Connect with us

Review

Kemendikdasmen Perkuat Kompetensi Guru PAUD dalam Digitalisasi Pembelajaran

Program digitalisasi pembelajaran PAUD bertumpu pada tiga pilar, yakni penyediaan Papan Interaktif Digital (PID), pengembangan bahan ajar digital interaktif, dan peningkatan kapasitas pendidik melalui bimbingan teknis.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com-Kemendikdasmen memperkuat kapasitas pendidik anak usia dini melalui Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran PAUD Angkatan I yang berlangsung pada 7–9 Oktober 2026 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini melibatkan perwakilan 181 satuan PAUD dari 39 kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Bali.

Menurut siaran pers Kemendikdasmen pada 9 Oktober 2026, program digitalisasi pembelajaran PAUD bertumpu pada tiga pilar, yakni penyediaan Papan Interaktif Digital (PID), pengembangan bahan ajar digital interaktif, dan peningkatan kapasitas pendidik melalui bimbingan teknis.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menekankan pentingnya pendidikan anak usia dini sebagai fondasi pembentukan karakter, kebiasaan, dan kemampuan belajar. Teknologi perlu digunakan untuk mendukung proses tersebut, bukan menggantikan interaksi antara guru dan anak.

Direktur PAUD Kemendikdasmen Kurniawan menjelaskan bahwa pelatihan dirancang agar pendidik mampu memadukan teknologi, pedagogi, dan tujuan pembelajaran. Dengan demikian, penggunaan perangkat digital tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan layar, tetapi berkembang menjadi praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

Untuk 2026, Direktorat PAUD menargetkan penyaluran lanjutan PID kepada 75.974 satuan PAUD yang telah melalui proses verifikasi dan validasi. Para peserta pelatihan juga diharapkan menjadi penggerak yang mendampingi rekan sejawat di daerah masing-masing.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Review

Persaingan Model Terbuka, Agen AI, dan Keamanan Siber Menguat

Persaingan teknologi tidak lagi hanya berpusat pada kemampuan chatbot menjawab pertanyaan, tetapi juga pada kemampuan AI menjalankan pekerjaan, mengoperasikan perangkat lunak, dan membantu penelitian ilmiah. Di saat yang sama, isu keamanan, kendali manusia, dan besarnya investasi menjadi perhatian industri global.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com-Sejumlah perkembangan yang menonjol pekan ini meliputi peluncuran model AI terbuka Beam oleh Reflection AI, penguatan persaingan model AI perusahaan teknologi besar, pemanfaatan AI untuk riset biologi, serta meningkatnya perhatian terhadap risiko agen AI yang dapat bertindak secara mandiri.

Salah satu perkembangan penting datang dari Reflection AI yang meluncurkan Beam, model AI dengan bobot terbuka (open-weight). Model ini dirancang untuk membantu tugas pemrograman dan pekerjaan berbasis agen AI, sekaligus memperkuat persaingan Amerika Serikat dengan perusahaan AI Tiongkok.

Menurut Financial Times pada 5 Oktober 2026, Reflection AI mengklaim Beam memiliki kinerja kompetitif dibandingkan GLM-5.2 dari perusahaan Tiongkok Z.ai, khususnya untuk pemrograman dan tugas agen otonom. Namun, rincian teknis dan pengujian independen masih diperlukan untuk menilai klaim keunggulan tersebut secara menyeluruh.

Model open-weight memungkinkan pengembang mengunduh bobot model dan menyesuaikan atau menjalankannya pada infrastruktur sendiri sesuai ketentuan lisensinya. Pendekatan ini menarik bagi perusahaan yang ingin mengendalikan data, biaya komputasi, dan integrasi sistem tanpa sepenuhnya bergantung pada layanan AI tertutup.

Pada 11 Oktober, Financial Times juga melaporkan bahwa Nvidia sedang menjajaki kemungkinan mengakuisisi Reflection AI atau memperdalam investasinya. Pembicaraan itu masih berada pada tahap awal dan belum berarti transaksi telah disepakati. Jika terealisasi, langkah tersebut dapat memperkuat posisi Nvidia dalam ekosistem model AI terbuka.

Tren berikutnya adalah perkembangan agen AI yang bukan hanya menghasilkan teks, tetapi juga dapat menjalankan rangkaian tugas melalui aplikasi dan perangkat lunak. Sistem seperti ini berpotensi membantu pemrograman, analisis data, administrasi, penelitian, dan layanan pelanggan.

Reuters pada 7 Oktober 2026 menyoroti munculnya kembali minat terhadap agen AI personal yang dapat membaca pesan dan menjalankan tugas atas nama pengguna. OpenAI, Meta, dan sejumlah perusahaan rintisan mengembangkan pendekatan yang memungkinkan agen bekerja lintas aplikasi. Namun, akses ke data pribadi dan pembatasan dari platform lain menjadi persoalan penting.

Bagi dunia usaha, agen AI menawarkan peluang meningkatkan produktivitas dengan mengurangi pekerjaan berulang. Akan tetapi, semakin besar kewenangan yang diberikan kepada agen, semakin besar pula kebutuhan untuk membatasi akses, mencatat aktivitas, meminta persetujuan manusia untuk tindakan penting, dan mencegah kebocoran data.

Perubahan ini juga membawa implikasi bagi pendidikan. Peserta didik dan guru perlu belajar bukan hanya menggunakan chatbot, melainkan juga memeriksa hasil kerja AI, menyusun instruksi, memahami sumber data, dan mempertanggungjawabkan keputusan yang dibuat dengan bantuan teknologi.

AI juga semakin banyak dikembangkan untuk membantu memahami proses biologis dan mempercepat penelitian medis. Reuters pada 7 Oktober melaporkan upaya Biohub membangun kumpulan data biologi berskala besar untuk mendukung model yang dapat memprediksi perilaku sel.

Inisiatif tersebut melibatkan dukungan dari sejumlah pihak, termasuk pemerintah Amerika Serikat, Google, dan Meta, dengan investasi yang dilaporkan mencapai US$1,8 miliar. Tujuannya adalah mempercepat penelitian yang biasanya memerlukan waktu bertahun-tahun, termasuk dalam pengembangan obat dan pemahaman penyakit.

Meski demikian, kemampuan AI menemukan pola dalam data tidak otomatis berarti teknologi tersebut dapat menyembuhkan kanker atau penyakit lainnya. Hasil prediksi tetap perlu diuji melalui eksperimen laboratorium, penelitian praklinis, dan uji klinis yang memenuhi standar ilmiah.

Tantangan mendasarnya adalah ketersediaan data biologis berkualitas tinggi. Berbeda dengan bahasa yang memiliki sangat banyak data digital, data tentang interaksi sel dan proses biologis jauh lebih kompleks serta mahal untuk dikumpulkan. Karena itu, kemajuan AI di bidang kesehatan akan bergantung pada kolaborasi antara ilmu komputer, biologi, kedokteran, dan etika penelitian.

