Ruang Sujud
Hasan Al-Rammah dan Asal-Usul Teknologi Roket
Published
7 hours agoon
By
Umar Satiri
Monitorday.com – Ketika dunia modern berbicara tentang roket, rudal balistik, dan teknologi militer mutakhir, banyak orang mengira bahwa semua itu adalah penemuan abad ke-20. Padahal, jejak awal teknologi roket telah muncul jauh sebelumnya—bahkan pada abad ke-13 dalam peradaban Islam. Salah satu tokoh penting dalam sejarah tersebut adalah Hasan al-Rammah, seorang ilmuwan Muslim dari Suriah yang dikenal sebagai pelopor pengembangan teknologi roket dan senjata berbasis mesiu.
Hasan al-Rammah hidup pada masa Kesultanan Mamluk dan dikenal sebagai ahli kimia sekaligus insinyur militer. Ia menulis sebuah karya penting berjudul Kitab al-Furusiyya wa al-Manasib al-Harbiyya (Buku tentang Kavaleri Militer dan Perangkat Perang Inovatif). Dalam karya ini ia mendokumentasikan berbagai teknologi senjata berbasis bubuk mesiu, termasuk roket, bom api, dan alat peledak lainnya.
Mengembangkan Formula Mesiu
Mesiu atau gunpowder sebenarnya pertama kali ditemukan di Tiongkok pada abad ke-9. Namun pengetahuan tersebut menyebar ke berbagai wilayah Eurasia, termasuk dunia Islam. Pada abad ke-13, para ilmuwan Muslim mulai mempelajari dan menyempurnakan teknologi tersebut.
Hasan al-Rammah memainkan peran penting dalam proses ini. Ia menuliskan puluhan resep pembuatan mesiu dan menjelaskan cara memurnikan saltpeter (kalium nitrat) melalui proses kimia seperti pelarutan dan kristalisasi. Metode ini dianggap sebagai penjelasan ilmiah pertama tentang proses pemurnian bahan utama mesiu.
Dalam bukunya tercatat sekitar 107 formula mesiu, dan 22 di antaranya secara khusus digunakan untuk roket. Komposisinya bahkan sangat mirip dengan formula roket modern—sekitar 75 persen nitrat, 10 persen sulfur, dan 15 persen arang.
Roket dan Torpedo Pertama
Kontribusi paling terkenal dari Hasan al-Rammah adalah desain perangkat roket dan torpedo awal. Ia menggambarkan sebuah alat yang disebut “telur yang bergerak dan terbakar sendiri”—sebuah torpedo yang digerakkan oleh roket. Perangkat ini terdiri dari dua lembar logam yang disatukan, diisi dengan bahan peledak, kemudian didorong oleh roket untuk meluncur di permukaan air menuju target.
Konsep tersebut sering disebut sebagai torpedo roket pertama dalam sejarah. Meski masih sangat sederhana dibandingkan teknologi modern, gagasan ini menunjukkan bahwa prinsip dasar sistem rudal—propulsi roket yang membawa bahan peledak menuju target—telah dipahami oleh ilmuwan Muslim sejak abad pertengahan.
Warisan Teknologi yang Mempengaruhi Dunia
Pengetahuan tentang mesiu dan roket yang dikembangkan dalam dunia Islam kemudian menyebar ke Eropa melalui terjemahan karya-karya ilmiah Arab. Banyak sejarawan teknologi menilai bahwa tulisan-tulisan Arab, termasuk karya Hasan al-Rammah, berperan penting dalam memperkenalkan teknologi roket ke dunia Barat.
Dengan demikian, sejarah teknologi roket tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para ilmuwan Muslim pada masa keemasan peradaban Islam. Hasan al-Rammah menjadi contoh bagaimana pengetahuan kimia, teknik, dan militer berkembang pesat di dunia Islam jauh sebelum era revolusi industri.
Hari ini, ketika roket digunakan untuk berbagai tujuan—dari eksplorasi luar angkasa hingga sistem pertahanan modern—kita dapat menelusuri akar konsep tersebut hingga berabad-abad lalu, ketika seorang ilmuwan dari Suriah mencoba merancang “telur yang bergerak sendiri dan terbakar”, sebuah ide yang pada masanya mungkin tampak mustahil, tetapi kemudian menjadi fondasi teknologi rudal modern.
Mungkin Kamu Suka
-
AS Tekor Rp31 Triliun Usai Dirudal Iran dalam 4 Hari, Ini Rinciannya
-
Salman Al-Farisi dan Pesan Al-Qur’an tentang Kaum Pengganti
-
Iran Bangkit dan Serang Balik Israel Berkat Kemandirian Industri Militer
-
Berapa Waktu Tempuh Rudal Iran Tembus Wilayah Israel?
-
Memanas! Iran Bombardir Kilang Minyak Terbesar Israel
News
Berburu Lailatul Qadr di Masjid At-Thohir Kota Depok
Published
7 hours agoon
17/03/2026By
Umar Satiri
Monitorday.com – Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 H/2026 M, sejumlah umat Islam mulai memanfaatkan momentum tersebut untuk memperbanyak ibadah melalui itikaf di masjid. Salah satu masjid yang secara khusus membuka program itikaf bagi jamaah adalah Masjid At-Thohir di Kota Depok.
Itikaf merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ibadah ini dilakukan dengan berdiam diri di masjid untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai aktivitas ibadah seperti sholat malam, membaca Alquran, zikir, dan doa, sekaligus mengharapkan keutamaan malam Lailatul Qadar.
