Connect with us

Ruang Sujud

Proyeksi Takdir Bani Israil dalam Kitab Suci

Bani Israil akan melakukan dua kali kerusakan besar dan menunjukkan kesombongan yang luar biasa

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Al-Qur’an menguraikan narasi tentang Bani Israil, termasuk ramalan mengenai tindakan dan konsekuensi mereka di bumi. Surat Al-Isra ayat 4 secara spesifik menyebutkan bahwa Bani Israil akan melakukan dua kali kerusakan besar dan menunjukkan kesombongan yang luar biasa.

Kajian lebih lanjut dari Kitab Suci, khususnya Surat Al-Isra ayat 5, menjelaskan tentang janji Tuhan untuk mendatangkan hukuman setelah kejahatan pertama mereka. Hukuman ini akan diwujudkan melalui ‘hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar,’ yang akan merajalela di antara pemukiman mereka sebagai ketetapan yang pasti terlaksana.

“وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَاءِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي اْلأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا.“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israîl dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. (QS. Al-Isra [17]:4)

Para penafsir kitab suci memiliki pandangan beragam mengenai awal mula kerusakan pertama ini. DR. Bassam (2000:14) menyatakan bahwa kerusakan dimulai setelah wafatnya Raja Sulaiman pada 935 SM, yang memicu perpecahan menjadi kerajaan utara dan selatan. Penafsir salaf seperti al-Maraghi, Ibnu Al-Jauzi, dan Jalaluddin al-Suyuthi menafsirkan kerusakan pertama sebagai penentangan Taurat, pembunuhan Nabi Syu’ya, dan pemenjaraan Armia. Sementara itu, kerusakan kedua mereka kaitkan dengan pembunuhan Nabi Zakaria dan Yahya, serta upaya pembunuhan Nabi Isa.

“فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ أُوْلاَهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَآ أُوْلِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلاَلَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولاً.“Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana”. (QS. Al-Isra [17]:5)

Kehancuran pertama bagi Bani Israil dicatat melalui serangkaian serangan oleh Mesir, Assyria (menghancurkan Israil Utara pada 722 SM), dan Kaldani (menghancurkan Israil Selatan pada 586 SM), yang mengakhiri kerajaan peninggalan Nabi Daud AS. Mereka kemudian dijajah oleh Yunani dan Romawi, dengan Al-Qadas ditaklukkan oleh Umar bin Khattab pada 637 M. Upaya Bani Israil untuk memperoleh kembali kemerdekaan setelah itu tidak berhasil, bahkan mereka ditawan oleh Kaisar Romawi Titus pada 70 M dan 135 M. Bassam juga mengisyaratkan bahwa kerusakan kedua, menurut penafsir kontemporer, baru dimulai sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948 M.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

War Tiket Haji Digagas, Solusi Antrean Panjang atau Sekadar Wacana?

Gagasan war tiket haji muncul sebagai alternatif atasi antrean haji. Sistemnya akan diatur pemerintah untuk memangkas waktu tunggu, bukan seperti pasar bebas.

Umar Satiri

Published

on

Monitorday.com – Antrean haji yang kian mengular seolah tak pernah benar-benar menemukan ujungnya. Di tengah kegelisahan itu, sebuah gagasan baru muncul ke permukaan—war tiket haji, sebuah konsep yang mulai diperbincangkan sebagai jalan alternatif untuk memecah kebuntuan daftar tunggu.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Kalimantan Barat, Kamaludin, melihat wacana ini layak disambut dengan pikiran terbuka. Baginya, ide tersebut bukan sekadar sensasi kebijakan, melainkan potensi solusi yang bisa memberi napas baru bagi mereka yang terlalu lama menunggu giliran berangkat.

Namun, ia menegaskan, konsep ini masih berada pada tahap awal. Pemerintah bersama DPR disebut akan menjadi aktor utama dalam merancang mekanisme yang tidak liar, tidak pula tanpa kendali.

“Jika diterapkan, sistemnya akan diatur pemerintah dan DPR, bukan seperti pasar bebas,” ujarnya, Jum’at, 17 April 2026.

Pernyataan itu seolah menjadi garis batas yang jelas: bahwa “war” yang dimaksud bukanlah perebutan tanpa aturan, melainkan sistem yang tetap berpijak pada regulasi. Dalam bayangan Kamaludin, skema ini justru dirancang untuk tetap tertib, terukur, dan tidak mengganggu ekosistem haji yang sudah berjalan selama ini.

Ia juga memastikan, mekanisme baru ini tidak akan menyentuh kuota yang sudah ada—baik kuota haji reguler, tambahan, maupun khusus. Artinya, wacana ini berdiri sebagai jalur alternatif, bukan menggantikan sistem yang telah mapan.

Harapannya sederhana, namun krusial: memangkas waktu tunggu yang selama ini terasa terlalu panjang, terutama di wilayah Kalimantan Barat.