Kemajuan kemampuan AI juga meningkatkan kekhawatiran tentang keamanan. Associated Press pada 11 Oktober menerbitkan rangkuman perkembangan keamanan AI setelah sejumlah insiden yang melibatkan perilaku sistem AI saat diuji dalam lingkungan digital, termasuk akses tidak sah dan tindakan yang melampaui batas yang diharapkan.

Laporan tersebut menyoroti pentingnya pengujian sistem sebelum penerapan, pembatasan hak akses, dan pengawasan terhadap agen AI yang dapat menggunakan internet atau berinteraksi dengan sistem eksternal. Insiden dalam lingkungan pengujian tidak selalu berarti AI dapat melakukan tindakan yang sama secara bebas di dunia nyata, tetapi tetap menjadi peringatan bagi pengembang dan pengguna.

Pada 9 Oktober, OpenAI juga mengumumkan pemecatan tiga penelitinya setelah penyelidikan internal terkait pelanggaran kebijakan informasi sensitif. Para peneliti tersebut menyampaikan keberatan atas keputusan itu, sementara perusahaan membantah bahwa pemecatan berkaitan dengan penyampaian kekhawatiran keselamatan. Perselisihan tersebut menambah perhatian terhadap tata kelola internal dan budaya keselamatan dalam industri AI.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa keamanan AI tidak cukup ditangani melalui penyempurnaan model. Organisasi juga memerlukan tata kelola data, prosedur audit, pengujian independen, serta mekanisme intervensi manusia ketika sistem melakukan tindakan berisiko.

Bagi Indonesia, perkembangan AI pekan ini memberikan tiga pelajaran penting. Pertama, penggunaan model terbuka dapat menjadi pilihan untuk mengembangkan aplikasi lokal dengan kontrol yang lebih besar atas data dan infrastruktur. Kedua, agen AI membuka peluang otomatisasi di sektor pendidikan, pemerintahan, keuangan, dan industri. Ketiga, penerapan AI harus disertai peningkatan kompetensi manusia serta perlindungan data.

Dalam pendidikan, prioritas tidak seharusnya hanya mengejar penggunaan aplikasi AI terbaru. Sekolah dan perguruan tinggi perlu memperkuat literasi AI, berpikir kritis, kemampuan verifikasi informasi, pemecahan masalah, serta etika penggunaan teknologi. Guru dan peserta didik harus memahami kapan AI membantu proses belajar dan kapan hasilnya perlu ditolak atau diperbaiki.

Di sektor industri, perusahaan perlu memulai dari persoalan bisnis yang jelas, kemudian memilih model AI berdasarkan kualitas hasil, biaya, keamanan, dan kemampuan integrasi. Mengadopsi teknologi yang paling canggih belum tentu memberikan manfaat terbesar apabila tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Kesimpulan: Pekan ini memperlihatkan bahwa perkembangan AI semakin ditentukan oleh tiga faktor: kemampuan model, kapasitas menjalankan tugas secara mandiri, dan kepercayaan terhadap sistem. Persaingan teknologi akan terus berlangsung, tetapi manfaat ekonomi dan sosialnya bergantung pada kemampuan manusia mengarahkan AI secara aman, produktif, dan bertanggung jawab.

Continue Reading

Review

Ramai di MK, Akhirnya Ijazah Wapres RI Dipajang di Kampus Ternama Dunia

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Kabar tentang salinan ijazah seorang Wakil Presiden Republik Indonesia yang dipajang di kampus ternama di Belanda mengundang rasa penasaran. Siapa pemiliknya? Mengapa kampus tersebut mengenang perjalanan pendidikannya? Sosok itu adalah Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Republik Indonesia.

Sejumlah pemberitaan menyebut salinan ijazah Hatta beserta ringkasan biografinya terpajang di Hatta Building, Kampus Woudestein, Erasmus University Rotterdam (EUR). Kisah ini mengingatkan kita pada perjalanan seorang mahasiswa Indonesia yang kelak menjadi salah satu tokoh utama kemerdekaan bangsanya.

Saya memiliki pengalaman menarik yang berkaitan dengan kampus tersebut. Dalam perjalanan pulang dari Denpasar, Bali, melalui Bandara Soekarno-Hatta, saya berjumpa dengan seorang wisatawan asal Belanda. Percakapan kami berawal dari hal-hal sederhana, kemudian berlanjut ke sejarah dan pendidikan.

Ketika membahas Erasmus University Rotterdam, ia berbicara dengan penuh penghargaan. Menurutnya, kampus tersebut memiliki reputasi akademik yang kuat. Mendengar penuturannya, saya terdiam sejenak. Saya membayangkan Bung Hatta muda, jauh dari tanah kelahirannya, menjalani pendidikan sambil memikirkan nasib bangsanya.

Percakapan singkat itu membuat kisah Hatta terasa lebih dekat. Nama yang selama ini saya kenal melalui buku sejarah ternyata juga mendapat penghormatan di lingkungan kampus tempat ia dahulu belajar.

Menurut keterangan resmi Erasmus School of Economics, Hatta menempuh pendidikan pada 1921 hingga 1932 di institusi pendahulunya. Selama berada di Belanda, ia juga menghadapi pemenjaraan karena sikap kritisnya terhadap tindakan pemerintah Belanda di Indonesia. Setelah kembali ke tanah air, ia menjadi salah satu tokoh penting perjuangan kemerdekaan.

Perjalanan tersebut memberi makna tersendiri pada penghormatan yang diterimanya. Hatta pernah menentang pemerintahan kolonial Belanda. Bertahun-tahun kemudian, sebuah universitas di negara itu mengabadikan namanya.

Hatta Building, yang dibuka pada 2013, menjadi bentuk penghormatan kepada Hatta sebagai alumnus, pejuang kemerdekaan, dan wakil presiden pertama Indonesia. Pada 2014, perwakilan universitas menyerahkan foto gedung tersebut kepada keluarga Hatta di Jakarta. Kwik Kian Gie, yang juga merupakan alumnus, turut hadir dalam pertemuan itu.

Gedung tersebut berada di Kampus Woudestein dan berfungsi sebagai tempat tinggal mahasiswa. Dengan demikian, nama Hatta hadir dalam keseharian generasi yang sedang menempuh pendidikan di Rotterdam.

Bagi saya, kisah ini menunjukkan hubungan yang kuat antara pendidikan, keberanian berpikir, dan pengabdian. Hatta membawa pengetahuan yang diperolehnya ke dalam perjuangan bangsanya. Kampusnya kemudian mengenang perjalanan dan kontribusi tersebut melalui penghormatan yang nyata.

Salinan ijazah mencatat pendidikan yang pernah ditempuhnya. Hatta Building mengabadikan nama dan perjalanan hidupnya. Keduanya mengajak kita mengenal Bung Hatta lebih jauh: seorang pelajar yang tekun, pemikir yang kritis, dan pemimpin yang mengabdikan ilmunya untuk Indonesia.