Di Masjid At-Thohir, program itikaf digelar dengan rangkaian kegiatan ibadah yang terstruktur. Jamaah yang mengikuti itikaf akan menjalani berbagai aktivitas seperti qiyamul lail berjamaah, zikir, tadarus Alquran, kultum atau kajian singkat, hingga sahur bersama menjelang waktu subuh.
Namun, jamaah yang ingin mengikuti itikaf di masjid ini disarankan melakukan pendaftaran terlebih dahulu secara daring. Pendaftaran dilakukan melalui tautan khusus yang dibagikan di akun Instagram resmi @masjid.atthohir. Kuota peserta juga terbatas, biasanya hanya tersedia sekitar 75 peserta ikhwan dan 75 peserta akhwat untuk setiap malam selama sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Pendaftaran ini juga penting karena jamaah yang terdaftar akan mendapatkan fasilitas sahur bersama yang disediakan oleh panitia. Sementara jamaah yang datang tanpa mendaftar tetap diperbolehkan beritikaf, namun tidak tercatat sebagai peserta resmi dan tidak memperoleh fasilitas sahur gratis dari panitia.
Masjid yang dibangun oleh keluarga Boy Thohir dan Erick Thohir ini berlokasi di Jalan Mochamad Thohir, RT 01/RW 12, Tapos, Kecamatan Tapos, Kota Depok, dan dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu tujuan favorit jamaah untuk menjalankan itikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
News
Baitul ‘Izzah: Jejak Kosmik Turunnya Al-Qur’an
Published
6 days agoon
11/03/2026By
Umar Satiri
Monitorday.com – Setiap Ramadhan, umat Islam memperingati dua peristiwa yang sering disebut bersama: Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr. Namun di balik dua istilah ini, ada satu konsep yang jarang dibahas dalam percakapan populer, yakni Baitul ‘Izzah—sebuah istilah yang muncul dalam tafsir klasik untuk menjelaskan bagaimana Al-Qur’an diturunkan sebelum sampai kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam Al-Qur’an terdapat dua gambaran yang tampak berbeda tentang turunnya wahyu. Di satu sisi, Al-Qur’an menyatakan bahwa kitab suci ini diturunkan pada satu malam, yaitu Lailatul Qadr.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)
Ayat lain juga menegaskan hal serupa:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhan: 3)
Namun dalam sejarah kenabian, wahyu tidak turun sekaligus. Ia datang secara bertahap selama sekitar 23 tahun, sejak peristiwa di Gua Hira hingga menjelang wafatnya Nabi. Pertanyaan pun muncul: bagaimana memahami dua keterangan ini?
Para ulama tafsir klasik menawarkan penjelasan yang cukup elegan. Salah satu riwayat yang terkenal berasal dari sahabat Nabi, Ibnu Abbas, yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuz ke sebuah tempat di langit dunia yang disebut Baitul ‘Izzah. Peristiwa ini terjadi pada malam Lailatul Qadr. Setelah itu, wahyu disampaikan secara bertahap kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril selama lebih dari dua dekade (Al-Suyuti, 2008; Al-Qurthubi, 2006).
Dalam kerangka ini, Baitul ‘Izzah dipahami sebagai “rumah kemuliaan di langit dunia”—sebuah titik perantara dalam proses turunnya wahyu. Dari sana, ayat-ayat Al-Qur’an kemudian disampaikan kepada Nabi sesuai kebutuhan situasi dan perkembangan umat.
Konsep ini memang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, tetapi muncul dalam tradisi tafsir dan hadis sebagai upaya menjelaskan mekanisme kosmologis turunnya wahyu. Para mufasir melihatnya sebagai bagian dari struktur alam semesta yang disebut Al-Qur’an sebagai “langit dunia” (as-sama’ ad-dunya)—lapisan langit yang paling dekat dengan manusia.
Menariknya, jika dilihat dari perspektif sains modern, konsep ini dapat dipahami melalui pendekatan analogi. Dalam ilmu informasi, misalnya, proses distribusi data sering melibatkan beberapa lapisan: server utama, server distribusi, dan pengguna akhir. Informasi besar tidak selalu dikirim langsung dari pusat ke pengguna, tetapi melalui titik-titik distribusi agar prosesnya lebih teratur dan efisien.
Dengan analogi ini, sebagian penulis Muslim kontemporer menggambarkan struktur turunnya wahyu secara sederhana: Lauhul Mahfuz sebagai sumber utama, Baitul ‘Izzah sebagai titik distribusi kosmik, dan Nabi Muhammad sebagai penerima wahyu dalam sejarah manusia.
Pendekatan ini tentu bersifat ilustratif, bukan penjelasan ilmiah literal. Baitul ‘Izzah berada dalam wilayah metafisik, yang tidak dapat diverifikasi oleh metode sains empiris. Namun analogi semacam ini membantu menjelaskan mengapa Al-Qur’an disebut turun sekaligus pada satu malam, tetapi dalam praktiknya disampaikan secara bertahap.
Dalam kosmologi Al-Qur’an sendiri, alam semesta digambarkan memiliki lapisan-lapisan langit. Al-Qur’an beberapa kali menyebut konsep “tujuh langit” (sab‘a samawat) sebagai struktur kosmik ciptaan Tuhan. Langit dunia disebut sebagai lapisan yang paling dekat dengan manusia dan dihiasi oleh bintang-bintang (QS. Al-Mulk: 5). Dalam tafsir klasik, wilayah inilah yang sering dikaitkan dengan keberadaan Baitul ‘Izzah.