Di sisi lain, kehati-hatian tetap terasa. Kepala Kemenhaj Kota Pontianak, Muslimin, memilih untuk belum banyak bersuara. Baginya, berbicara terlalu jauh tanpa kejelasan sistem justru bisa menimbulkan tafsir yang beragam di masyarakat.

“Kalau sistemnya sudah jelas, tentu akan kami sampaikan dan sosialisasikan kepada masyarakat,” katanya.

Di titik ini, wacana war tiket haji masih berdiri sebagai kemungkinan—belum menjadi kepastian. Namun, satu hal yang mulai terasa: ada upaya untuk mencari jalan keluar, di tengah antrean panjang yang selama ini hanya bisa ditunggu, tanpa banyak pilihan.

Continue Reading

Ruang Sujud

Pernikahan sebagai Benteng Zina: Masihkah Relevan di Era Modern?

Di tengah kebebasan relasi modern, pernikahan tetap menjadi benteng moral yang menjaga martabat manusia.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Di tengah arus modernitas yang semakin permisif terhadap hubungan bebas, konsep pernikahan dalam Islam tetap diposisikan sebagai benteng utama untuk mencegah zina. Islam tidak hanya memandang pernikahan sebagai ikatan sosial, tetapi juga sebagai sistem perlindungan moral dan spiritual. Menurut literatur fikih dan pandangan ulama yang dikutip sebagai sumber, pernikahan berfungsi menjaga kehormatan individu sekaligus stabilitas masyarakat.

Apa yang dimaksud dengan pernikahan sebagai benteng zina? Pernikahan adalah institusi yang melegalkan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam kerangka tanggung jawab. Siapa yang membutuhkan? Setiap individu yang memiliki dorongan biologis dan keinginan membangun keluarga. Kapan relevansinya diuji? Justru di era modern seperti sekarang, ketika akses terhadap konten seksual dan kebebasan relasi semakin terbuka. Di mana tantangannya paling terasa? Pada ruang digital dan lingkungan sosial yang permisif. Mengapa tetap penting? Karena tanpa batasan yang jelas, manusia rentan pada perilaku destruktif. Bagaimana Islam menjawabnya? Dengan menempatkan pernikahan sebagai solusi yang realistis dan bermartabat.

Di era digital, godaan terhadap zina tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi juga hadir melalui media sosial, aplikasi kencan, hingga konten daring yang mudah diakses. Situasi ini membuat nilai-nilai pengendalian diri semakin teruji. Pernikahan, dalam konteks ini, bukan sekadar legalitas hubungan, tetapi juga komitmen untuk menjaga diri dari godaan yang semakin kompleks.

Namun demikian, tantangan modern juga menuntut pemahaman baru terhadap pernikahan. Faktor ekonomi, kesiapan mental, hingga perubahan gaya hidup sering menjadi alasan penundaan pernikahan. Di sinilah pentingnya pendekatan yang lebih kontekstual, bahwa pernikahan bukan sekadar formalitas, tetapi kesiapan membangun kemitraan yang sehat, setara, dan bertanggung jawab.

Islam juga tidak menutup mata terhadap realitas ini. Selain mendorong pernikahan, Islam mengajarkan pengendalian diri melalui puasa, menjaga pandangan, dan memperkuat spiritualitas. Artinya, pernikahan adalah solusi utama, tetapi bukan satu-satunya upaya dalam menjaga diri dari zina.

Dengan demikian, pernikahan tetap relevan sebagai benteng dari zina di era modern, bahkan menjadi semakin penting. Ia bukan sekadar tradisi, tetapi mekanisme perlindungan yang menyentuh aspek biologis, emosional, dan spiritual manusia. Dalam dunia yang serba bebas, pernikahan justru menjadi ruang aman untuk menjaga martabat, cinta, dan keberkahan hidup.

Continue Reading

Ruang Sujud

Mengapa Islam Tidak Menganggap Seks sebagai Hal Tabu?

Islam memandang seks sebagai fitrah manusia yang harus diarahkan, bukan disembunyikan.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Islam memandang seks sebagai bagian dari fitrah manusia yang tidak perlu ditabukan, melainkan harus dipahami, diatur, dan diarahkan secara benar. Dalam kerangka ajaran Islam, segala sesuatu yang merupakan kebutuhan dasar manusia tidak ditolak, tetapi justru diberikan panduan agar tetap berada dalam koridor moral dan spiritual. Menurut literatur fikih dan hadis yang dikutip sebagai sumber, pendekatan ini menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara naluri dan nilai.

Mengapa seks tidak dianggap tabu dalam Islam? Karena ia merupakan kebutuhan biologis yang diciptakan langsung oleh Allah sebagai bagian dari naluri manusia. Siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki dorongan tersebut. Kapan dorongan ini muncul tidak bisa dihindari, terutama saat seseorang mencapai usia baligh. Di mana pun manusia berada, naluri ini tetap ada. Mengapa harus diakui? Karena menutupinya justru berpotensi melahirkan penyimpangan. Bagaimana Islam mengelolanya? Dengan memberikan aturan melalui pernikahan sebagai jalan yang halal.

