Monitorday.com – Sutradara Upie Guava mengaku bangga film terbarunya, Pelangi di Mars, dijadwalkan tayang berdekatan dengan momentum Lebaran 2026. Dalam kalender perfilman nasional, periode Lebaran dikenal sebagai waktu tayang paling strategis (prime time) dengan potensi jumlah penonton yang besar.
Upie yang selama ini dikenal sebagai sutradara video klip untuk sejumlah band besar seperti Seventeen, NOAH, dan Ungu mengaku tak pernah menyangka film layar lebarnya akan mendapatkan slot istimewa tersebut.
“Jadi yang pasti ini Lebaran ter-flexing gue seumur hidup. Kami tuh enggak menyangka bakal naik tayang Lebaran. Kayaknya sudah enggak mungkin lah, karena tidak ada alasan logis yang memvalidasi bahwa kami akan dapat,” ujar Upie di kawasan Menteng, Jakarta, Jumat.
Ia bahkan meminta seluruh kru untuk ikut bangga atas pencapaian tersebut ketika berkumpul bersama keluarga saat Idul Fitri nanti. Upie juga mendorong timnya untuk optimistis, berkaca pada capaian film animasi sebelumnya yang mampu menembus 10 juta penonton saat tayang perdana di musim Lebaran.
“Pelangi di Mars” menghadirkan kombinasi animasi dan aksi langsung (live action), format yang selama ini identik dengan studio besar seperti Walt Disney Pictures atau Pixar Animation Studios.
Namun, Upie menegaskan bahwa seluruh proses produksi film ini dikerjakan oleh talenta Indonesia.
“Gue yang paling senang itu adalah animasinya dikerjakan oleh teman-teman kita, orang-orang Indonesia. Jadi dari IP ini, kita sudah kerjakan dengan orang-orang Indonesia, dari berbagai macam latar belakang,” katanya.
Ia menyebut kolaborasi antara insan film animasi dan pekerja film konvensional menjadi energi baru yang menghasilkan karya berbeda. Upie pun mengajak pelaku industri kreatif untuk tidak merasa inferior dan tidak selalu berkiblat pada Korea atau Amerika Serikat.
Tak hanya berhenti sebagai film, “Pelangi di Mars” juga disiapkan sebagai kekayaan intelektual (intellectual property/IP) jangka panjang. Karakter dalam film diharapkan dapat berkembang ke berbagai lini produk seperti komik, busana, tas, hingga boneka dan action figure, apabila mendapat respons positif dari penonton.
Upie mengibaratkan proyek ini seperti menanam pohon untuk masa depan. Film tersebut juga membawa pesan lingkungan, termasuk ajakan mencegah krisis air.
“Pohon itu kita tanam hari ini, sejauh-jauhnya nanti anak-cucu kita bisa makan buahnya,” ujarnya.
Produser Dendi Reynando menambahkan bahwa proyek ini berpotensi berkembang menjadi dua hingga lima IP turunan.
“Jadi harapannya ini lebih dari sekadar film. Setelah ditonton masyarakat luas, kami berharap karakter yang ada di film ini bisa hidup dalam berbagai bentuk produk, baik itu baju, tas, maupun boneka. Seperti IP-IP yang kita kenal selama ini,” kata Dendi.
Dengan jadwal tayang pada momentum Lebaran 2026, “Pelangi di Mars” diharapkan tidak hanya menjadi tontonan keluarga, tetapi juga tonggak baru kebangkitan animasi Indonesia di pasar domestik.