Continue Reading

News

Menempa Karakter Besi Emil Audero Mulyadi: Kisah Bocah Lombok yang Menghapus Dahaga 35 Tahun Ibu Pertiwi

Ma'ruf Mutaqin

Published

on

CERITA KECIL Emil Audero Mulyadi bukanlah selembar kanvas sutra yang halus, namun sebongkah batu karang yang terus dihantam ombak. Sebuah riwayat tentang otot yang ditempa, peluh yang mengkristal, dan keteguhan batin yang menolak tunduk pada keadaan.

Sebelum lampu-lampu stadion megah Eropa menyorot siluet tubuhnya yang kokoh di bawah misatar gawang, takdir menguji bocah berdarah campuran Indonesia – Italia ini dalam sebuah awal yang sunyi. Di bawah langitPraya, Lombok Tengah, jejak-jejak pertamanya tidak diukir di atas rumput sintetis empuk, tapi di atas tanah kering berdebu.

Emil terlahir dari rahim perpaduan budaya, ayahnya asli Lombok [Edy Mulyadi]. Sementara sang ibu [Antonella Audero] adalah seorang warga Italia. Sembilan bulan pertama hidupnya ia habiskan di Pulau Lombok, sebelum Antonella membawanya bermigrasi ke Cumiana, kota kecil di Piedmont, Italia [1998].

Namun, Lomboj tidak pernah bernar-benar lepas dari nadinya. Setiap kali liburan tiba, ia kembali ke tanah kelahirannya. Di sanalah, sebuah laboratorium mental yang mentah mulai terbentuk.

Saat anak-anak sebayanya di Eropa menikmati fasilitas akdemi yang mapan, Emil kecil berlari mengejar bola plastik di lapangan nan gersang. Tiang gawangnya hanyalah dua batang bambu yang ditancapkan seadanya ke dalam tanah.

Di bawah bimbingan Syukur, seorang mantan kiper lokal legendaris NTB yang melatihnya dengan disiplin spartan, mentalitas anti-rapuh Emil mulai ditempa.

Migrasi permanennya ke Italia mengubah ruang bermain masa kecil menjadi medan pertempuran harga diri yang sesungguhnya. 

Ketika ia memutuskan untuk menekuni sepak bola secara profesional dan masuk ke akademi muda Juventus pada usia sebelas tahun, dunia tidak langsung ramah kepadanya. Di dalam ruang ganti yang dipenuhi talenta-talenta lokal Eropa, ia adalah anomali—seorang anak imigran dengan nama belakang yang asing di telinga mereka.

Kesepian menjadi teman setianya dalam perjalanan kereta malam yang panjang menuju tempat latihan. Fisik dan mentalnya diperas hingga batas nadir. Hujan salju yang membekukan Cumiana, benturan-benturan keras di atas lapangan yang mengeraskan ototnya, hingga cemoohan halus yang meragukan kemampuannya sempat menjadi badai yang bergemuruh di kepala. 

Ada malam-malam panjang di mana ia mempertanyakan pilihannya, menatap langit-langit kamar dengan kecemasan yang mengeklicik tentang masa depan yang serba tidak pasti. Namun, anak Lombok ini menolak untuk hancur. Ia memilih membangun kulit tebal terhadap segala keraguan. 

Titik balik dalam hidupnya hadir ketika bakat mentahnya bertransformasi menjadi karakter besi yang diakui oleh para pemandu bakat kelas dunia. Penjaga gawang legendaris seperti Gianluigi Buffon melihat sesuatu yang berbeda dalam sorot mata Emil—sebuah ketenangan yang menakutkan bagi seorang penyerang lawan. Kehadiran keluarga, terutama sang ayah yang menjadi jangkar emosional, terus mengingatkannya pada tanah kering di Praya. Kekuatan memori masa kecil itulah yang membuatnya tetap membumi saat ia berhasil menembus skuad utama Juventus, lalu berkelana membela Sampdoria, Inter Milan, hingga kini mengawal kesucian gawang Rayo Vallecano. 

Berdiri tegak di bawah mistar gawang kompetisi elite Eropa, ia bukan lagi bocah yang mengejar bola plastik, melainkan seorang predator ruang udara kotak penalti yang ditakuti. Kini, di puncak kariernya sebagai penjaga gawang papan atas yang juga menjadi pilar krusial di level internasional, Emil tidak pernah melupakan akar yang menumbuhkannya.

Ketangguhannya teruji dalam laga final Asean Cup 2026 melawan Thailand di bawah gemuruh atmosfer Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dalam partai final bertensi tinggi tersebut, Emil dan para punggawa Timnas dipaksa bermain 2-2 hingga babak perpanjangan waktu usai.

Saat laga harus ditentukan lewat drama adu penalti yang kejam, tekanan puluhan ribu pasang mata runtuh di pundaknya. Namun, emosi masa kecil di Praya dan ketenangan kompetisi Eropa menyatu dalam dirinya. Dengan refleks sedingin es, Emil sukses menepis tendangan penentu dari Nattapong Sayriya, mengunci kemenangan adu penalti 4-2, dan mengantarkan Indonesia merengkuh trofi juara untuk pertama kalinya sekaligus menghapus dahaga gelar senior selama 35 tahun. Malam itu, ia bukan hanya mengamankan gawang, melainkan menobatkan diri sebagai pahlawan bersejarah yang abadi bagi ibu pertiwi.

Continue Reading

News

Nobel 2026: Ketika Cahaya Membuka Rahasia Otak

Optogenetika mengubah cahaya menjadi alat untuk membaca dan mengendalikan aktivitas sel saraf dengan presisi yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Nobel Prize in Physiology or Medicine 2026 diberikan kepada Karl Deisseroth, Peter Hegemann, dan Georg Nagel atas penemuan terkait kanal ion yang dikendalikan cahaya dan pengembangan optogenetika. Penghargaan tersebut diumumkan pada 5 Oktober 2026 oleh Nobel Assembly di Karolinska Institutet.

Yang membuat penemuan ini menarik bukan sekadar keberhasilan menemukan sebuah protein, tetapi perubahan besar dalam cara manusia mempelajari otak. Hegemann dan Nagel menemukan protein peka cahaya bernama channelrhodopsin pada alga bersel satu. Protein tersebut memungkinkan alga merespons cahaya melalui perubahan aliran ion di dalam sel.

Penemuan itu kemudian mendapatkan dimensi baru melalui penelitian Deisseroth. Ia memasukkan gen yang menghasilkan channelrhodopsin ke dalam sel saraf. Dengan penyinaran cahaya biru, aktivitas neuron dapat dipicu secara terkendali. Pada 2005, pendekatan tersebut berhasil ditunjukkan pada sel saraf, kemudian dikembangkan hingga dapat digunakan pada otak tikus hidup.

Di sinilah optogenetika menjadi sebuah revolusi ilmiah. Sebelumnya, ilmuwan dapat mengamati hubungan antara bagian tertentu dari otak dengan perilaku, tetapi sulit memastikan hubungan sebab-akibatnya. Optogenetika memberikan kemampuan untuk mengaktifkan atau menonaktifkan kelompok neuron tertentu menggunakan cahaya sehingga peneliti dapat menguji secara lebih langsung bagaimana sirkuit saraf menghasilkan ingatan, perasaan, dan perilaku.

