Ruang Sujud
Menahan Amarah dalam Islam: Anjuran untuk Menemukan Ketenangan dalam Ketaqwaan
Amarah adalah emosi manusiawi yang dapat timbul sebagai respons terhadap berbagai situasi. Dalam ajaran Islam, menahan amarah adalah nilai luhur yang sangat dianjurkan, seiring dengan konsep ketaqwaan kepada Allah SWT. Artikel ini akan membahas anjuran Islam agar menahan amarah dan bagaimana hal ini dapat membawa dampak positif dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim.
Pengajaran dari Al-Qur’an
Al-Qur’an memberikan banyak petunjuk tentang pentingnya menahan amarah. Dalam Surah Al-Imran (3:134), Allah berfirman, “Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Pesan ini menunjukkan bahwa menahan amarah dan memberi maaf adalah sifat yang Allah cintai dan anjurkan.
Sunnah Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW juga memberikan teladan luar biasa tentang menahan amarah. Beliau bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang kuat dalam bergulat, melainkan orang yang dapat menahan diri ketika marah.” Dalam situasi apapun, Nabi mengajarkan umatnya untuk menjaga kendali diri, bahkan dalam kondisi yang menantang sekalipun.
Manfaat Menahan Amarah
Menahan amarah bukan hanya anjuran moral, tetapi juga memiliki manfaat besar bagi individu dan masyarakat. Pertama, menahan amarah menghindarkan dari tindakan impulsif yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Kedua, hal ini menciptakan lingkungan sosial yang lebih harmonis dan damai. Dengan menahan amarah, umat Muslim dapat berkontribusi dalam membangun masyarakat yang penuh toleransi dan kasih sayang.
Cara Praktis Menahan Amarah
- Berfokus pada Ketaqwaan: Mengingat Allah dan ketaqwaan kepada-Nya dapat membantu menenangkan hati dan memandang situasi dengan sikap yang lebih bijak.
- Beristighfar: Merenung dan memohon ampunan kepada Allah ketika merasa marah dapat membantu mengendalikan emosi.
- Berlindung pada Allah dari Godaan Syaitan: Berdoa agar terlindung dari godaan syaitan yang mendorong kepada amarah.
- Menyadari Konsekuensi Amarah: Merenungkan dampak negatif dari tindakan yang diakibatkan oleh amarah dapat menjadi motivasi untuk menahan diri.
- Memberikan Ruang untuk Pemaafan: Membiasakan diri memberi maaf dapat meredakan amarah dan menjaga hubungan antarmanusia.
Kesimpulan
Menahan amarah adalah bagian integral dari ajaran Islam yang mengajarkan umatnya untuk hidup dalam damai dan harmoni. Dengan mempraktikkan anjuran Islam untuk menahan amarah, umat Muslim dapat menciptakan lingkungan yang penuh dengan kasih sayang, toleransi, dan kebijaksanaan. Dalam kesabaran da
News
Prancis Pulangkan 23 Artefak Suriah
Sebanyak 23 benda bersejarah Suriah akhirnya kembali ke Damaskus setelah tersimpan di Prancis selama sekitar 15 tahun.
Monitorday.com– Prancis mengembalikan 23 artefak bersejarah kepada Suriah setelah benda-benda tersebut berada di Paris selama sekitar 15 tahun. Penyerahan dilakukan bertepatan dengan kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Damaskus pada Selasa, 7 Juli 2026.
Artefak itu sebelumnya dipinjamkan oleh sejumlah museum Suriah kepada Institut Dunia Arab di Paris untuk sebuah pameran pada 2010–2011. Namun, pecahnya perang saudara dan terputusnya hubungan diplomatik membuat koleksi tersebut tidak dapat segera dikembalikan.
Koleksi yang dipulangkan mencakup benda-benda dari masa prasejarah hingga periode Arab-Islam. Di antaranya terdapat benda perunggu era Romawi, peninggalan Bizantium, artefak dari Palmyra dan Mari, serta panel mosaik yang pernah menghiasi Masjid Umayyah.
Seluruh artefak diterbangkan ke Damaskus menggunakan pesawat kepresidenan Prancis. Setelah tiba, benda-benda tersebut diserahkan kepada Direktorat Jenderal Purbakala dan Museum Suriah untuk menjalani proses konservasi sebelum dipamerkan kepada masyarakat.