Di luar aspek kosmologinya, gagasan ini juga membawa pesan spiritual yang menarik. Ia menunjukkan bahwa turunnya Al-Qur’an bukan sekadar peristiwa lokal di Gua Hira, tetapi juga bagian dari peristiwa kosmik yang lebih besar. Wahyu tidak hadir secara acak, melainkan melalui sebuah tatanan yang teratur—dari sumber ilahi hingga sampai kepada manusia.
Dalam perspektif ini, Lailatul Qadr bukan hanya malam yang penuh pahala, tetapi juga momen kosmik ketika Al-Qur’an mulai memasuki sejarah manusia. Dari langit dunia, pesan itu kemudian turun sedikit demi sedikit, menjawab persoalan kehidupan, membentuk masyarakat, dan mengubah arah peradaban.
Mungkin di situlah makna terdalam dari konsep Baitul ‘Izzah: sebuah pengingat bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks yang lahir dalam sejarah, melainkan pesan kosmik yang menyeberangi langit sebelum sampai ke bumi.
Ruang Sujud
Bani Israil dan Israel Modern: Hubungan Historis yang Sering Disalahpahami
Istilah Bani Israil dalam Al-Qur’an tidak identik dengan negara Israel modern, meskipun keduanya memiliki keterkaitan historis yang kompleks.
Published
1 week agoon
09/03/2026
Monitorday.com– Dalam perspektif Al-Qur’an, istilah Bani Israil merujuk kepada keturunan Nabi Ya’qub AS. Nama Israil sendiri merupakan gelar bagi Nabi Ya’qub, yang memiliki dua belas anak laki-laki yang kemudian menjadi asal dari dua belas suku Bani Israil. Al-Qur’an menyebut mereka sebagai umat yang menerima wahyu melalui para nabi, termasuk Nabi Musa AS. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 47 yang menyeru Bani Israil untuk mengingat nikmat yang diberikan Allah kepada mereka. Dalam konteks ini, Bani Israil dipahami sebagai identitas genealogis dan historis, bukan sebagai nama negara.
Sementara itu, istilah Yahudi memiliki makna yang berbeda. Yahudi adalah identitas agama yang merujuk pada penganut agama Yahudi, sedangkan Bani Israil adalah keturunan Nabi Ya’qub. Dalam sejarah, tidak semua Bani Israil tetap memeluk agama Yahudi, dan sebaliknya seseorang dapat menjadi Yahudi melalui proses konversi tanpa memiliki garis keturunan Bani Israil. Menurut laporan yang dikutip dari Encyclopedia Britannica, praktik konversi ini membuat komunitas Yahudi berkembang di berbagai wilayah dunia dengan latar belakang etnis yang beragam.
Keberagaman tersebut semakin terlihat setelah peristiwa diaspora Yahudi yang berlangsung lebih dari dua ribu tahun, terutama setelah Yerusalem dihancurkan oleh Kekaisaran Romawi pada tahun 70 M. Sejak saat itu, komunitas Yahudi menyebar ke berbagai wilayah dan membentuk kelompok-kelompok etnis yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah komunitas Ashkenazi di Eropa Timur, Sephardic yang berkembang di Spanyol dan Afrika Utara, serta Mizrahi yang berasal dari kawasan Timur Tengah. Menurut penelitian genetika modern yang dikutip oleh National Geographic, sebagian komunitas Yahudi masih memiliki hubungan genetik dengan populasi Timur Tengah kuno, meskipun telah mengalami percampuran etnis selama berabad-abad.
Adapun negara Israel modern merupakan entitas politik yang berdiri pada tahun 1948 setelah berakhirnya mandat Inggris di wilayah Palestina. Pembentukan negara tersebut dipengaruhi oleh gerakan nasionalisme Yahudi yang dikenal sebagai Zionisme. Gerakan ini muncul di Eropa pada akhir abad ke-19 dan dipopulerkan oleh tokoh seperti Theodor Herzl. Tujuan utama Zionisme adalah mendirikan negara nasional bagi orang Yahudi di wilayah yang dianggap sebagai tanah historis mereka. Menurut laporan yang dikutip dari Al Jazeera dan BBC, proses pendirian negara Israel kemudian memicu konflik geopolitik yang masih berlangsung hingga saat ini di Timur Tengah.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Bani Israil dalam Al-Qur’an adalah keturunan Nabi Ya’qub yang hidup dalam konteks sejarah dan agama kuno, sedangkan Israel modern adalah negara politik yang lahir dari dinamika nasionalisme dan geopolitik abad ke-20. Meskipun sebagian komunitas Yahudi modern memiliki hubungan historis dengan Bani Israil kuno, identitas mereka juga terbentuk melalui diaspora, konversi agama, serta percampuran etnis yang terjadi selama ribuan tahun.
Ruang Sujud
Proyeksi Takdir Bani Israil dalam Kitab Suci
Bani Israil akan melakukan dua kali kerusakan besar dan menunjukkan kesombongan yang luar biasa
Published
1 week agoon
07/03/2026
Monitorday.com– Al-Qur’an menguraikan narasi tentang Bani Israil, termasuk ramalan mengenai tindakan dan konsekuensi mereka di bumi. Surat Al-Isra ayat 4 secara spesifik menyebutkan bahwa Bani Israil akan melakukan dua kali kerusakan besar dan menunjukkan kesombongan yang luar biasa.
