Monitorday.com – Pemerintah Amerika Serikat mengungkap rencana penting dalam proses pengalihan operasi TikTok di wilayah AS, yakni pengambilalihan kendali atas algoritma rekomendasi konten yang selama ini menjadi inti kekuatan aplikasi tersebut.
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengonfirmasi bahwa jika kesepakatan yang saat ini sedang difinalisasi berjalan sesuai rencana, maka salinan kode algoritma TikTok akan diserahkan kepada sebuah konsorsium yang berbasis di AS. Algoritma tersebut nantinya akan dioperasikan secara lokal dan diawasi langsung oleh perusahaan teknologi Oracle.
“Oracle akan menjadi pengawas utama sistem ini, memastikan tidak ada manipulasi konten dan menjaga integritas data pengguna Amerika,” ujar pejabat tersebut dalam panggilan telepon dengan media, Senin (22/9).
Dalam skema baru ini, kepemilikan TikTok di AS akan dikendalikan oleh konsorsium yang terdiri dari mayoritas investor dan direksi berkewarganegaraan Amerika. Konsorsium ini mencakup Oracle, perusahaan ekuitas swasta Silver Lake, serta beberapa perusahaan AS dan global yang sebelumnya telah berinvestasi di ByteDance—perusahaan induk TikTok yang berbasis di China.
Meski begitu, ByteDance disebut akan mempertahankan kurang dari 20 persen saham TikTok AS jika kesepakatan disetujui. Hingga saat ini, daftar final investor belum diumumkan secara resmi.
Pengambilalihan kendali atas algoritma TikTok menjadi sorotan utama dalam negosiasi karena sistem rekomendasi ini dianggap berpotensi digunakan untuk manipulasi opini publik dan penyebaran disinformasi. Pemerintah AS khawatir algoritma tersebut bisa dimanfaatkan oleh otoritas Tiongkok untuk tujuan yang mengancam keamanan nasional.
Undang-undang baru yang mengatur pelarangan TikTok di AS secara tegas melarang segala bentuk kerja sama antara ByteDance dan pemilik baru terkait pengoperasian algoritma rekomendasi konten.
Sesuai ketentuan kesepakatan, kelompok investor baru akan menerima salinan kode algoritma dari ByteDance dan melatih ulang sistem tersebut menggunakan data pengguna Amerika, sepenuhnya terpisah dari sistem global TikTok.
Meski Gedung Putih menyatakan optimisme tinggi, kesepakatan ini masih menunggu lampu hijau dari otoritas China. Namun, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa proses negosiasi telah memasuki tahap akhir.
“Kami 100 persen yakin kesepakatan ini akan tercapai,” ujar Leavitt, Sabtu (20/9), dikutip dari CNN.
Presiden Donald Trump disebut akan menandatangani perintah eksekutif yang menyatakan bahwa kesepakatan tersebut memenuhi syarat sebagai bentuk divestasi sesuai peraturan yang berlaku. Trump juga dikabarkan akan memperpanjang tenggat pelarangan TikTok selama 120 hari, memberi waktu untuk menyelesaikan proses regulasi.
Trump sebelumnya memperpanjang batas waktu divestasi TikTok hingga 16 Desember 2025, dan finalisasi kesepakatan diperkirakan akan rampung pada awal 2026.
Jika semua proses berjalan mulus, maka kesepakatan ini akan menjadi penutup dari drama panjang antara TikTok dan pemerintah Amerika Serikat, yang sejak 2020 telah menuding aplikasi tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.
Dengan pengawasan Oracle dan kepemilikan lokal yang lebih kuat, TikTok AS diharapkan dapat terus beroperasi secara independen tanpa intervensi dari pihak luar, khususnya dari Beijing.