Pemerintah Suriah menyambut pengembalian itu sebagai langkah penting untuk memulihkan warisan budaya negara tersebut. Koleksi itu menggambarkan panjangnya perjalanan peradaban Suriah, mulai dari milenium kesepuluh sebelum Masehi hingga sekitar abad ke-15.
Pengembalian artefak juga dipandang sebagai simbol membaiknya hubungan budaya dan diplomatik antara Suriah dan Prancis. Kedua negara sebelumnya mengalami hubungan yang terputus selama konflik panjang yang menghancurkan banyak situs sejarah dan fasilitas kebudayaan di Suriah.
Meski demikian, pemulangan 23 benda bersejarah tersebut baru menjadi bagian kecil dari upaya besar mengembalikan kekayaan budaya Suriah. Ribuan artefak dilaporkan dijarah atau diselundupkan ke luar negeri selama perang dan hingga kini masih tersebar di berbagai negara.
Pemerintah Suriah berharap langkah Prancis dapat mendorong negara serta lembaga internasional lainnya untuk ikut mengembalikan benda-benda bersejarah yang berasal dari Suriah. Pemulihan warisan budaya dinilai menjadi bagian penting dari proses rekonstruksi identitas nasional setelah bertahun-tahun dilanda konflik.
News
Suriah Bongkar Sel Pengebom Damaskus
Aparat Suriah menangkap sejumlah terduga anggota sel yang dikaitkan dengan ISIS setelah rangkaian ledakan mengguncang Damaskus.
Monitorday.com– Pemerintah Suriah mengumumkan penangkapan sejumlah orang yang diduga terlibat dalam rangkaian pengeboman di Damaskus. Para tersangka disebut sebagai bagian dari sel yang berafiliasi dengan kelompok ISIS dan dituduh merancang sejumlah serangan di ibu kota Suriah.
Penangkapan dilakukan setelah pasukan keamanan menggelar penggerebekan di empat kawasan di Damaskus dan wilayah pedesaannya. Operasi tersebut dilakukan dengan memanfaatkan rekaman kamera pengawas dan hasil penyelidikan terhadap lokasi-lokasi ledakan.
Salah satu serangan terjadi pada Selasa, 7 Juli 2026, ketika dua bahan peledak meledak di dekat hotel tempat Presiden Prancis Emmanuel Macron menginap. Bom dilaporkan diletakkan di sebuah tempat sampah dan kendaraan yang terparkir di pusat kota.
Berdasarkan angka akhir yang diumumkan Kementerian Kesehatan Suriah, ledakan tersebut menewaskan satu orang dan melukai 36 lainnya. Macron tidak terluka dan tetap melanjutkan pertemuannya dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa di istana kepresidenan.
Otoritas keamanan Suriah menyatakan sel yang ditangkap juga diduga berkaitan dengan pengeboman lain di Damaskus. Sepekan sebelumnya, ledakan di sebuah kafe dekat kompleks pengadilan utama Damaskus menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai lebih dari 20 lainnya.
Meski aparat Suriah mengaitkan para tersangka dengan ISIS, kelompok tersebut belum secara resmi mengaku bertanggung jawab atas rangkaian serangan itu. Pemerintah menyatakan penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap jaringan, sumber bahan peledak, dan kemungkinan keterlibatan pelaku lain.
Serangan tersebut menjadi ujian serius bagi pemerintahan baru Suriah yang sedang berusaha memulihkan stabilitas setelah perang berkepanjangan. Pemerintah juga tengah membangun kembali hubungan diplomatik serta menarik dukungan internasional untuk rekonstruksi negara.
ISIS tidak lagi menguasai wilayah luas seperti pada puncak kekuatannya, tetapi masih menjalankan operasi melalui sel-sel bawah tanah di Suriah dan Irak. Rangkaian ledakan di Damaskus menunjukkan ancaman kelompok tersebut belum sepenuhnya hilang di tengah situasi keamanan Suriah yang masih rapuh.
Ruang Sujud
Ghosting Bikin Terluka, Islam Mengajarkan Apa?
Menghilang tanpa penjelasan mungkin terasa mudah bagi pelaku, tetapi dapat meninggalkan luka, kebingungan, dan rasa tidak dihargai bagi orang lain.