Kajian lebih lanjut dari Kitab Suci, khususnya Surat Al-Isra ayat 5, menjelaskan tentang janji Tuhan untuk mendatangkan hukuman setelah kejahatan pertama mereka. Hukuman ini akan diwujudkan melalui ‘hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar,’ yang akan merajalela di antara pemukiman mereka sebagai ketetapan yang pasti terlaksana.
“وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَاءِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي اْلأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا.“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israîl dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. (QS. Al-Isra [17]:4)
Para penafsir kitab suci memiliki pandangan beragam mengenai awal mula kerusakan pertama ini. DR. Bassam (2000:14) menyatakan bahwa kerusakan dimulai setelah wafatnya Raja Sulaiman pada 935 SM, yang memicu perpecahan menjadi kerajaan utara dan selatan. Penafsir salaf seperti al-Maraghi, Ibnu Al-Jauzi, dan Jalaluddin al-Suyuthi menafsirkan kerusakan pertama sebagai penentangan Taurat, pembunuhan Nabi Syu’ya, dan pemenjaraan Armia. Sementara itu, kerusakan kedua mereka kaitkan dengan pembunuhan Nabi Zakaria dan Yahya, serta upaya pembunuhan Nabi Isa.
“فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ أُوْلاَهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَآ أُوْلِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلاَلَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولاً.“Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana”. (QS. Al-Isra [17]:5)
Kehancuran pertama bagi Bani Israil dicatat melalui serangkaian serangan oleh Mesir, Assyria (menghancurkan Israil Utara pada 722 SM), dan Kaldani (menghancurkan Israil Selatan pada 586 SM), yang mengakhiri kerajaan peninggalan Nabi Daud AS. Mereka kemudian dijajah oleh Yunani dan Romawi, dengan Al-Qadas ditaklukkan oleh Umar bin Khattab pada 637 M. Upaya Bani Israil untuk memperoleh kembali kemerdekaan setelah itu tidak berhasil, bahkan mereka ditawan oleh Kaisar Romawi Titus pada 70 M dan 135 M. Bassam juga mengisyaratkan bahwa kerusakan kedua, menurut penafsir kontemporer, baru dimulai sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948 M.
Ruang Sujud
Israil, Sifat Dan Kehancurannya Dalam Al-Qur’an
Kerusakan kedua diidentifikasi sebagai pembunuhan Nabi Zakaria dan Yahya, serta upaya pembunuhan Nabi Isa
Published
1 week agoon
07/03/2026
Monitorday.com– Sebuah analisis terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya surat Al-Isra ayat 4 dan 5, mengungkap prediksi mengenai dua kali tindakan kerusakan besar yang dilakukan oleh Bani Israil di bumi serta kehancuran yang menyertainya. Teks suci ini secara eksplisit menguraikan takdir tersebut, memicu berbagai interpretasi sepanjang sejarah Islam mengenai identifikasi peristiwa-peristiwa tersebut.
Prediksi ini menjadi dasar bagi pemahaman tentang perjalanan historis Bani Israil, dari pembentukan kerajaan hingga serangkaian invasi dan kehancuran. Para penafsir Al-Qur’an telah mengidentifikasi momen-momen kunci dalam sejarah yang diyakini sesuai dengan ramalan tersebut, memunculkan diskusi tentang relevansi ramalan ini dalam konteks modern.
Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 4 menyatakan, “Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israîl dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.
Kemudian, dalam surat Al-Isra ayat 5, dijelaskan konsekuensi dari kerusakan pertama tersebut: “Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana”.
DR. Bassam (2000:14) menjelaskan bahwa setelah wafatnya Sulaiman pada 935 SM, Bani Israil mulai membuat kerusakan di bumi dan terpecah menjadi kerajaan di utara dan selatan. Mufasir salaf seperti al-Maraghi, Ibnu Al-Jauzi, dan Jalaluddin al-Suyuthi menafsirkan kerusakan pertama sebagai penentangan terhadap Taurat, pembunuhan Nabi Syu’ya dan pemenjaraan Armia. Sementara kerusakan kedua diidentifikasi sebagai pembunuhan Nabi Zakaria dan Yahya, serta upaya pembunuhan Nabi Isa.
Kehancuran pertama bagi Bani Israil terjadi melalui serangan bertubi-tubi dari Mesir, Assiria pada 722 SM yang menghancurkan kerajaan utara, dan Kaldani (Babilon) pada 586 SM yang menaklukkan kerajaan selatan, mengakhiri warisan Nabi Daud AS. Berbeda dengan mufasir salaf yang mengaitkan kehancuran pertama dengan Jâlût, mufasir kontemporer yang dijelaskan oleh Bassam (2000:11) mengisyaratkan bahwa kehancuran pertama telah terjadi, sementara kerusakan kedua baru dimulai sejak berdirinya entitas Israel pada tahun 1948 M.
Ruang Sujud
Muhammadiyah Definisikan Akidah Tauhid sebagai Sistem Kepercayaan Etis
Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, akidah tauhid bukan sekadar spiritual, melainkan fondasi etika sosial untuk mewujudkan kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan umat.