Dalam banyak riwayat hadis yang menjadi rujukan para ulama, pembahasan tentang hubungan intim disampaikan secara terbuka namun tetap beradab. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak menganggap seks sebagai sesuatu yang kotor, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang suci jika dilakukan dengan benar. Bahkan, Nabi Muhammad SAW memberikan panduan yang detail tentang adab hubungan suami istri, mulai dari komunikasi, foreplay, hingga larangan menyakiti pasangan.

Selain itu, Islam melihat bahwa sikap tabu terhadap seks justru dapat menimbulkan dampak negatif, seperti kurangnya edukasi, kesalahpahaman, hingga perilaku menyimpang. Dengan membuka ruang diskusi yang sehat dan terarah, Islam mendorong umatnya untuk memahami seks secara benar, bukan sekadar berdasarkan mitos atau hawa nafsu. Inilah yang membedakan pendekatan Islam dengan sebagian budaya yang cenderung menutup rapat pembahasan ini.

Namun, keterbukaan ini tetap dibingkai dengan etika yang kuat. Islam melarang eksploitasi seksual, pornografi, dan segala bentuk hubungan di luar pernikahan. Artinya, keterbukaan bukan berarti kebebasan tanpa batas, melainkan kebijaksanaan dalam memahami dan menjalankan fungsi biologis secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, Islam tidak menganggap seks sebagai hal tabu karena ia adalah bagian dari fitrah yang harus diarahkan, bukan ditekan. Pendekatan ini justru menciptakan keseimbangan antara keterbukaan dan moralitas, sehingga manusia dapat menjalani kehidupan yang sehat, bermartabat, dan bernilai ibadah.

Continue Reading

Ruang Sujud

Seks dalam Islam: Harmoni antara Kebutuhan Biologis dan Spiritualitas

Hubungan intim dalam Islam bukan sekadar pemenuhan hasrat, tetapi juga ibadah yang sarat nilai spiritual.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Dalam perspektif Islam, hubungan seksual antara suami dan istri tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan biologis semata, melainkan juga sebagai bagian dari ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi. Konsep ini menempatkan aktivitas intim dalam kerangka yang lebih luas, yaitu menjaga keharmonisan rumah tangga sekaligus mendekatkan diri kepada Allah. Menurut berbagai literatur fikih yang dikutip sebagai sumber, Islam mengatur hubungan ini secara seimbang antara hak, kewajiban, dan etika.

Apa yang dimaksud dengan seks dalam Islam? Seks dalam Islam adalah aktivitas biologis yang dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah, dengan tujuan tidak hanya untuk reproduksi tetapi juga untuk mempererat hubungan emosional antara pasangan. Siapa yang terlibat tentu adalah suami dan istri yang sah. Kapan dilakukan tidak dibatasi secara kaku, selama tetap memperhatikan kondisi dan adab. Di mana pun diperbolehkan selama dalam ruang privat. Mengapa hal ini penting? Karena Islam memandangnya sebagai sarana menjaga kehormatan dan menghindari perbuatan zina. Bagaimana pelaksanaannya diatur? Melalui prinsip adab, saling ridha, dan tanggung jawab.

Menurut sumber-sumber hadis yang sering dirujuk dalam kajian keislaman, hubungan intim bahkan dapat bernilai sedekah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan antara aspek duniawi dan ukhrawi. Aktivitas biologis yang dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal dapat menjadi ladang pahala. Oleh karena itu, niat menjadi kunci utama dalam mengubah aktivitas fisik menjadi bernilai ibadah.

Lebih jauh, Islam juga menekankan pentingnya unsur mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang) dalam hubungan seksual. Ini berarti bahwa hubungan intim tidak boleh didasarkan pada pemaksaan atau ego semata, melainkan harus dilandasi oleh kasih sayang, penghormatan, dan komunikasi yang baik. Dalam konteks ini, kepuasan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional dan spiritual.

Namun demikian, Islam juga memberikan batasan yang jelas terkait hubungan seksual. Larangan seperti berhubungan saat haid atau melalui cara yang tidak sesuai dengan syariat menjadi bagian dari aturan yang bertujuan menjaga kesehatan, kebersihan, dan moralitas. Aturan ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengakomodasi kebutuhan manusia, tetapi juga mengarahkannya agar tetap berada dalam koridor yang sehat dan bermartabat.

Dengan demikian, seks dalam Islam merupakan perpaduan harmonis antara kebutuhan biologis dan nilai spiritual. Ia bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga medium untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Perspektif ini menegaskan bahwa Islam sebagai agama yang komprehensif mampu mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk yang paling personal sekalipun.

Continue Reading

Ruang Sujud

Nikmat Mana, Kebaikan atau Kemaksiatan?

