, untuk menekan biaya operasional maskapai, pemerintah juga menghapus bea masuk suku cadang pesawat menjadi 0 persen. Dengan kombinasi kebijakan tersebut, pemerintah menargetkan kenaikan harga tiket pesawat di tingkat masyarakat dapat ditekan hanya pada kisaran 9 hingga 13 persen, sehingga tetap terjangkau bagi publik.

Dari sisi ketahanan fiskal, Menteri Keuangan menegaskan bahwa kondisi anggaran negara saat ini berada dalam posisi yang kuat. Hal ini ditopang oleh cadangan anggaran sebesar Rp420 triliun dalam bentuk Sisa Anggaran Lebih (SAL), yang dapat digunakan sebagai buffer jika terjadi guncangan ekonomi global. Sementara itu, defisit anggaran tetap terjaga di kisaran 2,8 hingga 2,9 persen.

Pemerintah juga menegaskan bahwa seluruh kebijakan ini akan terus dievaluasi secara berkala setiap dua bulan, dengan mempertimbangkan perkembangan situasi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi, keberlanjutan fiskal, dan perlindungan terhadap masyarakat.

Continue Reading

News

OpenAI Bakar Dana Rp2.000 Triliun, Kejar Dominasi AI Global

Meski pendapatan meroket, OpenAI diproyeksi belum untung hingga akhir dekade akibat biaya infrastruktur dan pelatihan AI yang sangat besar.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com-Perusahaan kecerdasan buatan OpenAI tengah berada dalam fase ekspansi agresif dengan kebutuhan modal yang sangat besar. Berdasarkan laporan berbagai sumber, perusahaan ini diproyeksikan mengalami kerugian bersih hingga 14 miliar dolar AS pada 2026, meskipun pertumbuhan pendapatannya termasuk yang tercepat dalam sejarah industri teknologi.

Menurut laporan yang dikutip dari berbagai media seperti Reuters dan Forbes, kondisi ini dipicu oleh lonjakan biaya operasional, terutama untuk pengembangan model AI generasi terbaru. OpenAI diperkirakan mencatat pendapatan tahunan sekitar 20 hingga 25 miliar dolar AS pada awal 2026, namun beban biaya komputasi dan infrastruktur masih jauh lebih besar, sehingga profitabilitas baru ditargetkan tercapai pada 2029 atau 2030.

Salah satu faktor utama pembengkakan biaya adalah kebutuhan komputasi untuk melatih model AI canggih. Proses ini membutuhkan ribuan chip berperforma tinggi seperti yang diproduksi oleh Nvidia, dengan harga per unit mencapai puluhan ribu dolar. Selain itu, OpenAI juga menyiapkan investasi infrastruktur jangka panjang hingga 600 miliar dolar AS sampai 2030 untuk memastikan skalabilitas layanan mereka.

Tidak hanya itu, perusahaan juga menghadapi tantangan efisiensi produk. Salah satu contohnya adalah penghentian proyek video AI “Sora” yang dilaporkan menghabiskan biaya operasional hingga 1 juta dolar per hari namun tidak diimbangi dengan tingkat penggunaan yang tinggi. Keputusan ini menunjukkan bahwa bahkan inovasi canggih pun harus tunduk pada kalkulasi bisnis yang ketat.

Untuk menopang ekspansi, OpenAI berhasil mengamankan pendanaan jumbo sebesar 122 miliar dolar AS pada April 2026. Pendanaan ini melibatkan sejumlah investor besar seperti Amazon dan SoftBank, yang mendorong valuasi perusahaan melonjak hingga 852 miliar dolar AS. Langkah ini sekaligus menjadi fondasi menuju rencana penawaran saham perdana (IPO) yang diperkirakan dapat terjadi paling cepat pada akhir 2026.

Di tengah tekanan finansial yang besar, strategi OpenAI mencerminkan pertaruhan jangka panjang dalam perlombaan global kecerdasan buatan. Dengan akumulasi kerugian yang diprediksi mencapai 115 miliar dolar AS hingga 2029, perusahaan ini tampaknya memilih untuk “membakar uang” demi mengamankan posisi dominan dalam ekosistem AI masa depan.