Published
2 weeks agoon
05/03/2026
Monitorday.com– Dalam sebuah pengajian Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, Hamim Ilyas menjelaskan bahwa akidah tauhid dalam perspektif Muhammadiyah memiliki peran yang berbeda dibandingkan dengan tradisi teologi lain seperti Asy’ariyah.
Menurut Hamim, dalam aliran Asy’ariyah akidah tauhid dipahami sebagai sistem kepercayaan spiritual. Namun, Muhammadiyah menekankan bahwa akidah tauhid bukan hanya keyakinan batin semata, melainkan juga sistem kepercayaan etis yang mendorong terwujudnya kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
Hamim menambahkan bahwa kesalehan pribadi dan sosial merupakan inti pemahaman ini, di mana seorang Muslim tidak hanya berfokus pada ritual spiritual, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan konkret untuk mengangkat martabat manusia dan mengatasi ketidakadilan.
Selain membandingkan dengan Asy’ariyah, Hamim juga menyinggung perbedaan dengan pandangan Wahabi yang cenderung literal dan kurang adaptif terhadap konteks zaman. Dalam konteks ini, Muhammadiyah tetap berpijak pada teks agama, namun berusaha menjadikan ajaran tauhid relevan secara sosial.
Imam tersebut juga menunjukkan bahwa implementasi sistem kepercayaan etis ini tercermin dalam keterlibatan perempuan dalam ruang publik melalui organisasi ‘Aisyiyah, sebagai wujud bahwa pemahaman tauhid Muhammadiyah memberi ruang kontribusi sosial lebih luas bagi umat.
Ruang Sujud
Mengapa Zakat di Bulan Ramadhan Begitu Istimewa? Ini 9 Keutamaannya
Published
2 weeks agoon
05/03/2026By
Umar Satiri
Monitorday.com – Bulan Ramadhan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan inilah umat Muslim menjalankan ibadah puasa sekaligus memperbanyak berbagai amal kebaikan. Banyak orang memilih Ramadhan sebagai waktu untuk bersedekah, membantu sesama, dan menunaikan zakat. Bukan tanpa alasan, karena bulan suci ini diyakini sebagai waktu ketika setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT.
Di tengah suasana spiritual yang lebih kuat, zakat menjadi salah satu ibadah yang semakin terasa maknanya. Zakat bukan sekadar kewajiban agama, tetapi juga sarana untuk membersihkan harta, menumbuhkan kepedulian sosial, dan mempererat hubungan antar sesama manusia.
Dalam sejarah Islam, perintah zakat tidak langsung hadir dalam bentuk yang lengkap seperti yang kita kenal sekarang. Pada masa awal dakwah Rasulullah SAW di Makkah, umat Islam sudah diperintahkan untuk berbagi dan membantu kaum miskin, namun ketentuan mengenai jumlah dan waktu pembayaran zakat belum dijelaskan secara rinci. Penjelasan lebih jelas tentang zakat baru berkembang setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah.
Pada tahun kedua Hijriah, zakat fitrah mulai diwajibkan kepada umat Islam, beriringan dengan perintah puasa Ramadhan. Setelah itu, zakat harta ditetapkan sebagai kewajiban tambahan yang melengkapi zakat fitrah. Sejak saat itu, zakat menjadi salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam kehidupan umat Muslim, tidak hanya dari sisi ibadah tetapi juga dalam membangun kesejahteraan sosial.
Keistimewaan zakat di bulan Ramadhan terletak pada dimensi spiritualnya. Ketika seseorang menunaikan zakat, ia tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi juga membersihkan dirinya dari sifat kikir dan berlebihan dalam mencintai harta. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa amal kebaikan dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Zakat, sebagai salah satu bentuk amal, menjadi jalan bagi seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Selain itu, zakat juga menjadi bukti nyata keimanan dan ketaatan seorang Muslim kepada Allah SWT. Dengan menunaikan zakat, seseorang menunjukkan bahwa ia mampu menempatkan ridha Allah di atas kepentingan duniawi. Harta yang dimiliki tidak lagi dipandang semata-mata sebagai milik pribadi, tetapi juga sebagai amanah yang di dalamnya terdapat hak orang lain.
Dari sisi sosial, zakat memiliki peran yang sangat besar. Dana zakat membantu masyarakat yang membutuhkan, mengurangi kesenjangan ekonomi, serta memperkuat solidaritas antar umat. Melalui zakat, harta yang terkumpul di kalangan masyarakat mampu berputar kembali dan memberi manfaat bagi lebih banyak orang.
Yang menarik, konsep zakat juga terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Selain dalam bentuk bahan pangan atau uang tunai, zakat kini dapat ditunaikan melalui berbagai instrumen modern, termasuk zakat dari investasi seperti saham syariah. Perkembangan ini menunjukkan bahwa ajaran zakat tetap relevan dengan dinamika ekonomi modern, selama tetap mengikuti prinsip-prinsip syariah.
Pada akhirnya, zakat di bulan Ramadhan bukan hanya tentang kewajiban memberi. Ia adalah ibadah yang menyatukan dimensi spiritual, sosial, dan ekonomi sekaligus. Di bulan penuh berkah ini, zakat menjadi pengingat bahwa harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga untuk dibagikan agar keberkahannya semakin luas dirasakan oleh banyak orang.