Umar Satiri

Published

on

Monitorday.com – Sering kali manusia terjebak pada cara pandang yang keliru: apa yang terasa menyenangkan dianggap baik, sementara apa yang menuntut disiplin justru dipandang sebagai beban. Dalam logika seperti ini, maksiat terlihat menggoda karena memberi kenikmatan instan, sedangkan ketaatan terasa berat karena menuntut kesungguhan. Padahal, ukuran kebahagiaan tidak pernah sesederhana rasa nyaman sesaat.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dalam salah satu pengajian pernah mengingatkan bahwa persepsi tersebut perlu diluruskan. Menurutnya, manusia sering tertipu oleh “rasa awal”—sesuatu yang tampak ringan belum tentu membawa ketenangan, dan sesuatu yang terasa berat belum tentu menyusahkan dalam jangka panjang. Justru, kebahagiaan yang hakiki lahir dari ketaatan, bukan dari kebebasan tanpa arah.

Pandangan ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini menegaskan bahwa penilaian manusia sering kali terbatas pada apa yang tampak di permukaan. Maksiat mungkin terasa menyenangkan di awal karena mengikuti hawa nafsu, tetapi bisa membawa dampak buruk yang tidak langsung terlihat. Sebaliknya, ketaatan yang terasa berat justru menyimpan kebaikan yang mendalam.

Dalam banyak kesempatan, Gus Baha menjelaskan bahwa ketaatan melatih manusia untuk mengendalikan diri. Dari situlah lahir ketenangan. Orang yang terbiasa taat tidak hanya menjalankan perintah agama, tetapi juga membangun struktur batin yang kuat—ia lebih sabar, lebih jernih dalam berpikir, dan tidak mudah goyah oleh tekanan hidup.

Hal ini juga ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW:

“Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (berat), dan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan (sesuai hawa nafsu).” (HR. Muslim)

Hadis ini memberikan gambaran yang sangat jelas: jalan menuju kebaikan sering kali tidak mudah, sementara jalan menuju keburukan justru tampak menyenangkan. Namun, kemudahan itu bersifat semu.

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini mudah ditemukan. Banyak orang mengejar kesenangan instan—baik dalam gaya hidup, kebiasaan, maupun pilihan-pilihan yang impulsif. Namun, setelah itu, muncul kegelisahan yang tidak bisa dijelaskan. Inilah yang disebut Gus Baha sebagai kenikmatan yang menipu—memberi rasa sesaat, tetapi menyisakan kehampaan.

Sebaliknya, ketaatan mungkin menuntut pengorbanan di awal: bangun lebih pagi, menahan diri, atau memilih jalan yang tidak selalu populer. Namun dari proses itulah lahir ketenangan yang lebih dalam dan bertahan lama.

Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang mana yang terasa lebih enak di awal, tetapi mana yang membawa ketenangan di akhir. Ketaatan bukanlah beban, melainkan kebutuhan jiwa. Ia adalah jalan pulang—tempat di mana manusia menemukan makna, arah, dan kedamaian yang sejati.

Continue Reading

News

Perjumpaan Simbolik Pangeran Diponegoro dan Iran, Ketika Pohon Menjadi Bahasa Perlawanan

Published

on

By

H. Erdy Nasyrul, M.I.Kom
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta

Monitorday.com – Langit sejarah kerap mempertemukan hal-hal yang tak pernah benar-benar saling bersentuhan. Ia tidak mempertemukan tokoh dalam ruang dan waktu yang sama, tetapi mempertemukan makna, dalam bentuk simbol yang hidup, berpindah, dan menemukan resonansinya kembali di zaman yang berbeda.

Di tanah Jawa abad ke-19, Pangeran Diponegoro memimpin sebuah perlawanan yang tidak hanya bertumpu pada kekuatan senjata, tetapi juga pada jaringan kultural yang halus dan nyaris tak terlihat. Dalam gerak gerilya yang senyap itu, pohon, terutama sawo kecik, menjadi lebih dari sekadar tanaman. Ia hadir sebagai penanda, sebagai kode, sebagai bahasa diam yang hanya dimengerti oleh mereka yang berada dalam lingkar perjuangan.

Pohon itu tidak berbicara, tetapi ia memberi tahu. Ia tidak berteriak, tetapi ia menghubungkan.

Dalam lanskap yang berbeda, berabad kemudian, simbol yang sama kembali muncul, kali ini di tengah gejolak Timur Tengah. Mojtaba Khamenei, sebagaimana diberitakan Kantor Berita Tasnim, menyerukan rakyat Iran untuk menanam pohon di seluruh negeri, sebagai penghormatan kepada para martir yang gugur dalam konflik.

Seruan itu bukan sekadar ajakan ekologis. Ia adalah narasi. Ia adalah upaya membangun memori kolektif, menanam harapan di atas tanah yang baru saja menyerap luka. Setiap bibit yang ditanam diposisikan sebagai simbol kehidupan yang tidak tunduk pada kematian, sebagai tanda bahwa bangsa yang diserang masih memiliki masa depan.

Di titik ini, sejarah seperti berbisik pelan, ada sesuatu yang sama.