Continue Reading

Review

AI Tanpa “Tubuh Internal” Dinilai Berisiko, Peneliti UCLA Ungkap Konsep Baru

Konsep “internal embodiment” disebut sebagai kunci penting untuk meningkatkan keamanan dan keandalan kecerdasan buatan.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Sebuah studi terbaru dari peneliti UCLA mengungkap bahwa sistem kecerdasan buatan (AI) modern masih memiliki kelemahan mendasar karena tidak memiliki apa yang disebut sebagai “internal embodiment” atau kesadaran terhadap kondisi internalnya sendiri. Temuan ini menjadi sorotan penting dalam pengembangan AI yang lebih aman dan dapat dipercaya di masa depan.

Menurut laporan yang dikutip sebagai sumber, penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Neuron dan dipimpin oleh peneliti dari UCLA Health. Mereka menyoroti bahwa AI saat ini hanya mengandalkan pola data tanpa memiliki pengalaman tubuh seperti manusia, sehingga berpotensi menghasilkan respons yang tampak meyakinkan tetapi tidak benar-benar memahami konteks manusia.

Secara konseptual, “internal embodiment” merujuk pada kemampuan untuk memantau kondisi internal seperti ketidakpastian, kelelahan, atau tingkat kepercayaan diri dalam pengambilan keputusan. Berbeda dengan manusia yang menggunakan sinyal biologis untuk mengatur perilaku dan emosi, AI tidak memiliki mekanisme serupa, sehingga tidak memiliki “rem internal” dalam bertindak.

Penelitian ini juga menjelaskan perbedaan antara “external embodiment” dan “internal embodiment”. External embodiment berkaitan dengan kemampuan AI berinteraksi dengan dunia fisik, sementara internal embodiment lebih pada kesadaran diri terhadap kondisi internal yang memengaruhi perilaku. Selama ini, pengembangan AI lebih fokus pada aspek eksternal, sementara aspek internal masih belum dikembangkan secara serius.

Dari sisi keamanan, ketiadaan mekanisme internal ini dinilai berisiko. AI dapat menghasilkan jawaban yang terlalu percaya diri, sulit menolak manipulasi, dan tidak konsisten dalam berbagai situasi. Tanpa adanya “biaya internal” atau batasan alami, sistem AI tidak memiliki alasan intrinsik untuk berhati-hati atau menghindari kesalahan fatal.

Sebagai solusi, para peneliti mengusulkan kerangka “dual-embodiment”, yaitu kombinasi antara kemampuan interaksi eksternal dan pemodelan kondisi internal. Mereka juga mendorong pengembangan metode evaluasi baru untuk mengukur apakah AI mampu memahami dan mengelola kondisi internalnya sendiri, bukan hanya menyelesaikan tugas eksternal.

Temuan ini menjadi penting di tengah meningkatnya penggunaan AI dalam berbagai sektor kritis seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Tanpa penguatan pada aspek internal, AI berisiko menjadi sistem yang tampak cerdas tetapi tidak stabil, sehingga dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan dalam kehidupan nyata.


Continue Reading

Review

WFH ASN dan Hemat Energi: Ujian Nyata Transformasi Pendidikan Nasional

Transformasi budaya kerja yang diusung Kemendikdasmen bertumpu pada tiga fondasi penting—pemerataan akses, relevansi masa depan, dan partisipasi semesta.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerapkan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Jumat bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan pernyataan arah baru dalam tata kelola pendidikan nasional. Di tengah tuntutan efisiensi, digitalisasi, dan krisis energi global, kebijakan ini menjadi ujian konkret: mampukah birokrasi Indonesia bekerja lebih cerdas tanpa kehilangan kualitas layanan publik?

Transformasi budaya kerja yang diusung Kemendikdasmen bertumpu pada tiga fondasi penting—pemerataan akses, relevansi masa depan, dan partisipasi semesta. Namun, di balik rumusan normatif tersebut, tantangan implementasi menjadi hal yang tidak sederhana. WFH, misalnya, berpotensi meningkatkan fleksibilitas kerja, tetapi juga membuka celah bagi penurunan disiplin jika tidak diawasi secara sistemik. Di sinilah urgensi membangun ekosistem kerja berbasis kinerja, bukan sekadar kehadiran fisik.