Menurut Nobel Committee, teknologi ini telah memberikan cara baru untuk memetakan sirkuit otak yang berkaitan dengan berbagai kondisi neurologis dan psikiatris. Penelitian tersebut juga membuka kemungkinan terapi baru, termasuk upaya mengembalikan penglihatan pada sebagian pasien dengan gangguan penglihatan tertentu.

Yang lebih penting, Nobel ini memperlihatkan bagaimana sebuah penelitian dasar yang pada awalnya tampak jauh dari aplikasi medis dapat berubah menjadi teknologi transformatif. Pertanyaan Hegemann tentang bagaimana organisme bersel satu merespons cahaya akhirnya bertemu dengan rekayasa genetika dan ilmu saraf Deisseroth. Dari sana lahir sebuah metode yang kini digunakan secara luas dalam penelitian otak.

Ada pelajaran penting bagi dunia pendidikan dan riset Indonesia. Sains fundamental sering kali tidak langsung menghasilkan produk atau keuntungan ekonomi. Namun, justru dari rasa ingin tahu terhadap persoalan paling dasar dapat lahir teknologi yang mengubah sebuah disiplin ilmu. Nobel ini menunjukkan bahwa investasi pada biologi, fisika, genetika, teknologi, dan ilmu komputasi tidak seharusnya dipisahkan secara kaku.

Dalam konteks perkembangan kecerdasan buatan, penemuan optogenetika juga memiliki makna yang lebih luas. AI dapat membantu membaca dan menganalisis data otak dalam skala yang semakin besar, sementara optogenetika memberikan cara eksperimental untuk memahami hubungan antara aktivitas neuron dan perilaku. Pertemuan keduanya berpotensi mempercepat neurosains, tetapi sekaligus menuntut perhatian serius terhadap etika, privasi pikiran, dan batas intervensi terhadap otak manusia.

Nobel 2026 karena itu bukan hanya penghargaan terhadap tiga ilmuwan. Ia merupakan pengingat bahwa salah satu frontier terbesar ilmu pengetahuan masih berada di dalam diri manusia sendiri. Otak tetap menjadi salah satu misteri terbesar, dan kali ini manusia mendapatkan cara baru untuk menyalakan, mematikan, sekaligus memetakan percakapan listrik di dalamnya.

Continue Reading

News

Dari AI ke Super Intelligence, Ketika Teknologi Menjadi Bahasa Kekuasaan

Trump mengganti istilah AI menjadi Super Intelligence (SI) dalam pemerintahan AS, sebuah langkah yang lebih menyerupai perubahan nomenklatur politik daripada perubahan teknologi.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Presiden Donald Trump pada 29 September 2026 menandatangani Executive Order 14434 yang menginstruksikan lembaga eksekutif Amerika Serikat menggunakan istilah “Super Intelligence” atau SI menggantikan “Artificial Intelligence” atau AI dalam korespondensi, situs web, laporan, dokumen kebijakan, dan komunikasi resmi. Perubahan tersebut tidak otomatis mengubah regulasi, kontrak, atau dokumen lama.

Secara administratif, langkah tersebut memang nyata. Bahkan pemerintah AS memberikan waktu 60 hari kepada Assistant to the President for Science and Technology untuk mengusulkan definisi federal mengenai “Super Intelligence”. Menariknya, untuk sementara perintah tersebut masih mendefinisikan SI dengan merujuk pada cakupan teknologi yang sebelumnya disebut artificial intelligence dalam hukum federal.

Di sinilah persoalan istilah menjadi menarik. Dalam perkembangan ilmu AI, “superintelligence” telah lama digunakan untuk menggambarkan kecerdasan mesin yang melampaui manusia secara luas, bukan sekadar nama baru untuk teknologi AI yang sudah tersedia. Axios mencatat adanya perbedaan antara penggunaan istilah tersebut dalam literatur teknologi dan penggunaan yang sekarang didorong pemerintahan Trump.

Trump sendiri memberikan alasan yang sangat komunikatif. Menurut pernyataannya, kata “artificial” membuat teknologi tersebut terdengar seperti sesuatu yang palsu, sedangkan “super” dianggap lebih menggambarkan kekuatan dan potensinya. Dalam pidatonya, ia juga menggambarkan SI sebagai teknologi yang dapat memiliki dampak lebih besar daripada revolusi industri dan internet.

Dari perspektif komunikasi politik, perubahan bahasa seperti ini tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun persepsi. Istilah AI selama beberapa tahun terakhir membawa dua wajah sekaligus: peluang ekonomi yang sangat besar dan kekhawatiran mengenai pekerjaan, keamanan, disinformasi, serta keselamatan manusia. Dengan mengganti istilah menjadi SI, pemerintah AS menggeser titik tekan komunikasi dari sesuatu yang “buatan” menuju sesuatu yang “super” dan progresif.

Dimensi geopolitiknya juga kuat. Pemerintahan Trump secara terbuka menempatkan kepemimpinan Amerika dalam teknologi ini sebagai bagian dari persaingan strategis dengan China. Pembentukan Super Intelligence Force yang dipimpin Direktur National Intelligence Jay Clayton menunjukkan bahwa istilah tersebut tidak berhenti sebagai slogan komunikasi, tetapi mulai digunakan untuk membangun struktur kebijakan baru di pemerintahan.

Namun, perubahan nomenklatur tidak membuat kemampuan teknologi berubah secara otomatis. Model bahasa besar, sistem generatif, dan agen AI tetap memiliki keterbatasan, termasuk kesalahan informasi, persoalan keamanan, bias, dan ketergantungan pada data serta infrastruktur komputasi. Nama baru tidak dengan sendirinya menghasilkan lompatan kemampuan baru.

Justru karena itu, perubahan istilah ini menarik untuk dibaca sebagai fenomena hubungan antara teknologi dan kekuasaan. Ketika sebuah negara besar memberikan nama resmi baru terhadap teknologi strategis, bahasa bukan lagi sekadar alat untuk menjelaskan realitas. Bahasa ikut membentuk cara masyarakat, industri, birokrasi, dan negara lain memahami realitas tersebut.

Ada pula persoalan akademis yang tidak sederhana. “Superintelligence” dalam diskursus AI memiliki makna yang jauh lebih spesifik daripada sekadar teknologi AI generasi terbaru. Literatur tentang superintelligence umumnya mengarah pada sistem yang kemampuan intelektualnya melampaui manusia secara sangat luas. Karena itu, penggunaan istilah SI untuk seluruh spektrum AI berpotensi membuat batas antara teknologi yang sudah tersedia, teknologi frontier, AGI, dan superintelligence menjadi semakin kabur.