Namun kesamaan itu bukanlah hubungan langsung. Tidak ada garis sejarah yang menghubungkan Diponegoro dengan Iran modern. Tidak ada warisan yang berpindah secara literal. Yang ada adalah perjumpaan simbolik, dua peradaban yang, dalam tekanan dan krisisnya masing-masing, menemukan bahasa yang sama untuk mengekspresikan perlawanan.

Pada masa Diponegoro, pohon bekerja dalam kesunyian. Ia menjadi bagian dari strategi, penanda lokasi, simpul komunikasi, sekaligus identitas kultural yang mengikat para pengikutnya. Dalam tradisi Jawa, sawo kecik sendiri tidak berdiri sebagai objek biasa. Ia dimaknai sebagai sarwo becik, lambang kebaikan, keteguhan, dan keselarasan hidup.

Dengan demikian, pohon dalam konteks Diponegoro bukan hanya alat, tetapi juga nilai. Ia menyatukan dimensi spiritual dan perlawanan dalam satu simbol yang sederhana.

Di Iran, makna itu mengalami transformasi. Pohon tidak lagi tersembunyi sebagai kode, melainkan tampil di ruang publik sebagai ekspresi kolektif. Ia menjadi ritual nasional, ditanam untuk mengenang, sekaligus untuk menegaskan bahwa kematian tidak mengakhiri narasi sebuah bangsa.

Jika dalam perang Diponegoro pohon adalah “jejak yang ditinggalkan”, maka dalam konteks Iran pohon adalah “masa depan yang ditanam”.

Perbedaan ini justru memperjelas satu hal, simbol yang sama dapat hidup dalam bentuk yang berbeda, tetapi tetap membawa pesan yang serupa.

Baik di Jawa maupun di Iran, pohon menjadi metafora tentang waktu. Ia tumbuh perlahan, berakar dalam, dan bertahan lama. Ia tidak memberikan kemenangan instan, tetapi menjanjikan keberlanjutan.

Dalam dunia yang sering kali mengukur kekuatan dari kecepatan dan daya hancur, simbol ini menawarkan perspektif lain, bahwa ketahanan sejati justru dibangun dari sesuatu yang tumbuh, bukan yang menghancurkan.

Di tengah konflik global, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, pertanyaan tentang “siapa yang menang” sering kali terdengar terlalu tergesa. Sejarah menunjukkan bahwa kemenangan militer tidak selalu menjadi penentu akhir dari sebuah peradaban. Bahkan, dalam banyak kasus, pihak yang tampak kalah justru meninggalkan jejak yang lebih dalam dan lebih bertahan lama.

Penyair Romawi Horace pernah menulis, Graecia capta ferum victorem cepit. Artinya, Yunani yang ditaklukkan justru menaklukkan penakluknya yang buas. Kekuasaan boleh datang dengan pedang, tetapi pengaruh sering kali datang melalui budaya, melalui nilai, melalui simbol yang hidup lebih lama dari kemenangan itu sendiri.

Pengalaman Nusantara memberi cermin yang serupa. Secara kasat mata, negeri ini pernah ditaklukkan oleh Belanda. Namun dalam perjalanan waktu, interaksi itu tidak berjalan satu arah. Banyak jejak Nusantara justru hidup dalam ruang budaya Belanda, baik dalam kuliner, bahasa, maupun kebiasaan sosial. Sebuah pengingat bahwa relasi penakluk dan yang ditaklukkan tidak pernah sesederhana hitam dan putih.

Dalam konteks itulah, simbol pohon menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar metafora ekologis, tetapi representasi dari sesuatu yang lebih besar, bahwa peradaban yang berakar kuat tidak mudah ditaklukkan, bahkan ketika secara militer ia ditekan.

Kadang, perlawanan justru tumbuh dari sesuatu yang paling sunyi, sebuah bibit yang ditanam, akar yang menembus tanah, dan keyakinan bahwa kehidupan akan terus berlanjut.

Dari Jawa hingga Iran, pohon mengajarkan hal yang sama, bahwa perlawanan bukan hanya tentang bertahan dari hari ini, tetapi tentang memastikan bahwa masa depan tetap memiliki tempat untuk tumbuh.

Mungkin, di situlah makna terdalam dari simbol ini, bahwa setiap pohon yang ditanam adalah bentuk perlawanan paling tenang, tetapi juga paling panjang umur.

Continue Reading

News

Paradoks Hubungan Sains dan Agama

Mereka yang sangat percaya pada sains lebih mungkin menganggap keduanya bertentangan

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Psychology of Religion and Spirituality mengungkapkan bagaimana sistem keyakinan pribadi seseorang membentuk pandangan mereka tentang hubungan antara sains dan agama. Penelitian ini menemukan pola yang berbeda: individu dengan keyakinan agama yang kuat cenderung melihat sains dan agama sebagai dua entitas yang saling melengkapi, sementara mereka yang sangat percaya pada sains lebih mungkin menganggap keduanya bertentangan.

Temuan ini memberikan perspektif baru mengenai bagaimana kerangka pemahaman yang berbeda memengaruhi persepsi seseorang tentang hubungan yang kompleks antara sains dan agama. Hasil studi ini menambah dimensi pada perdebatan global yang telah berlangsung selama berabad-abad mengenai kompatibilitas kedua domain tersebut.