Ruang Sujud
Salman Al-Farisi dan Pesan Al-Qur’an tentang Kaum Pengganti
Published
2 weeks agoon
04/03/2026By
Umar Satiri
Monitorday.com – Di antara para sahabat Nabi Muhammad Saw., ada satu sosok yang kisah hidupnya seperti perjalanan panjang mencari cahaya. Ia bukan berasal dari Mekkah, bukan pula dari Madinah. Ia datang dari negeri yang jauh dari Makkah maupun Madinah. Namanya Salman Al-Farisi.
Kisahnya dimulai dari pencarian kebenaran yang melelahkan. Salman lahir dalam keluarga terpandang di Persia dan dibesarkan dalam tradisi agama Majusi. Namun, dalam hatinya selalu ada kegelisahan. Ia merasa bahwa kebenaran tidak berhenti pada keyakinan yang diwariskan begitu saja.
Pencarian itu membawanya berpindah dari satu guru ke guru lain, dari satu negeri ke negeri lain. Ia pernah menjadi pelayan seorang pendeta, kemudian berguru kepada rahib-rahib Nasrani. Bahkan dalam perjalanan itu ia sempat diperjualbelikan sebagai budak hingga akhirnya tiba di Madinah.
Di sanalah ia bertemu dengan Nabi Muhammad Saw., pertemuan yang menutup seluruh pencariannya. Salman kemudian menjadi sahabat Nabi yang sangat dekat. Rasulullah bahkan pernah berkata tentang dirinya: “Salman adalah bagian dari keluarga kami, Ahlul Bait.”
Namun keutamaan Salman tidak hanya terletak pada kisah hidupnya yang luar biasa. Namanya juga disebut dalam sebuah peristiwa yang berkaitan dengan ayat al-Qur’an.
Ketika Ayat Itu Turun
Dalam Surat Muhammad ayat 38, Allah mengingatkan kaum Muslimin tentang pentingnya berinfak di jalan-Nya.
Ayat itu berbunyi:
“Ingatlah, kamulah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada orang yang kikir. Dan barangsiapa kikir, maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Allah-lah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan. Dan jika kamu berpaling, Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.”
Ayat ini turun ketika sebagian orang merasa berat mengeluarkan harta mereka untuk perjuangan Islam. Ada yang takut miskin, ada pula yang masih terikat dengan kecintaan terhadap harta.
Al-Qur’an kemudian memberikan peringatan tegas: jika suatu kaum enggan berjuang dan berkorban, Allah bisa menggantikan mereka dengan kaum lain yang lebih baik. Ketika ayat ini dibacakan, para sahabat pun penasaran. Mereka bertanya kepada Rasulullah Saw.:
“Wahai Rasulullah, siapakah kaum yang akan menggantikan kami jika kami berpaling?” Pertanyaan itu dijawab dengan cara yang sangat sederhana, tetapi penuh makna. Rasulullah Saw. menepuk pundak Salman Al-Farisi yang sedang berada di dekatnya. Lalu beliau bersabda:
“Inilah orangnya dan kaumnya. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya agama ini berada di bintang Surayya, niscaya orang-orang dari Persia akan meraihnya.”
Para sahabat pun memahami pesan yang dalam dari jawaban Nabi. Islam tidak dimonopoli oleh satu bangsa. Tidak pula oleh satu suku atau wilayah. Jika suatu kaum lalai menjaga agama, Allah akan menghadirkan kaum lain yang lebih bersungguh-sungguh. Jika bangsa kita [Indonesia] enggan membayar zakat dan membela Agama Allah, maka mudah bagi Allah menenggelamkan bangsa ini. Termasuk juga bangsa Arab, jika enggan membela Agama Allah dan memilih membela musuh-musuh Agama Allah, maka mudah saja baginya untuk mengganti mereka dengan kaum yang lain.
Bangsa Persia dan Tradisi Keilmuan
Sejarah kemudian membuktikan sabda Nabi tersebut. Dalam perjalanan peradaban Islam, bangsa Persia memainkan peran yang sangat besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Banyak ulama besar yang berasal dari wilayah Persia atau kawasan sekitarnya. Di antaranya adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Al-Ghazali, hingga para ilmuwan besar seperti Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina [Persia sebelum berdiri negara Iran]. Mereka bukan hanya menjaga agama, tetapi juga mengembangkan ilmu pengetahuan yang menjadi fondasi peradaban Islam.
Dalam banyak hal, tradisi intelektual Persia memberikan warna yang sangat kuat dalam dunia Islam. Semangat keilmuan, kedalaman spiritual, serta kecintaan pada ilmu menjadi ciri khas yang kemudian melahirkan banyak karya besar.
Semua itu seolah menjadi bukti dari pesan Nabi: jika agama itu jauh sekalipun, akan ada orang-orang yang mencarinya dengan sungguh-sungguh.
Namun kisah ini tidak semata tentang keutamaan satu bangsa. Pesan utamanya justru sangat universal. Allah tidak membutuhkan kita. Justru kita yang membutuhkan kesempatan untuk beramal. Infak, zakat, pengorbanan, dan perjuangan di jalan Allah bukanlah untuk menolong agama Allah—melainkan untuk menyelamatkan diri kita sendiri.
Karena agama ini tidak akan berhenti hanya karena satu generasi melemah. Jika suatu kaum menjadi lalai, Allah akan menghadirkan generasi lain. Jika suatu masyarakat menjadi kikir, Allah akan menggantinya dengan mereka yang lebih dermawan. Dan jika suatu bangsa kehilangan semangat berjuang, Allah akan mengangkat bangsa lain yang lebih sungguh-sungguh.