Monitorday.com– Istilah ghosting semakin akrab di kalangan Gen Z. Fenomena ini terjadi ketika seseorang tiba-tiba menghentikan komunikasi tanpa memberikan penjelasan, meskipun sebelumnya menjalin hubungan yang cukup dekat. Pesan tidak dibalas, telepon diabaikan, bahkan akun media sosial dapat diblokir begitu saja.
Perilaku tersebut sering muncul dalam hubungan romantis, pertemanan, maupun proses pendekatan sebelum pernikahan. Bagi orang yang melakukannya, menghilang mungkin dianggap sebagai cara paling mudah untuk menghindari percakapan sulit. Namun, bagi pihak yang ditinggalkan, ghosting dapat menimbulkan kebingungan, rasa bersalah, hilangnya kepercayaan diri, dan pertanyaan yang terus berulang.
Dalam Islam, setiap hubungan antarmanusia harus dibangun dengan kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan. Seseorang tidak boleh mempermainkan perasaan orang lain, memberikan harapan palsu, atau membiarkan orang lain terus menunggu tanpa kepastian. Akhlak yang baik tidak hanya terlihat dari cara seseorang memulai hubungan, tetapi juga dari caranya menyelesaikan hubungan.
Mengakhiri komunikasi bukan berarti selalu salah. Ada kondisi tertentu yang membuat seseorang perlu menjauh, terutama ketika menghadapi hubungan yang manipulatif, penuh kekerasan, mengancam keselamatan, atau membawa kepada perbuatan yang dilarang agama. Dalam keadaan seperti itu, menjaga jarak dapat menjadi bentuk perlindungan diri. Namun, apabila situasinya aman, menyampaikan keputusan secara jujur tetap menjadi tindakan yang lebih beradab.
Islam juga mengajarkan agar ucapan dan tindakan tidak dibangun berdasarkan prasangka. Himpunan Putusan Tarjih menegaskan bahwa manusia tidak boleh menambahkan keyakinan berdasarkan perkiraan semata, karena persangkaan tidak dapat menggantikan kebenaran. Prinsip ini penting dalam hubungan: jangan membuat seseorang menebak-nebak kesalahannya ketika penjelasan dapat diberikan secara baik.
Penjelasan tidak harus panjang atau membuka perdebatan baru. Kalimat sederhana seperti, “Terima kasih sudah hadir dalam perjalanan ini, tetapi saya merasa hubungan ini tidak dapat dilanjutkan,” sudah lebih menghargai dibandingkan menghilang tanpa kabar. Kejelasan membantu kedua pihak menerima kenyataan dan melanjutkan hidup tanpa terus terjebak dalam ketidakpastian.
Bagi orang yang mengalami ghosting, penting untuk tidak langsung menyalahkan diri sendiri. Keputusan seseorang untuk menghilang lebih banyak menggambarkan kemampuannya menghadapi konflik daripada nilai diri orang yang ditinggalkan. Mencari dukungan dari keluarga, sahabat, atau tenaga profesional dapat membantu memulihkan luka emosional yang muncul.
Gen Z juga perlu memahami bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun hanya dengan perhatian intens pada awal perkenalan. Hubungan yang baik membutuhkan konsistensi, batasan yang jelas, komitmen, dan keberanian membicarakan hal-hal yang tidak nyaman. Kata-kata manis tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi sumber luka.
Pada akhirnya, Islam tidak mengajarkan seseorang bertahan dalam hubungan yang merusak. Namun, Islam juga tidak membenarkan sikap yang sengaja menggantung, mempermainkan, atau meninggalkan orang lain tanpa alasan yang jelas. Bila sebuah hubungan memang harus berakhir, selesaikanlah dengan jujur, santun, dan tetap menjaga kehormatan kedua belah pihak.
News
OIC dan Liga Muslim Dunia Perkuat Bantuan Afghanistan
OIC dan Liga Muslim Dunia menyepakati penguatan kerja sama kemanusiaan untuk membantu rakyat Afghanistan menghadapi berbagai tantangan.
Monitorday.com– Organisasi Kerja Sama Islam atau OIC dan Liga Muslim Dunia memperkuat koordinasi untuk membantu rakyat Afghanistan menghadapi persoalan kemanusiaan dan pembangunan. Komitmen tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Pertemuan itu mempertemukan Asisten Sekretaris Jenderal OIC, Duta Besar Dr. Tarig Ali Bakheet, dengan Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia, Dr. Mohammed bin Abdulkarim Al-Issa. Keduanya membicarakan peluang kerja sama dan koordinasi dalam berbagai isu yang menjadi kepentingan dunia Islam.