Perdebatan mengenai hubungan antara sains dan agama memang telah berlangsung lama. Ada kelompok yang berpendapat bahwa keduanya adalah jalur yang saling melengkapi untuk memahami dunia dan realitas, sementara kelompok lain beranggapan bahwa keduanya pada dasarnya tidak selaras dan saling bertentangan.

Studi-studi sebelumnya seringkali fokus pada situasi di mana sains dan agama dibandingkan atau dipertentankan secara langsung. Akibatnya, masih ada pertanyaan yang belum terjawab tentang bagaimana keyakinan pada salah satu bidang, baik sains atau agama, memengaruhi persepsi tentang kompatibilitas keduanya, terlepas dari perbandingan langsung tersebut.

Untuk mengatasi kesenjangan penelitian ini, para peneliti dalam studi terbaru ini bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana keyakinan pada sains dan keyakinan agama, sebagai sistem makna yang terpisah, dapat memprediksi apakah seseorang akan melihat sains dan agama sebagai kompatibel atau bertentangan.

Dengan melibatkan 684 partisipan dari berbagai latar belakang budaya dan agama di Inggris, Belanda, dan Kazakhstan, para peneliti berusaha untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana keyakinan-keyakinan ini berinteraksi dalam konteks yang beragam.

Continue Reading

News

Kisah Nabi Isa AS dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menggambarkan Nabi Isa AS sebagai seorang utusan Allah yang mulia, lahir dari Bunda Maryam tanpa ayah melalui mukjizat

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Pemahaman akidah mengenai sosok Nabi Isa AS menjadi perhatian khusus dalam diskursus keagamaan, terutama menjelang dan selama bulan Desember. Dalam Islam, kisah Nabi Isa AS diuraikan secara komprehensif dalam Al-Qur’an, menyajikan perspektif yang berbeda dari narasi yang dikenal secara luas di luar ajaran Islam.

Pentingnya meluruskan pemahaman akidah ini ditekankan oleh para ulama tafsir guna memastikan umat Muslim memahami esensi ajaran Islam yang benar tentang salah satu nabi utama. Klarifikasi ini bertujuan untuk menghindari kesalahpahaman dan memperkuat keyakinan berdasarkan sumber-sumber otentik Al-Qur’an dan Sunnah.

Al-Qur’an menggambarkan Nabi Isa AS sebagai seorang utusan Allah yang mulia, lahir dari Bunda Maryam tanpa ayah melalui mukjizat. Beliau diutus untuk Bani Israil dengan membawa pesan tauhid, menyerukan penyembahan hanya kepada Allah SWT, serta diberi berbagai mukjizat seperti menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati (dengan izin Allah), dan berbicara saat masih bayi di buaian.

Para ulama tafsir secara konsisten menjelaskan bahwa Nabi Isa AS adalah manusia pilihan Allah, bukan Tuhan atau anak Tuhan. Kelahirannya yang ajaib adalah bukti kekuasaan Allah, bukan indikasi ketuhanan. Tafsir-tafsir ini menegaskan status Nabi Isa sebagai hamba dan Rasul Allah yang patut dihormati, tetapi tidak disembah.

Selain itu, narasi Al-Qur’an juga membantah klaim penyaliban dan kematian Nabi Isa di kayu salib. Menurut keyakinan Islam, Allah SWT mengangkat Nabi Isa AS ke langit, dan orang lain yang serupa dengannya disalibkan. Beliau akan kembali ke bumi sebelum hari kiamat untuk menegakkan keadilan dan syariat Islam.

Dengan demikian, pemahaman akidah yang lurus mengenai Nabi Isa AS, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan tafsir ulama, menjadi fundamental bagi umat Muslim. Hal ini tidak hanya memperkaya wawasan keagamaan tetapi juga mengukuhkan keyakinan pada keesaan Allah dan kenabian Muhammad SAW sebagai penutup para nabi.

Continue Reading

News

Makna Mawaddah dan Rahmah Melampaui Hubungan Biologis dalam Islam

Hubungan suami istri dalam Islam bukan sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi ibadah yang sarat cinta, empati, dan ketenangan batin

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Konsep hubungan suami istri dalam Islam tidak hanya dipahami sebagai aktivitas biologis, melainkan sebagai ibadah yang sarat nilai spiritual. Dalam konteks ini, istilah mawaddah dan rahmah menjadi fondasi utama yang membentuk kualitas hubungan intim pasangan. Menurut berbagai sumber kajian keislaman yang dikutip, kedua konsep ini bukan hanya teori, tetapi harus terwujud nyata dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari, termasuk di ranjang.