Di sisi lain, kebijakan ini patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya efisiensi energi dan pengurangan beban mobilitas ASN. Pengurangan perjalanan dinas, optimalisasi transportasi publik, hingga dorongan penggunaan kendaraan secara kolektif mencerminkan kesadaran baru bahwa birokrasi tidak boleh lagi boros sumber daya. Dalam konteks ini, WFH bukan hanya soal bekerja dari rumah, tetapi tentang merumuskan ulang hubungan antara produktivitas dan keberlanjutan.

Namun demikian, sektor pendidikan memiliki karakteristik yang berbeda dibanding sektor administratif lainnya. Kehadiran guru di ruang kelas tetap menjadi elemen kunci yang tidak tergantikan oleh kebijakan fleksibilitas kerja. Komitmen Kemendikdasmen untuk memastikan guru tetap hadir saat kegiatan belajar berlangsung menunjukkan adanya batas yang jelas antara inovasi kebijakan dan kebutuhan pedagogis. Ini penting agar transformasi tidak mengorbankan kualitas pembelajaran yang bersifat langsung dan interaktif.

Lebih jauh, kebijakan ini juga mengandung dimensi kultural yang tidak kalah penting. Gerakan hemat energi dan inisiatif seperti Indonesia ASRI menuntut perubahan perilaku, bukan sekadar aturan formal. Di sinilah letak tantangan terbesar: mengubah kebiasaan lama menjadi praktik baru yang lebih efisien dan berkelanjutan. Transformasi sejati tidak terjadi di atas kertas kebijakan, tetapi dalam keseharian para pelaksananya.

Pada akhirnya, kebijakan WFH dan hemat energi ini harus dibaca sebagai eksperimen besar dalam reformasi birokrasi pendidikan. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari penghematan biaya atau penurunan konsumsi energi, tetapi dari sejauh mana layanan pendidikan tetap hadir, merata, dan berkualitas. Jika berhasil, ini bisa menjadi model baru birokrasi adaptif di Indonesia. Namun jika gagal, ia hanya akan menjadi kebijakan simbolik tanpa dampak substantif.

Continue Reading

Review

Dilema EV vs Mobil Bensin Antara Hemat Harian atau Bebas Jarak

Mobil listrik unggul biaya harian, sementara mobil bensin tetap jadi raja perjalanan jauh tanpa ribet.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com—Perdebatan antara mobil listrik (EV) dan mobil konvensional berbahan bakar bensin (ICE) semakin relevan pada 2026, seiring meningkatnya kesadaran efisiensi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Pilihan kendaraan kini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga menyangkut kebutuhan mobilitas, biaya jangka panjang, serta kesiapan infrastruktur. Menurut berbagai sumber otomotif dan industri energi, perbandingan keduanya menunjukkan keunggulan yang saling melengkapi.

Dari sisi biaya operasional, mobil listrik jelas lebih unggul. Biaya pengisian daya hanya sekitar 25% dibandingkan pengisian bensin untuk jarak yang sama. Selain itu, kendaraan listrik tidak memerlukan penggantian oli, busi, maupun filter bahan bakar, sehingga biaya perawatan rutin jauh lebih rendah. Bahkan, pajak tahunan kendaraan listrik di Indonesia juga mendapat insentif signifikan. Menurut sumber yang dikutip, efisiensi ini menjadi alasan utama konsumen urban mulai beralih ke EV.

Namun, dari aspek performa dan pengalaman berkendara, mobil listrik juga tidak kalah bahkan cenderung unggul. Torsi instan memberikan akselerasi cepat sejak awal, sementara kabin yang lebih senyap meningkatkan kenyamanan berkendara. Selain itu, banyak model EV terbaru telah dilengkapi teknologi canggih seperti sistem bantuan pengemudi (ADAS) dan fitur infotainment modern. Menurut sumber yang dikutip, dominasi produsen kendaraan listrik, khususnya dari Asia, turut mempercepat inovasi ini.

