Monitorday.com – Di era informasi yang serba cepat ini, anak-anak dan remaja tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tapi juga tangguh dalam berkomunikasi. Salah satu keterampilan penting yang perlu mereka miliki adalah kemampuan berdiskusi dengan baik. Namun, diskusi yang baik tidak cukup hanya dengan bisa berbicara, melainkan juga harus ditopang oleh adab atau etika. Maka, menanamkan adab berdiskusi sejak dini menjadi langkah penting untuk membentuk generasi yang bijak dalam menyampaikan dan menerima pendapat.
Diskusi yang sehat bukan hanya wadah bertukar pikiran, tapi juga sarana belajar memahami orang lain. Di dalamnya ada nilai-nilai seperti empati, kesabaran, ketulusan, dan keterbukaan. Anak yang terbiasa berdiskusi dengan adab akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu menyampaikan ide dengan bijak, menerima kritik dengan lapang dada, dan tidak mudah tersulut emosi ketika berbeda pendapat.
Mengapa Perlu Ditanamkan Sejak Dini?
Usia anak-anak dan remaja adalah masa pembentukan karakter yang paling efektif. Pada fase ini, otak mereka masih sangat plastis, mudah menyerap kebiasaan dan nilai-nilai yang diajarkan. Jika sejak dini mereka dibiasakan berdiskusi secara santun dan beretika, maka itu akan melekat kuat dalam diri mereka hingga dewasa.
Selain itu, di masa remaja, seseorang mulai membangun identitas dirinya. Mereka mulai aktif menyuarakan opini, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun media sosial. Jika tidak dibekali adab berdiskusi, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang arogan dalam menyampaikan pendapat, atau sebaliknya—takut berbicara karena terbiasa dihakimi saat berbeda pandangan.
Peran Keluarga dalam Menanamkan Adab Diskusi
Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak. Orang tua memiliki peran kunci dalam mengajarkan adab berdiskusi secara alami di rumah. Mulailah dengan menciptakan suasana yang terbuka, di mana setiap anggota keluarga diberi ruang untuk berbicara dan didengar.
Misalnya, saat makan malam, biasakan anak mengutarakan pendapatnya tentang topik tertentu. Dengarkan pendapat mereka dengan sabar, koreksi dengan lembut jika ada kekeliruan, dan beri pujian atas keberanian mereka dalam berbicara. Dari interaksi kecil seperti inilah anak belajar bahwa menyampaikan dan menerima pendapat itu hal yang wajar, selama dilakukan dengan santun.
Sekolah Sebagai Ruang Latihan Diskusi Beradab
Selain keluarga, sekolah juga berperan besar dalam membentuk karakter diskusi anak. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator diskusi yang baik. Salah satu metode yang bisa digunakan adalah debat edukatif atau diskusi kelompok dalam pembelajaran, yang tidak hanya menekankan pada isi argumen, tapi juga pada cara menyampaikannya.
Guru juga perlu menjadi teladan dalam berdiskusi. Ketika seorang guru terbiasa mendengarkan, menghargai pendapat siswa, dan menjawab dengan bahasa yang lembut, maka siswa pun akan meniru sikap tersebut. Dalam jangka panjang, suasana kelas akan tumbuh menjadi lingkungan yang kondusif untuk berdialog secara sehat.
Adab Berdiskusi dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, adab berdiskusi sangat ditekankan. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang penuh kelembutan dalam berdialog, bahkan dengan orang-orang yang menentang beliau. Salah satu contoh paling indah adalah ketika beliau didatangi orang-orang Quraisy yang kasar dalam menyampaikan pendapatnya, beliau tetap membalas dengan kalimat yang tenang dan penuh hikmah.
Al-Qur’an pun mengajarkan kita untuk mendebat dengan cara yang baik, seperti dalam QS. An-Nahl ayat 125:
“Dan bantahlah mereka dengan cara yang paling baik.”
Ayat ini seolah menegaskan bahwa cara menyampaikan pendapat sama pentingnya dengan isi pendapat itu sendiri. Inilah nilai yang sangat relevan untuk ditanamkan kepada anak-anak dan remaja Muslim sejak dini, agar mereka tidak hanya cerdas intelektual, tapi juga unggul dalam adab dan akhlak.
Strategi Menanamkan Adab Diskusi
Berikut beberapa cara praktis yang bisa diterapkan orang tua dan guru dalam menanamkan adab berdiskusi:
- Jadilah Pendengar yang Baik
Anak akan belajar menjadi pendengar jika ia juga merasa didengar. Tunjukkan bahwa pendapat mereka penting.
- Ajarkan Cara Mengungkapkan Pendapat dengan Sopan
Gunakan kalimat seperti “Menurut saya…”, “Saya setuju, tapi…” atau “Boleh saya tambahkan?” sebagai pola komunikasi yang santun.
- Biasakan Menerima Perbedaan
Tanamkan bahwa berbeda pendapat adalah hal biasa, dan tidak semua diskusi harus berujung pada kesepakatan.
- Berikan Umpan Balik Positif
Berikan apresiasi ketika anak berhasil menyampaikan pendapat dengan baik dan adab yang benar.
- Latih Empati
Ajak anak membayangkan bagaimana perasaan orang lain saat mendengar ucapan mereka. Ini akan membentuk sensitivitas sosial.
Tantangan dan Harapan
Memang tidak mudah mengajarkan adab berdiskusi di tengah era digital yang penuh ujaran kebencian dan debat tak sehat di media sosial. Anak-anak bisa dengan mudah meniru gaya komunikasi yang kasar jika tidak diawasi. Maka, penting bagi orang tua dan guru untuk mendampingi anak dalam berinteraksi digital, sekaligus memberi contoh nyata komunikasi yang baik.
Harapannya, dengan membiasakan diskusi yang santun sejak kecil, kita bisa mencetak generasi yang tak hanya unggul dalam berpikir kritis, tapi juga arif dalam menyampaikan dan menerima ide. Inilah cikal bakal masyarakat yang demokratis, toleran, dan beradab.
Penutup
Adab berdiskusi bukan hanya bekal untuk meraih kesuksesan akademik atau karier, tapi juga pondasi untuk menjadi manusia yang utuh. Anak-anak dan remaja yang mampu berdiskusi dengan adab akan menjadi pemimpin masa depan yang tidak hanya pintar, tapi juga mampu membawa keteduhan dalam keberagaman. Maka, mari kita mulai dari hal kecil: memberi ruang kepada anak untuk berbicara, dan membimbing mereka untuk melakukannya dengan adab.