Kisah Salman Al-Farisi mengingatkan kita bahwa kemuliaan dalam Islam tidak ditentukan oleh asal-usul. Bukan oleh darah, suku, ataupun bangsa. Melainkan oleh kesungguhan dalam mencari kebenaran.
Salman datang dari negeri yang jauh, menempuh perjalanan panjang, bahkan mengalami penderitaan sebagai budak. Namun justru dari perjalanan itulah ia sampai pada cahaya Islam.
Dan pada suatu hari, di hadapan para sahabat Nabi, pundaknya ditepuk oleh Rasulullah—sebuah isyarat bahwa iman dan ilmu bisa datang dari mana saja. Selama ada hati yang bersungguh-sungguh mencarinya.
Ruang Sujud
Refleksi Perang Badar dan Geopolitik Dunia Kontemporer
Published
2 weeks agoon
02/03/2026By
Natsir Amir
Monitorday.com – Perang Badar bukan sekadar catatan sejarah, melainkan simbol keteguhan iman di tengah tekanan geopolitik yang timpang. Pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah, kaum Muslimin yang dipimpin oleh Nabi Muhammad menghadapi pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Secara logika militer, kekuatan 313 orang tidak sebanding dengan lebih dari 1.000 pasukan bersenjata lengkap. Namun sejarah mencatat, kemenangan justru berpihak kepada mereka yang sabar dan yakin.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an: “Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah.” (QS. Ali Imran: 123). Ayat ini bukan hanya penguat spiritual, tetapi juga pesan geopolitik: kekuatan moral dan legitimasi perjuangan kerap menjadi faktor penentu, bukan sekadar jumlah alutsista.
Rasulullah SAW juga bersabda: “Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran.” (HR. Tirmidzi). Dalam hadis lain disebutkan, “Barang siapa terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dua hadis ini mempertegas bahwa Islam tidak memulai agresi, tetapi membela diri adalah hak yang dijamin syariat.
Dalam perspektif kontemporer, pola agresi terhadap dunia Islam sering berulang. Kita menyaksikan bagaimana kebijakan luar negeri Donald Trump atau langkah-langkah keras Benjamin Netanyahu terhadap kawasan Timur Tengah sering memantik eskalasi. Retorika keamanan kerap menjadi legitimasi tindakan ofensif. Narasi global pun dibingkai sedemikian rupa sehingga pihak yang diserang tampak sebagai ancaman.
Sejarawan Inggris Karen Armstrong berpendapat bahwa konflik yang melibatkan dunia Islam kerap dibaca secara simplistik sebagai persoalan agama, padahal sering kali berakar pada perebutan kekuasaan dan sumber daya. Sementara ilmuwan politik John Mearsheimer menegaskan bahwa politik global digerakkan oleh kepentingan kekuatan besar (great power politics), bukan idealisme moral. Artinya, agresi sering dibungkus dengan dalih nilai universal, padahal kepentingan strategislah yang dominan.
Sejarah kolonialisme juga menunjukkan pola serupa. Belanda ketika menjajah Indonesia tidak datang membawa misi spiritual, tetapi ekonomi dan dominasi. Perlawanan rakyat Nusantara dari Aceh hingga Jawa bukanlah bentuk agresi, melainkan reaksi atas penindasan. Islam di Nusantara menjadi ruh perlawanan karena ajarannya menolak kezaliman.
Hari ini, sebagian umat melihat figur-figur politik global sebagai simbol kekuatan yang menekan dunia Islam. Namun pelajaran Badar mengajarkan bahwa kemenangan bukan monopoli kekuatan material. Ia lahir dari konsolidasi iman, solidaritas, strategi, dan kesabaran kolektif. Islam tidak memulai peperangan. Tetapi ketika diserang, perlawanan tidak hanya hadir di medan tempur; ia bergerak di ranah diplomasi, ekonomi, opini publik, hingga teknologi informasi.
Badar juga menunjukkan bahwa pertolongan Allah datang melalui sebab-sebab nyata: persatuan, kepemimpinan yang tegas, dan keyakinan yang tak goyah. Dalam konteks geopolitik modern, ini berarti membangun kemandirian ekonomi, kekuatan ilmu pengetahuan, serta solidaritas antarnegara Muslim. Kemenangan bukan sekadar retorika emosional, melainkan buah dari kerja panjang.
Keyakinan bahwa “kemenangan milik yang sabar” bukanlah romantisme sejarah. Ia adalah prinsip strategis. Umat Islam tidak pernah diperintahkan untuk menjadi agresor. Namun ketika keadilan diinjak, kesabaran bukan berarti pasif. Ia adalah keteguhan untuk bertahan, menyusun kekuatan, dan menanti momentum sebagaimana Badar mengajarkan, bahwa dalam ketimpangan sekalipun, sejarah dapat berbalik arah.
Tak bisa dipungkiri bahwa geopolitik berubah-ubah, tetapi hukum moral tetap sama: kezaliman memiliki batas usia. Sebagai seorang Muslim, kita dipanggil untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah tanpa melihat perbedaan mazhab, etnis, atau suku, asalkan seseorang mengucapkan lā ilāha illā Allāh, Muhammadur rasūlullāh, ia adalah bagian dari umat Islam yang sama. Prinsip persatuan ini telah ditekankan para ulama dari berbagai tradisi, termasuk ajakan untuk mempererat hubungan antara Sunni dan Syiah demi kejayaan dan kekuatan bersama umat Islam menghadapi tantangan global.