Meski demikian, tantangan utama mobil listrik masih terletak pada jarak tempuh dan infrastruktur. Mobil bensin masih unggul karena dapat menempuh hingga 800 km dengan sekali isi bahan bakar dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk pengisian. Sebaliknya, mobil listrik rata-rata memiliki jarak tempuh 300–500 km dan membutuhkan waktu pengisian 30–60 menit (fast charging), atau bahkan semalaman untuk pengisian di rumah. Menurut sumber yang dikutip, keterbatasan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) masih menjadi kendala utama, terutama untuk perjalanan lintas daerah.

Dari sisi nilai ekonomi jangka panjang, mobil listrik menawarkan penghematan operasional, tetapi masih menghadapi tantangan depresiasi nilai jual kembali. Di sisi lain, mobil konvensional memiliki pasar yang lebih matang dan nilai jual kembali yang relatif stabil. Selain itu, daya tahan baterai EV yang berkisar 10–15 tahun juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi konsumen.

Dengan demikian, siapa yang paling diuntungkan? Jawabannya bergantung pada kebutuhan pengguna. Untuk penggunaan harian di dalam kota dengan jarak tempuh terbatas, mobil listrik adalah pilihan paling efisien dan ekonomis. Namun, untuk mobilitas tinggi, perjalanan jarak jauh, atau daerah dengan infrastruktur terbatas, mobil konvensional masih menjadi pilihan yang lebih praktis. Pilihan akhir bukan soal mana yang lebih baik, tetapi mana yang paling sesuai dengan gaya hidup dan kebutuhan mobilitas Anda.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



News5 hours ago

War Tiket Haji Digagas, Solusi Antrean Panjang atau Sekadar Wacana?

LakeyBanget8 hours ago

Kemala Run 2026 Cetak Rekor, Sport Tourism Berbasis Kemanusiaan

LakeyBanget9 hours ago

Rayakan 10 Tahun Kesuksesan “Dia”, Anji Rilis Lagu Baru

LakeyBanget9 hours ago

Bersinar di Yamaha Cup Race 2026, Ini Harapan Eca Sabana

LakeyBanget10 hours ago

Unai Marrero Sang Pahlawan, Real Sociedad Juara Copa del Rey

News13 hours ago

PWU Leads Global University Collaboration in Digital Era

News14 hours ago

Mahasiswa S3 PWU Indonesia Gelar ICGSB 2026, Perkuat Kolaborasi Global di Era Transformasi Digital

News19 hours ago

Iran Tetapkan 4 Syarat Kapal Melintas Selat Hormuz di Tengah Gencatan Senjata

News20 hours ago

Pastikan Stok Aman, Prabowo Sidak Gudang Bulog Magelang

LakeyBanget21 hours ago

Laga Hidup Mati Indonesia vs Vietnam di Piala AFF U-17 2026

News23 hours ago

Kekuatan Muhammadiyah Ada pada Kesatuan, Prof Haedar: Bukan Individu

News23 hours ago

Prof Haedar Nashir Tancap Gas di Surabaya, Enam AUM PCM Gubeng Diresmikan

LakeyBanget1 day ago

Real Madrid Ogah Beri Guard of Honour ke Barcelona, Kenapa?

News1 day ago

KPK Usulkan 5 Reformasi Pemilu untuk Tekan Praktik Korupsi, Apa Saja?

LakeyBanget1 day ago

Fabregas Akui Keunggulan Sassuolo, Jay Idzes Cs Tampil Solid

News1 day ago

Wow! Dampak Konflik Global, Harga BBM Nonsubsidi Melonjak Tajam

LakeyBanget2 days ago

Arab Saudi Pecat Herve Renard Jelang Piala Dunia 2026, Apa Alasannya?

LakeyBanget2 days ago

“Top Gun 3” Resmi Digarap, Tom Cruise Kembali Perankan Maverick

LakeyBanget2 days ago

Lionel Messi Resmi Akuisisi Klub Liga Spanyol

News2 days ago

Iran Buka Selat Hormuz Selama Gencatan Senjata

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.