Secara konseptual, mawaddah merujuk pada cinta yang penuh gairah, ketulusan, dan keinginan untuk membahagiakan pasangan. Apa maknanya dalam praktik? Mawaddah tercermin dalam upaya suami istri untuk saling memberi kepuasan secara halal (what), dengan cara yang penuh kehangatan dan komunikasi emosional (how). Kapan hal ini dilakukan? Dalam setiap momen kebersamaan yang dilandasi niat ibadah (when). Siapa yang terlibat? Tentu kedua pasangan yang sah (who). Di mana? Dalam ruang privat pernikahan (where). Mengapa penting? Karena hal ini menjadi sarana menjaga keharmonisan dan menjauhkan diri dari penyimpangan (why), sebagaimana dijelaskan menurut media yang dikutip sebagai sumber.

Lebih jauh, mawaddah juga mengandung unsur keaktifan dan kreativitas dalam membangun kedekatan. Suami dan istri tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga pemberi kebahagiaan. Bahasa cinta, sentuhan lembut, serta perhatian kecil menjadi bagian dari “pupuk” yang menjaga keintiman tetap hidup. Dengan demikian, hubungan intim tidak menjadi rutinitas kosong, melainkan ekspresi cinta yang terus diperbarui.

Di sisi lain, rahmah hadir sebagai penyeimbang dari mawaddah. Rahmah adalah kasih sayang yang berakar pada empati dan kelembutan hati. Dalam praktiknya, rahmah berarti memahami kondisi pasangan, seperti saat lelah atau sakit, serta tidak memaksakan kehendak. Menurut media yang dikutip sebagai sumber, konsep ini sejalan dengan filosofi Al-Qur’an yang menyebut suami istri sebagai “pakaian” satu sama lain—saling melindungi, menjaga kehormatan, dan menutupi kekurangan.

Rahmah juga menuntut penerimaan fisik dan emosional pasangan apa adanya. Dalam konteks ini, hubungan intim menjadi ruang aman yang bebas dari perbandingan, tekanan, atau ekspektasi yang tidak realistis. Hal ini penting untuk membangun rasa percaya diri dan keamanan emosional dalam pernikahan, sehingga hubungan menjadi lebih sehat dan berkelanjutan.

Ketika mawaddah dan rahmah berjalan beriringan, maka lahirlah sakinah, yaitu ketenangan dalam rumah tangga. Bagaimana dampaknya? Hubungan intim tidak hanya menjadi sarana pemenuhan kebutuhan, tetapi juga alat meredam konflik, mempererat ikatan batin, dan menjaga kesetiaan. Menurut media yang dikutip sebagai sumber, pasangan yang mampu mengelola dua aspek ini akan lebih tahan terhadap godaan eksternal serta memiliki hubungan yang lebih harmonis dan bermakna.

Dengan demikian, Islam memandang hubungan suami istri sebagai ibadah yang utuh—menggabungkan cinta, gairah, empati, dan tanggung jawab. Mawaddah menghidupkan api cinta, rahmah menenangkan jiwa, dan keduanya bersama-sama mengantarkan pasangan menuju sakinah dalam kehidupan rumah tangga.

Continue Reading

Ruang Sujud

Menjemput Berkah di Ranjang

Jauh dari kesan tabu, Islam memandang aktivitas seksual yang dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah sebagai sedekah dan sumber pahala bagi pelakunya.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Dalam pandangan Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan hukum atau sosial, melainkan sebuah ibadah yang sangat mulia. Salah satu dimensi penting dalam pernikahan adalah hubungan intim antara suami dan istri. Jauh dari kesan tabu, Islam memandang aktivitas seksual yang dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah sebagai sedekah dan sumber pahala bagi pelakunya.

Banyak orang mungkin bertanya, bagaimana mungkin aktivitas biologis bisa bernilai pahala? Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa dalam hubungan intim yang dilakukan suami istri terdapat nilai sedekah. Hal ini karena pasangan tersebut telah memilih cara yang halal untuk menyalurkan hasratnya dan menjauhi perbuatan zina yang diharamkan Allah SWT.

Tujuan utama dari hubungan ini bukan sekadar pemuasan nafsu, melainkan untuk membangun kasih sayang (mawaddah), menjaga kesehatan mental dan fisik, serta upaya untuk melahirkan generasi muslim yang saleh dan saleha.

Islam adalah agama yang sangat detail dalam mengatur etika, termasuk urusan ranjang. Ada beberapa adab yang disunnahkan untuk dilakukan:

  1. Membersihkan Diri dan Berhias: Sebelum memulai, hendaknya suami maupun istri menjaga kebersihan badan dan menggunakan wewangian. Tujuannya adalah untuk memberikan rasa nyaman dan meningkatkan daya tarik di mata pasangan.
  2. Menciptakan Suasana yang Nyaman: Pastikan ruangan dalam keadaan tertutup dan privasi terjaga sepenuhnya dari pandangan orang lain, termasuk anak-anak.
  3. Membaca Doa: Ini adalah poin krusial agar aktivitas tersebut diberkahi. Doa yang dianjurkan adalah:
    “Bismillah, Allahumma jannibnas-syaythana wa jannibis-syaythana ma razaqtana”
    (Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami).

