Monitorday.com – Kisah ini bukan bermula dari ruang konferensi atau forum resmi, melainkan dari sebuah unggahan media sosial. Dinukil dari laman Facebook Haedar Nashir, Selasa dini hari, 10 Februari 2026, sebuah pengalaman kecil di perjalanan kereta api berubah menjadi refleksi tentang kepercayaan (amanah) dan profesionalisme layanan publik.
“Tepat pukul 01.24 WIB saya turun di Stasiun Tugu Yogyakarta dengan Kereta api Gajayana jurusan Malang,” tulisnya.
Kereta Api Gajayana berhenti sebentar di Stasiun Tugu Yogyakarta. Proses turun berjalan normal. Tak ada firasat apa pun. Namun baru sepertiga perjalanan menuju rumah, kesadaran itu datang: iPad mini yang biasa dipakai mengetik tertinggal di kereta.
“Kehilangan Ipad tentu sangat merisaukan. Bukan bendanya, tapi isinya,” tuturnya.
Di dalam perangkat itu tersimpan data, dokumen, serta bahan kuliah untuk mahasiswa S3 Program Studi Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Malam sebelumnya, ia memang sempat menulis bahan kuliah saat keberangkatan dari Stasiun Gambir pukul 18.50 WIB. Kantuk yang datang setelah agenda seharian membuatnya tertidur sesaat. Tanpa disadari, iPad terjatuh di pinggir kursi dan terlupakan ketika turun.
Laporan resmi segera dibuat. Petugas merespons dengan sigap dan detail, menanyakan jenis, warna, casing, hingga nomor kursi. Dalam situasi dini hari, respons cepat itu menjadi titik awal tumbuhnya harapan.
Karena menyangkut barang penting, Haedar Nashir juga menghubungi Kepala Stasiun Yogyakarta, Raja Husein Pandapotan Harahap, yang sebelumnya dikenal saat bertugas di Stasiun Gambir. Pesan WhatsApp dikirim pukul 01.49 WIB.
“Rasanya tidak nyaman mengganggu Pak Raja yang tentu sudah istirahat, tapi apa boleh buat,” tulisnya.
Balasan datang cepat. “Siap Bapak,” jawab Raja, sebagaimana dikisahkan Haedar Nashir.
Namun pukul 02.15 WIB, kabar berikutnya belum menggembirakan. iPad belum ditemukan di gerbong. Kegundahan sempat muncul.
“Sudahlah, kalau memang rizkinya, Ipad akan kembali. Kalau pun tidak, semoga ada yang menemukan dan berkenan mengembalikan,” ujarnya.
Pukul 06.15 WIB, kabar baik akhirnya datang. iPad ditemukan dalam perjalanan terakhir di Stasiun Kota Malang. Foto perangkat tersebut dikirim sebagai bukti. Rasa lega pun menyelimuti pagi itu.
Meski tanpa iPad, pukul 10.00 WIB kuliah tetap berlangsung. “Saya mengabarkan kalau kali ini kuliah tanpa tayangan powerpoint,” tulisnya. Ia menyebut bahan kuliah sedang “jalan-jalan” bersama Kereta Api Gajayana ke Malang. Perkuliahan berjalan menggunakan papan tulis whiteboard, bahkan terasa lebih leluasa.
Siang harinya, sekitar pukul 14.25 WIB, iPad tiba kembali di Yogyakarta dan diambil perwakilan tim Media Komunikasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Serah terima berlangsung resmi dan terdokumentasi.
“Alhamdulillah Ipad sudah saya terima dengan baik di rumah… Terimakasih untuk seluruh kru KAI atas pelayanan dan bantuan terbaiknya,” tulisnya lagi dalam pesan yang ia kirimkan kepada Kepala Stasiun.
Kisah sederhana ini menjadi catatan tentang bagaimana sistem layanan publik bekerja. Bagi Haedar Nashir, pengalaman tersebut bukan sekadar tentang perangkat yang kembali.
“KAI saat ini makin baik dan luar biasa pelayanannya… Tandanya manajemen KAI kian berkembang modern,” tuturnya.
Dalam perspektif administrasi publik, peristiwa ini menegaskan bahwa kepercayaan publik tidak lahir dari slogan, melainkan dari pengalaman konkret warga ketika berhadapan dengan layanan negara. Seperti dikemukakan Mark H. Moore, nilai publik (public value) terbentuk ketika institusi mampu menghadirkan manfaat nyata dan dapat dirasakan. Respons cepat, koordinasi yang efektif, dan akuntabilitas dalam pengembalian barang adalah bentuk nilai itu.
Paradigma New Public Service yang diperkenalkan Janet V. Denhardt dan Robert B. Denhardt menegaskan bahwa tugas aparatur bukan sekadar menjalankan prosedur, tetapi melayani warga dengan integritas. Profesionalisme bukan hanya soal sistem, tetapi juga etika.
Dan di situlah kisah Sang Ketum PP Muhammadiyah ini menemukan resonansinya dengan bulan puasa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan integritas—berbuat benar meski tak diawasi. Aparatur yang tetap bekerja sigap pukul 02.00 WIB, tanpa sorot kamera, tanpa publikasi, sejatinya sedang mempraktikkan nilai yang sama: bekerja dalam sunyi, tetapi bernilai bagi orang lain.
Jika puasa melatih manusia untuk jujur pada Tuhan dalam kesendirian, maka profesionalisme melatih aparatur untuk jujur pada amanah dalam tugasnya. Keduanya bertemu pada satu titik: kepercayaan.
Dan mungkin, pagi itu, yang kembali bukan hanya iPad.
Yang kembali adalah keyakinan bahwa pelayanan publik, seperti puasa, menemukan maknanya justru ketika dijalankan dengan tulus—meski tak selalu terlihat.