Pada akhirnya, keputusan Trump lebih tepat dipahami sebagai perubahan bahasa kebijakan dan komunikasi pemerintah daripada deklarasi bahwa mesin telah mencapai kecerdasan super. Bahkan executive order itu sendiri menunjukkan bahwa pemerintah masih perlu menyusun definisi federal baru. Dengan demikian, pertanyaan pentingnya bukan apakah AI benar-benar sudah menjadi SI, melainkan siapa yang memiliki kewenangan untuk mendefinisikan teknologi tersebut dan bagaimana definisi itu akan memengaruhi kebijakan publik.

Perubahan dari AI menjadi SI memperlihatkan satu hal penting: dalam era teknologi strategis, pertarungan tidak hanya berlangsung pada chip, pusat data, model, energi, dan talenta. Pertarungan juga berlangsung pada kata-kata. Dan ketika sebuah istilah datang dari Gedung Putih, ia dapat berubah dari sekadar nomenklatur menjadi bagian dari strategi teknologi, ekonomi, dan geopolitik Amerika.

Continue Reading

News

Brian Yuliarto: Kuasai Sains Fundamental agar Tak Jadi “Budak” Superintelligence

Mendiktisaintek Brian Yuliarto mendorong perguruan tinggi memperkuat penguasaan sains fundamental agar talenta Indonesia mampu menghadapi perkembangan agentic AI, superintelligence, dan komputasi kuantum.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto meminta perguruan tinggi memperkuat penguasaan sains fundamental sebagai fondasi menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang bergerak menuju era superintelligence.

Hal itu disampaikan Brian saat membuka Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) XII Tahun 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Jumat. Menurut dia, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, mulai dari agentic AI hingga komputasi kuantum, sehingga Indonesia membutuhkan talenta dengan pemahaman kuat terhadap ilmu pengetahuan dasar.

“Kecuali satu, kita menguasai hard science. Kita menguasai fundamental science. Kalau tidak, kita akan menjadi budak-budak superintelligence baru,” kata Brian.

Menurut Brian, kemampuan menggunakan berbagai produk berbasis AI saja tidak cukup. Talenta Indonesia perlu memahami prinsip dasar sains dan teknologi agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu mengembangkan, mengevaluasi, dan mengendalikan teknologi yang semakin kompleks.

Ia menilai perkembangan AI kini bergerak menuju agentic AI, yaitu sistem kecerdasan buatan yang dapat menjalankan rangkaian tugas secara lebih mandiri. Perkembangan tersebut, menurut dia, akan semakin signifikan ketika AI bertemu dengan superintelligence dan teknologi komputasi kuantum.

“Agentic AI bertemu dengan super AI (Superintelligence), bertemu dengan quantum computation, ini kita akan semakin keteteran,” ujarnya.

Brian menjelaskan komputasi kuantum memiliki prinsip yang berbeda dengan komputer konvensional yang selama ini menggunakan sistem biner. Karena itu, perubahan teknologi tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memahami aplikasi teknologi, tetapi juga menguasai matematika, fisika, ilmu komputer, dan disiplin sains fundamental lainnya.

Penguatan hard science, kata Brian, menjadi bagian penting dari strategi pendidikan tinggi untuk menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan teknologi. Ia mengingatkan bahwa kecanggihan perangkat AI tidak boleh membuat kemampuan berpikir dan pemahaman ilmiah manusia justru melemah.

“Pasukan kita, talenta kita, anak-anak muda kita sepintas pintar, sepintas dia pintar, tetapi sebenarnya hanya artificial. Jadi, artificial intelligence ini betul-betul artificial untuk anak-anak muda kita kalau tidak menguasai hard science, kalau tidak menguasai fundamental science,” katanya.

Karena itu, perguruan tinggi dan para pendidik memiliki peran strategis dalam membangun keseimbangan antara penguasaan teknologi dan pemahaman ilmu pengetahuan. Tantangannya bukan sekadar membuat mahasiswa mampu menggunakan AI, tetapi memastikan mereka memiliki fondasi keilmuan yang cukup untuk menjadi pencipta dan pengendali teknologi masa depan.

Continue Reading

News

‘Fraksi Gabungan’ dan Jebakan Oligarki Baru

Ma'ruf Mutaqin

Published

on

Jakarta, MONITORDAY – Setiap lembar suara rakyat memiliki nilai dan tidak boleh terbuang sia-sia akibat aturan ambang batas parlemen. Semangat inilah yang disodorkan Mahfud MD. Ia menilai, dalam sistem demokrasi konstitusional, kedaulatan berada di tangan rakyat, bukan di ujung kalkulator pemilu, sehingga formula Fraksi Gabungan hadir sebagai solusi agar belasan juta suara pemilih tetap terwakili di parlemen.

Di atas kertas, Pemilu 2024 meninggalkan jejak angka yang mencengangkan sekaligus getir: 17.304.303 suara sah rakyat menguap begitu saja. Sebanyak 11,3 persen pemilih nasional sudah mendatangi tempat pemungutan suara, namun aspirasi mereka berakhir menjadi angka mati yang dibuang ke tempat sampah sejarah karena sepuluh partai politik gagal melompati pagar ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 4 persen.

Angka 17 juta bukanlah statistik kosong. Jumlah itu setara dengan mengosongkan hak suara seluruh penduduk di sebuah negara kecil. Sebanyak sepuluh partai politik—mulai dari PPP yang terganjal tipis di angka 3,87 persen, PSI dengan 2,8 persen, hingga Perindo—dipaksa keluar dari pintu utama Senayan. Di gerbang parlemen, mandat dari jutaan kepala tersebut dinyatakan “hangus” dan tidak bisa dikonversi menjadi kursi legislatif.

Pagar Kaku Regulasi

Jika kita melihat dari kacamata hukum tata negara, aturan yang berlaku saat ini memang sangat kaku. Pasal 414 Ayat (1) UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017 dengan tegas mematok angka 4 persen sebagai syarat mutlak partai untuk bisa menempatkan wakilnya di DPR RI. Dampaknya, berapa pun besarnya suara yang dikumpulkan suatu parpol secara nasional, jika persentasenya mandek di angka 3,9 persen, seluruh suara tersebut dianggap tidak bernilai.

Sebenarnya, Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengeluarkan Putusan Nomor 116/PUU-XXI/2023 yang menyatakan ambang batas 4 persen tersebut inkonstitusional bersyarat untuk Pemilu 2029. MK menilai aturan lama mencederai prinsip kedaulatan rakyat dan keadilan pemilu. Namun, karena MK menyerahkan besaran angka dan formulasinya kepada DPR dan Pemerintah, masa depan belasan juta suara alternatif ini masih menggantung di ketidakpastian legislasi. 

Dalam sistem proporsional yang dianut Indonesia, esensi utama pemilu adalah keterwakilan (representasi). Ketika suara itu dinolkan secara paksa oleh undang-undang, esensi demokrasi kita sedang mengalami defisit moral.

Mekanisme Fraksi Gabungan

Keresahan atas banyaknya mandat rakyat yang disia-siakan inilah yang memicu pakar hukum tata negara, Mahfud MD, untuk meracik sebuah formula baru. Lewat tayangan di kanal YouTube pribadinya, Mahfud melempar sebuah gagasan taktis: mengizinkan adanya Fraksi Gabungan pasca-pemilu sebagai solusi konkret untuk mencegah terbuangnya suara rakyat.