OIC dan Liga Muslim Dunia sepakat meluncurkan sejumlah program bilateral untuk melayani kepentingan umat Islam sekaligus memperluas bidang kerja sama kedua organisasi. Rencana tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi pada sektor kemanusiaan, sosial, pendidikan, dan pembangunan.
Situasi Afghanistan menjadi salah satu pembahasan utama dalam pertemuan tersebut. Kedua pihak bertukar pandangan mengenai perkembangan terbaru di negara itu dan mencari cara untuk mendukung masyarakat Afghanistan dalam mengatasi tantangan kemanusiaan serta pembangunan yang masih berlangsung.
OIC dan Liga Muslim Dunia menekankan bahwa bantuan bagi Afghanistan membutuhkan kerja sama yang lebih kuat antara negara-negara Islam dan masyarakat internasional. Dukungan tersebut tidak hanya berupa bantuan darurat, tetapi juga upaya berkelanjutan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat dan membangun ketahanan jangka panjang.
Kedua organisasi juga menyerukan agar program bantuan dan kegiatan kemanusiaan untuk rakyat Afghanistan terus dilanjutkan. Koordinasi dinilai penting agar bantuan dapat diberikan secara efektif, tepat sasaran, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
Dalam pertemuan itu, OIC turut mengapresiasi peran Liga Muslim Dunia dalam menyebarkan nilai moderasi, keseimbangan, dan toleransi. Liga Muslim Dunia dinilai memiliki kontribusi penting dalam memperkuat solidaritas umat serta menangani berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan di negara-negara Muslim.
Pertemuan di Islamabad tersebut menunjukkan bahwa isu Afghanistan tetap menjadi perhatian penting dunia Islam. Kerja sama OIC dan Liga Muslim Dunia diharapkan dapat menghasilkan langkah konkret yang membantu rakyat Afghanistan memperoleh bantuan kemanusiaan dan peluang pembangunan yang lebih baik.
News
OIC Bahas Masa Depan Perempuan
Negara-negara anggota OIC berkumpul di Islamabad untuk merumuskan langkah bersama memperkuat pemberdayaan sosial, ekonomi, dan politik perempuan.
Monitorday.com– Pakistan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Menteri Organisasi Kerja Sama Islam atau OIC tentang Perempuan ke-9 yang digelar pada 12–13 Juli 2026 di Jinnah Convention Centre, Islamabad. Pertemuan ini menghadirkan delegasi dari negara-negara anggota OIC untuk membahas masa depan serta penguatan peran perempuan di dunia Islam.
Konferensi mengangkat tema “Pemberdayaan Sosial, Ekonomi, dan Politik Perempuan di Negara-Negara OIC: Tantangan dan Jalan ke Depan”. Tema tersebut menegaskan bahwa peningkatan peran perempuan tidak hanya berkaitan dengan perlindungan hak, tetapi juga akses pendidikan, pekerjaan, kepemimpinan, dan proses pengambilan keputusan.
Menjelang pelaksanaan konferensi, sejumlah delegasi internasional mulai berdatangan ke Islamabad. Pakistan sebagai tuan rumah memimpin pembahasan dan mendorong terciptanya kesepakatan bersama mengenai kebijakan yang dapat memperluas partisipasi perempuan dalam pembangunan negara-negara Islam.
Forum ini juga menjadi ruang bagi negara anggota OIC untuk mengevaluasi kemajuan kebijakan perempuan sekaligus membicarakan berbagai hambatan yang masih terjadi. Tantangan tersebut mencakup terbatasnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, kesenjangan ekonomi, rendahnya keterwakilan politik, hingga kendala sosial dan budaya di sejumlah negara.
Pertemuan tingkat menteri ini dinilai penting karena OIC beranggotakan 57 negara dengan kondisi sosial dan ekonomi yang sangat beragam. Melalui konferensi tersebut, negara anggota diharapkan dapat bertukar pengalaman, mempelajari kebijakan yang berhasil, serta merumuskan program pemberdayaan perempuan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing masyarakat.