Islam sangat memperhatikan kepuasan kedua belah pihak. Seorang suami dilarang langsung melakukan penetrasi tanpa adanya “pendahuluan.” Rasulullah SAW menganjurkan adanya pesan cinta, ciuman, dan rayuan sebelum berhubungan. Hal ini penting agar istri tidak merasa hanya dijadikan objek pemuas, melainkan sebagai partner yang setara dalam mendapatkan kebahagiaan batin. Komunikasi yang baik selama berhubungan sangat disarankan untuk menciptakan keharmonisan.

Meskipun Islam memberikan kebebasan dalam mengeksplorasi posisi atau gaya bercinta, ada batasan-batasan syariat (garis merah) yang tidak boleh dilanggar:

  • Dilarang Melalui Dubur (Anus): Islam dengan tegas mengharamkan hubungan seksual melalui jalur belakang. Perbuatan ini dianggap sebagai dosa besar dan melanggar fitrah manusia.
  • Larangan Saat Haid dan Nifas: Suami dilarang melakukan hubungan seksual (penetrasi) saat istri sedang dalam masa menstruasi atau nifas. Namun, aktivitas bermesraan lainnya selain penetrasi tetap diperbolehkan.
  • Menjaga Rahasia Ranjang: Salah satu pelanggaran berat dalam etika Islam adalah menceritakan detail hubungan intim kepada orang lain. Rahasia di atas tempat tidur bersifat sakral dan hanya menjadi milik suami-istri.

Setelah menyelesaikan hubungan, pasangan diwajibkan untuk melakukan mandi janabah atau mandi wajib sebelum mereka diizinkan melaksanakan ibadah ritual seperti salat atau membaca Al-Qur’an. Jika ingin mengulangi hubungan atau ingin tidur terlebih dahulu sebelum mandi, disunnahkan untuk setidaknya mencuci kemaluan dan berwudu.

Secara psikologis, hubungan intim yang sehat dan dilakukan sesuai tuntunan agama akan memperkuat ikatan emosional antara suami dan istri. Hal ini menjadi benteng pertahanan keluarga dari godaan pihak luar. Ketika kebutuhan batin terpenuhi dengan cara yang makruf (baik), maka suasana rumah tangga akan menjadi lebih tenang, damai, dan penuh kasih sayang (sakinah).

Hubungan suami istri dalam Islam adalah perpaduan antara pemenuhan fitrah manusia dan ketaatan kepada Sang Pencipta. Dengan mengikuti adab dan aturan yang telah ditetapkan, aktivitas ini tidak hanya memuaskan raga, tetapi juga menenteramkan jiwa dan mendatangkan keberkahan bagi kehidupan rumah tangga.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



LakeyBanget2 hours ago

Iko Uwais Angkat Pencak Silat ke Layar Lebar Lewat Film “Ikatan Darah”

LakeyBanget3 hours ago

Jisoo BLACKPINK Batalkan Agenda ke Paris, Lha Kok Kenapa?

LakeyBanget3 hours ago

Erick Thohir Temui Prabowo di Hambalang, Bahas Apa Saja?

News4 hours ago

Dukung Transformasi Pendidikan, Wamen Fajar Soroti Peran Sekolah dan Guru

News12 hours ago

Mufti Mesir Larang AI untuk Tafsir Al-Qur’an

LakeyBanget16 hours ago

Dirumorkan Bakal Kembali ke Real Madrid, Toni Kroos Buka Suara

News16 hours ago

Trump Perpanjang Gencatan Senjata AS-Iran, Ini Alasannya?

News16 hours ago

Kolaborasi Nyata untuk Wujudkan Pendidikan Inklusif Bermutu dan Berkeadilan untuk Semua

News17 hours ago

Bahlil: Kalau Minyak Begini Terus, Pertamax Pasti Ada Penyesuaian

News20 hours ago

Revolusi Kimia Kuantum Simulacra AI Pangkas Biaya hingga 1.000 Kali

News20 hours ago

Diskusi Seksualitas Muslim di Kampus Kian Mendesak

News20 hours ago

Pansel DPR Terjerembab dalam Kasus Ketua Ombudsman

News20 hours ago

Peran Gibran Memandang Dunia dalam Desert X AlUla 2026

News20 hours ago

Kini Setiap Murid TK Dapat Bantuan PIP

News20 hours ago

Prabowo Bahas Pertahanan Nasional di Tengah Geopolitik Bersama Dudung

News21 hours ago

Kapolri Perintahkan Brimob Siaga Hadapi Dampak Gejolak Geopolitik

News24 hours ago

Mayjen Kristomei Paparkan Model MALR Perkuat Ketahanan Organisasi Militer di Tengah Ancaman Siber

News1 day ago

Pemerintah Bakal Terapkan B50 Mulai Juli 2026 untuk Semua Sektor

LakeyBanget1 day ago

LMKN Terapkan Skema Baru Royalti Musik 2026

News1 day ago

Gantikan Diesel, Prabowo Instruksikan Percepatan Mega Proyek PLTS 100 GW

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.