Umat Islam memiliki ancaman bersama yang nyata di dunia geopolitik; perselisihan internal hanya akan melemahkan kita sementara pihak luar sering memanfaatkan perpecahan tersebut. Quran mengajarkan agar umat Islam “berpegang teguh pada tali Allah dan jangan bercerai-berai,” menggambarkan pentingnya solidaritas dan toleransi, bukan perdebatan yang mengarah pada permusuhan.
Mari jaga persatuan, fokus pada akhlak, keadilan, dan kematangan berpikir sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar label kelompok. Persatuanlah yang menjadi kekuatan umat dalam menegakkan Islam dan menghadapi tantangan zaman.
Dan sebagai seorang Muslim, mari tingkatkan keimanan kita, setiap Ramadhan selalu mengingatkan, bahwa dalam bulan penuh berkah itulah sejarah pernah membuktikan yang lemah secara angka dapat menang karena kuat secara iman dan strategi.
Jika waktunya tiba dan seluruh umat bersatu, maka bersiaplah untuk perjuangan panjang. Kami menantikan panggilan itu.
Ruang Sujud
Pernyataan Zakat Jadi Sorotan, Menag Nasaruddin Umar Minta Maaf
Published
2 weeks agoon
01/03/2026
Ruangsujud.com – Pernyataan Menteri Agama, KH Nasaruddin Umar dalam Sarasehan 99 Ekonom Syariah pada 24 Februari 2026 memicu perdebatan publik. Dalam forum tersebut, Menag menyampaikan pandangan yang kemudian dianggap kontroversial oleh sebagian masyarakat.
“Kalau kita ingin maju sebagai umat, kita harus meninggalkan zakat. Zakat itu tidak populer. Quran itu juga tidak mempopulerkan zakat.” Ia menjelaskan bahwa pada masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, semangat yang lebih ditekankan adalah sedekah dan kepedulian sosial yang luas, bukan sekadar kewajiban zakat sebesar 2,5 persen.
Pernyataan tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu berbagai reaksi dari masyarakat, tokoh agama, hingga pengamat ekonomi syariah. Banyak pihak menilai pernyataan itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman tentang posisi zakat dalam ajaran Islam.
Menanggapi polemik yang berkembang, Menteri Agama akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf kepada publik. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa zakat tetap merupakan kewajiban individual (fardhu ‘ain) dan bagian dari rukun Islam yang tidak berubah kedudukannya.
“Saya memohon maaf atas pernyataan saya yang menimbulkan kesalahpahaman. Perlu saya tegaskan, zakat adalah fardhu ‘ain dan rukun Islam yang wajib kita tunaikan,” ujarnya.
Menurut Nasaruddin, pernyataan yang ia sampaikan sebenarnya dimaksudkan untuk mendorong reorientasi dalam pengelolaan dana umat. Ia menilai bahwa selain zakat, instrumen filantropi Islam seperti wakaf, infak, dan sedekah juga perlu dioptimalkan untuk memperkuat ekonomi umat.
Ia mencontohkan beberapa negara seperti Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab yang berhasil memanfaatkan pengelolaan wakaf secara profesional sebagai motor pembangunan sosial dan ekonomi.
Menag berharap polemik ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman masyarakat tentang pentingnya mengoptimalkan seluruh instrumen dana sosial keagamaan, tanpa mengurangi kewajiban zakat sebagai rukun Islam.
Monitor Saham BUMN
Manchester Ciy vs Real Madrid: Misi Berat The Citizens Kejar Defisit Gol
Barcelona Buka Peluang Kembalinya Messi, Laporta: Pintu Selalu Terbuka
Prabowo Minta Pejabat Gelar Open House Lebaran secara Sederhana
Hasan Al-Rammah dan Asal-Usul Teknologi Roket
Berburu Lailatul Qadr di Masjid At-Thohir Kota Depok
BRI Ingatkan Nasabah Waspadai File APK Jelang Lebaran, Modus Penipuan Digital Kian Marak
Pecahkan Rekor Dunia, Meksiko Gelar Kelas Sepak Bola Terbesar
8 Tips Mudik Lebaran Tetap Sehat dan Aman, Persiapan Penting Sebelum Perjalanan
Elon Musk Bakal Luncurkan X Money, Apa Itu?
Hadits ‘Mencari Ilmu Hingga Cina’ Dinyatakan Tidak Otentik?
Prabowo Serukan Opsi Damai Konflik Iran-AS-Israel
Prabowo: Program MBG Jadi Motor Ekonomi Rakyat
Negeri Religius, Menteri Agama Kontroversial, Netizen: Jadi DKM, Jangan Menag
Haedar Nashir: Sikap Muhammadiyah Bali Saat Idulfitri dan Nyepi Layak Jadi Contoh
Kemendikdasmen Tebar Ribuan Buku di Stasiun-Terminal Lewat Program Mudik Asyik Baca Buku (MABB)
Prabowo Pertahankan Defisit APBN 3 Persen
Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Borobudur Paling Diminati. Ini Kuncinya!
Pertamina Gelar Mudik Bareng, Dorong Efisiensi Energi
Kemendikdasmen Beri Relaksasi Dana BOSP untuk Honor Guru Non-ASN di 2026