OIC sebelumnya telah memulai rangkaian pertemuan persiapan di Islamabad dengan kehadiran tingkat menteri yang besar. Pembahasan diarahkan pada penyusunan rekomendasi dan langkah konkret agar perempuan dapat memperoleh peluang lebih luas dalam sektor pendidikan, ekonomi, sosial, dan pemerintahan.
Hasil konferensi diharapkan tidak berhenti pada deklarasi diplomatik, tetapi diterjemahkan menjadi kebijakan nyata di negara-negara anggota. Dunia Islam menghadapi tantangan untuk memastikan perempuan memperoleh akses yang adil terhadap pendidikan, perlindungan, pekerjaan layak, serta kesempatan berkontribusi dalam pembangunan nasional.
News
Srebrenica Mengenang Luka Genosida
Ribuan orang berkumpul di Bosnia dan Herzegovina untuk memperingati 31 tahun Genosida Srebrenica sekaligus memakamkan sepuluh korban yang baru berhasil diidentifikasi.
Monitorday.com– Ribuan warga, keluarga korban, penyintas, serta pejabat dari berbagai negara berkumpul di Pusat Memorial Srebrenica–Potočari, Bosnia dan Herzegovina, Sabtu, 11 Juli 2026. Mereka memperingati 31 tahun Genosida Srebrenica, salah satu tragedi kemanusiaan paling kelam di Eropa setelah Perang Dunia II.
Peringatan tahun ini juga diiringi pemakaman sepuluh korban yang jasadnya baru berhasil diidentifikasi. Peti-peti jenazah dibawa ke kompleks pemakaman Potočari untuk disalatkan dan dimakamkan di dekat ribuan korban lainnya.
Genosida Srebrenica terjadi pada Juli 1995 ketika pasukan Serbia Bosnia mengambil alih wilayah Srebrenica yang sebelumnya dinyatakan sebagai zona aman Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lebih dari 8.000 laki-laki dan anak laki-laki Muslim Bosnia atau Bosniak kemudian dibunuh secara sistematis.
Jasad para korban sempat dikuburkan di sejumlah kuburan massal. Sebagian jenazah bahkan dipindahkan ke lokasi lain untuk menyembunyikan bukti kejahatan. Akibatnya, proses pencarian dan identifikasi korban terus berlangsung hingga lebih dari tiga dekade setelah tragedi tersebut.
Dalam upacara peringatan, para penyintas dan keluarga korban kembali menyerukan pentingnya menjaga kebenaran sejarah. Mereka menilai penyangkalan terhadap genosida dapat membuka ruang bagi kebencian, perpecahan, dan pengulangan kejahatan kemanusiaan pada masa mendatang.
Tragedi Srebrenica telah dinyatakan sebagai genosida oleh pengadilan internasional. Mantan komandan militer Serbia Bosnia Ratko Mladić juga dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas perannya dalam genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan berbagai kejahatan perang selama konflik Bosnia.
Pada 2024, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 11 Juli sebagai Hari Internasional untuk Mengenang dan Memperingati Genosida Srebrenica 1995. Peringatan tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat dunia bahwa setiap korban harus dikenang dan setiap bentuk kebencian berbasis agama maupun etnis harus dilawan.
Ruang Sujud
Overthinking Bukan Kurang Tawakal
Islam mengajarkan tawakal bukan untuk menekan emosi, melainkan menyeimbangkan ikhtiar, doa, dan keberanian mencari pertolongan.
Monitorday.com– Fenomena overthinking atau memikirkan sesuatu secara berlebihan semakin sering dialami generasi muda, terutama Gen Z yang hidup di tengah derasnya informasi, tuntutan produktivitas, dan budaya perbandingan di media sosial. Kondisi tersebut dapat muncul kapan saja, mulai dari menjelang tidur, menghadapi persoalan pekerjaan, memikirkan masa depan, hingga setelah melihat keberhasilan orang lain di ruang digital.
Tidak sedikit anak muda kemudian menganggap kebiasaan berpikir berlebihan sebagai tanda kurang bersyukur atau kurang bertawakal kepada Allah. Padahal, munculnya rasa cemas, takut, dan khawatir merupakan bagian dari respons manusia ketika menghadapi tekanan. Seseorang tidak otomatis memiliki iman yang lemah hanya karena sedang mengalami pergulatan emosional.
