Monitorday.com – Sekolah pascasarjana seharusnya menjadi ruang akademik paling serius, tempat di mana mutu intelektual diuji dan diakui secara adil. Namun, kenyataan di lapangan sering jauh dari ideal. Banyak mahasiswa pascasarjana mengeluh tentang cara dosen menilai tugas mereka: kabur, tak berdasar, bahkan asal-asalan. Fenomena ini bukan hanya masalah teknis, tetapi juga cerminan dari kemalasan berpikir dan rendahnya etika akademik sebagian dosen.
Ironis, dosen yang sehari-hari mengajarkan teori keadilan, argumentasi ilmiah, dan integritas malah gagal mempraktikkannya ketika memberi nilai. Terutama pada mata kuliah berbasis teori dan wacana, yang memang menuntut penilaian kualitatif. Namun alih-alih membuat rubrik yang jelas, banyak dosen justru menjadikan subjektivitas dan “perasaan” sebagai pedoman.
Apa akibatnya? Mahasiswa yang sudah bekerja keras merumuskan argumen yang tajam dan mendalam kadang diberi nilai biasa-biasa saja. Sementara mereka yang sekadar pandai memilih jargon-jargon bombastis atau pandai menarik simpati justru diganjar nilai tinggi. Ini tidak hanya melukai rasa keadilan, tetapi juga membunuh semangat intelektual mahasiswa yang serius.
Masalah ini juga menunjukkan kemalasan sebagian dosen. Membuat rubrik penilaian memang tidak mudah: dosen harus membaca tugas dengan teliti, memilah kualitas argumen, mengukur orisinalitas gagasan, dan mengevaluasi relevansi teori yang digunakan. Tapi bukankah itu tugas mereka? Celakanya, banyak dosen memilih jalan pintas. Mereka asal memberi nilai, kadang bahkan tanpa membaca dengan sungguh-sungguh karya mahasiswa. Mereka lebih sibuk dengan urusan pribadi atau penelitian sendiri daripada membimbing mahasiswa.
Lebih parah lagi, ada dosen yang bahkan tidak mau menjelaskan kriteria nilai mereka. Ketika mahasiswa bertanya mengapa nilainya sekian, jawaban yang keluar sering menyakitkan: “Ya begitu saja, saya sudah tahu mana yang bagus.” Pernyataan ini hanya menunjukkan kemalasan dan arogansi akademik. Padahal, di tingkat pascasarjana, mahasiswa bukan lagi anak SMA yang harus menerima begitu saja keputusan guru. Mereka adalah calon-calon akademisi yang berhak atas evaluasi yang jujur, jelas, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Institusi pendidikan tinggi juga ikut bersalah karena membiarkan budaya ini terus berlanjut. Banyak kampus lebih sibuk mengejar akreditasi, ranking, dan publikasi dosen, tetapi mengabaikan kualitas interaksi antara dosen dan mahasiswa. Padahal, kualitas penilaian adalah inti dari pendidikan itu sendiri. Apa gunanya gelar profesor, H-index tinggi, dan seabrek publikasi internasional jika memberi nilai saja tidak bisa dengan cara yang profesional dan adil?
Kritik ini perlu ditegaskan: dosen yang menilai asal-asalan bukan hanya malas, tetapi juga tidak menghargai kerja keras mahasiswa. Lebih jauh lagi, mereka merusak kredibilitas institusi dan menanamkan budaya tidak sehat di dunia akademik. Mahasiswa belajar bahwa kualitas tidak penting, yang penting adalah bisa menyenangkan dosen atau mengikuti selera pribadi dosen.
Sekolah pascasarjana harus mulai membangun mekanisme yang ketat untuk menilai kualitas dosen dalam memberi nilai. Mahasiswa sebaiknya diberi ruang formal untuk menilai transparansi penilaian dosen. Rubrik penilaian harus diumumkan di awal, tugas harus dikembalikan lengkap dengan catatan evaluasi yang jelas, dan dosen wajib memberi alasan jika memberi nilai rendah atau tinggi.
Dosen juga harus sadar bahwa memberi nilai bukan sekadar menggugurkan kewajiban administrasi. Setiap angka yang mereka berikan di transkrip mencerminkan kualitas akademik mahasiswa, dan sekaligus menunjukkan kualitas diri mereka sendiri sebagai pengajar. Jika dosen menilai sembarangan, berarti mereka juga sedang mempermalukan diri sendiri sebagai akademisi.
Singkatnya, standar penilaian di sekolah pascasarjana tidak boleh lagi dibiarkan kabur dan penuh subjektivitas. Dosen harus melawan kemalasan intelektual mereka sendiri, membuang arogansi, dan mulai bekerja lebih keras untuk menilai dengan adil. Mahasiswa pantas mendapat evaluasi yang jujur, jelas, dan profesional. Pendidikan tinggi hanya bisa bermartabat jika keadilan dijaga sampai di detail terkecil termasuk dalam memberi nilai.