“Bagi partai-partai yang tidak lolos ini, boleh mengadakan perjanjian membentuk fraksi bersama. Dulu sudah pernah ada, dan kalau itu, tidak akan ada suara yang hilang dan sama-sama berhak nanti mengajukan calon presiden,” ujar Mahfud dengan penekanan intonasi yang lambat namun tajam.

Melalui mekanisme stembus accoord atau penggabungan sisa suara ini, Mahfud menawarkan jalan tengah. Ia tetap sepakat bahwa ambang batas parlemen (threshold) itu harus tetap ada demi menjaga stabilitas pemerintahan dan mencegah parlemen terlalu gemuk. 

Namun, alih-alih menghanguskan suara parpol gurem, regulasi baru nantinya mengizinkan partai-partai kecil menggabungkan perolehan suara mereka pasca-pemilu. Jika total akumulasinya melampaui batas minimal, mereka berhak membentuk satu fraksi bersama di DPR. 

Dengan demikian, perolehan kursi yang sempat mereka menangkan di berbagai daerah pemilihan (dapil) tetap sah dikonversi.

Oligarki Baru

Gagasan Mahfud MD sekilas terdengar seperti resep jitu bagi keadilan pemilu. Namun, jika kita membedah isi dapurnya lebih dalam, ada risiko racun tersembunyi yang siap merusak rasa demokrasi. Pertanyaan kritisnya: apakah penggabungan parpol-parpol gurem ini murni demi memperjuangkan nasib pemilih, atau jangan-jangan hanya aliansi taktis demi menyelamatkan jatah kursi elite?

Jika Fraksi Gabungan ini nantinya lahir hanya karena keputusasaan pragmatis demi mendapat fasilitas parlemen, maka seluruh ikhtiar ini akan menjadi sia-sia. Alih-alih menyelamatkan hak rakyat, celah hukum ini justru berisiko tinggi melahirkan kartel atau oligarki baru di tingkat menengah.

Perlu diingat, sepuluh parpol yang tidak lolos ke Senayan pada Pemilu 2024 memiliki ideologi, basis massa, dan platform yang saling bertolak belakang. Menyatukan mereka dalam satu fraksi tanpa kesamaan visi ibarat mencampur minyak dengan air. 

Tanpa adanya perekat ideologis yang kuat, Fraksi Gabungan ini akan sangat rentan berubah menjadi komoditas dagang politik baru di parlemen. Mereka bisa menjelma menjadi fraksi oportunis yang “mudah dibeli” oleh kekuatan modal raksasa atau dikooptasi oleh penguasa demi memuluskan kebijakan elitis. 

Pada titik ini, 17 juta suara rakyat tadi hanya dijadikan tameng legalitas bagi perdagangan pengaruh belaka. Perjuangan menghidupkan suara rakyat pun berakhir percuma.

Komitmen Parlemen

Mengubah gagasan ini menjadi menu regulasi riil tentu akan menghadapi tembok tebal di Senayan. Partai-partai raksasa yang saat ini menguasai parlemen cenderung nyaman dengan status quo. Mereka lebih suka parlemen yang ramping agar “kue kekuasaan” tidak perlu dibagi-bagi ke terlalu banyak meja.

Oleh karena itu, jika formula Fraksi Gabungan ini ingin diadopsi dalam revisi UU Pemilu mendatang, hukum harus menguncinya dengan regulasi yang sangat ketat. Mekanisme internal fraksi harus diatur secara transparan, dan hak parpol yang lebih kecil di dalamnya harus dijamin agar tidak didepak atau didikte begitu saja setelah kursi didapat. 

Harus ada sistem akuntabilitas publik yang memastikan bahwa fraksi ini bekerja berdasarkan manifesto bersama yang berorientasi pada kepentingan konstituen, bukan menjadi arena baru bagi para pemburu rente jabatan.

Pada akhirnya, pemilu adalah kontrak sosial antara negara dan warganya. Semangat yang disodorkan Mahfud MD seolah mengingatkan kita bahwa setiap lembar pilihan rakyat adalah mandat berharga yang harus dirawat dengan penuh kasih. 

Menata demokrasi memang seperti berjalan di atas seutas tali yang tipis. Di satu sisi kita wajib menegakkan keadilan bagi tiap lembar hak pilih rakyat, namun di sisi lain kita harus tetap awas dan curiga agar celah keadilan tersebut tidak ditunggangi oleh para penumpang gelap untuk menancapkan kuku-kuku oligarki baru. 

Jangan sampai, suara yang coba kita hidupkan kembali, justru mati untuk kedua kalinya di dalam pelukan pragmatisme elite.

Continue Reading

Review

Jurnalisme, Kebebasan, dan Harga Diri

Goenawan Mohamad merefleksikan 55 tahun perjalanan Tempo sebagai upaya mempertahankan kebebasan pers, independensi, dan jurnalisme yang memanusiakan.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Goenawan Mohamad merefleksikan perjalanan panjang majalah Tempo selama 55 tahun sebagai bagian dari sejarah pers Indonesia. Dalam pidatonya, ia mengingatkan bahwa kebebasan berbicara yang dinikmati masyarakat saat ini tidak hadir dengan sendirinya, melainkan merupakan hasil dari perjuangan panjang dan pengorbanan banyak orang, terutama dalam perjalanan menuju Reformasi 1998.

Goenawan menilai Reformasi 1998 tidak sia-sia. Salah satu warisan terpentingnya adalah terbukanya ruang kebebasan berbicara dan kebebasan pers yang jauh lebih luas dibandingkan periode sebelumnya. Karena itu, kebebasan tersebut menurutnya perlu disyukuri sekaligus dijaga dengan menghormati mereka yang telah berjuang mempertahankan demokrasi.

Tempo sendiri lahir pada 1970-an ketika kebebasan pers berada dalam situasi rentan. Penerbitan dapat dibungkam ketika dianggap mengganggu kepentingan kekuasaan. Dalam kondisi tersebut, Tempo berusaha membangun posisi independen di antara tekanan kekuasaan politik dan kepentingan pemilik modal. Independensi kemudian menjadi bagian penting dari identitas media tersebut.

Salah satu upaya menjaga independensi dilakukan melalui model kepemilikan yang melibatkan karyawan dan wartawan. Menurut Goenawan, gagasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan struktur perusahaan, tetapi juga dengan penghargaan terhadap harga diri dan kesetaraan di antara orang-orang yang bekerja di dalamnya. Prinsip itu antara lain tercermin dalam upaya membatasi kesenjangan penghasilan agar tidak terlalu lebar.

Dalam pandangannya, jurnalisme Tempo juga dibangun sebagai sebuah percakapan. Bahasa jurnalistik diupayakan konkret dan dekat dengan kehidupan manusia, bukan berhenti pada istilah abstrak, akronim birokratis, atau bahasa kekuasaan. Berita dengan demikian tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi membuka ruang dialog antara media dengan masyarakat.