Overthinking yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu kualitas tidur serta meningkatkan risiko stres berkepanjangan, gangguan kecemasan, dan depresi. Pikiran yang terus aktif membuat seseorang sulit beristirahat karena berulang kali memikirkan kejadian masa lalu atau membayangkan kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.
Tekanan itu semakin terasa bagi Gen Z yang hampir setiap hari bersentuhan dengan media sosial. Tuntutan untuk produktif, fenomena fear of missing out atau FOMO, serta kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain dapat membuat generasi muda lebih rentan mengalami stres dan kecemasan. Karena itu, literasi kesehatan mental menjadi penting agar anak muda mampu mengenali emosinya tanpa terburu-buru melakukan diagnosis terhadap diri sendiri.
Data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak dapat dipandang sebelah mata. Berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022, sekitar satu dari tiga remaja Indonesia pernah mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir. Pada 2026, Kementerian Kesehatan menyatakan gejala depresi dan kecemasan pada remaja bahkan dapat hampir lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa.
Dalam ajaran Islam, tawakal bukan berarti seseorang berhenti berpikir, mengabaikan masalah, atau menolak bantuan. Tawakal dilakukan setelah manusia berikhtiar sesuai kemampuan, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Himpunan Putusan Tarjih menjelaskan bahwa ketentuan berasal dari Allah, sedangkan usaha merupakan bagian yang harus dijalankan manusia.
Karena itu, cara menghadapi overthinking tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Sudahlah, tawakal saja.” Anak muda perlu diberi ruang untuk bercerita tanpa dihakimi. Mereka dapat memulai dengan mengenali penyebab kecemasan, membatasi paparan media sosial, menulis hal-hal yang sedang dipikirkan, menjaga waktu tidur, berolahraga, serta berbicara kepada orang yang dipercaya.
Ibadah juga dapat menjadi sumber ketenangan. Shalat, berdoa, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan mengikuti lingkungan pertemanan yang sehat dapat membantu seseorang menata kembali pikiran. Namun, ibadah tidak seharusnya digunakan untuk menyalahkan orang yang sedang mengalami masalah psikologis. Dukungan spiritual dan bantuan profesional dapat berjalan bersama, bukan saling menggantikan.
Apabila rasa cemas berlangsung lama, mengganggu tidur, menurunkan semangat belajar atau bekerja, membuat seseorang menarik diri, maupun memunculkan keinginan menyakiti diri, langkah yang tepat adalah berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau fasilitas kesehatan. Kementerian Kesehatan juga menyediakan fasilitas skrining kesehatan jiwa secara mandiri melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile sebagai salah satu langkah deteksi dini.
Pada akhirnya, overthinking bukan selalu pertanda seseorang kurang tawakal. Dalam Islam, mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukanlah kelemahan. Berdoa adalah bentuk penghambaan, berikhtiar adalah bentuk tanggung jawab, sedangkan mencari bantuan merupakan salah satu cara menjaga jiwa yang telah Allah amanahkan.
Ruang Sujud
Dakwah untuk Generasi Alpha Perlu Berubah
Pengalaman Dinilai Lebih Efektif daripada CeramahPendekatan dakwah bagi Generasi Alpha dituntut lebih interaktif, visual, dan berbasis pengalaman untuk menjawab tantangan era digital.
Monitorday.com– Perkembangan teknologi digital yang pesat mendorong perlunya perubahan pendekatan dakwah kepada Generasi Alpha, yakni kelompok anak yang lahir sekitar tahun 2013 hingga 2025.
Para pengamat pendidikan dan perkembangan generasi menilai metode dakwah konvensional yang berpusat pada ceramah satu arah semakin kurang efektif untuk menjangkau kelompok usia yang sejak lahir telah akrab dengan internet, perangkat pintar, dan kecerdasan buatan.
Generasi Alpha dikenal sebagai generasi yang tumbuh dalam lingkungan serba digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui video, animasi, permainan interaktif, dan media visual lainnya.
Kondisi tersebut membuat penyampaian pesan keagamaan perlu disesuaikan dengan pola belajar yang lebih partisipatif dan menarik agar nilai-nilai spiritual dapat dipahami secara lebih mendalam.Salah satu pendekatan yang dinilai efektif adalah penggunaan metode storytelling atau bercerita. Kisah para nabi, sahabat, maupun tokoh inspiratif Islam dapat dikemas dalam bentuk narasi yang dekat dengan kehidupan anak-anak.
