Monitorday.com – Yang paling berbahaya itu sebenarnya bukan para penjahat profesional yang beroperasi di lorong-lorong gelap, tetapi mereka yang dengan segala kepolosan intelektualnya didorong ke kursi kekuasaan.
Orang jahat biasanya tahu apa yang mereka lakukan; orang bodoh dengan jabatan justru tidak menyadari skala kerusakan yang mereka hasilkan. Dengan penuh percaya diri, mereka melontarkan pernyataan-pernyataan bodoh yang dianggap “terukur”, padahal satu-satunya yang terukur hanyalah kedangkalan logika dan jauhnya mereka dari realitas.
Belu lama ini, Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto, mengusulkan supaya dibentuk Kementerian Bencana yang khusus menangani masalah bencana di Indonesia. Di dalamnya dilengkapi dirjen bencana masing-masing.
Usulan itu disampaikan Utut Adianto dalam rapat kerja Komisi I bersama Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (8/12/2025).
Menurut dia, struktur lembaga saat ini tidak lagi memadai menghadapi banjir dan longsor di tiga provinsi Sumatera yakni Aceh, Sumut dan Sumbar. Terlebih, jumlah korban jiwanya mencapai nyaris seribu orang.
“Mungkin kalau Ibu bisa ngomong sama Pak Presiden, ada perlunya juga disampaikan sudah adanya Menteri Bencana, Penanggulangan Bencana,” kata Utut,Kamis (11/12/2025).
Politisi PDI Perjuangan itu bahkan telah mengusulkan struktur kementerian yang nantinya dibentuk berdasarkan jenis ancaman bencana, agar penanganannya lebih fokus dan terarah.
“Jadi ada Dirjen Longsor, Dirjen Banjir, Dirjen Angin Topan, dan Dirjen satu lagi apa gitu,” ucapnya.
Dikatakan Utut, solusi institusional ini perlu dipikirkan serius mengingat beban keuangan negara tidak dirancang untuk menghadapi bencana dalam skala besar dan mendadak. Karena itu, pendanaannya harus dipertimbangkan secara matang.
“Kalau angkanya sekarang ini, APBN jelas tidak kuat. Karena APBN itu konsepnya belanja, bukan menabung. Sementara ini kan (dana) hanya keluar saat pada saat keluar,” kata dia.
Sebelum mengutarakan usulan teknis, Utut menyampaikan duka mendalam atas tingginya angka korban jiwa. Mereka yang hilang pun dinilai berpotensi jauh lebih banyak.
“Sudah hampir 1.000 yang wafat, yang hilang mungkin potensi juga masih besar,” ungkapnya.
Ia menambahkan, bencana bukan hanya melanda Sumatera. Daerah pemilihannya di Jawa Tengah mengalami kondisi serupa.
“Di Banjarnegara, Dapil saya, yang wafat 17, yang belum ketemu 11. Tapi ini awalannya dari Majenang di Cilacap,” tandas dia.
Korban Tewas Terus Bertambah
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan data terbaru pencarian korban bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Tim gabungan kembali menemukan 40 jenazah hari ini.
“Menemukan 40 jenazah dengan rincian, untuk Aceh itu bertambah 23 dari 366 kemarin, hari ini menjadi 389 jiwa meninggal dunia,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi (Kapusdatinkom) Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Senin (8/12/2025).
Data tersebut merupakan rekapitulasi per pukul 16.00 WIB. Sementara itu, untuk wilayah Sumatera Utara, tim gabungan menemukan 9 jenazah sehingga korban meninggal dunia menjadi 338 jiwa.
“Untuk Sumbar, kemarin 226 jiwa, hari ini bertambah 8 jasad yang ditemukan, menjadi 234 jiwa,” katanya.
Dengan demikian, total korban banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar per sore ini tercatat sebanyak 391 orang yang meninggal dunia. BNPB juga melaporkan jumlah orang yang dilaporkan hilang semakin berkurang.
“BNPB mencatat, secara total korban hilang berkurang dari hari kemarin di angka 392 jiwa, hari ini yang terdaftar pada Pusdalops BNPB yang merupakan rekapitulasi dari 3 provinsi sebanyak 293 jiwa,” katanya.
Muhari mengatakan tim gabungan di lapangan akan terus melakukan upaya pencarian. Pencarian melibatkan pihak Basarnas, BNPB, TNI-Polri, warga, hingga relawan.
“Tim gabungan di lapangan akan terus melakukan upaya semaksimal mungkin, seoptimal mungkin, seefektif mungkin agar jumlah korban yang masih hilang bisa kita hilangkan, bisa kita reduksi sedikit mungkin,” ucapnya.