Tantangan pers hari ini, menurut Goenawan, telah mengalami perubahan. Jika pada masa lalu tekanan terhadap pers banyak datang dari kekuasaan militer dan birokrasi, kini tantangannya mencakup kekuatan oligarki serta godaan transaksi kepentingan yang ia gambarkan melalui istilah “wani piroisme”. Perubahan tersebut membuat independensi jurnalistik tetap menjadi persoalan yang harus terus diperjuangkan.

Refleksi 55 tahun Tempo pada akhirnya bukan hanya tentang perjalanan sebuah perusahaan media. Ia juga menyentuh pertanyaan yang lebih luas mengenai bagaimana pers mempertahankan kebebasan di tengah perubahan zaman. Goenawan menekankan pentingnya terus menafsirkan kenyataan, mempertanyakan kekuasaan, dan memulihkan percakapan publik agar demokrasi tidak kehilangan ruang dialognya.

Continue Reading

News

Amran Sulaiman dan Jejak Kaki Tanpa Sepatu

Artikel ini mengulas perjalanan masa kecil Amran Sulaiman di Bone yang penuh disiplin, kerja keras, dan tekad kuat dalam meraih pendidikan demi mengubah nasib.

Umar Satiri

Published

on

CERITA KECIL Amran Sulaiman bukanlah sebuah dongeng pengantar tidur yang romantis, melainkan sebuah narasi tentang ketangguhan, keringat, dan disiplin tanpa kompromi. 

Jauh sebelum namanya dikenal sebagai konglomerat Tiran Group, menteri dengan zuriat triliuner, atau pria di balik pembangunan masjid megah senilai Rp1 triliun di Makassar, Amran adalah seorang anak desa biasa dari Bakunge, Ponre, Kabupaten Bone. 

Di atas tanah panggung kayu yang lapuk, di bawah asuhan seorang ayah yang merupakan sersan veteran militer, karakter besi seorang Amran Sulaiman pertama kali ditempa.

Bagi banyak orang, kemiskinan adalah sebuah kutukan yang membelenggu masa depan. Namun, di tangan Andi B. Sulaiman Dahlan Petta Lolo—sang ayah—dan Andi Hajjah Nurhadi—sang ibu—kemiskinan ekstrem yang menjerat keluarga dengan 12 anak itu justru diubah menjadi laboratorium mental. Pola asuh yang diterapkan di rumah panggung tersebut tidak mengenal kata manja. Sang ayah, dengan latar belakang disiplin militer Angkatan Darat yang kental, menerapkan aturan waktu yang sangat rigid.

Di rumah keluarga Sulaiman, hari baru selalu dimulai sebelum fajar menyingsing. Terlambat bangun subuh bukan sekadar mendapatkan teguran, melainkan konsekuensi fisik yang nyata. Amran kecil dan saudara-saudaranya dididik untuk menghargai setiap detak jarum jam. Setelah menunaikan ibadah, tidak ada waktu untuk bermalas-malasan. Manajemen waktu ini tertanam begitu dalam di kepala Amran. 

Di kemudian hari, kedisiplinan subuh inilah yang membuatnya dikenal sebagai pemimpin yang selalu bergerak cepat, taktis, dan tak kenal lelah dalam mengejar target-target besar.

Selain disiplin waktu, kemandirian mutlak adalah pilar kedua dari pola didik sang ayah. Dengan jumlah saudara yang begitu banyak, ketergantungan pada orang lain adalah kemewahan yang dilarang. Amran diajarkan untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri sejak dini: mencuci pakaian sendiri, membersihkan rumah, hingga merawat hewan ternak. 

Sang ayah menanamkan prinsip bahwa kemiskinan adalah kondisi ekonomi, tetapi mentalitas miskin—seperti meminta-minta, mengeluh, atau menyalahkan keadaan—adalah sebuah kehinaan. Harga diri (Siri’) diletakkan di tempat tertinggi. Jika ingin makan, mereka harus bergerak dan berusaha secara halal.

Kelaparan harian yang mereka rasakan tidak dibiarkan menjadi keputusasaan, melainkan menjadi pemicu kreativitas untuk bertahan hidup (survival instinct). Sepulang sekolah, Amran kecil tidak langsung bermain seperti anak-anak seusianya. Tubuh kurusnya harus segera bergegas menuju hutan atau bantaran rawa. Ia terbiasa menebang kayu bakar, menggembala sapi milik tetangga dengan sistem bagi hasil, hingga memasang pukat di sungai demi mencari lauk untuk makan malam keluarga. 

“Tanpa alas kaki, ia melangkah di atas jalanan berbatu yang berdebu dan membara di bawah terik matahari Bone.“

Ketika stok makanan di rumah benar-benar habis, Amran dan saudara-saudaranya terbiasa mengganjal perut hanya dengan memetik buah jambu liar atau menggali ubi jalar di hutan.

Penderitaan fisik ini memuncak setiap kali Amran harus menempuh perjalanan sejauh 6 kilometer pulang-pergi menuju sekolahnya. Tanpa alas kaki, ia melangkah di atas jalanan berbatu yang berdebu dan membara di bawah terik matahari Bone. Kakinya yang melepuh dan kapalan menjadi saksi bisu bahwa pendidikan adalah jalan satu-satunya yang harus ditempuh demi mengubah nasib. 

Demi membeli buku tulis dan alat sekolah, ia harus memanjat pohon kelapa atau menjual hasil bumi ke pasar terlebih dahulu. Sang ayah selalu menekankan bahwa meski perut kosong, otak tidak boleh kosong. Pendidikan adalah senjata utama untuk mendobrak dinding kemiskinan.

Rangkaian penderitaan fisik yang dialami setiap hari, yang dikombinasikan dengan didikan mental yang teguh dari orang tuanya, secara tidak langsung melahirkan apa yang dalam psikologi modern disebut sebagai grit—perpaduan antara ketahanan mental, kegigihan, dan hasrat jangka panjang. 

Amran tumbuh dengan “kulit tebal” dan mentalitas “anti-rapuh”. Baginya, tekanan kerja seberat apa pun di masa dewasa tidak pernah sebanding dengan beratnya perjuangan mencari sesuap nasi di masa kecilnya.

Ketika ia dewasa dan menghadapi berbagai kegagalan—mulai dari hidup terlantar di emperan masjid Jakarta saat mengurus paten racun tikus, hingga jatuh bangun membangun lini bisnis Tiran Group—Amran tidak pernah menyerah. Fondasi mental yang ditanamkan di Bakunge telah membuatnya kebal terhadap keputusasaan. Ia memandang kegagalan hanyalah variasi kecil dari ujian hidup, yang tidak ada apa-apanya dibanding masa-masa ia harus memecah batu gunung atau menggali sumur demi bertahan hidup.

Kisah masa kecil Andi Amran Sulaiman adalah sebuah antitesis dari narasi bahwa kesuksesan hanya milik mereka yang lahir dengan fasilitas serba ada. Pola asuh disiplin besi, penanaman harga diri yang tinggi, serta tempaan kemiskinan ekstrem di masa kecilnya terbukti menjadi bahan bakar (trigger) yang melesatkan dirinya menjadi sosok pemimpin dan pengusaha tangguh. 