Melalui cerita, pesan moral seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kepedulian sosial dapat diterima tanpa kesan menggurui.
Selain itu, dakwah berbasis pengalaman atau learning by doing semakin mendapat perhatian. Anak-anak diajak mempraktikkan langsung nilai-nilai Islam melalui kegiatan berbagi, menjaga lingkungan, membantu sesama, hingga program sedekah sederhana. Pendekatan ini dinilai mampu membangun pemahaman bahwa agama bukan sekadar pengetahuan, melainkan pedoman yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Para pendidik juga menekankan pentingnya menjelaskan alasan di balik ajaran agama. Generasi Alpha diperkirakan akan tumbuh menjadi generasi yang kritis dan terbiasa bertanya. Karena itu, penjelasan mengenai hikmah ibadah, etika, maupun aturan agama menjadi penting agar mereka memahami makna, bukan sekadar menjalankan kewajiban secara formal.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, dakwah juga dituntut mampu menghubungkan nilai-nilai keimanan dengan kehidupan digital. Anak-anak perlu dibekali pemahaman mengenai etika bermedia, tanggung jawab dalam penggunaan teknologi, serta kemampuan menyaring informasi. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu mereka menghadapi berbagai tantangan dunia digital secara bijaksana.
Pengamat pendidikan Islam menilai keteladanan tetap menjadi faktor utama dalam keberhasilan dakwah kepada Generasi Alpha. Orang tua, guru, dan tokoh agama dinilai harus menunjukkan keselarasan antara ucapan dan tindakan. Di samping itu, pendekatan yang menonjolkan kasih sayang dan kedekatan dengan Tuhan dianggap lebih efektif dibandingkan pendekatan yang bertumpu pada rasa takut dan ancaman.
Dengan karakteristik yang berbeda dari generasi sebelumnya, dakwah untuk Generasi Alpha dipandang perlu bertransformasi dari sekadar penyampaian informasi menjadi pengalaman yang membentuk karakter. Melalui kombinasi teknologi, keteladanan, dan pendekatan yang humanis, nilai-nilai agama diharapkan dapat tetap relevan dan menjadi panduan bagi generasi masa depan.
Ruang Sujud
Ibrahim Müteferrika, Pelopor Percetakan Ottoman
Ibrahim Müteferrika dikenang sebagai tokoh yang membuka jalan penyebaran ilmu pengetahuan melalui teknologi percetakan di dunia Ottoman.
Monitorday.com– Ibrahim Müteferrika merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah intelektual dunia Islam pada abad ke-18. Ia dikenal sebagai cendekiawan, diplomat, penerbit, dan pelopor percetakan yang membawa perubahan besar dalam penyebaran ilmu pengetahuan di Kesultanan Ottoman.
Müteferrika lahir sekitar akhir abad ke-17 di wilayah Transylvania, yang kini masuk kawasan Rumania. Setelah masuk Islam dan berkarier dalam lingkungan Ottoman, ia dikenal sebagai sosok yang memiliki minat luas terhadap ilmu, politik, bahasa, geografi, sejarah, dan teknologi.
Terobosan terbesar Ibrahim Müteferrika adalah pendirian percetakan dengan huruf Arab bergerak untuk mencetak buku-buku berbahasa Turki Ottoman. Inovasi ini menjadi sangat penting karena pada masa itu penyalinan buku masih banyak dilakukan secara manual oleh para penyalin naskah. Percetakan membuat produksi buku menjadi lebih cepat, lebih banyak, dan lebih mudah dijangkau.
Meski bukan penemu mesin cetak pertama di dunia, Müteferrika menjadi pelopor penting dalam memperkenalkan teknologi percetakan ke lingkungan Muslim Ottoman. Perannya membuka babak baru dalam sejarah penyebaran pengetahuan, terutama untuk buku-buku non-keagamaan seperti sejarah, geografi, bahasa, astronomi, dan ilmu pengetahuan praktis.
Karya cetak pertamanya yang terkenal adalah kamus Arab-Turki yang diterbitkan pada 1729. Setelah itu, percetakannya menerbitkan sejumlah karya lain yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, sejarah dunia, peta, tata negara, dan pemikiran pembaruan. Buku-buku ini membantu memperluas akses masyarakat terdidik terhadap informasi dan gagasan baru.
Müteferrika juga menulis karya tentang tata negara dan kemajuan bangsa-bangsa. Ia melihat bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya bergantung pada militer, tetapi juga pada ilmu pengetahuan, administrasi yang baik, teknologi, dan kemampuan belajar dari perkembangan dunia luar. Pandangan ini membuatnya kerap dikaitkan dengan semangat pembaruan Ottoman.
Dampak terobosan Müteferrika tidak dapat dilihat hanya dari jumlah buku yang dicetak. Lebih dari itu, ia mengubah cara pengetahuan diproduksi dan disebarkan. Percetakan memberi peluang bagi lahirnya budaya baca, penguatan pendidikan, serta pertukaran gagasan yang lebih luas di masyarakat Ottoman.
Warisan Ibrahim Müteferrika menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan membutuhkan keberanian untuk menerima teknologi baru. Dengan memperkenalkan percetakan, ia membantu membuka pintu modernisasi intelektual di dunia Islam dan membuktikan bahwa penyebaran ilmu adalah fondasi penting bagi kemajuan peradaban.
Ruang Sujud
Islam dan Tuntunan Mengelola Kecemasan
Pendekatan Islam memandang kecemasan sebagai bagian dari fitrah manusia yang dapat dikelola melalui ikhtiar spiritual dan bantuan profesional bila diperlukan.
Monitorday.com– Kecemasan atau anxiety menjadi salah satu persoalan kesehatan mental yang semakin banyak dialami masyarakat modern. Dalam perspektif Islam, kondisi tersebut dipandang sebagai bagian dari fitrah manusia, bukan semata-mata pertanda lemahnya iman. Al-Qur’an menggambarkan berbagai bentuk kegelisahan melalui istilah seperti khauf (rasa takut), halu’a (keluh kesah), dan dhaiq (kesempitan dada), sekaligus memberikan panduan spiritual untuk mengelolanya.
Sejumlah akademisi dan pendakwah menilai bahwa Islam menawarkan pendekatan psikologi spiritual yang relevan dengan tantangan kehidupan masa kini. Prinsip tersebut diwujudkan melalui penguatan hubungan dengan Allah SWT, disertai ikhtiar nyata dalam menghadapi persoalan hidup. Pendekatan ini juga dinilai selaras dengan perkembangan ilmu psikologi modern yang menekankan pentingnya pengelolaan emosi secara sehat.
Salah satu metode yang banyak dianjurkan adalah memperbanyak dzikir. Al-Qur’an dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 menegaskan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Selain itu, membaca Al-Qur’an sebagai syifa’ atau penawar hati, khususnya Surah Ad-Duha dan Al-Insyirah, diyakini dapat memberikan ketenangan bagi seseorang yang sedang menghadapi tekanan maupun kecemasan.
Islam juga mendorong umatnya menjaga kualitas shalat, memperbanyak doa, serta menumbuhkan keyakinan terhadap qada dan qadar. Para ulama menjelaskan bahwa sikap tawakal dan husnuzan kepada Allah membantu seseorang menerima kenyataan tanpa kehilangan semangat untuk terus berikhtiar. Di antara doa yang diajarkan Rasulullah SAW adalah, “Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan”, sebagai permohonan perlindungan dari kecemasan dan kesedihan.
Di sisi lain, para pakar kesehatan mental menegaskan bahwa kecemasan tidak selalu bersifat negatif. Dalam kadar yang wajar, rasa cemas dapat meningkatkan kewaspadaan, mendorong perencanaan yang lebih baik, serta memotivasi seseorang untuk mempersiapkan masa depan. Namun, apabila kecemasan berlangsung berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan (anxiety disorder) yang memerlukan penanganan profesional.
Karena itu, pendekatan Islam tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Selain memperkuat ibadah dan kedekatan kepada Allah SWT, umat Islam juga dianjurkan mencari pertolongan kepada psikolog atau psikiater apabila gejala kecemasan sudah mengganggu fungsi kehidupan. Sinergi antara ikhtiar spiritual dan penanganan medis dinilai menjadi langkah yang lebih komprehensif dalam menjaga kesehatan jiwa.