Dari anak sersan yang berjalan tanpa alas kaki, ia menjelma menjadi tokoh nasional yang mampu mendirikan rumah ibadah megah untuk masyarakat luas. Karakter kuat tersebut tidak lahir dalam semalam; ia dibentuk, diuji, dan dimatangkan oleh kerasnya didikan sebuah rumah panggung di pedalaman Bone.

Continue Reading

Review

Agentic AI Security Menjadi Prioritas Baru Perusahaan

Semakin besar kewenangan AI agent untuk mengakses sistem dan mengambil tindakan, semakin besar pula kebutuhan perusahaan membangun keamanan yang mampu mengawasi perilaku agent secara real-time.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Perkembangan Agentic AI membawa perubahan besar dalam strategi keamanan siber perusahaan. AI agent kini dapat mengakses data, menjalankan kode, memanggil API, menggunakan aplikasi, serta mengambil keputusan berdasarkan tujuan yang diberikan. Kemampuan tersebut membuat permukaan serangan (attack surface) tidak lagi hanya berada pada model AI, tetapi juga pada tools, identitas, data, dan workflow yang terhubung dengan agent.

Menurut Palo Alto Networks Unit 42, kemampuan AI agent yang dapat melakukan tindakan secara otonom menciptakan risiko baru karena penyerang dapat mengeksploitasi agent untuk mempercepat tahapan serangan siber. Dalam investigasinya, Unit 42 menunjukkan bagaimana AI dapat membantu aktivitas seperti reconnaissance, pengembangan malware, dan eksploitasi kerentanan.

Salah satu ancaman yang semakin mendapat perhatian adalah prompt injection. Serangan ini terjadi ketika instruksi berbahaya disisipkan ke dalam data yang dibaca agent, misalnya halaman web, dokumen, email, atau sumber eksternal. Karena agent memiliki kemampuan untuk menindaklanjuti informasi tersebut, manipulasi konteks berpotensi membuat agent melakukan tindakan yang sebenarnya tidak diinginkan pengguna.

Risiko tersebut menjadi lebih serius ketika agent mempunyai hak akses yang luas. Sebuah agent yang awalnya ditugaskan untuk membaca laporan, misalnya, dapat menjadi titik masuk untuk mengakses sistem lain apabila kredensial dan kewenangannya tidak dibatasi. Karena itu, pendekatan keamanan tradisional yang hanya berfokus pada perimeter jaringan semakin tidak memadai untuk lingkungan agentic.

Menurut IBM, organisasi perlu memperkuat governance dan pengawasan terhadap AI agent seiring meningkatnya penggunaan sistem otonom. Pengelolaan identitas, hak akses, pemantauan aktivitas, evaluasi risiko, serta mekanisme pengendalian menjadi bagian penting dari penerapan agentic AI di lingkungan enterprise.

Perusahaan juga mulai mengembangkan konsep agent observability, yakni kemampuan untuk memantau apa yang dilakukan agent selama menjalankan sebuah tugas. Sistem observability dapat mencatat tools yang digunakan, sumber data yang diakses, keputusan yang dibuat, hingga hasil dari setiap tindakan. Dengan demikian, ketika terjadi kesalahan, organisasi dapat melakukan investigasi dan mengetahui titik masalahnya.

Pendekatan lain adalah menerapkan prinsip least privilege, yaitu memberikan agent akses seminimal mungkin sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya. Agent customer service tidak harus memiliki akses untuk melakukan pembayaran, sementara agent analisis data tidak perlu memiliki kewenangan mengubah database produksi. Pembatasan semacam ini dapat mengurangi dampak jika sebuah agent berhasil dimanipulasi atau mengalami kegagalan.

Ke depan, keamanan Agentic AI diperkirakan berkembang dari sekadar perlindungan terhadap model menjadi perlindungan terhadap seluruh rantai tindakan agent. Model, identitas, data, tools, API, workflow, dan manusia yang memberikan otorisasi harus dipandang sebagai satu kesatuan sistem keamanan.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa semakin “mandiri” sebuah AI agent, semakin penting pula mekanisme untuk membatasi kemandiriannya. Tantangan perusahaan bukan hanya membuat agent mampu bekerja tanpa manusia, tetapi memastikan agent hanya melakukan apa yang diizinkan, dapat dipantau ketika bekerja, dan dapat dihentikan ketika menyimpang dari tujuan.

Continue Reading
News2 menit ago

Transformasi digital di Sekolah dan Perubahan Paedagogis

Review53 menit ago

Kemendikdasmen Perkuat Kompetensi Guru PAUD dalam Digitalisasi Pembelajaran

Review1 jam ago

Persaingan Model Terbuka, Agen AI, dan Keamanan Siber Menguat

News2 jam ago

Danantara Siap Masuk Pasar Saat IHSG Tertekan

LakeyBanget10 jam ago

Meta Larang TikTok Pasang Iklan di Facebook dan Instagram, Lha Kok Kenapa?

News11 jam ago

Bukan TV Biasa, IFP Bikin Murid Lebih Antusias Belajar dan Mudah Memahami Materi

LakeyBanget11 jam ago

Cicipi Kuliner Lokal di Mandalika Street Food Festival, UMKM Rasakan Dampak MotoGP Indonesia 2026

News1 hari ago

Bukan Cuma Keripik, Ternyata Ini Inovasi BRIN Bidang Pangan

News1 hari ago

Dua Tahun Prabowo-Gibran: APBN Perkuat Program Pendidikan-Stabilitas Ekonomi

News1 hari ago

Lima Pebalap Moto2-Moto3 Inspirasi Siswa di Mandalika

LakeyBanget1 hari ago

GBK Diserbu Konser: Tulus, Dewa 19, hingga The Changcuters Tampil Hari Ini

Review1 hari ago

Ramai di MK, Akhirnya Ijazah Wapres RI Dipajang di Kampus Ternama Dunia

News2 hari ago

Kemendikdasmen Borong 21 Trofi di Ajang Anugerah Humas Indonesia 2026

News2 hari ago

Kasus Korupsi ATR/BPN: KPK Periksa Saksi dan Sita Uang Pungli Jutaan Rupiah di Bogor

News2 hari ago

Proyeksi Optimistis Elon Musk: Nilai SpaceX Berpotensi Lampaui Perekonomian Dunia

LakeyBanget2 hari ago

Sophia Bakal Kembali ke KATSEYE, Kapan?

News2 hari ago

Pezeshkian Ungkap Alasan Iran Sulit Diblokade AS

LakeyBanget2 hari ago

Ceferin Siap Rebut Periode Keempat di UEFA

LakeyBanget2 hari ago

MotoGP Mandalika 2026 Dimulai, Veda Ega Siap Unjuk Gigi

News2 hari ago

Prabowo Luncurkan 11 Proyek Hilirisasi, Total Investasi Rp180 Triliun